Baru-baru ini terdengar kabar mengenai Pegunungan Himalaya nampak di India bagian Utara sejak kurang dari tiga puluh tahun yang lalu. Jujur saja, saya sangat terperanjat mendengar kabar itu. Pastilah polusi di India sudah sangat mencekik paru-paru, dugaku. Perasaan saya bercampur aduk. Di satu sisi hati terasa terkoyak melihat semakin mewabahnya Covid-19, dan di sisi lain sangat bersyukur karena dengan WFH (Work From Home) membuat bumi kian membaik.

Peristiwa mengenai Pegunungan Himalaya membuat saya mengingat kepingan masa lalu. Setiap hari, sekitar pukul 6 pagi, saya akan melihat bayangan sebuah gunung di ujung jalan lorong rumah. Saya selalu bertanya-tanya, apakah benar itu sebuah gunung? Dan jika benar, gunung apa yang berada di tengah kota Makassar ini? Anehnya, ketika matahari sudah sedikit lebih naik, gunung itu akan menghilang. Kemana perginya? Entahlah.

Hingga suatu saat saya menanyakan hal ini kepada seorang dewasa yang saya sendiri lupa siapa sosok itu. Saya menanyakan gunung apa itu? Dan kenapa gunung itu tiba-tiba tak terlihat? Mungkin karena ia sendiri tak tahu dan tak ingin terdengar tidak tahu apa-apa, maka ia mengatakan bahwa gunung itu adalah gunung sampah di pusat pembuangan akhir yang terletak di Antang, salah satu nama jalan di Kota Makassar. Sebagai bocah, tentu saya menerima informasi itu. Mungkin itu sebabnya, kenapa saat matahari telah begitu nampak, gunung tersebut menghilang. Tak lain tak bukan karena sampah-sampah tersebut telah dimusnahkan! Ah… begitu naif.

Mendengar berita mengenai Pegunungan Himalaya, membuat saya teringat kembali pada gunung di ujung lorong rumah. Akibat polusi membuat gunung itu hilang. Itu masuk akal. Mengingat Kota Makassar merupakan salah satu kota yang begitu padat, begitu macet, dan begitu banyak asap kendaraan yang tiap hari beroperasi. Sekeping memori kembali menampakkan diri, satu peristiwa ketika saya hendak pergi ke sekolah. Pagi itu pagi biasa. Pagi yang sibuk untuk gadis SMA di tingkat akhir.

Saat berada di tengah Jalan Pangerang Pettarani, salah satu jalan besar di Makassar, saya tiba-tiba tidak bisa melihat kendaraan jauh di depan. Jarak pandang saya tertutup oleh sesuatu seperti… asap. Saat itu saya begitu takut. Melihat hal ini membuat hati tak karuan. Mengira-ngira apa gerangan yang terjadi? Kemudian saya tengoklah ke belakang. Sama saja. Saya tak bisa melihat jauh ke belakang, tak seperti hari-hari sebelumnya. Tahulah saya betapa tercemarnya udara di planet ke tiga tata surya ini.

Sebulan yang lalu, saya menyadari satu hal yang membuat manusia metropolitan dibutakan olehnya. Udara di kota dan di pedesaan sangat berbeda. Jauh berbeda. Ya, saya yakin semua orang tahu ini. Namun, saya baru saja benar-benar merasakan perbedaannya. Saya beberapa kali pergi jauh dari pusat kota, pergi ke daerah-daerah dengan maksud menulusuri alamnya. Ketika saya berjalan jauh di sana, tentu saya merasa capek, namun capek saya dikarenakan kaki yang lelah berjalan jauh. Beda hal ketika saya berjalan beberapa kilometer di kota Makassar. Capeknya terasa dua kali lipat, ditambah dengan udara yang kotor membuat paru-paru saya bekerja lebih keras. Memompa kiri dan kanan. Menyemangati satu sama lain. Seolah mereka menjerit pilu, meminta untuk tidak menghirup polusi lebih banyak.

Pertanyaan pun muncul. Apakah selama ini kita menyadarinya? Ataukah teriakan pilu paru-paru kita tenggelam oleh kenikmatan menggunakan sarana yang kita gunakan selama ini?

Ah… satu hal paling saya dambakan adalah mengendarai sepeda untuk menjalani aktivitas. Selain mengurangi polusi, kita juga akan berolahraga. Sayang sekali, jalanan di pusat kota benar-benar tidak mendukung pengendara sepeda. Bagaimana tidak, setiap mengendarai sepeda di jalan raya yang padat, membuat jantung saya berdebar lebih cepat. Berbeda ketika saya bersepeda di Bantaeng, salah satu kabupaten terbersih di Sulawesi Selatan. Rasa nyaman dan aman ketika berkendara sepeda membuat saya lebih memilih transportasi itu untuk menjelajahi kotanya Bantaeng. Udara yang bersih, lingkungan yang bersih, dan jalanan yang tertib membuat hati ini begitu iri. Kapan ibu kota Sulawesi Selatan seperti itu?

Penuh rintangan benar menjadi sosok pro lingkungan di tempat buta akan lingkungan. Meski kehadiran saya belum bisa mengurangi polusi di kota Makassar, saya tetap mengajak teman-teman terdekat untuk melakukan hal kecil. Suatu hal kecil yang dapat menyelamatkan kota kelahiranku ini. Ya, benar. Hal kecil itu adalah tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik, dan selalu menyediakan botol air minum sendiri.

Meski saya tidak punya power untuk menampar satu persatu orang yang mencemari lingkungan, setidaknya saya bisa mulai menghasut orang-orang di sekitar saya untuk sadar. Sadar akan hal kecil ini. Apakah hal kecil ini terlalu kecil sehingga mereka tidak bisa menyadarinya? Entahlah. Namun saya yakin, dengan memperlihatkan perilaku seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik, dan menggunaan botol air minum sendiri, lambat laun akan membuat orang di sekitar saya akan menyadarinya. Yah.. meskipun lamban. Namun, bukankah butuh proses dalam mencapai sesuatu? Mungkin inilah prosesnya. Proses yang panjang dan begitu berliku. Mungkin, kau juga bisa memulai proses ini. Benarkan?

 

Kredit foto: Mauliah Mulkin

 

 

 

ditulis oleh

Saffana Mustafani

Saffana Mustafani, mahasiswa Psikologi UNM. Dan, bergiat di organisasai pecinta alam, MARABUNTA Fakuktas Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM)