Malam itu, saya sedang di luar, tepatnya di rumah teman tatkala banjir terjadi. Saya baru menyadari hal tersebut setelah mendapat telepon dari keluarga yang menanyakan kabar dan keadaan. Jujur, saya sungguh kaget, hujan di Kota Bantaeng seingat saya baru berlangsung setelah asar, itu pun dengan intensitas yang sedang. Masa iya banjir, saya antara percaya dan tidak. Saya lupa, secara geografis, kita ini berteman dengan gunung, dari sinilah air yang tak bisa diserap oleh tanah dan akar pohon dengan baik akan lepas, dan lekas mengisi anak-anak sungai. Nah, di daerah pegunungan inilah hujan deras itu berlangsung, dalam durasi lama dan intensitas yang tinggi. Akibatnya, Cekdam Balangsikuyu  di Bantaeng mengalami kerusakan di sisi kanan akibat tertimpa material, tepat pada pukul 19:00, demikian informasi yang saya baca dari situs berita online. Banjirlah sebagian Kota Bantaeng. Paniklah orang-orang.

Saya bukalah gawai, ternyata status teman-teman sudah riuh mengabarkan berita ini. Banjir di mana-mana, dengan ketinggian yang berbeda di tiap titik. Lokasi banjir terdekat pun tak jauh dari rumah teman tempat saya berkunjung, sekitar 1 km. Berdasar penuturan teman yang sempat terjebak banjir. Air di situ setinggi paha orang dewasa, arusnya deras dan tiba-tiba. Di beberapa titik lain, bahkan lebih parah, lebih dari 1 meter.

Orang-orang panik dan mencari tempat perlindungan. Yang tak sempat, bertahan di rumah dan tetap waspada, melilhat kondisi air apakah akan terus bertambah ketinggiannya atau tidak. Ada yang mengungsi ke lantai dua rumah, naik ke atas meja makan, juga memanjat di kerangka atap rumah yang tinggi. Bisa dibayangkan bagaimana paniknya situasi saat itu. Maklumlah, banjir parah terakhir kali melanda Bantaeng sudah lama sekali, sependek ingatan, saat itu saya masih SD. Saya ingat betul kala itu, karena sepupu saya mesti diantar pulang dengan mobil truk akibat pondoknya di pesantren terendam banjir.

Beruntungnya, banjir ini cepat surut, dan tak menggenang lama. Hanya di beberapa titik jalan yang memang rendah, air masih menggenang hingga tak bisa dilalui kendaraan. Yang memaksakan lewat pun akhirnya harus mogok di tengah kepungan air. Kendaraan yang tergenang banjir berserakan di mana-mana, ditinggalkan oleh pemiliknya yang lebih memilih menyelamatkan diri. Motor bisa dibeli, nyawa tidak. Saya pun pasti melakukan hal yang sama jika berada dalam situasi yang demikian.

Sekitar dua jam pasca banjir, saya mengajak teman untuk keluar melihat situasi di lapangan. Banjir yang surut menyisakan lumpur setinggi mata kaki, di beberapa tempat mencapai betis orang dewasa. mengendari motor, kami berkeliling. Sungguh, perasaan saya terenyuh. Orang-orang dengan tabah membersihkan rumah-rumah mereka dari genangan air bercampur lumpur, saya bahkan masih melihat senyum dari bibir mereka. Sungguh kuat. Juga mereka yang mengambil kembali kendaraan masing-masing yang ditinggalkan kala banjir, masih sempat lebur dalam candaan. Ya, meratapi hal seperti ini memang tak banyak membantu. Banjir telah surut, tapi semangat untuk bangkit mesti terus dipupuk. Setelah ini, yakinlah bahwa pemerintah akan memikirkan jalan terbaik, agar banjir tak lagi mendera. Dibantu dengan kesadaran warga untuk membudayakan pola hidup yang pro terhadap langkah antisipatif banjir. Sinergitas pemerintah dan warga adalah kunci.

***

Keesokan harinya, Pemerintah Kabupaten Bantaeng, bersama seluruh SKPD dan jajarannya, ASN, TNI-POLRI, relawan dari pelbagai organisasi dan masyarakat lekas bergerak melakukan aksi “Kerja Bakti Bersama” membersihkan sisa banjir di beberapa titik parah dan strategis. Yang tak sempat turun langsung pun tak berpangku tangan. Mereka  menyiapkan makanan jadi yang dibawa langsung dari tempat mereka memasak: rumah, sekolah, masjid, kantor desa dan lainnya untuk dibawa langsung ke titik-titik banjir. Tak lupa donasi berupa kebutuhan primer juga langsung dikumpulkan di posko-posko darurat.

Media sosial sepertinya sudah ramai mengabarkan, bagaimana para relawan bekerja dan berbagi makanan, air bersih, obat, dan pakaian. Juga para penyedia jasa seperti laundry dan depot air minum, mereka menyediakan jasanya secara gratis. Iya sayang, gratis. Ada banyak cara menjaga rasa kemanusiaan kita di tengah bencana. Hal-hal positif demikian, memang mesti terus disebarluaskan, digalakkan, dan dibudayakan. Hari-hari pasca banjir benar-benar sibuk. Sangat sibuk. Dalam beberapa hari terakhir itu, saya melihat betul bagaimana solidaritas masyarakat Bantaeng. Juga betapa kuat dan tabahnya mereka.

Dalam masa-masa seperti ini, memang bukanlah saatnya untuk mencari kambing hitam. Musibah yang datang tak pernah dipengaruhi oleh single factor, faktornya bisa sangat banyak dan kompleks. Karenanya sangat tak elok, jika lebih sibuk mencari kesalahan tinimbang bekerja, meluangkan waktu dan memeras keringat untuk meringankan beban-beban saudara kita yang terdampak. Apalagi, jika sampai mengaitkan fenomena banjir ini sebagai bagian dari upaya Tuhan mengembalikan orang-orang ke masjid, setelah dianggap ‘jauh’ akibat Covid-19. Argumennya sederhana, setelah banjir, banyak orang datang ke masjid untuk mengungsi, aduuuhh. Sungguh, itu adalah anggapan yang sangat melukai, tidak simpatik terhadap para korban dan justru menyalahkan mereka. Saya yakin, Tuhan yang Maha Pengasih tak sekejam yang digambarkan itu, ‘menyeret’ orang ke masjid dengan musibah. Itu model cocoklogi yang sangat dipaksakan.

Ya, kalau tetap mau ngotot mencari kambing hitam, itu urusan kesekianlah. Silahkan dilakukan, tapi setelah saudara-saudara kita bisa tidur nyenyak di kasur mereka yang kering, sudah bisa masak di dapur yang nyaman, dan menggelar dagangan mereka kembali di kios-kios pasar. Kalau sudah, lakukanlah apa yang membuatmu bahagia. Karena mungkin selama ini, aku gak bisa bahagiain kamu. Eehh.

Walakhir, saya adalah orang yang meyakini bahwa di balik setiap musibah yang datang, selalu ada hikmah yang terkandung. Banjir akan selalu mengajarkan kita untuk berpikir dan merefleksikan diri. Memperbaiki yang salah dan menambah yang kurang. Juga mengajak kita untuk lebih peduli terhadap alam. Muaranya adalah, mungkin Tuhan ingin mengajak kita untuk berzikir dan merendahkan diri. Manusia itu kecil, sungguh tak berdaya di hadapan kebesaran alam dan keagungan Tuhan.

Maafkan kami yang tak pernah benar-benar menjadi khalifah yang baik.

 

 

 

 

 

 

ditulis oleh

Muhammad Ikbal

Profil Penulis

Lahir di Bantaeng, 13 Agustus 1995. Ketua Karang Taruna “Sipakainga” Desa Tombolo. Kec. Gantarangkeke. Kab. Bantaeng. Guru PJOK di SDN 48 Kaloling. Aktif sebagai pustkawan di Rumah Baca Panrita Nurung dan bergabung dalam KGB (Komunitas Guru Belajar) Bantaeng. Penyuka hujan dan buku-buku sastra.