Penjaga diri terbaik adalah diri sendiri. Hanya yang menjaga dirinya, bisa menjaga orang lain.  (Guruji Gede Prama)

Memasuki bulan Juni 2020, atau sepekan setelah Hari Raya Idulfitri 1441 H, pengurus negeri sudah menggadang situasi ketidaknormalan selama hampir tiga bulan, menuju Kenormalan Baru (New Normal). Beragam tanggapan terhadap kebijakan itu. Dari nyinyiran hingga dukungan menguar ke permukaan. Mulai dari ajakan berdamai dengan Covid-19 sampai herd immunity, kekebalan kelompok. Pastinya, kebijakan inilah yang paling dinanti para pemburu alat tukar di sektor ekonomi dan pegiat pahala di rumah Tuhan.

Sebagai anak negeri yang menjalani masa kuncitara (kunci sementara), saya pun berusaha mengikuti dan menjalani masa ketidakmormalan tersebut, berdasarkan protokol pemerintah. Lakon berekonomi, laku berkesehatan, dan tingkah beragama, saya latai dengan penuh hikmah dan kebijaksanaan. Hasilnya? Saya merasa saja sebagai makhluk baru, serupa manusia baru, laiknya kupu-kupu yang baru saja keluar dari cangkang kepompong.  Terungku pandemi dan bui Ramadan, secara bersamaan mencuci raga dan menyuci jiwa saya, sehingga saya merasa bak kupu-kupu yang siap terbang.

Sebagai kupu-kupu penuh pesona, maksud saya, selaku makhluk, seutuh persona, masih muncul sejumput tanya, apakah yang menjadi pelabur dalam melatai masa Kenormalan Baru ini? Defenitnya, bekal apa saja yang bakal menjadi perisai diri, tatkala menjalani kehidupan New Normal?

Selama mengepompong hampir tiga bulan, rasa-rasanya cukup memadai pelabur itu. Mencakup bekal raga dan jiwa. Saya ikatkan saja dalam delapan poin. Empat bekal raga dan empat pelabur jiwa. Muasal kiat ini, berasal dari ajaran pemerintah dan didikan guru spiritual. Keduanya, ajaran dan didikan itu, berfungsi sebagai perisai dalam melindungi diri di masa Kenormalan Baru, manakala Covid-19 masih menari-nari membersamai manusia.

Empat ajaran dari pemerintah, berupa ajakan, telah menjadi pengetahuan umum. Pengetahuan ini sisa mau dijalani atau tidak. Terserah. Pertama, gunakan masker ketika keluar rumah. Kedua, rajin cuci tangan pakai sabun. Ketiga, jaga jarak saat berada di kerumunan. Dan keempat, olah raga dan makan-minum bergizi, agar imunitas tubuh meningkat. Sekotah poin anjuran ini, saya defenitkan lebih mengarah kepada pemeliharaan raga atau jasmani. Sentuhannya bersifat materiil semata.

Padahal, berdampingan Covid-19 di era Kenormalan Baru, tidaklah cukup mengandalkan soal kebersihan, kesehatan, dan kesiapan raga saja. Sebab, manusia terdiri dari dua unsur, raga dan jiwa. Keduanya merupakan satu kesatuan. Saling memengaruhi. Raga bisa mengusik jiwa. Sebaliknya, jiwa mampu mendikte raga. Jadi, mestinya dimensi jiwa harus pula dikedepankan. Manusia sehat itu, manakala raga dan jiwanya sehat. Jasmani dan ruhaninya terpelihara. Materiil dan spiritualnya terpenuhi.

Beruntunglah saya. Mengapa? Karena selama menjalani masa kuncitara, lebih popular dengan kebijakan Keberjarakan Sosial dan Fisik (Social and Physical Distancing), lalu berlanjut pada keputusan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), saya mengikuti program siaran langsung di facebook, lewat akun  Gede Prama’s Compassion, yang diasuh oleh Guruji Gede Prama, berpusat di Bali. Selama 27 hari, Guruji mengajak meditasi setiap hari, siang dan malam.

Selain meditasi, pun ada semacam tausiah, tentang keindahan jiwa, kematangan ruhani, dan jalan spiritual. Saya berupaya mengikutinya secara konsisten dan persisten. Jika tidak bisa ikut siaran langsungnya, siaran ulangnya pun saya nikmati. Bahkan, beberapa di antaranya saya santap berulangkali. Setelah 27 hari, program berlanjut 2 hari dalam sepekan, Rabu dan Sabtu. Per Rabu pekan terakhir Mei, program tersebut sudah diakhiri, seiring dengan berakhirnya kebijakan PSBB.

Bulan Maret, April, dan Mei, hampir  tiga bulan, saya anggap ada semacam uzlah, mengasingkan diri. Inilah berkah yang saya dapatkan. Betapa tidak, pandemi Covid-19 menyerbu di tengah bulan suci Ramadan. Raga dan jiwa dikepompong. Kemewahan jasmani dan kemegahan ruhani ditiadakan. Berpuasa, bermeditasi, dan berpengetahuan, semuanya terjalani dengan khusyuk dalam penjara kebijakan pengurus negeri dan kebajikan pejuang kesehatan, serta kebijaksanaan fatwa ulama.

Nah, alangkah eloknya jikalau saya dedahkan hasil  uzlah penuh berkah itu, yang telah disimpulkan oleh Guruji Gede Prama, dalam simpaian empat poin, sebagai hasil didikan jalan spiritual. Namun, sebelum masuk pada poin tersebut, perlu pula saya kemukakan lapiknya. Bahwasanya, Guruji menekankan  pentingnya membangun pikiran positif dan menghindari pikiran negatif. Bertransformasi dari pikiran negatif ke pikiran positif. Sebab, pikiran positif bagai tirta suci yang menjaga sepanjang perjalanan jiwa dan raga.

Pikiran negatif, merupakan penyumbang terbesar pada kebocoran energi diri. Sumbernya, bisa bermula pada stres. Celakanya, stres berdampak pada gagalnya tubuh mereproduksi sel-sel baru. Stres menyata karena keinginan jauh lebih tinggi dari kemampuan, persaingan berlebihan, dan terlalu banyak berpikir sulit mengalir dalam kenyataan.

Bertransformasi ke pikiran positif perlu upaya maksimal. Pikiran positif inilah yang bakal membantu, ketika ingin menari di keindahan hidup pada kenormalan baru. Sanggup terbang memukau, bak kupu-kupu di masa new normal. Lalu bagaimana pikiran positif ini bisa mengada pada diri? Yang sekaligus menjadi pelabur dalam hidup baru, di kehayatan New Normal, Kenormalan Baru?

Saya ajukan saja didikan Guruji. Ia menabalkannya sebagai beautiful self-care, merawat diri secara indah. Pertama, in balancing. Hiduplah dalam keseimbangan dan keterhubungan dengan semesta. Rawatlah alam, maka ia akan menjagamu. Kedua, in happiness. Berbahagialah dengan apa yang ada. Pandangan lama mengatakan, sehat dulu baru bahagia. Kiwari, bahagia dulu baru sehat. Ketiga, in abundance. Merasa berkecukupan. Diri yang berkecukupan merupakan sosok yang selalu berterimakasih dan bersyukur.  Keempat, in compassion. Dalam buaian welas asih. Cinta kasih dalam tindakan, love in action. Bukan sekadar simpati, tapi empati.

Empat poin penting dari Guruji, pastilah merujuk pada jiwa, berdimensi ruhani, dan bermuatan spiritual. Inilah empat pelabur dari seorang guru spiritual. Pelabur Guruji ini, melengkapi bekal dari pengurus negeri. Jadi, ada delapan pelabur atau bekal, sebagai perisai diri buat melatai era Kenormalan Baru. Laiknya pesona kupu-kupu, yang baru saja keluar dari cangkang kepompong, belajar terbang. Sebagai manusia, persona baru, perisai diri dibutuhkan untuk menjaga diri. Bukankah penjaga diri terbaik adalah diri sendiri?

 

Sumber ilustrasi: IBTimes.ID

ditulis oleh

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.