Bagaimana caranya engkau membujuk ayahmu agar merestui hubungan kita. Tidakkah ayahmu, sangat tidak menyukai ayahku? Bukankah ayahmu menganggap keluargaku, terutama ayahku sebagai orang meyimpang. Dan sibuk menyampaikan ke warga-warga yang lain. Melarang warga yang lain untuk bergaul dengan keluargaku. Kita memang saling mencintai. Tapi adanya ini, aku tidak tahu hubungan kita seperti apa. Apalagi bila sudah ketahuan oleh ayahmu.

Aslam kekasihku hanya terdiam lesu di saat aku mencecar pertanyaan demikian. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Sebab ia tahu persis bagaimana kekehnya kedua orang tuanya terutama ayahnya terhadap keluargaku. Ia tidak bisa menerima kebiasaan keluargaku.

Aku dan Aslam sudah saling mencintai sejak kelas satu Madrasah Aliyah. Kini, kami sebentar lagi akan wisuda. Kami kuliah di kampus sama walau berbeda jurusan. Ia mengambil Jurusan Ekonomi, aku Jurusan Tata Boga.

***

Aku anak terakhir di keluargaku. Tumbuh dan besar dari asupan keringat orang tuaku sebagai petani. Setiap pagi, Ayahku menelusuri jalan tani untuk sampai di sawahnya. Sawahnya tidak terlalu luas. Tapi hasil panennya bisa membuat di rumah tidak membeli beras berbulan-bulan. Tak hanya itu, sebagian hasil panen bisa untuk menyekolahkan saudara-saudaraku juga aku.

Desa tempatku lahir, sebagian besar warganya hidup dari bertani. Ada yang PNS namun tidak seberapa. Desaku, berada di pinggir gunung dan jauh dari kota. Bila ingin ke kota, kami bisa menghabiskan berjam-jam untuk tiba.

Dari segi agama, warga desaku terbilang taat. Islam menjadi agama satu-satunya yang ada. Hanya satu masjid yang ada dan selalu ramai di waktu-waktu salat. Yang paling ramai adalah waktu Magrib dan Isya dan juga waktu salat Jumat. Ayahku salah satu orang yang rajin ke masjid. Waktu Magrib dan Isya ia tak pernah absen.

Sore selepas dari sawah, ayahku pasti bergegas bersih-bersih kemudian memakai baju kemejanya pakai sarung dan kopiahnya setelah itu berangkat ke masjid untuk salat Magrib berjamaah. Hal ini dilakukannya setiap saat kecuali ia mengalami tidak enak badan.

Jarak antara rumah dan masjid tidak terlalu jauh. Ada sekitar setengah kilometer. Untuk sampai di masjid, warga desa yang berada sebelah selatan masjid harus melawati pohon beringin besar yang berumur puluhan tahun. Saking tuanya, batangnya membutuhkan lima orang dewasa yang saling berpegangan untuk bisa melingkarinya. Daunnya sangat lebat. Rantingnya sangat banyak. Bila lapuk berjatuhan sendiri.

Konon, dari cerita-cerita orang tua dulu pohon itu sangat angker. Orang bercerita bahwa pohon itu memiliki penghuni. Tapi sudah beberapa tahun belakangan cerita keangkeran pohon itu mulai memudar. Warga bahkan sudah berani mengambil rantingnya yang jatuh jadi kayu bakar.

***

Di daerahku sebentar lagi akan diadakan pemilihan kepala daerah. Ada tiga pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati. Mereka sedang berlomba “menjual” dirinya ke masyarakat. Silih berganti tim sukses datang merayu masyarakat. Debat antara pendukung masuk hingga pelosok dusun. Di pos-pos ronda pada acara domino malam hari, tidak sedikit para pendukung yang berbeda adu jotos. Mereka sama-sama ngotot mengatakan calonnya yang hebat dan akan menang.

Atmosfer Pilkada menyisir sampai di desaku. Warga desaku yang sebelumnya adem ayem mulai sedikit tegang. Walau tidak separah desa tetangga. Para tokoh masyarakat mulai jalan senyap memperkenalkan calonnya ke warga. Di desaku, sebenarnya cenderung pilihannya bersatu pada salah satu calon yang memang memiliki kekerabatan dengan orang-orang di desaku. Walau demikian tetap saja warga lain memiliki pilihan lain.

Baliho kandidat mulai ramai. Di pinggir jalan sudah terpasangan gambar senyum ramah para kandidat. Pohon-pohon tanpa kecuali termasuk pohon besar yang berumur puluhan tahun itu tak luput dipasangi gambar kandidat. Paku-paku menancap pada batang pohon untuk menguatkan gambar agar tidak jatuh.

***

Hari Jumat yang terik, matahari bersinar dengan damai. Panasnya terasa hangat saja, karena desaku yang dekat pegunungan. Bahkan bila sore hari hawa sejuk mulai menusuk tubuh.

Radio masjid mulai terdengar. Lantunan ayat suci sudah menggema. Itu penanda sebentar lagi salat Jumat segera dilaksanakan. Ayahku sudah siap-siap berangkat. Setelah memasang kopiahnya, ia mengambil sendal kemudian melangkah menuju masjid. Di jalan sebelum tiba di masjid, ia sempat menoleh ke arah pohon besar. Ia melihat gambar terpasang. Dalam hati ia bergumam mengapa dipasang juga gambar di pohon itu.

Setibanya di masjid, selepas salat sunah. Protokol naik ke mimbar. Ia membacakan susunan acara salat Jumat kali ini. Yang bertindak selaku khatib dan imam salat adalah Ustaz Mansur. Ia adalah guruku di Madrasah. Ia merupakan alumni dari Timur Tengah. Di desa, ia sangat disegani selain karena banyak mengapal ayat alquran dan Hadis, ia juga dikenal tegas dan keras.

Ustaz Mansur memulai khotbahnya. Setelah memberi pujian kepada Allah Swt. dan Nabi Muhammad Saw, ia masuk kepada inti. Awalnya mengajak umat kepada ketauhidan hingga menyerempet ke urusan Pilkada. Ia menyindir orang-orang yang memilih kandidat yang tidak seiman sebagai tindakan menentang perintah Allah. Orang-orang seperti itu menurutnya, layak untuk kita kucilkan. Bahkan kalau perlu diperangi. Memang Pilkada kali ini, ada sepasang calon bupatinya Muslim dan wakilnya Nasrani.

Setelah khotbah, salat Jumat pun sudah selesai. Jamaah bergegas meninggalkan masjid menuju rumah masing-masing. Ayahku pun demikian. Ia berjalan menuju rumah dan di depannya ada Ustaz Mansur jalan sambil mengobrol dengan jamaah lain. Dari masjid, lebih dulu rumah Ustaz Mansur kemudian rumahku.

Ada sekitar 10 rumah yang mengantarai rumahku dengan rumah Ustaz Mansur. Antara keluarga Ustaz Mansur dan keluargaku tidak terlalu akrab akan tetapi tetap saling menyapa dengan baik walaupun dingin. Menurut cerita, Ustaz Mansur tidak terlalu respek kepada keluargaku khusus pada ayahku sebab masih menjalankan tradisi seperti baca doa di hari-hari tertentu, barzanji, serta tahlilan. Namun ayahku cuek saja. Dan tetap teguh menjalankan tradisi tersebut.

***

“Aku tidak akan pernah ke masjid lagi,” cetus ayahku dengan wajah kesal saat baru saja pulang dari salat Jumat. Kami seisi rumah jadi kaget mendengarnya.

“Ada apa?” tanya ibuku penuh keheranan.

“Kok masjid dijadikan tempat kampanye dan menjelek-jelekkan orang lain,” jawab ayahku.

“Bisa-bisanya masjid dijadikan tempat mengkafirkan dan mengutuk yang berbeda keyakinan. Bahkan orang tidak memilih yang seiman dianggap kafir,” lanjut ayahku yang masih kesal.

Semenjak khotbah Ustaz Mansur itu, ayahku tidak pernah lagi ke masjid desaku walau salat magrib dan isya. Ia hanya salat di rumah. Bila hari Jumat, ayahku memilih salat Jumat di masjid desa tetangga.

Hari dan bulan berlalu, warga desaku mulai bergosip atas ketidakhadiran lagi ayahku di masjid. Macam-macam cerita beredar. Ada yang mengatakan bahwa ayahku sedang mempelajari ajaran tertentu. Ajaran yang bertentangan dengan Islam. Berkembang juga isu bahwa ayahku sedang persugihan. Ustaz Mansur semakin tidak respek kepada keluargaku. Kepada ayahku. Ia bahkan menyampaikan ke warga agar hati-hati dengan keluargaku. Ia menyampaikan bahwa di rumahku perilaku bidah dan menyesatkan masih dipraktikkan.

***

Sore, ketika matahari mulai redup. Hawa dingin merangkak. Para petani satu persatu mulai pulang dari sawah. Sekitar pukul lima, Aslam kekasihku datang berkunjung ke rumahku. Membawakanku novel Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Marcel miliknya. Dari sekian kali aku ingin membaca novel itu, namun tidak ada waktu yang tepat. Aku rasa inilah waktunya yang tepat. Di saat lebih banyak di kampung. Sebab kuliah sudah rampung. Ujian meja telah selesai. Sisa menunggu jadwal wisuda.

Saat masuk di rumah ia ditemani ayahku. Aku hanya keluar menemuinya untuk mengambil buku. Setelah itu, kembali ke kamar. Di tradisi desa kami, bila ada tamu laki-laki, anak perempuan harus di dalam. Tapi di dalam kamarku yang memang bersampingan langsung dengan ruang tamu, aku bisa menguping pembicaraan mereka.

Kudengar ayahku bertanya tentang kondisi keluarga Aslam. Aslam menjawabnya sebagaimana mestinya. Kemudian kudengar lagi, dengan terbata-bata, Aslam menyampaikan niatnya untuk melamarku selepas wisuda. Mendengar niat Aslam itu, ayahku meresponnya dengan baik. Cuma ayahku mengingatkan pada Aslam agar terlebih dahulu membicarakan dengan baik di keluarganya.

Setelah kedatangannya di sore itu, Aslam menjadi sering berkunjung ke rumahku. Ia semakin akrab dengan keluargaku. Dengan ayahku. Karena keseringan datang ke rumahku. Warga desa akhirnya menjadi tahu hubungan kami. Cerita mulai merebak. Ada yang meresponnya dengan positif. Tak sedikit menanggapinya dengan negatif.

Merebaknya cerita, akhirnya masuk juga ke rumah Aslam. Ayahnya menjadi murka. Kata-kata tak pantas harus didengar oleh Aslam tentang keluargaku. Ustaz Mansur ayahnya menjelaskan semuanya, bahwa keluarganya tidak cocok dengan keluargaku. Menurutnya, keluargaku punya paham yang berbeda dengan keluarganya.

Keluarga kita memegang teguh nilai-nilai Tauhid. Mereka masih melakukan praktik bidah. Kamu tahu Aslam, ayahnya tidak pernah lagi ke masjid. Itu tanda bahwa mereka memang punya paham yang menyesatkan. Orang di desa semua tahu bawah ayahnya punya aliran tertentu. Ayahnya diduga melakukan persugihan. Pokonya ayah tidak merestui jika mau menikah dengan anaknya. Kamu cari saja perempuan yang lain.

Mendengar itu, Aslam terasa terpukul. Ia tidak mendapat restu dari ayahnya untuk menikahiku. Aku tahu Aslam sangat mencintaiku. Kami saling mencintai. Kami sudah mengenal karakter masing-masing. Selama kami berhubungan hanya bisa dihitung jari kami bersitegang. Aslam orangnya lembut. Perasa dan sangat peduli. Dan ia sangat menghormatiku sebagai perempuan. Tak pernah sekali pun suaranya meninggi di hadapanku. Justru aku yang sering meninggi.

Bertahun hubungan kami lewati. Kala hendak memasuki gerbang yang lebih tinggi, situasi ini datang. Kadang aku dan Aslam berpikir mengapa masalah mereka harus turun ke kami. Apakah mereka tidak peduli pada perasaan kami. Ayahku juga sudah mulai mengeras. Merasa tersinggung dengan perilaku Ustaz Mansur. Namun demikian ayahku tetap menyenangi Aslam. Cinta kami diuji. Entah apakah kami bisa melewati ini.

***

Hari-hari semakin muram. Daun menjadi layu. Ranting berjatuhan. Hawa dingin semakin menusuk. Aku tidak pernah lagi bertemu dengan Aslam. Komunikasi hanya berjalan melalui pesan singkat. Kami saling menguatkan. Kami masih berkeyakinan bahwa cinta kami akan mengalahkan orang tua kami—khususnya ayah Aslam. Cinta kami yang tulus akan meluluhkan kerasnya prinsip mereka. Prinsip ayah Aslam. Kami yakin akan itu. Kami percaya jika cinta memang milik kami, Tuhan akan memberikannya tanpa kompromi.

Pagi baru saja merekah. Matahari masih sejengkal, warga desaku tiba-tiba dihebohkan oleh kejadian aneh di pohon beringin puluhan tahun itu. Di dahannya yang menjulur pas di atas jalan desa tergantung kepala kerbau. Darahnya masih segar. Semua warga desa keheranan. Semua bertanya-tanya siapa kira-kira menggantung kepala kerbau itu.

Warga yang memiliki kerbau, mengecek satu per satu punyanya. Namun tak ada satu pun dari mereka kehilangan kerbau. Dan kejadian itu terus berulang setiap hari Jumat. Pernah suatu hari Ustaz Mansur beserta jamaah lain sepulang dari salat Isya dikagetkan oleh dahan dan daun pohon tua itu bergoyang kencang padahal tak ada badai. Esoknya ditemukan lagi kepala kerbau dengan darah yang masih segar.

Dengan kejadian yang berulang, warga jadi ketakutan. Masih sore desa menjadi sepi. Semua orang sudah di rumah masing-masing. Desaku seperti desa mati bila sore menjelang Magrib. Bahkan siang tak ada lagi yang kumpul-kumpul seperti biasanya. Tak ada lagi orang yang pergi salat berjamaah di masjid. Ustaz Mansur tidak pernah lagi memimpin salat. Masjid jadi sepi.

Melihat situasi desa yang tidak normal, ayahku kelihatan gusar. Sepertinya dia tahu sumber masalahnya. Di Kamis sore menjelang magrib, ia bersama dengan pamanku. Adik dari ibuku. Mendatangi pohon tua yang semakin menyeramkan dari sebelumnya. Bagaimana tidak, rantingnya menumpuk di bawahnya. Sebab tak ada lagi warga yang berani mengambilnya untuk jadi kayu bakar.

Ayahku bersama pamanku tiba di bawah pohon tua itu. Ia membersihkannya. Ranting dan daun dikumpulnya. Gambar kandidat yang dipaku di batangnya dicabuti satu per satu kemudian dikumpulkan bersama ranting dan daun itu lalu dibakarnya.

Selepas itu, malamnya di rumah berkumpul beberapa orang dari kerabat ayah dan ibuku. Mereka datang atas permintaan ayahku. Setelah berkumpul mereka zikir bersama. Berdoa kepada Allah agar desa kami dijauhi mara bahaya. Menurut ayahku, peristiwa yang terjadi di desa tidak lepas sikap arogan warganya yang memaku pohon yang ada untuk memasang gambar-gambar kandidat. Apalagi pohon beringin tua itu.

Setelah zikir di rumah itu, kejadian di desa tidak pernah terjadi lagi. Namun warga masih enggan pergi ke masjid salat berjamaah. Akhirnya ayahku kembali ke masjid. Seperti sediakala ia datang setiap magrib. Melihat ayahku sudah ke masjid, warga lain pun sudah mulai ikut. Dan desa kembali normal.

Apa yang dilakukan ayahku untuk mengembalikan desa kembali normal, menjadi pembicaraan hangat warga desa. Dan semenjak itu, setiap malam Jumat selepas salat Isya, banyak warga datang ke rumah untuk zikir bersama.

Namun sikap Ustaz Mansur tetap seperti semula. Masih menganggap ayahku menyimpang dari ajaran murni Islam. Hal ini tentu juga berimbas pada hubunganku dengan Aslam.

***

Sepertinya situasi baik belum juga memihak kepada kami. Cinta kami semakin menuai badai yang besar. Ustaz Mansur masih juga bersikeras tak akan menikahkanku dengan anaknya. Lagi-lagi alasannya, ada prinsip akidah yang berbeda. Karena itu sikap kerasnya ayahnya itu, Aslam mengajakku mengambil jalan nekat. Dia memintaku untuk lari dari desa. Biar di tempat lain nantinya baru menikah. Namun aku menolaknya.

Aku tak mau mempermalukan orang tuaku. Aku juga memikirkan nasib ayahnya yang dihargai di desa. Perbuatan ini pasti akan menurunkan penghargaan orang lain pada mereka. Bisa jadi ayahku akan dicaci karena dianggap punya anak perempuan sepertiku. Ustaz Mansur akan menjadikannya bulan-bulanan cacian. Mungkin saja ia akan membuat isu bahwa aku memelet anaknya hingga lari bersamaku.

Penolakanku membuat Aslam terpukul. Alasan yang kuberikan kepadanya tak ia terima. Ia tetap terus memintaku untuk pergi bersama. Menurutnya, kami hanya akan dibenci beberapa waktu saja. Setelah kami punya anak mereka pasti akan menerima. Pokonya Aslam ingin memperjuangkan cinta dengan cara apa pun. Tapi aku tetap menolak. Aku masih berpikir. Sedang Aslam memintaku untuk tak berpikir. Karena aku tetap pada pilihanku walau dalam hati seperti tersayat-sayat perih. Lukanya entah sampai kapan bisa sembuh. Cinta masih bersemi namun tak bisa berkembang. Ia terkutuk oleh situasi yang brengsek.

Semenjak kami mengambil keputusan itu, bertahun berlalu. Aslam tak pernah lagi keluar rumah. Menurut cerita beredar ia banyak murung dalam kamar. Tak banyak cerita sama orang lain termasuk ayahnya Ustaz Mansur. Sedang aku, beberapa laki-laki datang melamarku, namun aku menolaknya. Walau umurku tak mudah lagi. Dalam hati kecilku tetap menanti ada keajaiban. Situasi berubah. Dan Aslam datang melamarku atas restu ayahnya. Walau kelak kami tak bisa lagi punya anak.

 

Ilustrasi: https://id.pinterest.com/pin/565905509412388731/

ditulis oleh

Asran Salam

Petani yang senang menulis. Pegiat di Komunitas Simpul Peradaban Palopo.