Belakangan ini di banyak media, diberitakan bahwa Indonesia, bahkan dunia berpotensi mengalami krisis pangan akibat korona. Pemberitaan di media-media itu merujuk pada peringatan dari FAO atau Organisasi Pangan dan Pertanian yang berada di bawah naungan PBB.

Peringatan dari FAO bahwa pandemi Covid-19 berpotensi mengakibatkan krisis pangan dunia, segera direspon oleh Jokowi dengan menginstruksikan kepada jajarannya agar memerhatikan betul-betul stok bahan pangan pokok  kita. Yang dimaksud bahan pokok oleh Jokowi adalah beras.

Saya coba kutip pernyataan Jokowi di sini yang saya ambil dari salah satu media online: “Saya ingin menekankan yang pertama pastikan ketersediaan bahan pokok, hitung yang betul berapa produksi beras kita. Kemudian perkiraan produksi beras pada saat masuk ke musim kemarau juga cadangan beras nasional kita cukup untuk berapa lama. Betul-betul harus dihitung”.

Kekhawatiran Jokowi terhadap kekurangan stok beras secara sepintas wajar saja. Ya, karena mayoritas orang Indonesia adalah pemakan nasi. Bahkan sebagian orang merasa belum makan kalau belum makan nasi, walaupun sudah makan dua potong roti atau semangkuk bakso, misalnya.

Ya, kita disatukan oleh beras. Indonesia boleh memiliki beragam kebudayaan tapi makanannya sama: beras. Begitulah cara berpikir mayoritas orang Indonesia sebetulnya, termasuk pemerintah. Mereka lupa bahwa Indonesia juga memiliki aneka ragam sumber pangan, mulai dari jagung, sagu, hingga umbi-umbian. Jadi sumber karbohidrat, tidak hanya beras.

Saya pun dulu berpikir demikian, bahkan lebih ekstrem, bahwa semenjak manusia ini ada di bumi, dia hadir seiring dengan kehadiran beras. Jadi dalam benak saya waktu itu manusia ini memang tidak bisa dipisahkan dari yang namanya beras.

Bagaimana tidak, sepanjang ingatan saya, di kampung saya sendiri makanan pokok masyarakat hanya nasi. Ubi kayu, ubi jalar dan sejenisnya itu hanya dianggap cemilan. Apalagi buah-buahan, seperti mangga, atau pisang, hanya sebagai makanan pencuci mulut.

Umbi-umbian itu juga sesekali dibikin sop, lalu dimakan dengan lontong. Kadang sop itu juga dimakan dengan lammang, yaitu beras ketan dimasukkan ke dalam bambu lalu dibakar. Beras ketan juga biasa dikukus, kalau ini namanya songkolo. Variasinya hanya itu-itu saja, bahan dasarnya sama saja, dari beras.

Hingga suatu ketika, di kampung saya terjadi kemarau panjang, sawah sawah mengering dan gagal panen. Hampir semua orang khawatir karenanya, khususnya  yang mengelolah sawah tadah hujan. Anehnya orang tua-tua tidak begitu khawatir, mereka jauh lebih tenang ketimbang yang muda-muda.

Kemudian saya coba ngobrol dengan salah satu sepuh, orang ini saya pilih karena dalam situasi normal saja, persediaan berasnya hanya cukup untuk di konsumsi sendiri bersama keluarganya. Ia adalah petani subsisten, menanam padi bukan untuk dijual.

Saya bertanya kenapa ia tidak khawatir. “Kenapa harus khawatir,” jawabnya singkat sambil membakar rokok tembakaunya yang baru saja selesai ia linting. Kemudian, “Orang tua kami dulu makannya juga bukan beras. Mereka makan siafa, tapi mereka  sehat, tidak gampang kena penyakit. Beda kayak sekarang orang orang sangat mudah kena penyakit.” Dia merenung sejenak sambil menghisap rokoknya lalu melanjutkan, “Saya masih ingat, waktu masih kecil juga masih jarang makan nasi, makanan pokok di rumah kami ya siafa itu.”

Siafa adalah umbi-umbian berbentuk bulat lonjong, warnanya coklat muda dengan bintik-bintik pada umbinya. Getahnya mengandung racun, tapi konon menurut cerita sepuh tadi itu, leluhur kami pernah menjadikannya sebagai bahan makanan pokok. Sebelum posisinya kemudian digeser oleh jagung dan beras.

Umbi jenis siafa ini sangat mudah ditemui di hutan dan di ladang milik warga di kampung kami. Tumbuh secara alami dan daya tahan hidupnya sangat kuat. Bahkan di musim kemarau pun masih sangat gampang kita temui. Biasanya siafa dianggap sebagai tumbuhan liar yang mengganggu tanaman yang lain sehingga ia pun dibabat jika batangnya mulai merambat pada pohon yang memang sengaja ditanam, seperti kakao, kopi, dan cengkeh.

Sebetulnya menurut orang tua tua di kampung saya, siafa itu rasanya enak, tapi  mengolahnya harus tepat karena kandungan racunnya sangat berbahaya, bisa membuat orang pusing-pusing, muntah, dan leher terasa tercekik. Leluhur kami  biasa mengolahnya dengan cara dipotong kecil-kecil lalu direndam di sungai yang alirannya cukup deras. Dia direndam menggunakan kain yang berbentuk jaring-jaring. Supaya aman, biasanya proses perendaman dilakukan selama tiga hari. Setelah itu bisa langsung dikukus lalu ditaburi sedikit garam setelah matang, dan dimakan dengan ikan air tawar hasil tangkapan dari sungai.

Tidak puas dengan penjelasan dari para sepuh di kampung saya tentang siafa itu, saya kemudian mencoba googling dengan kata kuci “umbi beracun + makanan pokok”. Benar saja, banyak sekali saya temui ulasan tentangnya. Namanya berbeda-beda di setiap wilayah, di Bau Bau disebut sebagai kolope, bitule di Gorontalo, iwi di Sumba. Tapi secara umum orang menyebutnya dengan nama gadung atau ubi hutan.

Sejumlah penelitian menyebutkan ubi ini mengandung zat toksin yang dapat terhidrolisis hingga terbentuk asam sianida (HCN). Efeknya bisa dirasakan ketika pengolahannya tidak tepat. Tapi walaupun mengandug zat beracun, umbi ini juga mengandung kalsium yang tinggi yaitu 79 mg, baik untuk kesehatan tulang dan gigi. Selain itu kandungan seratnya juga tinggi yang bisa memperlambat gula dalam darah. Tentu saja makanan ini cocok dikonsumsi bagi mereka yang menderita diabetes.

Kalau dilihat dari segi kandungannya, siafa ini layak dijadikan sebagai salah satu pilihan untuk menggantikan beras, khususnya di kala krisis. Selain karena kandungannya siafa juga mudah tumbuh, walau musim kemarau sekalipun. Jadi kalau mau dibudidayakan bisa dipastikan ongkos yang harus dikeluarkan jauh lebih murah ketimbang memproduksi beras.

Siafa itu sebetulnya hanya salah satu dari sekian banyak ragam umbi-umbian yang bisa menjadi sumber pangan. Di kampung saya saja sangat gampang kita dapati, misalnya saja talas, ubi kayu, dan ubi jalar. Semua itu bisa jadi sumber pangan kalau kita mau.

Memproduksi beras hari ini bukan perkara mudah. Kendalanya banyak; cuaca tidak menentu, bibit harus beli dari industi pembibitan (didikte pula), pupuk semakin mahal, hamanya semakin beragam dan sulit diatasi. Belum lagi harganya kadang murah, karena pemerintah lebih mementingkan impor beras ketimbang membeli beras yang diproduksi oleh petani kita.

Sepertinya kita memang perlu belajar dari isu krisis pangan ini, bisa dimulai dengan cara menggali sumber sumber pangan lokal kita,  lalu membudidayakannya secara massal. Seperti sagu,  jagung dan umbi-umbian. Supaya kita tidak terlalu tergantung sama beras, apalagi sama mie instan yang hanya akan semakin memperkaya industri makanan raksasa.

Itu tidak akan terlalu sulit dibayangkan bahkan dikerjakan, karena hampir di semua daerah memiliki sumber pangan lokalnya yang khas. Pola pikir bahwa beras dan terigu adalah satu satunya sumber makanan pokok harus pelan pelan kita ubah. Dan peran pemerintah harusnya yang paling terdepan dalam mengedukasi masyarakat. Bukannya sibuk bicara soal krisis pangan lalu memberikan solusi untuk mencetak sawah baru dengan cara membongkar hutan gambut kita.

Solusi mencetak sawah baru sebetulnya juga ambigu. Bukankah beberapa tahun lalu pemerintah malah memilih menggusur ribuan hektar sawah warga di Majalengka Jawa Barat demi membangun bandara international.

Saya kira dalam upaya membangun kedaulatan pangan nasional, pemerintah harus berperspektif lokal. Bukan dengan menyeragamkan apa yang harus dimakan oleh masyarakat.


Sumber gambar: https://thefinancialexpress.com.bd/

ditulis oleh

Acchunk Nhebo

Penulis tinggal di Makassar. Bergiat di komunitas baca Daya Nalar. Bisa dihubungi di fb: Accu