Mengkaji O, novel karya Eka Kurniawan. Mohon dipercaya, membaca O dengan modal iseng, tak membawa pembacanya pada satu studi kritis, baik literasi-sastra maupun kajian ilmiah. Yang ada malah jenuh, ingin segera menutup buku.

Apa yang menarik di O? Selain jumlah karakter yang banyak dan alur cerita yang rumit, ada alasan lain. Ide cerita, berlatar seekor monyet pejantan bernama Entang Kosasih ingin menjadi manusia. Ini tak biasa.

Tak mau kalah, O, seekor monyet betina lugu warga Rawa Kalong dan mencintai Entang, berusaha memanusiakan dirinya melalui pesakitan hidup bersama Betalumur di sirkus topeng monyet kelilingnya. O percaya, ujian dan kepahitan hidup bakal mengubah dirinya menjadi manusia. O mencoba untuk mencintai fitrah insaniah. Ini pun tak biasa.

Tidak ada yang mendukung pasangan jatuh cinta ini. Sebagian besar kawanan monyet menolak rencana gila mereka. Evolusi monyet menjadi manusia adalah sebuah kegilaan. Meski demikian, sekelompok Darwinis meyakini kebenaran hukum ini. Monyet dapat berubah menjadi manusia. Bahkan, monyet adalah leluhur manusia itu sendiri. Entang berpijak keyakinan pada teori ini.

Betalumur pun mengakhiri kisah manusianya menjadi babi. Ia berkongsi dengan seorang perempuan berusia mendekati senja. Mereka menarikan tarian babi ngepet. Di satu sudut kota, sang babi Betalumur menjadi sasaran amuk massa. Badannya terhuyung. Sangat ajib ramalan para Darwinis. Manusia dan binatang bisa saling bertransformasi dimensi.

Hutan Evolusi dalam Sastra

Berbagai jenis prilaku manusia terpapar dalam O. Segala bentuk tindak kekerasan, pelecehan, pencabulan, pelacuran, percurian, penipuan, iri hati, dengki, sumpah serapah, dan setumpuk permasalahan manusia lainnya, sangat apik diracik oleh Eka. Jumlah karakter yang sangat banyak, dan alur cerita yang rumit berbelit; semakin memperjelas titik dan letak posisi hutan evolusi. Di sinilah, O dan Entang Kosasih mempertaruhkan roh kemonyetannya agar dapat berevolusi menjadi manusia. Sayangnya, O yang imunitas tubuhnya lemah, mati tanpa pernah berubah menjadi manusia.

***

Di dunia sastra, banyak dijumpai fabel dunia binatang. Genre yang satu ini banyak mengisahkan fenomena binatang di hutan lestari. Ada persahabatan, dan ada permusuhan. Ada pertarungan, ada pula perdamaian.

Para sastrawan dunia yang menjadi saksi terpenuhinya ramalan demi ramalan evolusi, beramai-ramai mengabadikan ke dalam karya masing-masing. Timur dan Barat, tak ada beda. Semua percaya, manusia dan binatang bisa saling bertransformasi dimensi. Bisa saling bersahabat, bermusuhan, menolong, maupun saling bunuh.

The Lion and the Mouse, sebuah fabel anak terkenal asal Inggris. Menceritakan persahabatan yang sifatnya tak disengaja. Adalah singa sedang lelap dalam tidurnya. Tiba-tiba seekor tikus melompat ke tubuhnya. Singa terbangun dan hendak menerkam tikus. Setelah menyadari kesalahannya, tikus pun meminta maaf. Ia berjanji, jika ia dilepaskan maka suatu hari akan membantu singa.

The Two Goats, oleh Aesop. Kisah dua ekor kambing hutan, mencoba menyeberangi sebuah jembatan tua, di atas sebuah sungai berarus deras. Ego keduanya pun saling beradu, tak ingin menjadi yang kedua meniti jembatan yang telah rapuh itu. Sial, keduanya terjatuh ke sungai. Setelah berpikir, bahwa kepentingan mereka sama, yaitu terbebas dari arus sungai, akhirnya membuat mereka bersatu dan terbebas dari petaka.

Panchatantra, adalah kumpulan fabel Hindu, ditulis oleh Pandit Vishnu Sharman. Fabel ini diyakini tertua di dunia, dan ditulis sekitar 200 tahun SM. Kumpulan fabel ini menceritakan banyak hal tentang hikmah kebijaksanaan dan kejahatan kepada beberapa pangeran. Semua kisah diungkap dalam karakter binatang. Fabel ini telah diterjemah Inggris oleh Arthur W. Ryder (The Panchatantra, University of Chicago Press, 1925). Terjemahan lainnya, Thirty Five Stories From the Pachatantra, oleh Mr. D. Ghosal, Kalkuta, 1925.

J.J Greystock, seorang bocak lelaki ceria dan cerdas dari pasangan John Greystock dan Alice Greystock, pemilik perusahaan energi ternama di Amerika, Greystock Energy. Dalam film animasi ringan berjudul Tarzan (2013) ini, sutradara Reinhard Kloos mengubah nasib bocah kaya J.J menjadi seorang anak berprilaku kera. Jauh dari didikan, asuhan, dan sentuhan tangan manusia menjadikan J.J benar-benar lupa dengan kemanusiaannya. Otot yang kekar dan jadwal terbang yang tinggi di belantara, menjadikan manusia Tarzan disegani oleh para hewan yang menjadi rivalnya.

Berbeda dengan sosok Mowgli, lelaki rimba yang hidup di belantara terdalam India. Pertama kali diperkenalkan sebagai sosok Tarzan versi lain oleh Rudyard Klipling pada 1894 dalam fabelnya The Jungle Book. Berbeda dengan Tarzan versi Edgar Rice (1993) yang merindu pulang ke kehidupan manusia, Mowgli malah menolak ide itu. Bagi Mowgli, tak selamanya memenuhi panggilan nurani manusia adalah kebaikan. Kepentingan kelompok adalah hal terpenting untuk dapat memenangkan pertarungan hidup pada seleksi alam. Akan lestari!

Kembali sekawanan Darwinis menyempurnakan hujjah atas Entang, bahwa evolusi di kalangan manusia dan binatang adalah hal yang lumrah. Jangankan binatang bodoh menjadi manusia, J.J. bocah cerdas saja, berevolusi menjadi seekor kera besar, si raja rimba. Para Darwinis percaya bahwa proses kehidupan terjadi mengikut pada hukum alamiah bumi, bahwa siapa kuat memberi pengaruh, akan lestari. Jika lemah, maka binasa.

Benarkah Evolusi? Atau Tranformasi?

Ada apa dengan dunia binatang dan manusia? Mengapa berbelit-belit? Adakah terjadi kesalahan  pada saat monyet bertransformasi menjadi manusia? J.J menjadi kera? Betalumur menjadi babi? Burung Simurg menjadi Tuhan? Laki menjadi transwomen? Straigh menjadi LGBT?

Manusia adalah makhluk ajaib bumi. Sebenarnya, ajaibnya manusia bukan karena unsur kehewanannya (otot kekar dan tubuh atletisnya), melainkan pada kemampuan berkomunikasinya (nathiq jiwa dan nathiq alam pikirnya). Manusia juga adalah hewan yang pengalaman hidupnya ditentukan oleh lingkungan sosialnya. Dengan melihat siapa guru, sahabat, pasangan, ayah, dan ibu seseorang, maka sedikit banyak membentuk kemanusiaan seseorang.

Ketika manusia dididik oleh seekor kera, besar kemungkinannya akan tumbuh dengan prilaku kera, seperti bocah J.J. Ketika seekor panda diasuh oleh seorang master sifu, maka ajarannya tak jauh dari kungfu dan kearifan Timur. Ketika seorang dididik dalam madrasah Nubuwah, maka tumbuh pribadi-pribadi Ali, Hasan, Husain, Khadijah, Fathimah, Zainab, dan lainnya. Nathiq Jiwa dan pikiran manusia ditentukan oleh aliran pendidikan yang dianutnya. Oleh para filsuf, perubahan ini tidak dikatakan berevolusi dan melewati proses seleksi alam. Melainkan terjadi transformasi, yang tidak pada identitas dzat. Melainkan pengalaman kognitif, emosional, dan spiritual.

Jujur. Saya termasuk pendukung kelompok Darwinis. Bahwa benar, monyet dapat menjadi manusia. Atau, manusia menjadi kera. Tapi untuk menunggu O—di pasca kematiannya—wajib menjalani tahapan evolusi terlebih dahulu, kemudian tercipta kebetulan-kebetulan lain bernama daur kehidupan, yang awalnya adalah karbon dan fosforus, bersenyawa dengan air, terjadi petir yang membentuk asam amino, lalu tercipta protein sebagai unsur terpenting perkembangan sel hidup, lalu kemudian menjadi bayi manusia O; itu terlalu bodoh! Sebab hampir dipastikan, sejarah ilmiah evolusi ini adalah nihil. Kecuali mengadopsi asal usul penciptaan dalam pandangan filsuf Yunani dan animisme Mesir kuno.

Setiap Orang Perlu Berubah

Perubahan adalah sesuatu yang pasti. Tak satu benda pun di semesta ini, tak berubah. Gerak perubahan ini adalah niscaya. Semua meyakini ada dan benarnya. Hanya saja, terkait pola,  jenis, dan model geraknya, orang berberda pandangan. Sebagian menyakini bahwa gerak hakiki adalah pada substansi, dan sebagian lainnya aksiden. Sebagian meyakini meterialisme-mekanistik, sebagian lagi transendental.

Saya tertarik dengan J.J, Greystock, Tarzan berkulit putih yang tumbuh besar di hutan Afrika dalam pengasuhan ibu kera, bapak, saudara, dan sahabat-sahabat kera. Film dibuka oleh keceriaan J.J kecil, bertutur pada ibunya, Alice, “Aku Tarzan. Aku kera tak berbulu. Aku penguasa hutan.”

Ketika seleksi alam membenturkannya pada ujian keterpisahan dengan orang tuanya, seketika sistem otak J.J akan bekerja untuk mencoba bertahan dan beradaptasi dengan kehidupan kera yang tidak memiliki kecakapan nathiq jiwa dan pikiran ala manusia, Sebab pengalaman kognitif yang diterima adalah pendidikan kera, maka lengkap sudah ketarzanan J.J.

Bahrul Amsal, dalam jurnalnya, Otak Manusia, Sindrom Tarzan, Kucing dan Lelaki Harimau, menyebutkan bahwa pada otak manusia terdapat miliaran neuron (sel syaraf). Setiap neuron memiliki cabang-cabang yang menghubungkan dengan neuron lain. Pada titik perhubungan neuron terbentuk sebuah jaringan sinapsis yang di dalamnya terbentuk sirkuit informasi pada setiap detiknya.

Uniknya, menurut Amsal, jaringan sinapsis ini terus saja bercabang membentuk sinapsis baru yang beradaptasi dengan waktu dan tempat di mana seorang hidup dan tumbuh berkembang. Bahasalah yang berperan sebagai pengantar data dan informasi, membentuk sirkuit informasi raksasa dalam otak. Makin berkualitas mutu bahasa, makin kuat bangunan karakter seseorang. Makin buruk, maka semakin hancur.

Ketika jaringan sinopsis ini penuh dengan ajaran-ajaran kiri, maka lahirlah para Marxis baru. Ketika sirkuit informasi Entang Kosasih hanya menangkap dan menampung bahasa kode dari Armo Gundul, maka wajar saja jika Entang, si monyet kota ini lebih memilih menjadi manusia daripada kera. Menjadi seorang radikal-konservatif pun seibarat itu. Banyak doktrin telah terdata rapi dalam jaringan sinapsis otak dan mengendap di alam bawah sadar. Maka sangat berhati-hatilah kita, bersama siapa duduk bermajelis dan berkongsi. Sebab akan sangat menentukan bentukan, seperti apa akhir dari kemanusiaan kita kelak! Monyet, anjing, batu, atau babi!

Peringatan bagi setiap ibu dan ayah. Berhati-hatilah dengan bahasa dan kalimat-kalimat yang akan kalian sampaikan kepada anak dan anggota keluarga lainnya. Bahasa preman anda memang tak sampai menghilangkan jiwa anggota keluarga detik itu juga. Tapi, membunuh karakter dan menghambat pertumbuhan psikis yang berefek pada mental (ini pasti),  dan juga bahkan fisik!

Peringatan bagi para istri. Jika suami anda melakukan tindak kekerasan verbal-non verbal, maka tinggalkan! Selain tak menghormati kemuliaan insaniah anda sebagai seorang pasangan dan hamba Tuhan, juga membunuh kemanusiaan anda secara perlahan!

O, Eka, memanglah, menyajikan banyak makanan busuk para manusia. Tapi belajarlah mengenali kebusukan, untuk mencari dan memilih sajian yang baik, sehat,  dan bersih.

ditulis oleh

S. R. Siola

S. R. Siola, seorang pecinta ilmu dan hikmah. Kecenderungannya terhadap dunia literasi telah terpupuk sejak kecil. Menyelesaikan pendidikan sarjana di Iran, bidang Filsafat dan Theologi Islam, dan Master Pendidikan di Indonesia. Saat ini menetap di Iran, menghabiskan waktu dengan membaca dan menulis.