Pandemi Covid-19 atau C-19 bukan bencana biasa. Ia memaksa semua orang yang tidak berkepentingan langsung dengan wabah untuk masuk rumah, menghindari banyak orang, dan hidup bersih.

Pegiat pustaka tidak termasuk pihak “berkepentingan langsung” dengan penanganan wabah ini. Pegiat pustaka yang bersenjatakan buku-buku tidak terkait langsung dengan C-19, sebagaimana tenaga kesehatan di semua tingkat (darurat medis), gudang pangan (darurat pangan), dan transportasi (darurat distribusi).

Karena tidak terkait langsung, pegiat pustaka mesti tahu diri, enggak usah mondar-mandir di jalan raya bagi-bagi buku. Sebab, makhluk halus yang menjadi musuh bersama dunia ini tidak segan kepada siapa pun. Dia menghukum siapa saja yang mengabaikan protokol yang ditetapkan para ilmuwan.

Ya, bukan pegiat pustaka atau literasi yang menjadi imam memandu perang ini. Mereka bukan pihak yang bisa melihat langsung wujudiah si setan tak bertulang belakang ini, melainkan ilmuwan-ilmuwan kesehatan dengan peralatan-peralatan khusus.

Jadi, pegiat buku harus tahu diri. Masuk kandang semua. Saling sahut-sahutan saja di berbagai platform yang memungkinkan untuk berkomunikasi. Saling ejek dan saling menyemangati untuk tidak mati lebih cepat.

Jika pegiat pustaka sebelum wabah ini “resmi” masuk menurut pengumuman resmi dari pemerintahan resmi hasil Pemilu 2019 pada awal Maret 2020 mengarahkan segala pandangan juangnya keluar, wabah siklus 100 tahun ini memaksa haluan ke dalam. Memaksa pegiat pustaka berdiam di kandang seperti makhluk-makhluk yang saban pekan ramai di kunjungi wisatawan domestik di kebun-kebun raya di banyak kota besar.

Pegiat pustaka mestinya tidak mati gaya saat diterungku berbulan-bulan di kandangnya. Sebab, mereka punya modal dalam kandangnya berupa buku-buku. Virus bajingan ini justru saat ini  ingin menguji ketepatgunaan pernyataan klise “buku adalah jendela dunia”.

Lihatlah dunia lewat jendela buku, bukan dengan berjalan-jalan pakai mata kaki, tetapi lewat mata yang turun ke hati menjadi mata hati.

Matikah pegiat pustaka akibat C-19?

Mestinya, tidak.

Covid-19 menguji pribadi-pribadi mereka yang sesumbar tiap waktu mencintai buku itu dengan menerangi pikirannya dengan membaca yang tekun tanpa digoda oleh hiruk-pikuk urusan glamor. Jika cinta buku, sentuhlah, bacalah. Buktikan cinta mati dua puluh tiga sekian karat itu kepada buku.

Jika bertahun-tahun buku menjadi gada pemukul kebodohan untuk mereka yang tidak tersentuh pada bacaan, buku yang dipanggul-panggul itu meraih-raih per-HATI-an si pemilik itu untuk mendaras isinya. Sendiri. Tanpa siapa. Mereguk kesenyapannya dalam kandang-kandang sempit.

Buku yang sudah terkumpul beberapa tahun, baik lewat belanja dari uang saku semasa kuliah maupun bantuan donatur via Free Cargo Literacy Program, oleh Covid-19, butuh perhatian. Bukan oleh siapa-siapa, tetapi oleh yang mendaku diri sebagai perawatnya, sebagai pemundaknya yang paling kencang berteriak.

Si C-19 telah membikin dunia yang selama ini bergegas dan ngegas untuk mengambil jeda yang ekstrem. Lewat gertakan angka kematian memilukan dan kesunyian kota-kota pongah yang mendalam.

Ayo, buktikan kata-kata Mohammad Hatta yang perlahan menjadi sekadar buih bahwa buku teman dalam kesunyian  kebebasan berkehendak tetap tegak sekalipun dalam bui.

Jika ada pegiat pustaka yang justru terlihat gabut, linglung, dan frustasi lantaran si C-19 merebut kegiatan literasinya di taman kota, di kafe-kafe, di bawah jembatan layang, di pulau-pulau eksotik, di atas armada bermesin, tanyakanlah apakah buku-buku yang selama ini tinggal bersamanya tidak cukup menjadi teman dalam hidup minim suara dan perjumpaan cakap?

Jika bosan dengan hanya membaca, buku masih menuntut untuk, misalnya, dipelihara secara khusus. Jika selama ini lupa membersihkannya dari debu, ambillah kemoceng dan kain lap. Usaplah satu demi satu dengan penuh perasaan, seperti seorang ibu muda memandikan putra pertamanya. Jika jumlah buku ada 500 judul, misalnya, dibutuhkan waktu 1000 menit untuk melakukan mandi bersama dengan buku-buku. Lakukan dua pekan sekali. Termasuk menyampulnya jika tersedia plastik khusus.

Atau, membuat katalog untuk proses identifikasi. Atau apalah.

Bersibuk-sibuklah dengan buku di kamar sempit. Sebab, kamar sempit itu hanya ruang fisik, pikiran yang dilambari lembar-lembar buku membuatnya jembar. Susunlah buku dengan segala rupa cara. Tiru para cendekia Islam masa silam yang menyusun buku bersandar pada “kesucian” dan se-“magnum opus” apa itu buku. Tidak seperti pustakawan pemakai sistem Dewey, cendekia seperti yang dinukil Ziauddin Sardar menempatkan kitab suci dirak teratas, disusul buku hadis, lalu tafsir, dan seterusnya hingga buku-buku “profan” yang melalaikan hamba kepada pencipta di rak terbawah.

Atau, variasi warna kover. Atau, variasi kebesaran nama penulis.

Pendeknya, pegiat pustaka oleh C-19 memberi kesempatan yang luar biasa untuk menyibukkan diri dengan buku.

Tentu saja, sesekali meninju pemerintah yang tidak becus mengobarkan perang semesta atas C-19 jika punya cadangan pulsa.

Jika tidak punya pulsa, tidak usah menggerutu. Buku tidak butuh pulsa. Buku tidak butuh PLN. Bahkan, tidak butuh laptop dan smartphone. Buku butuh mata, butuh hati, butuh cintamu.

Jika pun butuh alat, buku ingin sebatang pensil dan kertas-kertas bekas. Masih menyimpan banyak pensil yang biasa disediakan pihak hotel saat menghadiri meeting-meeting literasi, bukan?

Syukuri jika persediaan pensil masih banyak. Habiskan itu hingga potongan terakhir yang masih bisa dijepit oleh jari, sebagaimana si tokoh utama lakukan di buku Lapar karya Knut Hamsun.

Gunakan alat yang barangkali sudah lupa cara menggunakannya itu sekarang karena buku butuh juga diingat dengan cara menuliskan “sari diri” si buku–pinjam judul sebuah buku bersampul hijau toska karya penulis yang mendaku diri “Daeng Litere”.

Cara sederhana mengingat buku itu adalah dengan jalan meresensinya. Resensi banyak bentuknya. Bisa pendek, bisa juga panjang. Soal resensi itu, bisa baca buku saya berjudul Inilah Resensi di toko-toko buku independen. Termasuk toko buku yang memiliki situsweb yang memuat tulisan ini.

Pembaca, itulah contoh penulisan konten untuk menjual buku sendiri di tengah amukan wabah C-19. Itu.***

 


Sumber gambar: http://www.seasonedbooks.com/

 

ditulis oleh

Muhidin M. Dahlan

Penulis buku "Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur" dan Guru Utama di program Kelas Menulis Kreatif yang diselenggarakan Radio Buku Yogyakarta.