Judul awal tulisan ini sebenarnya dari “Oppa untuk Eonni…”. Namun, saya dapat koreksi dari pecinta drakor legend, katanya Eonni itu sebutan untuk perempuan yang lebih tua. Sedang Dongsaeng digunakan untuk perempuan yang lebih muda. Sebagai seorang amatiran dalam dunia persilatan drakor, saya gantilah judulnya. Musababnya jelas, tulisan ini sebenarnya saya persembahkan untuk adikku yang unyu-unyu, para pecinta drakor. Waima, tulisan ini untuk kita semua: para penikmat film.

***

Kali ini, saya ingin menulis ihwal drama Korea. Ada satu film yang akhir-akhir ini ramai dibincangkan: The World of the Married. Sebenarnya, kejadiannya sudah sejak beberapa bulan lalu. Tatkala membaca beritanya, saya sudah berniat membuat tulisan tentang hal tersebut. Namun, karena terlalu terlalu banyak mikirin kamu, ya tulisannya baru jadi sekarang. Tenang, tulisannya gak basi kok.

Ada berita yang membuat saya terpingkal-pingkal waktu lalu. Beberapa oknum netizen Indonesia menyerang akun Instagram Han So Hee, si pemeran pelakor Da Kyung, karena terlalu baper dalam menghayati film. Aksi tersebut bahkan membuat sang aktris risih, dan mengingatkan bahwa itu hanyalah sebuah film, hanya film woy (F-I-L-M) bukan realita. Malu-maluin. Dasar kurang kerjaan memang. Huuuuu. Sabar, sabar.

Kamu sadar tidak, sikapmu yang demikian, justru semakin menegaskan keberhasilan akting Han So Hee loh. Gini ya, Kalau mentalmu gak kuat jangan nonton lah, kasihan dirimu. Mereka main film dapat duit, kamu yang nonton dapat apa coba? Duit kagak, dosa iya.

Film tersebut bercerita tentang kehidupan rumah tangga yang rumit, dikarenakan hadirnya pihak ketiga alias pelakor. Nah, akun Instagram si pemeran pelakor inilah yang kemudian menjadi bulan-bulanan hujatan oknum netizen Indonesia. Saya sih belum menonton filmnya juga secara utuh, karenanya gak mau berkomentar terlalu banyak, takut bias. Saya juga khawatir ikut-ikutan ngehujat Han So Hee, “huuu, dasar pelakor”. Mungkin nanti, kalau sudah gabut level tinggi akibat korona.

Saya cuman menyarankan, bagi kamu yang sudah berkeluarga jangan sampai menonton film ini. Kasihan suamimu. Makan hati tiap hari, gegara istri lupa masak karena asik nonton film. Istri berubah sensitif dan overprotektif. Dikit-dikit marah. Mending sih, dari pada dikit-dikit duit.

Coba tuh, liat Raisa, alasannya gak mau nonton itu, karena film tersebut berkisah tentang situasi pernikahan yang rumit. Raisa takut, nantinya bisa menjadi bahan berantem suami-istri. Mantanku itu Ia mengingatkan, agar masyarakat Indonesia tidak berpikir macam-macam, mending nontonnya yang ringan-ringan saja, tapi menghibur. Upin Upin misalnya.

Memang sih, harus diakui film drama korea itu bagus dan pandai mengaduk-aduk emosi penonton. Utamanya bagi cewek-cewek yang memang sudah kenyang asam garam dibikin baper sama gebetannya. Saya sendiri suka kok (baca: suka banget), karena kualitas filmnya memang bagus—sejauh yang saya nonton sih begitu. Mereka bisa membangun konflik, alur, ritme, angel kamera dan soundtrack yang apik. Plus diperankan oleh aktor-aktris yang glowing pula. Tidaklah mengherankan jika populasi pecinta Korea di Indonesia melonjak tajam. Mengalahkan harga ayam dan cabe menjelang lebaran.

Kemudian, muncul anggapan bahwa pecinta drama Korea itu anti film lokal. Emang gitu ya?

Saya kira gak gitu juga, Bro. Film kita juga bagus-bagus kok, tapi yang bioskop ya, bukan drama yang di TV itu. Kalau yang di TV lokal mah terserah, emang saya gak suka. Terlalu monoton, konfliknya bisa ditebak: duit, duit dan duit. Anjaay, merepresentasikan Indonesia banget. Endingnya jelas: kecelakaan, masuk rumah sakit lalu tobat. Gitu aja terus, sampai Unyil jadi Hokage. Pemeran filmnya juga itu-itu aja, semalam jadi penyanyi dangdut, eh besoknya main film.

Maksud saya gini, kenapa sih gak pilih salah satunya dan dalami betul-betul? Jangan rakus ambil semuanya, tapi ngambang. Nyanyi vokalnya pas-pasan, main film juga kurang ngeh. Untung tampangnya good looking, tapi masa iya mau ngandelin itu doang. Kalau good looking doang mah, saya juga memenuhi syarat kaleee. Dikit, dikit banget.

Saya bisa ‘gibahin’ film kita lebih banyak, tapi cukuplah, dosa saya udah bejibun.

Kita kembali ke pembahasan film drakor ya. Saya kemudian ingat dengan UAS, dalam salah satu ceramahnya, beliau menjawab pertanyaan dari salah seorang jamaah yang ditulis dalam secarik kertas. “Apa hukumnya menggemari film Korea?”

Beliau menjawab bahwa pecinta drama Korea itu cenderung kafir, karena pemerannya itu kafir: tak bersunat, tak mandi wajib, suka berzina. Alamaaaakk, ngeri sekali. Saya sih gak setuju, sangat tidak setuju. Mudah banget ngafirin orang. Meski saya juga kurang suka dengan sebagian gelagat pecinta drakor yang kadang terlalu fanatik dan baperan. Namun, kita tetap harus berhati-hati dalam menghakimi status kafir seseorang. Apalagi, setelah saya nonton video beliau, argumentasinya gak logis banget. Mungkin karena RAM otak saya yang rendah kali ya. Jadi penjelasannya gak muat masuk otak saya.

Padahal Nabi itu sudah mengingatkan, “Barangsiapa memanggil kafir atau musuh Allah, padahal yang bersangkutan tidak demikian, maka tuduhan itu kembali kepada si penuduh”. (HR. Bukhari Muslim). Nah loh, saya sih gak berani menjustifikasi keislaman orang lain. “Menyebut diriku muslim saja saya tidak berani, itu hak prerogatif Tuhan untuk menilai, saya muslim atau bukan.” begitu pendakuan Cak Nun. Dan saya sepakat.

Pun dengan ulama arif kita di masa lalu, mereka mengingatkan, “jika terdapat 99 hal yang menguatkan kekafiran seorang Muslim, tapi masih ada 1 alasan yang menetapkan keisalamannya, maka jangan katakan dia kafir.” Intinya, tolong jangan mudah mengkafirkan lah. Sensitif tau gak.

***

Maksud saya begini, Dik. Menyukai sesuatu itu sah-sah saja, tapi tolong jangan berlebihanlah. Sampai-sampai bercita-cita pengen nikahin oppa-oppa itu. Gini ya, saya kasih bocoran dikit, ini sebenarnya rahasia lelaki, tapi demi kemaslahatan umat, tidak apa-apa saya bocorkan di sini. Jadi gini, laki-laki di kampungmu itu minder tau gak, kalau kamu sering pasang foto-foto oppa di status medsosmu. Termasuk saya.

Kita ini tahu dan sadar dirilah, kalau standarmu itu yang putih dan hidung mancung. Nah, saya dan—sebagian besar—cowok Indonesia itu adalah antitesa dari mimpimu itu. Jauh cuy. Kami ini hidungnya pesek, ingusan, kulit belang, hidup lagi. Satu-satunya persamaan kami itu cuman jenis kelamin doang. Jadi, kalau sekarang kamu masih, ehhmm jomblo dan belum nikah. Mungkin salah satu penyebabnya ya itu tadi. Mungkin ya. Mungkin loh. Mudah-mudahan bukan.

Kalau kamu cari yang putih, kami mundur. Kalau cari yang mancung, kami mundur. Kamu cari yang kaya, kami mundur, tapi kalau kamu cari yang soleh dan bisa imamin kamu, kami juga mundur. Emang gak ada harapan.

Sebagai sesama pecinta drakor, saya hanya ingin mengingatkan tanpa sedikit pun ingin menggurui, Dik. Pun, curahan hati saya ini adalah representasi dari suara hati sebagian cowok Indonesia—oppa-oppa dengan kearifan lokal. Intinya jangan terlalu berlebihan dalam menyukai sesuatu, sesuaikan dengan takarannya saja.

Caranya gimana? Ukurannya akan sangat subjektif, tapi, kalau kamu merasa tidak lagi produktif akibat drakor, berarti kamu sudah berlebihan. Misal nih, kamu disuruh emak beli garam di warung tetangga dan kamu bilang “tunggu mak, satu episode lagi,” itu sudah tanda bahaya. Sayurnya akan hambar, ending-nya Bapak dan Mamakmu bertengkar gegara ke-mager-anmu. Belajarmu jadi malas, ngajimu kurang, baca buku apalagi. Intinya kamu kehilangan produktivitas. Tobat, Dik.

Walakhir. Selalulah ingat Firman Allah ini, dalam QS. Al-Baqarah ayat 216 yang berbunyi ,”Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukasi sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Pada akhirnya, meskipun mimpimu sampai ke Korea Selatan, jodohmu tetaplah di Sulawesi Selatan.

 

Sumber gambar: Republika

 

 

 

 

 

 

ditulis oleh

Muhammad Ikbal

Profil Penulis

Lahir di Bantaeng, 13 Agustus 1995. Ketua Karang Taruna “Sipakainga” Desa Tombolo. Kec. Gantarangkeke. Kab. Bantaeng. Guru PJOK di SDN 48 Kaloling. Aktif sebagai pustkawan di Rumah Baca Panrita Nurung dan bergabung dalam KGB (Komunitas Guru Belajar) Bantaeng. Penyuka hujan dan buku-buku sastra.