Arion Sihombing sedang melakukan ibadah minggu di rumah bersama keluarga intinya. Semenjak pandemi Covid-19, dia menjalankan anjuran pemerintah untuk beribadah dari rumah. Tidak berselang lama, khidmatnya ibadah langsung buyar seketika, ketika Pak Haji dan Pak RT datang marah-marah, sambil membawa balok kayu memprotes mereka yang melaksanakan ibadah di rumahnya.

Mereka dengan angkuhnya mengatakan bahwa ibadah mereka dilarang di sini. “Itu nggak boleh” kata Pak Haji dan Pak RT. Tidak ada alasan khusus mengapa mereka melarang, namun yang jelas pak Haji dan Pak RT ini mungkin lupa, bahwa 1400 tahun yang lalu, seorang manusia mulia bernama Muhammad bin Abdullah, mempersilahkan umat Kristiani dari Najran untuk beribadah di masjid dan membuatkan mereka perjanjian damai, yang mewajibkan umat muslim melindungi saudara-saudaranya tersebut hingga akhir zaman.

Kita, umat muslim di Indonesia mungkin saja selalu merasa tenang dengan keberadaan kita. Ya, karena kita mayoritas, dan standar berkehidupan para minoritas kadang diatur oleh standar-standar yang ditetapkan oleh mayoritas. Itu hukum alam yang lumrah memang.

Namun, sekarang yang menjadi pertanyaan, apakah di tengah pandemi ini, kita (umat Muslim) masih mayoritas? Secara kuantitatif mungkin iya, tapi secara kualitatif dan aktivitas, kita semua kini adalah minoritas. Corona telah memaksa kita kembali ke rumah masing-masing. Semangat beragama yang kadang meluap-luap di tengah kerumunan, kini meredup di tengah kesendirian. Transendensi kita sedang diuji.

Orang-orang intoleran seperti Pak RT dan Pak Haji di tengah pandemi ini adalah gambaran betapa kecanduannya mereka dengan kerumunan dan kekuatan komunal yang dihasilkannya. Menganggap diri sebagai mayoritas yang kini ibadahnya juga dibatasi oleh pemerintah, menjadikan mereka turut kesal dengan ibadah-ibadah lain yang kini posisinya sama dengan mereka. Mereka kesal karena kini mereka sama. Sama-sama beribadah dari rumah dan sama-sama sepi.

Sewaktu menjadi minoritas di Amerika, Saya pernah salat di lorong kampus, di taman, di gudang museum, bahkan pernah juga di pinggir jalan. Kesemua salat saya itu berlangsung aman. Pernah suatu ketika, saat menjadi sukarelawan di World and Food Festival di Washington DC, saya dan beberapa teman mahasiswa muslim lainnya hendak melaksanakan salat duhur. Sayang sekali, masjid terdekat sangat jauh dari tempat kami. Terlebih, waktu istirahat yang kami dapatkan hanya sejam, tidak cukup untuk bepergian ke masjid terdekat. Alhasil, kami salat di pinggir jalan. Kami berempat saat itu dan memutuskan untuk saling salat bergantian. Kami bertugas saling menjaga jikalau saja ada orang yang mengganggu atau melakukan hal-hal buruk kepada kami.

Kami pun salat. Saat saya menjaga teman yang salat, saya melihat orang-orang yang lewat di depan kami nampak mengambil jarak agar tidak terlalu dekat. Mereka takut mengganggu. Mereka yang awalnya berjalan sambil bercengkrama dengan suara yang sedikit keras terdengar menurunkan volume suaranya atau bahkan diam sejenak. Seorang tunawisma yang mangkal di dekat kami yang awalnya sangat ribut berjualan buku juga ikutan tenang. Dia duduk, dan nampak mengawasi dan ikut menjaga kami jika saja ada orang yang akan mengganggu kami.

Pernah pula suatu waktu, saya dan beberapa teman lainnya sedang mengikuti seminar di kampus. Pada rundown acara, tidak ada jadwal istirahat pada siang hari, namun ketika waktu salat tiba, kami meminta izin pada panitia untuk melaksanakan salat Duhur sekitar 20 menit. Lalu apa yang terjadi? Panitia mengumumkan pada peserta seminar yang lain bahwa acara break hingga 30 menit ke depan.

Mengingat semua kejadian tersebut, dan melihat tingkah Pak RT dan Pak Haji ini, ingin rasanya saya kembali ke Amerika dan menciumi tangan-tangan mereka semua yang dengan penuh ketulusan menjaga saya ketika salat. Saya ingin berkata “Terima kasih telah menjadi tuan rumah yang baik, dan maafkan saya yang belum bisa menjadi saudara yang baik bagi saudara-saudaramu disini.”

Saya yakin bahwa tidak ada yang buruk atau baik sepenuhnya di kedua negara ini. Amerika ataupun Indonesia tetap saja akan memiliki orang-orang “gilanya” yang merasa telah memenangkan hati Tuhan kala menindas orang lain, yang tidak sejalan dengan keyakinan mereka. Di Amerika ada juga muslim yang menjadi korban diskriminasi akibat islamophobia, namun, selalu saja ada orang-orang Kristen, atau bahkan orang-orang Atheis baik hati yang ikut pasang badan membela mereka di sana. Pun di Indonesia, di saat umat Kristen dan agama lainnya mengalami diskriminasi, akan selalu saja ada muslim-muslim baik hati yang memasang kuda-kuda membela saudara-saudara sebangsa mereka.

Berkaca dari perjalanan saya yang telah menjalani peran sebagai mayoritas dan minoritas, saya jadi mengingat tanah kelahiran saya, Bantaeng. Bantaeng adalah wilayah multikultural perpaduan Muslim sebagai mayoritas dan Kristen, serta Konghucu sebagai minoritas. Saya selalu berharap bahwa pandemi ini akan semakin melatih sensibilitas umat muslim untuk merasakan “uniknya” menjadi minoritas.

Kita bisa belajar, apakah transendensi kita masih kuat di kala malam hari, ketika masjid tak lagi riuh oleh lirih kata “Aamiinn” kita. Corona dan beribadah dari rumah adalah sebuah kelas akselerasi bagi umat muslim di Indonesia, khususnya di Bantaeng untuk naik derajat menjadi umat-umat muslim yang Muttaqin dan Muhsinin.

ditulis oleh

Ade Sulmi Indrajat

Pria kelahiran Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan ini adalah alumnus dari UIN Alauddin Makassar jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Saat ini salah satu kesibukan utamanya adalah sebagai ASN di Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Bantaeng. Juga sebagai Direktur Ranu Prima College cabang Bantaeng dan inisiator Ikatan Guru Indonesia ( IGI ).Bantaeng. Dan, bergiat di komunitas Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menerbitkan buku Sawah dan Kebun Kurma di Tengah Laut (2019) dan Mengikat Rindu di Ranting Rapuh (2019).