Mengapa pekerjaan mulia dan spiritual selalu harus dikaitkan dengan agama tertentu. Bisakah kita berbuat demikian tanpa pandang bahwa ini ajaran agama apa. Jika Russell bisa bertuhan tanpa agama maka saat berpuasa ia pun lakukan tanpa agama.

Apakah puasa memang hanya dilakukan oleh agama tertentu? Dalam ajaran Kristen baik Protestan maupun Katolik, para penganutnya melakukan puasa sebelum kedatangan hari paskah. Bahkan mereka melakukan melebihi dari puasa bulan suci Ramadan yakni selama 40 hari. Bukan hanya itu agama Budha dan Hindu pun melakukannya dengan menyebut dengan istilah Upawasa. Juga mereka menahan diri pada segala hal yang bisa membatalkan puasa termasuk makan-minum dan perbuatan tidak sopan pada sesama.

Selain anjuran agama, sains juga banyak mengajurkan untuk puasa. Meskipun sains telah dianggap anggap oleh bapak sosiologi Auguste Comte jauh-jauh hari. Beberapa dukungan sains sebagai berikut; Profesor Alexis Sophorin dari Rusia menyatakan bahwa puasa akan menyembuhkan segala penyakit. Ia berfungsi mendetoksifikasi zat racun yang ada dalam tubuh. Gounelle Pye seorang ilmuan Prancis juga membuktikan dalam risetnya bahwa tidak ada obat terbaik yang bisa mengatasi masalah pencernaan selain puasa. Pendeknya puasa bukan hal baru dalam sains bahkan ilmu tradisional.

Penulis hendak menyuratkan bahwa ada semacam kecenderungan dalam melihat semua keluhuran dan kebaikan diklaim dimiliki satu agama saja. Sikap semacam ini amat berbahaya bagi eksistensi agama mana pun. Jika meminjam istilah Russell dalam pandangan yang melihat sebab ketidakbahagiaan maka ini bisa disebut selfisme dalam beragama. Keakuan yang berlebih dalam beragama akan mengancam kemajemukan di ruang sosial. padahal justru pada agamalah kita berharap memproleh sumber nilai untuk saling-menghargai satu sama lain. Tetapi kenapa justru banyak yang mengatasnamakan agama sebagai legitimasi untuk merendahkan ajaran lain? Nah itu pada orang yang menganut agamanya bukan agamanya. Menurutku.

Belajar Kebahagiaan dari Russell

Bagi Russell untuk memproleh kebahagiaan maka kita harus bisa mengurangi berbagai keinginan. Lebih ekstrem lagi Arthur Schopenhauer menilai keinginan sebab manusia menuai ketidakbahagiaan. Jika Russell hanya menyarankan kita menguranginya beberapa keinginan untuk memproleh kebahagiaan justru Schopenhauer menghendaki kita menghilangkan keinginan untuk menghindari pederitaan.

Bapak psikoanalisis Sigmund Freud juga telah memproklamirkan bahwa kita punya kecenderungan untuk memproleh kenikmatan sebaliknya juga sekaligus menghindari penderitaan. Hanya saja Freud berbeda dengan Russel dan Schopenhauer karena justru menurutnya menahan bisa menimbulkan penyakit karena impuls tak bisa dipenuhi. Terus, apakah setelah kita memenuhi impuls itu otomatis kita bisa meraih kebahagiaan? Menurut Jasques Lacan, tidak. Memenuhi satu objek keinginan hanya akan melahirkan hasrat yang lain dan ketika hasrat lain itu pun terpenuhi maka muncul hasrat yang lain lagi, begitu seterusnya. Itulah sebabnya untuk saat ini penting untuk mengikuti nasehat Russel dibanding Freud jika tak ingin terjebak dalam lingkaran keinginan.

Saya ingin menyampaikan semacam pepatah namun lupa milik siapa, kira-kira kurang-lebih begini, “Pada jiwa sempit ia akan lebih sempit dari jarum. Pada jiwa yang luas ia akan lebih luas dari samudera.”

Bisakah Kita Menyebutnya Kebaikan Tanpa Agama

Kita seringkali gagal menuai hikmah dari orang lain hanya karena fokus memperhatikan asal-usul kebaikan itu. Kita tatkala terbiasa mengategorisasi orang-orang berdasarkan aspek yang nampak dan segalanya yang simbolik. Kebiasaan ini juga akan bermuara pada perjumpaan kita pada sisi distingsi dengan yang lain. Keberlainan dan pembeda-bedaan akan seringkali dijumpai jika kita selalu bertolak dari kemilau kostum seseorang.

Jika meminta Russel mengambil sikap dalam hal ini maka ia memungkinkan mengajukan pertanyaan bisakah kita berbuat baik tanpa melihat apa seseorang. Bisakah kita berbuat baik tanpa harus tahu apa agama? Tanpa tahu warna kulitnya? Atau tempat asalnya? Jika hal ini tidak bisa dilakukan maka begitu banyak kebaikan yang tertunda hanya karena hal semacam itu.

Bagaimana mungkin kita bisa menguji kelapangan jiwa kita jika berbuat baik itu harus mempersoalkan semua sisi terluar seseorang. Kalaupun kita berbuat baik karena itu maka juga akan miskin cinta. Menurut Fukuyama kebaikan yang hanya bisa dilakukan pada sesama kelompok yang sama maka itu kategori tingkat percaya yang paling lemah. Semakin luas jangkauan kebaikan maka semakin tinggi tingkat kepercayaan kita pada yang lain. Inilah juga satu masalah kita saat ini, terlalu tinggi rasa curiga dan ketidakpercayaan kita pada yang lain. Sampai tidak disadari bahwa hal tersebut membatalkan kita menjadi orang baik.

Sepertinya semakin sulit kebaikan dilakukan bagi orang-orang yang beragama jika berpusanya saja sampai tenggorokan. Inilah yang saya maksud sebagai gila terhadap surga namun lupa berbuat baik di bumi. Menutup tulisan ini saya ingin mengutip Shawn Achor dalam bukunya yang berjudul The Happiness Advantage bahwa sala-satu yang bisa membuat kita bahagia apabila punya kebiasaan berbuat pada orang lain. Perbuatan baik akan melapangkan jiwa dan menutup persepsi buruk terhadap yang lain. Oh iya ini sebenarnya adalah THR (tulisan hari raya) yang saya janjikan sebagai sedekah ramadan pada Kalaliterasi.com dan Guru Han.

ditulis oleh

Sopian Tamrin

Pengajar Sosiologi di FIS UNM, aktif di KNPI Sulssl, MASIKA Orda Makassar
dan Pegiat Literasi Edu Corner.