Seperti biasanya, selepas berolahraga atawa menyibukkan diri berkutat dengan hapalan pelajaran sekolah di sore hari, para santri kemudian berkemas, bersiap-siap untuk berangkat ke masjid. Melaksanakan salat Magrib secara berjamaah kemudian dilanjutkan dengan pengajian kitab kuning hingga azan salat Isa berkumandang.

Demikianlah sedikit penggalan kisah keseharian santri. Tetiba saja ingatan tentang romantisme ketika menjadi seorang santri, menyeruak bersamaan dengan ribuan penggalan ingatan yang lain. Kala itu, selepas melaksanakan salat Magrib berjamaah, para santri menghamburkan diri dalam masjid, kemudian dengan tertib duduk bersila sesuai dengan urutan kelas atau asrama. Di ujung sana, seorang ustaz yang belum lagi menginjak paruh baya, memangku sebuah kitab yang kitab tersebut juga dimiliki oleh setiap santri. Kitab Al-Adzkar, karangan Al-imam al-‘allamah Mujtahid Muhyiddin Abi Zakariya.

Duduk penuh takzim dan kharismatik di atas mimbar yang cukup elegan menambah kesan kedermawanan sang muallim. Ustaz Muh. Agus memang menjadi pengajar khusus kitab Al-Adzkar itu. Pengajian rutin pada malam Selasa. Seperti yang sudah-sudah, sebelum memulai membacakan dan menjelaskan isi kitab yang diampu, beliau menyitir satu-dua ayat Al-Quran yang mengandung hikmah dan para santri pun khusyuk mendengarkan.

Pada malam itu, beliau menyitir ayat Al-Quran surah Al-Hasyr: 9. Wa yu’tsiruuna ala anfusihim walau kana bihim khashasha: “… dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam kesusahan…”. Beliau menjelaskan bahwa sikap mukmin kepada mukmin yang lain adalah berderma kepada sesama, senantiasa senang dan ikhlas berbagi walaupun dirinya sendiri berada dalam kesulitan.

***

Potongan ayat di atas beliau sampaikan pada saat kami masih kelas dua belas Aliyah di MA DDI Mangkoso, Pondok Pesantren DDI Mangkoso, Sulawesi Selatan. Kiwari, setelah lulus dari pondok selama kurang lebih dua tahun, untaian hikmah tersebut masih saja kerap terngiang-ngiang di dalam benak dan menghampiri. Terlebih lagi pada saat membaca buku anggitan Haidar Bagir, Islam Risalah Cinta dan Kebahagiaan.

Potongan ayat itu sedikit demi sedikit dibuat menjadi kompleks oleh Haidar Bagir. Menurutnya, sikap itsar dalam Q.S. Al-Hasyr: 9 merupakan bentuk atau landasan dari sikap yang seharusnya ada pada umat Islam. Apatah lagi pada konteks kekinian dan kedisinian, dalam mencermati peristiwa Born Again—digunakan Haidar Bagir dalam bukunya Islam Tuhan Islam Manusia—yang sedikit menggambarkan Islam dalam kerangka yang kerap tampil dalam wajah intoleran, politisasi agama, bahkan terkadang violent. Meskipun perlu diakui beragam peristiwa dalam klasifikasi di atas terjadi karena kesalahpahaman dalam mengartikan atau mengejawantahkan ajaran-ajaran Islam.

Karena, seperti yang diungkapkan oleh salah seorang fenomenolog agama, Var der Leeuw, bahwa agama Islam adalah agama yang tak kalah berorientasi cinta dibangding agama Nasrani. Pun, hal ini diperkuat oleh Annemarie Schimmel yang mendapati bukti-bukti mengenai hal ini dari karya para sufi sepanjang sejarah pemikiran Islam. Nurcholis Madjid menerangkan, pada dasarnya Islam adalah agama yang sarat akan unsur filantropisme (kedermawanan).

Hal ini berlandaskan dengan firman Allah sendiri dalam kitab-Nya, menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Rahmat bagi seluruh alam. Sikap Itsar atau yang lebih dikenal dengan altruisme adalah salah satu bentuk swabukti dari pengejawantahan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Dalam sikap Itsar atawa altruisme, setidaknya menggambarkan perasaan cinta kepada sesama, bahkan lebih menganggap penting kepentingan orang lain tinimbang kepentingan diri sendiri, walaupun sedang dalam keadaan sulit.

Adalah baginda Nabi Muhammad Saw adalah sebaik-baik dan seindah-indah ciptaan Allah yang dapat dijadikan sebagai suri tauladan dalam mendalami Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi sikap filantropis, Itsar dan altruisme. Seperti yang disabdakan oleh beliau, “Innama bu’isttu li utammima makarimal akhlaq”: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia” kemudian diperkuat sabda beliau yang lain, “Orang yang paling sempurna imannya adalah orang yang terbaik akhlaknya.”

Mengapa mesti berkaca kepada baginda Nabi Saw? Karena beliau adalah sebentuk tajalli atau theofani dari Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Menyoal perihal akhlak, Haidar Bagir membaginya ke dalam dua bentuk: akhlak individual dan akhlak sosial. Sejatinya, seorang muslim dalam mengamalkan akhlak individual adalah menumbuhkan rasa cinta kepada Allah, sesama manusia dan kepada alam semesta. Sedangkan akhlak sosial berbentuk sikap senang berbagi, menyiarkan cinta dalam membantu dan turut memperindah suasana sosial masyarakat seperti membantu menegakkan hukum secara adil; membantu menyetarakan ekonomi dengan membayar zakat; turut membantu menyelesaikan problematika di bidang pendidikan; turut membantu dalam hal tidak merusak alam semesta dan lain-lain.

Persinggungan antara Islam dan cinta dapat ditilik dari proses penciptaan alam semesta beserta isinya. Sebagaimana yang dipaparkan oleh hadis sebagai berikut: “Aku (awalnya) adalah Perbendaharaan Yang Tersembunyi. Aku cinta (rindu) untuk diketahui. Maka, Aku ciptakan alam agar Aku dikenali”. Dari hadist tersebut dengan gamblang menggambarkan bahwa ada keterkaitan yang sangat erat antara cinta dan agama Islam itu sendiri.

Menurut terminologi sufi, sesungguhnya alam tercipta karena cinta, prinsip penggeraknya adalah cinta dan pengikatnya adalah cinta. Berangkat dari hal ini, para fenomenolog agama menafsirkan Islam sebagai love/eros oriented religion—agama yang berorientasikan cinta—dan bukan sebagai law/nomos oriented religion—agama yang berorientasi hukum yang kaku. Adapun tentang beberapa hukum yang tampaknya kaku, mesti dilihat dari kacamata berbeda.

Kacamata yang memiliki orientasi pandangan bahwa segala yang terjadi atau yang berada dalam siklus keberagamaan adalah pancaran cinta-Nya dan—manusia—sebagai salah satu bentuk theofani atau tajalli dari-Nya, sudah sepantasnya yang ditebarkan juga adalah cinta.  Karena cinta adalah fitrah dari penciptaan alam semesta dan juga manusia, setidaknya, ada tiga bentuk dasar filosofis dari fitrah tersebut: a). mencintai kebaikan, b). mencintai kebenaran dan c). mencintai keindahan. Ketiga hal tersebut seyogianya dijadikan landasan atau paradigma berpikir atau world view dalam menjalankan misi agama Islam. Agama yang diciptakan sebagai rahmat yang menyebarkan cinta-kasih kepada seluruh entitas alam semesta. Sekali lagi, sikap itsar-altruisme-filantropisme Islam menegaskan bahwa Islam adalah agama cinta-kasih, agama yang berorientasi pada love/eros oriented religion.

 


Sumber gambar: https://jalandamai.net/filantropi-islam-dan-distribusi-kesejahteraan.html

ditulis oleh

Ahmad Nurfajri

Ahmad Nurfajri Syahidallah. Aktif sebagai mahasiswa di Universitas Hasanuddin, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Asia Barat. Selain aktif di bidang akademik, juga aktif di beberapa Lembaga kemasiswaan. Siswa di Kelas Literasi Paradigma Institute