“Rumah batu, rumah kelabu. Begitu lapang berpenghuni, satu kesuraman merebahinya.

 Redup lampu, denting piano bertalu-talu. Terpendam penghuninya mengurung diri.

Warna duka menembusi jendela, lagu piano, lelap sepi, redup lampu.”

(W.S. Rendra)

Pagi itu masih berjalan biasa saja, tapi sebuah surat dari pemerintah pada tanggal 16 Maret 2020 mengubah banyak hal. Masyarakat yang biasanya hidup solider, dipaksa berlaku soliter. Perkumpulan tiba-tiba diharamkan. Banyak arisan keluarga dibatalkan. Pernikahan ditunda hingga batas waktu yang tak ditentukan. Yang tak sabaran, mau tak mau menikah tanpa resepsi.

Lalu, sekolah turut diungsikan ke media sosial. Murid dipaksa berdamai dengan gadget, memanen tugas di dunia virtual. Dan paling gaduh, kala masyarakat tak diperkenankan menemui Tuhan di rumah-Nya, tapi di rumah masing-masing. Bagi yang jiwanya sudah terikat dengan masjid, kesedihan dan keraguan menimpuki mereka. Tapi yang kerjanya cari sensi atau hobi melihat pertengkaran, wacana ini dijadikan senjata menggenjot popularitas.

Biang kerok dari gelombang masalah di atas adalah Corona Virus Disease. Virus bangpak yang menggiring manusia hampir di seluruh dunia, khususnya negeri kita yang memang sudah nelangsa dikoyak-koyak anak sendiri, kian jatuh ke jurang keresahan, ketakutan, dan kesengsaraan.

Pada tanggal 18 Maret 2020, sekolah tempatku bekerja juga mulai mengambil langkah aman. Kukira hari itu aku juga bisa pulang ke rumah sendiri. Mengendarai kodrat – motor pemberian Bapak – menyisir jalan pulang di sore hari. Menikmati moleknya senja di sepanjang jalan dari Makassar ke Bantaeng, memiliki rasa tak terbahasakan.

Kita disambut pesona Gunung Lompo Battang yang seanggun Merilyn Monroe dan seteduh senyum Amma’ yang berdiri di depan pintu. Di perbatasan Jeneponto-Bantaeng, hijau dan kehangatan Butta Toa merangkul jiwa-jiwa pengembara yang pulang. Ia seolah berkata, “Selamat datang kembali Andi’ ri butta passolongan cera’nu.

Apa lacur, sebuah surat lagi-lagi membikin sahaya harus menelan ludah. Bukan! Bukan surat pernyataan putus darimu dengan materai enam ribu. Sebab kau memang tak pernah membalas surat cintaku. Melainkan surat rujukan dari dokter, yang dialamatkan ke IGD RS Wahidin Sudirohusodo.

Walhasil, kurang lebih dua puluh lima hari saya, Amma’, dan seorang kakak yang sakit, justru merumahkan diri di RS Wahidin. Hari-hari kami habiskan mengurung diri di kamar 214 Palem. Berselimut nestapa. Dibakar habis rindu. Sungguh saya tidak pernah serindu hari-hari itu dengan rumah dan Bantaeng.

Keluarga yang biasanya menjadi pelipur lara, tak ada yang menjunguk. Karena memang tak dibolehkan pembesuk menapakkan kaki di area rumah sakit. Hanya lewat video call empati, semangat, dan kerinduan itu dialirkan. Tinggallah kami di rumah sakit, saling membesarkan hati dengan para perawat yang juga tak bisa pulang. Wa tawaashou bil haqqi wa tawaashou bishshobr, saling menasihati dalam kebaikan dan menasihati untuk bersabar menghadapi situasi getir tersebut.

Di rumah sakit, apalagi Wahidin yang menjadi rujukan pasien covid-19, bahaya itu mengintai sepanjang waktu. Setiap hari pasien PDP dan positif bergiliran memasuki ruang isolasi. Gentar juga sahaya. Kewaspadaan langsung mode on. Kedisplinan kemudian saya tingkatkan dengan mengikuti protokol kesehatan, pakai masker, cuci tangan, dan mengisolasi diri di bangsal rumah sakit. Saya hanya keluar jika cari makan dan hal-hal yang mendesak lainnya.

Akhirnya, setelah berpuluh hari bertarung, berupaya maksimal menjaga diri di tengah pusaran pandemi yang menggeliat, urita pulang itu pun tiba. Ia bak air pelepas dahaga. Jawaban atas doa-doa Amma’ dalam sunyi di bangsal rumah sakit. Sungguh kami amat berbahagia bisa pulang ke Butta Toa dan merumahkan diri di mukim sendiri. Menyambut Ramadan dengan khidmat dan penuh kehangatan di kampung tercinta.

Kini, pandemi tengah memasuki semester kedua. Wabah corona tidak bisa kita pandang enteng. Ia seperti bom waktu yang memiliki daya ledak maha dahsyat. Di Sulawesi selatan sendiri, berdasarkan data yang dirilis covi19.sulselprov.go.id pada tanggal 15 Mei 2020, terdapat 871 orang dinyatakan positif. Patut kita syukuri karena dari data di atas 35,9% (313 orang) dinyatakan sembuh, meski terdapat 6.0% (52 orang) yang gugur. Selebihnya dalam proses penyembuhan dan kita harus yakin, mereka bisa sehat lalu pulang ke rumah masing-masing.

Bagaimana dengan Bantaeng? Tempo hari dikabarkan “pecah telur”. Kondisi ini tentunya membawa awan mendung di langit Butta Toa. Tapi asa kita jangan diputus. Kesabaran dan kewarasan kita harus tetap dirawat. Wa tawaashou bil haqqi wa tawaashou bishshobr. Mari kita tetap saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran menghadapi ujian ini.

Sahaya kutipkan petuah Bernard Shaw yang ditulis Robin Sharma dalam Who Will Cry When You Die. Katanya, “Orang-orang yang berhasil di dunia ini bangkit dan mencari keadaan yang mereka inginkan. Jika mereka tak menemukannya, mereka menciptakannya.” Jadi ayo kita ciptakan kembali zona damai itu di Butta Toa tercinta. Langkah pertama yang bisa kita lakukan adalah berhenti menyebar ketakutan, apalagi sekadar mencari sensasi di media sosial.

Kedua, Gubernur Sulawesi Selatan telah menciptakan satu mata rantai optimisme, dengan mengatakan bahwa Sulawesi Selatan akan menjadi provinsi pertama di Indonesia yang menyatakan bersih dari virus corona. Kahlil Gibran, penyair berkebangsaan Lebanon mengatakan, “Orang-orang optimis melihat bunga mawar, bukan durinya. Orang-orang pesimis terpaku pada duri dan melupakan mawarnya.” So, why not? Mari kita sambut dan sambung mata rantai optimisme tersebut, hingga menghasilkan tali yang kuat untuk menyeret corona dari Indonesia, Sulawesi Selatan, khususnya dari Butta Toa, butta passolongang ceratta.

Ketiga, tetaplah menjadi pendengar yang baik. Apa yang saya, Amma’, dan kakak alami di atas, bisa menjadi pelajaran bahwa kunci sukses memutus mata rantai covid-19 ada pada diri kita masing-masing. Sejauh mana kita bisa patuh dan menundukkan egoisme demi kemaslahatan bersama. Tentunya kedisiplinan harus ditingkatkan dengan mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah dan ulama.

Walakhir, meski rumah menjadi kelabu seumpama sajak W.S. Rendra yang sahaya kutip di awal tulisan, jangan jadikan rumah sebagai kerangkeng. Berkelanalah kemana-mana dengan imajinasi kata Sapardi Djokodamono. Tetap jaga kewarasan dan kemanusiaan kita. DR. Aidh’ al-Qarni dalam La Tahzan, menegaskan bahwa penting bagi kita untuk menjaga pikiran tetap positif. Karena ada jalan keluar dalam setiap masalah. Itulah adalah sunnah yang telah berlangsung lama dan merupakan kepastian. Subuh pasti datang, setelah malam usai. Tetap tenang dan selalu waspada. Kita bisa!

 

Sumber gambar: AyoBandung.cord

 

ditulis oleh

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.