Bangsa Indonesia hari ini diperhadapakan pada sistuasi yang darurat. Tapi bukan akibat ekonomi yang memburuk, atau karena penyebaran wabah Covid-19 yang kian meningkat.

Melainkan, bangsa ini darurat akibat hilangnya budaya untuk berpikir kritis, rasional dan jernih. Penyebabnya adalah mereka tidak diajar sejak dini bagaimana harus berpikir demikian.

Membicarakan pendidikan di Indonesia akan selalu mengundang rasa keperihatinan. Sejauh pengalaman dan pengamatan saya, pendidikan di Indonesia masih jauh dari hakikat kata pendidikan itu sendiri, sebab yang didorong bukanlah upaya untuk berpikir kritis dan rasional melainkan panggung penyebaran ajaran yang bersifat dogmatisme.

Kepatuhan buta dan hafalan adalah metode pengajaran yang utama. Sejak sekolah dasar, dogmatisme nilai akademik sebagai tolak ukur seluru proses pendidikan dan formalisme agama yang juga diajarkan  secara dogmatis adalah “warna” pendidikan di Indonesia

Karena itu tidak mengherankan ketika para siswa beranjak besar semua persoalan kemudian akan dilihat dari kacamata agama. Semua isu baik itu politik, social, budaya, bahkan di tengah  pandemi Covid-19 semuanya ditarik ke dalam wacana perspektif keagamaan

Berpikir kritis dianggap sesat, kereativitas dinilai sebagai pemberotakan, dan mempertanyakan suatu konsep yang sudah menjadi tradisi dianggap sebagai suatu pembangkangan.

Belum lagi fundamentalisme ekonomi yang menghiasi dunia pendidikan Indonesia hari ini, kerja dan mencari uang adalah segala-galanya dan sekolah serta kampus dijadikan sebagai tempat pelatihan mental tenaga kerja.

Dengan sistem pendidikan seperti itu nyaris tidak mungkin pendidikan kita akan melahirkan para ideolog, filsuf, dan pemikir besar.

Seperi harapan Kofifa Indar Parawansa yang menjadi headline di Liputan6 “Genreasi bangsa ini membutuhkan sosok, seperti ideolog, filsuf, dan pemikir besar“ namun harapan itu sebatas angan-angan utopis jika dunia pendidikan terus dibiarkan berada dalam situasi demikian.

Menurut saya dibutuhkan suatu perubahan yang mendasar untuk mengubah dan memperbaharui tatanan pendidikan Indonesia saat ini, sebelum bangsa ini semakin tertinggal jauh, dan terus terpuruk dalam keterbelakangan. Pembaharuan itu dapat diawali dengan perubahan pendidikan di tingkat filsafat.

Filsafat adalah pendidikan yang harus diajarkan sejak dini untuk setiap generasi bangsa Indonesia. Mendorong mereka untuk berani mengemukanan pendapat, berpikir kritis dan rasional, memandang dunia dengan ”kaca mata” akal yang jernih tampa embel-embel dogmatisme keagamaan dan lain sebagainya.

Hadirnya filsafat di bangku sekolah dasar akan mendorong mereka keluar dari ketidakdewasaan dalam berpikir. Menjadikan mereka manusia yang tercerahkan sejak dini. Manusia tercerahkan artinya berani memakai akal dan pikiran sendiri.

Seperti definisi yang dijelaskan oleh Kant bahwa “Pencerahan adalah keluarnya manusia dari ketidakdewasaan yang disebabkannya sendiri. Ketidakdewasaaan adalah ketidakmampuan untuk memakai nalar tampa bimbingan orang lain ketidakdewasaan itu salahnya sendiri apabila penyebabnya bukanlah kekurangmampuan untuk bernalar, melainkan kekurangan tekat dan keberanian untuk memakai nalarnya sendiri tampa bimbingan orang lain.

Sepere aude! atauBeranilah memakai nalarmu sendiri” – semboyan masa pencerahan — itulah yang harus didorong oleh sistem pendidikan di Indonesia. Dengan memperkenalkan dan mengajarkan filsafat sejak dari sekolah dasar pola pikir anak-anak akan terbentuk semakin “tajam”, kritis, dan terbuka dalam melihat semua persoalan. Seiring perkembangan mereka akan terlati untuk berpikir secara logis dan membangun argumentasi diatas pikiran yang rasional.

Angaran pendidikan yang semakin besar setiap tahunnya hanya digunakan untuk membangun dan memperbaiki gedung-gedung sekolah, bukannya memperbaiki dan membangun pikiran para siswa. Sehingga para siswa belajar dalam gedung mewah tapi tumbuh dengan pola pikir yang usang.

Pendidikan filsafat untuk anak-anak di tingkat dasar telah dipraktekkan di Eropa dan Amerika. Di Jerman dikenal suatu program bernama “Kinder Philosophieren”´atau anak-anak berfilasafat. Oleh karena itu tentu kita tidak perlu heran melihat mereka tumbuh dengan pengetahuan dan kecerdasan yang luar biasa. Namun itu bukan karena mereka terlahir demikian namun karena mereka telah terdidik untuk berpikir secara kritis, rasional dan jernih sejak dini lewat pengajaran filsafat.

Penelitian yang dilakukan Maughen Gregory memperlihatkan bahwa pemahaman gaya berpikir filsafat yang diberikan sejak usia dini dapat meningkatkan kemapuan berbahasa (linguistik), kemampuan berhubungan dengan orang lain (social), kemampuan menghadapi kegagalan (psikologis) dan kemapuan berpikir terbuka (ilmia).

Pada dasarnya anak-anak adalah filsuf alamiah, artinya mereka menjadi filsuf yang mempertanyakan segala sesuatu, mereka mempunyai intuisi filosofis yang secara alami ada dalam diri mereka. Itulah yang coba diajarkan Jostein Gaarder dalam bagian awal buku Dunia Sophie. Oleh karena telah dibekali dengan bakat alamiah tersebut maka hal perlu ditopang oleh sistem pendidikan.

Mungkin anda akan berpikir bahwa filsafat terlalu kompleks untuk diajarkan pada anak-anak, mereka belum memiliki kemapuan berpikir yang cukup untuk mengembangkan pendapat dan membangun penjelasan yang seringkali bersifat abstrak.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Zeitler menemukan, bahwa anak-anak memiliki kemampuan untuk mengajukan pendapat dan berpikir kritis, memiliki rasa tanggung jawab yang amat besar dan berpijak pada rasa keingintahuan, mengajukan kemungkinan jawaban, dan mengelaborasi jawaban tersebut dalam kemungkinan yang lebih jauh.

Penggambaran penelitian Zeitler tersebut menunjukan bahwa anak-anak sudah memiliki kemampuan yang mencukupi untuk berpikir secara filosofis. Mulai dari kemapuan bertanya dan berpikir kritis yang menjadi kemampuan sangat penting dalam proses berfilsafat, rasa tanggung jawab yang akan sangat berguna untuk menggali pemahaman tentang suatu hal. Dan rasa ingin tahu yang menjadi hakikat dasar untuk berpikir filosofis.

Zeitler juga menguraikan bahwa proyek filsafat untuk anak adalah pembentukan cara berpikir. Proyek ini tidak mengajarkan anak-anak tentang apa yang harus dipikirkan, melainkan metode berpikir, sehingga mereka bisa sampai pada kesimpulan yang terbuka, kritis dan masuk akal.

Penerapan pendidikan filsafat untuk anak-anak juga dapat ditempuh dengan menggunakan metode Socrates. Seperti yang saya tulis beberapa waktu yang lalu Socrates tidak pernah tampil untuk menjadi guru bagi orang lain melainkan Socrates mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang merangsang orang lain untuk berpikir. Mendorong mereka untuk berpikir mandiri, dan menemukan sendiri jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Menurut saya akan sangat tepat metode Socrates itu diterapkan untuk anak-anak di sekolah dasar.

Di tengah krisisnya masyarakat Indonesia dari pemikiran kritis, rasional dan jernih, menurut saya solusi yang dapat ditempuh adalah dengan mengajarkan filsafat kepada anak-anak sejak di sekolah dasar. Menghasilkan para ideolog, filsuf dan pemikir besar seperti harapan mantan menteri sosial yang kini menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur Kofifa Indar Parawansa tidak akan jatuh dari langit, melainkan melewati proses panjang lewat pendidikan yang bermutu.

Filsafat adalah bagian penting dari pendidikan hidup “lebensbildung” setiap orang termasuk anak-anak. Dengan kemampuan bernalar kritis serta reflektif, filsafat membentuk cara berpikir, mengajarkan orang untuk membuat keputusan dengan bijak dengan pertimbangan-pertimbangan yang tepat. Namun kemampuan itu tidak akan datang begitu saja melainkan harus dilatih sejak dini, dan secara terus menerus diulang-ulang dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah pentingnya kenapa filsafat harus diajarkan sejak sekolah dasar.


Sumber gambar: Google

ditulis oleh

Krismanuel Pasamboan

Krismanuel Pasamboan. Mahasiswa di Universitas Sam Ratulangi Manado, Sulawesi Utara. Aktif sebagai pegiat Filsafat di Akademos.