Coronavirus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Pada manusia menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan, mulai flu biasa hingga penyakit yang serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Sindrom Pernafasan Akut Berat/ Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus jenis baru yang ditemukan pada manusia sejak kejadian luar biasa muncul di Wuhan Cina, pada Desember 2019, kemudian diberi nama Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-COV2), dan menyebabkan penyakit Coronavirus Disease-2019 (COVID-19).

Virus corona yang mewabah di berbagai penjuru dunia dan langkah-langkah preventif, yang dilakukan tentu menimbulkan perubahan yang signifikan terhadap kehidupan masyarakat dunia. Diakui atau tidak, banyak pihak yang merasakan dampak negatif dari pandemi virus corona saat ini. Berikut beberapa dampak negatif dari pandemi virus corona.

Industri UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah). Penyebaran virus corona ini memberi pukulan keras bagi kelompok masyarakat ini, karena mereka ‘terpaksa’ harus menghentikan kegiatan usahanya. Artinya praktis pendapatan mereka berkurang bahkan tidak memiliki penghasilan sama sekali. Di saat mereka dalam posisi jobless tanpa penghasilan, mereka pun harus memenuhi kebutuhan untuk bisa melangsungkan kehidupannya. Jelas mereka tidak akan bisa survive dalam kondisi yang demikian. Perlu adanya campur tangan pemerintah yang memberikan subsidi yang setidaknya mampu menjamin kebutuhan dasar mereka.

Kepanikan belanja dan kelangkaan barang. Kepanikan masyarakat yang ingin selamat dari pandemi corona ini ditambah anjuran tetap di rumah mengakibatkan panic buying. Akibatnya, terjadi kelangkaan beberapa barang sebagai alat pelindung diri dari virus seperti masker, hand sanitizer, dan lainnya. Menyebabkan harga barang-barang tersebut melonjak dipasaran. Terjadinya kelangkaan berbagai barang bahkan untuk kebutuhan medis sekalipun seperti masker dan APD (Alat Pelindung Diri) menunjukkan bahwa pemerintah tidak siap menghadapi pandemi virus corona ini. Para tenaga medis sebagai garda terdepan dalam ‘peperangan’ melawan virus corona tidak dilengkapi dengan ‘senjata’ yang memadai. Akibatnya, tak sedikit tenaga medis baik dokter maupun perawat yang turut menjadi korban keganasan virus corona.

Tak sedikit dokter dan perawat terinfeksi virus corona dan sebagian di antaranya gugur saat bertugas. Kebanyakan mereka tidak berani pulang dan lebih memilih untuk tetap tinggal di rumah sakit. Mereka memposisikan diri sebagai carrier (pembawa virus) yang berisiko menularkan kepada keluarganya.

Di balik ‘musibah’ tentulah ada hikmah yang bisa dipetik. Demikian pula dengan pandemi virus Corona ini. Tak semuanya menimbulkan dampak negatif, tetapi ada pula dampak positifnya. Kesadaran masyarakat akan pola hidup bersih dan sehat meningkat.

Dalam menghadapi SARS-CoV-2, dunia seolah-olah dipaksa untuk masuk ke situasi yang setara dengan Perang Dunia III. Pada abad ke-21 ini, perang dunia membenturkan manusia dengan musuh yang tidak terlihat wujudnya, tapi membuat lebih dari 30 ribu orang kehilangan nyawa serta 500 ribu lebih orang sakit di 199 negara di dunia.

Pertanyaannya sekarang, bila pandemi adalah sebuah perang yang harus dimenangi, apa yang harus dilihat, dikaji, dan dikerjakan secara kolektif sebagai warga dunia serta apa yang tiap negara harus lakukan di medan peperangannya masing-masing? Beberapa pedoman berpikir berikut ini dapat menjadi patokan universal dalam menyusun strategi. nasional yang tajam dan holistik dapat dibangun dengan komponen berikut ini.

Pertama, prioritas diletakkan pada penyelamatan nyawa manusia, termasuk dan utamanya tenaga kesehatan, agar sektor pembangunan lain kembali bekerja dengan optimal. Tanpa penyelesaian pandemi yang tuntas, beban ekonomi negara akan jauh lebih besar dalam jangka panjang dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan saat ini.

Kedua, berpedoman pada kecepatan bertindak dan ketepatan cakupan, memastikan dilakukannya tes secara luas, pelacakan kontak, kepastian pemberian layanan kesehatan, dan isolasi kasus.

Ketiga, sinergi dan aksi bersama antar lembaga pemerintah dengan pelibatan aktif masyarakat sipil. Pandemi bukan hanya urusan pemerintah, melainkan masalah seluruh bangsa. Dibutuhkan perencanaan skenario dengan strategi yang matang dan tepat dalam memetakan situasi yang mungkin terjadi saat pandemi. Idealnya, skenario menjelaskan kebutuhan kerangka regulasi khusus untuk kegawatdaruratan kesehatan yang memungkinkan semua elemen dalam pemerintahan dan masyarakat sipil, termasuk sektor swasta, media, para pakar, dan peneliti, untuk segera bergerak di tingkat pusat hingga daerah. Yaitu dengan menerapkan Physical Distancing, bekerja di rumah, belajar di rumah, beribadah di rumah.

Physical Distancing atau pembatasan fisik adalah salah satu langkah yang disarankan untuk mencegah penyebaran virus Corona. Saat menjalani Physical Distancing, Anda diminta untuk tidak bepergian ke tempat yang ramai. Anda juga perlu membatasi kontak langsung, seperti berjabat tangan, dan menjaga jarak aman minimal 1 meter ketika berinteraksi dengan orang lain, terlebih jika orang tersebut sedang sakit atau berisiko tinggi terinfeksi virus Corona.

Dalam prakteknya, Physical Distancing juga dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut ini. Jangan keluar rumah, kecuali untuk urusan penting, Sapa orang lain dengan lambaian tangan, bukan dengan berjabat tangan, Bekerja atau belajarlah dari rumah, Jika ingin berbelanja kebutuhan sehari-hari, lakukan di luar jam sibuk.

Pemerintah berharap kepada masyarakat untuk memahami bahwa upaya yang perlu dilakukan untuk mencegah penyebaran virus Corona adalah menjaga jarak aman secara fisik. Physical Distancing pada intinya cukup efektif untuk mencegah penyebaran virus Corona. Namun, hal ini tentu perlu disertai dengan upaya pencegahan lainnya, seperti rajin mencuci tangan, membersihkan rumah dengan baik, dan memperkuat daya tahan tubuh.

Physical distancing sebagai bentuk The Spirit of Depending, merupakan keamanan suatu wilayah dan kesejahteraan masyarakat, adalah hal yang terpenting dalam berkehidupan kebangsaan, salah satu upaya dalam meningkatkan kenyaman masyarakat ialah dengan menerapkan upaya-upaya yang dapat menghapus atau memberhentikan penyebaran COVID-19. Sebentuk upaya tersebut, yaitu penerapan menjaga jarak agar proses penularan virus dapat dicegah. Penerapan Physical Distancing di kalangan masyarakat, menjadi sebagai semangat bela negara yang memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar, dan membawa berpengaruh yang lebih baik.

CoronaVirus atau disebut juga dengan COVID-19, kini telah menjadi pandemi yang telah menyerang berbagai negara di dunia. Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah di seluruh dunia agar membuat keadaan menjadi lebih baik, termasuk Indonesia. Physical Distancing merupakan salah satu anjuran pemerintah sebagai upaya yang dapat dilakukan agar menjadikan keadaan menjadi lebih baik. Pengimplementasian Physical Distancing, merupakan suatu bentuk kegiatan the spirit of depending yang dapat dilaksanakan masyarakat dalam menghadapi pandemi COVID-19. Di saat manusia terkapar karena terpapar Covid- 19, perlahan alam semesta menemukan kembali harmoninya. Kita pun bertanya inikah anugerah atau musibah? Inikah bencana atau rencana Allah? Inikah aib kemanusiaan atau sebuah proses alam untuk memanusiakan kembali kemanusiaan kita? Akan selalu ada hikmah di balik setiap kejadian.


Sumber gambar: www.kompasiana.com

ditulis oleh

Alif Fathurrahman

Mahasiswa Jurusan Teknik Perawatan Mesin di Akademi Komunitas Industri Manufaktur Bantaeng.