Kupu kupu yang lucu

Kemana engkau terbang

Hilir mudik mencari

Bunga bunga yang kembang

 

Berayun ayun

Pada tangkai yang lemah

Tidakkah sayapmu

Merasa lelah

 

Kupu kupu yang elok

Bolehkah saya serta

Mencium bunga-bunga

Yang semerbak baunya

 

Sambil bersenda

Semua kauhampiri

Bolehkah kuturut

Bersama pergi

 

Kupu kupu yang lucu

Kemana engkau terbang

Hilir mudik mencari

Bunga bunga yang kembang

 

Berayun ayun

Pada tangkai yang lemah

Tidakkah sayapmu

Merasa lelah…

 

Tidakkah sayapmu

Merasa lelah… (Ibu Sud)

 

Sebaiknya, tatkala ingin mengeja esai ini, saya ajak kembali untuk mengingat atau mendaras dua esai saya sebelumnya, di media ini juga. Berjudul, “Ngulat” dan “Ngepompong”. Keduanya menjadi lapik guna menyelami tulisan ini. Berselancarlah di atas esai-esai itu, biar padu padan dengan apa yang bakal saya dedahkan berikut. Jadinya, tiga esai menjadi satu kesatuan, sebentuk trilogi metaformosis kupu-kupu.

Pada esai “Ngulat”, saya amsalkan dengan berburu makan sebanyak-banyaknya, yang bertepatan dengan masa pandemic Covid-19, penerapan Social Distancing dan Physical Distancing . Berikutnya, ketika sudah “Ngepompong” mengejar makam. Jika berburu makan lebih merujuk pada ruang lahiriah-materiil, maka mengejar makam bersepadan pada ranah batiniah-spiritual. Kuncinya, dari ruang raga berjalan menuju ranah jiwa. Bertarekat dari lahir ke batin. Bersafar dari materiil ke spiritual. Dari ulat menjadi kepompong, mewujud kupu-kupu.  Mengulat lalu mengepompong, hingga mengupu. Berangkat dari ngulat, jeda di ngepompong, tiba pada ngupu.

Sebagaimana dua esai sebelumnya, supaya lebih elok dalam memahami proses menyatanya seekor kupu-kupu, saya pun tetap rujukkan ke media daring, Informazone pada rubrik “Edukasi”. Bahwasanya, “Setelah 12 hari berlalu, kepompong siap menjadi kupu-kupu dan membutuhkan kekuatan yang sungguh-sungguh besar untuk dapat keluar dari kepompong.”

Lalu, “Setelah berhasil keluar dari dalam kepompong, dengan metode yang benar-benar luar biasa. Kupu-kupu akan menggunakan semacam cairan dalam dirinya, untuk melunakkan cangkang kepompong, kemudian menggunakan cakarnya untuk merobek kepompong.”

Arkian, “Kupu-kupu akan melakukan pengeringan dan pengembangan dirinya. Fase ini berjalan pada beberapa jam saja dan waktu inilah, waktu yang benar-benar rentan dan bahaya bagi kupu-kupu, sebab dirinya tidak mempunyai kekuatan dan upaya, sehingga akan gampang dimangsa oleh para predator.”

Setelah keluar dari kepompong, “Kupu-kupu cuma mempunyai berat 3 kali lebih ringan, dibandingkan dengan berat ketika menjadi kepompong. Berarti kupu-kupu telah menerapkan sebagian besar kekuatannya. Sesudah merasa dirinya siap dan mempunyai kekuatan, karenanya dirinya siap mengepakan sayap untuk pertama kalinya dan mulai melakukan pengembaraan hidupnya di dunia dengan tampilan yang apik dan menawan.”

Bagaimana ia menjalani hidupnya? “Kupu-kupu umumnya ditemukan di tempat yang banyak bunga seperti taman bunga, kebun atau di dalam hutan. Berbeda dengan ulat yang memiliki selera makan tinggi dan rakus dengan memakan dedaunan sebanyak-banyaknya, kupu-kupu justru tidak makan daun dan cuma menghisap sari madu dari bunga saja.”

Singkatnya, seekor kupu-kupu, dapat menjadi indikator, wilayah tersebut terdapat sumber makanan berupa bunga atau bunga yang nikmat dan kaya akan vitamin. Sebab, kupu-kupu amat betah dengan aroma lingkungan semacam itu. Kupu-kupu mengindikasikan kebersihan dan kesucian. Mengapa? Sebab kupu-kupu itu sendiri sudah mengalamatkan keindahan, kecantikan, dan keagungan.

Pada bulan Ramadan tahun ini, bertepatan masa penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang derajat kesulitan tempunya lebih tinggi dari penjarakan sosial dan fisik (social and physical distancing), berpuasa sembari berdiam diri di rumah, sungguh merupakan masa mengejar makam, dan seolah meninggalkan makan. Mengapa? Karena kasad perjalanan yang ingin dituju, lahir sebagai makhluk baru secara spiritual, meraih ketakwaan, kembali ke fitrah sebagai manusia, yang pernah terlibat perjanjian purba dengan tuhan-Nya.

Insan yang menunaikan ibadah puasa selama Ramadan dan menjalani PSBB, miriplah kepompong yang menunaikan ritus berpuasa dan berdiam diri dalam cangkangnya. Masa-masa yang paling menyiksa dalam siklus metamorfosis seekor kupu-kupu. Sebentuk ketersiksaan, tapi berbuah manis. Hadirnya seekor kupu-kupu, yang menjadi penanda utama akan sehatnya lingkungan sekitar dan dikagumi oleh makluk lainnya, terutama manusia.

Selaiknya, seorang yang telah berpuasa di bulan suci Ramadan, apatah lagi ditambah terungku PSBB, benar-benar akan melahirkan persona yang dirindukan oleh semesta. Manusia-manusia baru yang sudah kembali kepada fitrahnya, bersih lahiriahnya, suci batiniahnya. Materiilnya membumi, telah dibersihkan lewat penuaian zakat, infak, dan sedekah. Spiritualnya melangit, sudah disucikan melalui pengasan puasa, salat malam, doa-munajat, dan bacaan kitab suci.

Itulah manusia-manusia pasca-lebaran. Diwisuda pada Hari Raya Idulfitri. Salat Idulfiti ditegakkan seolah sebagai laporan ke ranah langit akan tempuhan jalan suci dan silaturahmi di ruang bumi agar saling memaafkan pada sesama pelata buana. Waima dalam suasana ruang dan ranah terbatas, akibat pandemi Covid-19. Inilah insan yang telah menjadi kupu-kupu, sudah mengupu. Yah, ngupu.

Ngupu bermakna sewajah sosok penuh cinta dan dicintai, makhluk  indah buat dindahi, persona sarat guna untuk digunakan, orang pemaaf agar dimaafkan. Ngupu berarti ringan beban hidupnya di bumi, sehingga jiwanya mudah terbang ke langit. Ngupu menunjukkan persona, dinanti bumi, dirindukan langit. Ngupu, mengajak meluaskan pikiran dan melapangkan jiwa. Ngupu, sunyatanya hamba yang cakrawala tenggelam dalam dirinya, bukan budak yang diterungku cakrawala.

Defenitnya, sengaja saya nukilkan secara utuh lagu anak-anak, “Kupu-Kupu yang Lucu” karangan Ibu Sud, sebab, bait-baitnya sederhana, khas anak-anak. Namun, maknanya amat dalam jika dimaknai oleh orang dewasa. Anak-anak menyanyikan dengan gembira, orang dewasa memahaminya penuh bahagia. Sungguh, kali ini, mumpung masih ada aroma ketupat lebaran dan aura Idulfitri, menyatalah seperti anak-anak yang bergembira dan menjadilah orang dewasa yang  berbahagia. Me-ngupu-lah.

 

Sumber gambar: Tajdid.id

ditulis oleh

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.