Cerpen Literasi

Di satu sesi dialog, pada seminar pendidikan anak yang diselenggarakan secara mandiri oleh emak-emak pesisir, di kelurahan Barang Lompo, kecamatan Bere Bere, utara pantai Akkarena, Makassar, sekelompok emak muda riuh berdiskusi terkait Literasi Anak. Mereka sangat khawatir dengan konsep literasi yang belakang ini ramai dibincangkan sebagai satu dari tujuan kebijakan Merdeka Belajar oleh pak Nadiem.

Sebenarnya, seminar di-follow up dari kebiasaan ngerumpi para emak di kantin sekolah, menunggu anak-anak mereka pulang. Terlihat jelas, status sosial di antara mereka lebur, nyambi colek sambel kecap besama dengan Bikang Doang di tangan.

Para emak mempertanyakan bagaimana nasib akademik anak mereka nantinya, yang ternyata belum pernah sama sekali dibekali les atau kursus privat untuk meng-upgrade kemampuan literasi anak mereka. Selama ini, para emak hanya fokus pada les matematika, bahasa Inggris, musik, olahraga, atau sebagian menghapal Quran. Tentu saja untuk memburu prestasi anak. Syukur-syukur nanti bisa jadi ASN, dan kantong banjir duit.

Kembali ke seminar. Anggap saja seminar diisi oleh seorang mahasiswi pasca sarjana, jurusan Teknologi Pendidikan, semester akhir. Ardina Skolastika Rumi, S.Pd., keilmuannya mumpuni. Anggap saja.

***

Penanya pertama:

Seorang ibu muda mengacungkan tangan, berdiri, dan mempertanyakan masalahnya dengan dialek khas masyarakat Makassar.

“Assalamu alaikum. Tabe, Ibu. Perkenalkan, nama saya Patima. Tetangga panggil saya, Deng Pati. Yang mau saya tanyakan, Bu..

“Apa itukah maksudnya konsep Merdeka Belajar yang digadang-gadang sama pak Mentri? Kenapa ada lagi pelajaran baru, kodong, yaitu pelajaran literasi yang harus anak-anak pelajari lagi. Setengah matinya mo itu anak-anak belajar sampai jam tiga sore, baru natambah lagi dua pelajaran, yaitu pelajaran Kritis Numerik dan Pelajaran Literasi. Pelajaran apa mi lagi itu, deh?

“O, iyye’. Itu ji saja pertanyaan dari saya. Terimakasih,” ujarnya polos, penuh sopan santun.

“Terimakasih, Ibu, atas pertanyaan yang diajukan. Jadi, begini ibu,” tutur perempuan muda, cantik, dan cerdas itu. Ia memulai penjelasannya.

“Memang benar, ada kebijakan Merdeka Belajar yang diusung oleh Menteri Pendidikan yang baru, atau pak Nadiem Makarim. Apa maksudnya konsep ini?

“Jadi ada keinginan dari pemerintah, Ibu.. untuk membebaskan sistem belajar Indonesia dari  sistem aturan yang banyak sekali embel-embelnya, tapi tidak jelas tujuannya, apalagi output dan outcomenya. Di sini, pak menteri tawarkan konsep baru, yaitu  Merdeka Belajar.

“Pada 19 Desember 2019 lalu, pak menteri menegaskan, ada empat program pokok dari Merdeka Belajar, yaitu: 1) Penerapan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), 2) Mengganti Ujian Nasioanl (UN) dengan Assesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter, 3) Penyederhanaan RPP (efesien dan efektif), dan 4) Fleksibilitas Zonasi penerimaan peserta didik.

“Maksudnya apa, Ibu-ibu? Jadi pertama, tahun 2021 tidak ada mi lagi UN serentak se Indonesia. Secara teknis, mungkin ada ji ujian. Tapi terkait soal, masing-masing sekolah mi yang susun. Sesuai dengan mata pelajaran dan capaian pembelajaran di sekolah-sekolah. Kan tidak sama semua kemampuan dan kesuksesan yang diacapai oleh tiap-tiap sekolah.

“Kedua, kalau pun nanti benar-benar tidak ada juga ujian akhir di sekolah, maka penilaian diambil dari nilai-nilai kelas, ulangan harian, kehadiran, praktek lapangan, dan juga karakter positif tiap anak didik. Jadi, biar anak pintar, kalau pribadinya masih berantakan dan tidak disiplin, maka pendidikannya tetap dianggap belum sukses.

“Ketiga, jadi ada yang namanya RPP atau Rencana Pembelajaran yang disusun oleh bapak ibu Guru, tentang apa dan bagaimana pelajaran yang akan disampaikan di kelas nanti. Semuanya tersusun secara rinci.

“Pengalaman, Bu.. saya pernah menyusun satu mata pelajaran Budaya Nusantara, khusus anak-anak mukim di luar negeri (Iran). Jadi RPP nya itu diisi lengkap terkait dasar, tujuan, model, metode, alat peraga, silabus, rincian materi yang akan diajarkan. Pokoknya berbelit-belitlah, Bu. Habis waktu saya hanya untuk membuat RPP yang bisa sampai 55 halaman per mata pelajaran, dengan jumlah SKS 2, atau pertemuannya itu 1×45 menit per minggu.

“Jadi kebijakan Merdeka Belajarnya pak Nadiem ingin mengefesienkan formalitas RPP. Dipangkas! Cukup satu atau dua halaman saja. Waktu yang banyak untuk menyusun RPP, lebih baik  difokuskan untuk belajar dan mempersiapkan kelas.

“Nah, keempat, fleksibilitas zonasi penerimaan peserta didik. Jadi, nanti para siswa bisa memilih mau belajar di sekolah yang disukai, tidak dizonasi lagi. Sehingga anak nyaman belajar, karena cinta dengan guru, teman, dan lingkungan sekolahnya. Orang tua juga jadi tidak repot.

“Adapun tentang dua pelajaran tambahan yang disampaikan tadi, yaitu Kritis Numerik dan Literasi Pendidikan, itu salah paham, Ibu-ibu. Tidak ada pelajaran tambahan. Bahkan bisa jadi pelajaran dan jam kelas malah dikurangi. Hanya saja, pelajaran yang sudah ada dan diajarkan, harus mampu mendongkrak naik kemampuan nalar numerik anak didik dan literasinya. Jadi, sederhananya, anak-anak kita itu mau diunggulkan dalam analisis data dan angka (matematika),  unggul dalam analisis bahasa, literasi, baca, tulis dan berpikir logis, unggul dalam karakter dan pribadi. Saya rasa, cukup sekian penjelasan dari saya,” jelas Ardina Skolastika Rumi. Singkat, padat, tegas.

***

Penanya kedua:

Kali ini giliran seorang perempuan muda, ndeso, ngegendong jowo seorang anak kecil dalam selendangnya. Istilahnya begitu.

“Assalamu alaikum, mbak Rumi. Saya mau bertanya soal literasi anak, mbak..”

“Iya. Silakan, Ibu…. Sebentar. Namanya siapa, Bu?”

“O, iya. Nama saya Iyem Sulastri, mbak. Yang mau saya tanyakan, apa saja yang mesti kami siapkan untuk mendukung kemampuan literasi anak-anak kami? Bagaimana caranya kami membantu mengembangkan kemampuaan anak-anak kami dalam berliterasi? Terlebih, tadi juga disebutkan tidak ada pelajaran tambahan Literasi di kelas. Maaf, mbak Rumi, soalnya saya ini awam literasi. Sekian, terimakasih,” paparan polosnya disimpul dengan senyuman.

“Terimakasih atas pembukaan jalannya, Ibu.”

“Sebelum saya menjawab, saya akan jelaskan dulu maksud dari literasi. Jadi, literasi itu sebuah kegiatan yang di dalamya mencakup baca, tulis, mengumpul data, mendengarkan informasi, menganalisis, mengulas, menjelaskan, dan menceritakan ide serta gagasan kita.

“Kalau anak kita gemar baca, itu sudah cenderung pada dunia literasi. Apalagi ditambah dengan kegiatan dan kemampuan menulis. urai gadis berkacamata itu, hati-hati.

“Nah, kalau ditanya, bagaimana mendukung anak-anak kita dalam berliterasi? Paparannya ada dua. Pertama, untuk anak yang gemar baca, bisa dengan menyediakan bahan bacaan sehat dan bermutu. Mengajak mereka ke perpustakaan lokal dan toko-toko buku saja, itu tidak cukup. Mereka bahkan butuh suasana rumah-sekolah yang seirama dengan mereka, yaitu gemar baca. Jadi, bukan si anak saja yang dituntut cinta dan gemar baca buku. Tapi ayah, ibu, saudara, guru, dan teman juga diarahkan untuk kecintaan dan kegemaran yang sama. Minimal ada waktu yang dialokasikan untuk kegiatan berliterasi. Dalam hal ini, membahas isi buku secara bersama.

“Bagi anak-anak yang gemar baca ini, diarahkan untuk bisa menceritakan apa saja yang dibacanya. Tentu orang tua dituntut siap dan sabar mendengarkan cerita-cerita mereka. Orang tua mesti bijak mengalokasikan waktu. Jangan malah ngedumel kalau anak minta perhatian, dengarkan celotehannya, ceritanya, penjelasan dari apa yang dibaca dan dipahaminya. Singkatnya, orang tua mesti jadi teman atau lawan diskusi yang tangguh buat anak.” papar gadis bangsawan Gowa itu. Ruang seminar riuh. Para emak malu-malu dan saling lempar pandang.

“Kedua, untuk anak yang minat bacanya masih rendah. Tidak selalu kita bawa berbelanja buku, lalu anggurkan begitu saja. Orangtua bisa kreatif membawa mereka ke sanggar teater anak untuk mendengarkan cerita, pegelaran seni tari, pameran-pameran buku dan budaya, pemutaran film anak, hingga rasa ingin tahu mereka akan dunia luar tersentuh. Setelah rasa ingin tahu terkonek, maka saatnya untuk mengarahkan mereka ke dunia buku. Sebab, buku adalah salah satu yang bisa memberi jawaban atas misteri dan pertanyaan-pertanyaan mereka.

“Jadi dukungan pertama kemampuan literasi anak, memfasilitasi sumber-sumber ilmu pengetahuan, baik yang dibaca, didengar, dicermati, dan dianalisis. Satu hal yang penting, jangan maksa anak harus rajin baca, tapi emaknya malah malas baca. Jangan tuntut anak untuk menjadi penulis hebat, sedang rumah dan sekolah tidak mendukung sama sekali.

“Kalau soal mengembangkan bakat nulis anak, kita bisa serahkan ke pihak sekolah untuk dibantu. Saya kira demikian. Kalau ada anak yang punya minat menulis, sekolah menulis kami juga siap membantu.” tutup CEO Makassar Inspira School itu.”

***

Penanya ketiga:

Seorang perempuan muda, percaya diri, dagu menengadah ke atas. Menatap sang pemateri dengan senyum indahnya yang memikat. Tersirat dan terbaca kecerdasannya.

“Selamat siang, Jeng Rumi.”

“Selamat siang.” Senyum pun tersungging, terbalaskan.

“Terimakasih. Nama saya Stayli Margaretz. Pertanyaan saya, apakah kebijakan Merdeka Belajar memiliki akar dan dasar ilmiah yang kuat, untuk dapat benar-benar membebaskan sistem pendidikan nasional dari belenggu-belenggu kepentingan pihak ketiga yang ingin mengambil manfaat dari serba-serbi pendidikan Indonesia? Sejauh mana keberhasilan ini dapat diukur? Terimakasih.”

Helaan napas terhembus panjang menembus mic dan speaker ruang seminar. Suasana hening. Mata audiens menatap ke arah depan menunggu jawaban. Tak disangkanya, anak itu mengajukan pertanyaan juga.

“Sialan!” batinnya memaki. Meski senang mendapat tantangan.

“Baik.,” ia memulai.

“Sebenarnya, konsep Merbel bukan barang baru di dunia pendidikan Indonesia. Komoditas edupreneur ini digembus oleh seorang perempuan,  pebisnis pendidikan, juga seorang guru, Najelaa Shihab tepatnya. Adik dari Najwa Shihab. Tak tanggung-tanggung, sekolah mewah dan mahal telah berdiri dengan konsep ini, juga menghimpun banyak guru daerah. Mereka tergabung dalam Komunitas Guru Belajar dan Kampus Guru Cikal-nya. Najelaa banyak menuangkan buah pikirannya dalam bentuk tulisan dan buku, di antaranya ‘Merdeka Belajar di Ruang Kelas” dan Literasi Menggerakkan Negeri’.

“Jauh sebelumnya,  konsep Merbel juga  digagas oleh Carl Rogers, pada 1969. Gagasannya tertuang dalam buku berjudul, “Freedom to Learn”. Sebenarnya gagasan ini menyahuti Evereet M. Rogers, yang pada 1962 menulis buku berjudul ”Diffusionof Innovation”yang fokus pada gerak perubahan pendidikan. Institusi sekolah menjadi objek ilmiah yang ramai menuai kritik, untuk segera mengadopsi inovasi pendidikan baru yang memberi kebebasan kepada guru dan siswa. Tidak malah menjadikan sekolah bak penjara bagi pegiat-pegiatnya.

“Pasca era “Freedom to Learn, dunia pendidikan semakin maju dalam menciptakan berbagai konsep pendidikan, model, dan metode pembelajaran yang santai, fun, menyenangkan, memerdekakan. Manajemen kelas semakin bervariasi dan kreatif, menggugah semangat belajar siswa. Kreativitas para guru dan murid semakin terasah. Tentu saja kemerdekaan ini tidak diraih begitu saja, melainkan ada perlawanan terhadap sistem dan pecundang-pecundang pendidikan yang oreintasi gerakannya semata-mata mengeruk keuntungan dari kebijakan sistem. Mereka meruntuhkan sistem lama untuk membangun sistem baru, yang memberi landasan hukum bisnis pendidikan dan ideologi mereka.

“Sebenarnya, kurang bijak membahas poin ini di sini. Kita perlu ruang lain.

“Jika ada yang masih ingin lanjut diskusi, kita bisa lanjutkan di Dermaga Cinta, Akkarena, pukul 17 wita. Saya tunggu di sana, kita berdiskusi. Terimakasih.”

***

Seminar pun ditutup. Moderator menyampaikan beberapa simpulan. Dari jauh, senyum cerdas mereka saling menyapa. Peri-peri pengetahuan membawa keduanya bercengkrama lebih jauh dan dalam.

Ada pesan, perempuan akan maju dan kuat, dengan memberinya waktu untuk belajar dan mengembangkan potensi dirinya.

Ilustrasi: https://insight.ieeeusa.org/articles/cogent-communicator-how-to-have-a-conversation/

ditulis oleh

S. R. Siola

S. R. Siola, seorang pecinta ilmu dan hikmah. Kecenderungannya terhadap dunia literasi telah terpupuk sejak kecil. Menyelesaikan pendidikan sarjana di Iran, bidang Filsafat dan Theologi Islam, dan Master Pendidikan di Indonesia. Saat ini menetap di Iran, menghabiskan waktu dengan membaca dan menulis.