Siapa sih yang tak ingin maju dan sukses? Setiap orang menginginkanya. Hanya saja terkadang, kemalasan datang menghadang. Penyakit malas menyerang tanpa melihat orang, waktu, dan tempat. Ketika rasa malas mendera, maka tak satu kerjaan pun bakal rampung secara baik. Ingin rasanya hidup santai, tanpa beban pikiran!

 

Butuh Gerak Solid

Kemalasan berubah bak monster menakutkan, saat berakumulasi bentuk menjadi kemalasan kolektif. Jika wabah ini menjangkiti satu bangsa, maka niscaya bangsa tersebut telah tertimpa satu kemalangan, yaitu ketertinggalan di segenap aspek kehidupan, baik ekonomi, teknologi, sosial, maupun politik budaya.

Hampir semua orang sepakat, bahwa kemalasan terkait dengan miskin gerak. Hubungan antara keduanya bersifat linier. Semakin lambat pergerakan maju satu bangsa, semakin kuat sinyal kemalasan sosial yang mendera. Hubungan linear lainnya, yaitu antara kemalasan dengan ikhtiar. Semakin kuat tekad, semakin lemah kemalasan. Semakin lemah tingkat kemalasan, maka semakin tinggi tingkat produktivitas bangsa. Sebagai warga negara yang baik, mestinya sadar untuk ikut bagian membangun negara. Semua berawal dari gerak solidaritas!

Tentu saja, untuk membangun solidaritas sosial dibutuhkan satu gerak solid! Gerak solid adalah gerak bersama, tanpa tendensi ragu, dan saling curiga. Membangun solidaritas sosial menuju Indonesia Maju, bukan hal mudah. Butuh satu gerak solid. Butuh tekad kuat untuk memajukan bangsa dalam berbagai sektor, baik ilmu pengetahuan ilmiah, sosial, budaya, industri, pertanian, ekonomi kreatif, dan lainnya. Sekali lagi butuh gerak maju menciptakan SDM smart, membangun infrastruktur, ekonomi sektor jasa, industri, dan lainnya. Gerak maju ini adalah gerak maju tanpa kemalasan!

 

Horor Kemalasan

Kemalasan kolektif sangat horor. Bak mesin penghancur, melindas rasa percaya diri satu bangsa. Memupuk potensi konsumtif, tertawan zona nyaman, diperbudak oleh teknologi modern, serta kelemahan lain yang membuat sulit untuk bercipta karya.

Bangsa yang enggan membangun gerak solidaritas sosialnya secara bersama, akan kesulitan mempertahankan peradabannya. Alih-alih, bahkan semakin lemah, terbelakang, dan berpangku tangan. Masyarakat bangsa akan menjadi semakin konsumtif, lagi modern-primitif. Alih-alih membangun dan mempertahankan peradabannya, bahkan satu-satu menyerang dan menghancurkan bangsanya sendiri!

Sebuah bangsa butuh solidaritas bersama atau kesadaran kolektif untuk berkorban demi persatuan dan kesatuan bangsa. Ada yang dijaga bersama, yaitu sejarah dan identitas diri. Ada yang diperjuangkan, yaitu kemerdekaan!

Tapi sekali lagi, gerak solidaritas sosial mati kutu bersekutu dengan kemalasan. Mati gaya!

Penyakit malas mesti diobati, diterapi, dan disembuhkan. Terlebih lagi di masa-masa sulit pandemi yang membuat hampir seluruh bangsa di dunia, berada dalam ancaman dan kesulitan besar. Masa-masa pandemi menuntut negara-negara untuk mengerahkan kemampuannya, melindungi dan menyelamatkan warganya dari ancaman maut Corona, serta dampak sosial-ekonominya. Solidaritas sosial sangat dibutuhkan di masa-masa seperti sekarang ini, masa-masa pandemi. Masyarakat dituntut smart menjalankan protokoler standar. Jangan seenaknya, apalagi alasannya malas ngambil masker di laci meja.

 

Visi Indonesia Maju 2045

Untuk melanjut langkah Indonesia Maju saat ini, memang terasa sulit. Jantung ekonomi berdetak lambat. Langkah dunia bisnis sangat berat. Butuh mengencangkan ikat pinggang lebih erat, yang risikonya dapat menghilangkan pinggang bagi yang berpinggang kecil.

Pemeritah Indonesia mengikut pada aturan WHO, mengeluarkan berbagai kebijakan dalam memerangi virus cerdas Covid-19. Di saat ekonomi Indonesia masih terus berjuang, pemerintah mengucurkan alokasi dana yang tidak sedikit. Tidak hanya untuk dunia usaha, melainkan juga bagi para pekerja, dan keluarga pra sejahtera. Semua ditempuh untuk kelangsungan hidup bernegara.

Semua paket kebijakan pemerintah tentu tak akan sukses tanpa dukungan seluruh masyarakat, dunia usaha, militer, serta politikus negara, Sekali lagi, solidaritas sosial sangat dibutuhkan. Perlu adanya satu penegasan bersama lagi, seperti dahulu saat para pemuda Indoneisa mengikatkan kesadaran jiwanya pada Sumpah Pemuda, 28 oktober 1928. Pancasila menjadi simbol pemersatu, lambang sakti, dan sekaligus saksi solidaritas dan integritas pemuda Indonesia terhadap NKRI.

Untuk terus bergerak maju, Indonesia butuh satu visi yang kuat, baik jangka panjang maupun pendek. Visi jangka panjang bagai ruh bagi mesin penggerak nasional. Ketika ruh ini mati, maka sistematik pergerakan pun ikut berhenti. Adapun visi operasional lainnya, bersifat kontekstual-komunikatif.

Para bapak pendiri bangsa telah mengukuhkan satu visi kebangsaan, yang kokoh dan telah teruji sepanjang sejarah. Indonesia bangkit dan maju bersama ruh Pancasila sebagai landasan ideologis bangsa. Pengalaman sejarah telah membuktikannya. Kecuali memang, jika kemalasan kolektif telah mewabahi bangsa, tentu faktanya lain lagi. Sebab Pancasila hanya akan efektif dengan pengamalan sila dan nilai-nilainya, tanpa intervensi rasa malas!

 

Kemalasan Penghalang Indonesia Maju

Untuk membawa Indonesia menuju bangsa maju tentu diperlukan SDM unggul dan relevan. SDM unggul adalah para pemikir, pengusaha, pekerja, pemerintah, mahasiswa, dan rakyat yang berpikiran maju. SDM unggul adalah individu produktif yang bekerja sebagai penggerak kemajuan bangsa dan rakyatnya. SDM unggul adalah penyumbang ide, gagasan, sekaligus tutor yang melatih insan-insan mula untuk bergerak.

Tentu saja karakter dibutuhkan. SDM unggul sangat bergantung pada bibit unggul yang cerdas, kritis, logis, produktif, dan jauh dari kemalasan. Rasa malas yang mendera massal satu bangsa, perlu segera ditangani, dan dipangkas dari karakter bangsa, terutama pada generasi muda.

Telah disebutkan dalam kajian agama-agama, bahwa kemalasan adalah penghancur dan penghambat kemajuan satu bangsa. Meladeni rasa malas, bukanlah tradisi para Nabi, Rasul, dan Tokoh besar dari Islam, Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, dan lainnya.

Dalam tradisi Islam diajarkan bahwa kemalasan adalah syiar syaitan dan penghalang kesempurnaan maknawi. Imam Khomeini dan para pendiri Republik Islam Iran percaya bahwa kemalasan adalah akar kefasikan dan kejahatan. Kemalasan adalah akar musibah, penjajahan, dan ketertinggalan. Kemalasan adalah penghalang izzat bangsa. Sebaliknya, kerja keras adalah pembangkit semangat juang, mendatangkan kebanggaan bagi bangsa, kepercayaan diri, dan obat kefakiran.[i]

 

Kerja, kerja, kerja…!

Benar. Kerja adalah formula paling ampuh melawan wabah kemalasan. Kerja pada hakikatnya adalah gerak dari titik asal menuju akhir untuk mencapai satu tujuan tertentu. Sangat tepat jika Presiden RI, Joko Widodo, mempopularkan dan menjadikan syiar “Kerja, kerja, kerja…!” sebagai satu gerak kebangkitan nasional menuju Indonesia Maju 2045.

Mensyiarkan slogan “Kerja, kerja, kerja…!” secara nasional, tentu bukan hal sepele. Kebijakan ini berangkat dari pengenalan hakikat malas, dampak negatif dari kemalasan, serta kerusakan fatal yang ditimbulkannya bagi negara. Kebijakan ini juga didasari dari ma’rifat dan pengamalan nilai-nilai pancasila yang dalam terkait kerja, solidaritas sosial, gotong-royong, tolong-menolong, kemuliaan insani ditilik dari aspek gerak transendental, dan bahasan lainnya.

Tak heran, Presiden Joko Widodo begitu yakin dan percaya diri dengan visi Indonesia Maju 2045 yang digulirkan bersamaan dengan momen peringatan 74 tahun Indonesia Merdeka. Sebab, ada kemalasan kolektif yang mesti segera diperangi!

Jika sukses, maka beliaulah pahlawan dan Bapak Kemajuan Bangsa Indonesia yang sejati. #SelamatHariPancasila

 

[i] Sabuk Zendegi-ye Eslami (4), Tanbali-ye Ejtemaie, Mane’ Asasi dar Phishraft-e Melli, p. 60, Moassese-ye Farhangi Hunari Qadr-e Welayat, Teharan, 1395

ditulis oleh

S. R. Siola

S. R. Siola, seorang pecinta ilmu dan hikmah. Kecenderungannya terhadap dunia literasi telah terpupuk sejak kecil. Menyelesaikan pendidikan sarjana di Iran, bidang Filsafat dan Theologi Islam, dan Master Pendidikan di Indonesia. Saat ini menetap di Iran, menghabiskan waktu dengan membaca dan menulis.