Kring…….(alarm berbunyi dari gawai milik Rizal)

Dia sengaja menyetel alarm tepat pukul 5.30 dini hari. Tidak biasanya Rizal bangun sepagi itu. Hari ini ia begitu bersemangat untuk bangun pagi ,dengan mata memerah dan sedikit sembab Rizal mulai bangkit dari kasurnya yang sangat menggoda itu. Hari ini Rizal sudah janjian akan bertemu dengan teman kecilnya Andi Cendra. Seorang perempuan cantik keturunan Karaeng, dan putri dari seorang juragan terkenal di Desa Tino Toa.

Rizal segera menarik handuk yang tergantung pada tali plastik jemuran. Setelah mandi sambil mengusap-usap rambutnya yang masih basah ,Rizal mendekati meja makan. Memang setiap pagi ibunya selalu menyiapkan sarapan untuknya. Ketika sedang makan, ibunya tiba-tiba muncul dari pintu dapur. Dia menghempaskan sebuah baskom yang ditentengnya ke lantai secara keras.

Pukkk….kurang ajar ini anak, sudah berapa kali saya tanyako kodong nak, tidak baik makan menggunakan piring yang sudah digunakan untuk penutup makanan, mauko jadi pa’tongko siri’nya (penutup aib/harga diri) orang?”, ungkapnya dengan nada tinggi dan marah.

Ededeh..mama masih pagi-pagi marah-marah terus, mitosji juga itu ,saya tidak percaya dengan begituan-begituan deh“, ungkap Rizal sambil menyelah.

Sebuah pamali yang berkembang dilingkungan masyarakat Makassar, seseorang dilarang makan menggunakan piring yang telah dipakai sebagai penutup makanan. Menurut kepercayaan masyarakat Makassar orang yang makan menggunakan penutup makanan akan ditimpa kesialan. Nantinya dia akan menjadi penutup dari aib seseorang.

Setelah makan ibunya masih saja mengomel panjang lebar.

“Kau itu tidak punya telinga yah, ibu sudah larang kamu, masih saja dilanggar. Bukannya bangun pagi untuk cari kerja di kota, ini bangun pagi karena cewek”.

“Harusnya kau bantu mamamu ini cari uang.”

Rizal adalah seorang anak yatim, Ayahnya meninggal waktu dia berusia lima tahun. Ayahnya merupakan seorang buruh pemanjat pohon kelapa yang bekerja di kebun kelapa milik Karaeng Sitaba, Ayah dari Andi Cendra. Ayah Rizal  jatuh dari pohon kelapa dari ketinggian sembilan meter dari bawah tanah ketika memanjat kelapa. Rizal hanya memiliki satu kakak perempuan ,dia juga sudah menikah kemudian dibawah merantau oleh Suaminya ke Malaysia. Kini Rizal dan ibunya hanya tinggal berdua saja di rumah .

Deh kodong mama sudahmo….”, sambil berjalan meninggalkan ibunya, lalu masuk ke kamarnya untuk mengenakan pakaian.

Dia mulai mencari pakaian andalannya, dan mulai menyemprotkan parfum berbau semerbak mawar ke bajunya. Dia bergegas keluar dari rumahnya, ia sudah janjian untuk bertemu Andi Cendra di dekat sungai tempat bermain mereka waktu kecil. Dia sudah tidak sabar ingin melihat sahabat kecilnya itu.  Dengan tergesa-gesa dia mulai turun dari anak tangga rumah panggung miliknya.

“Pasti makin cantik Andi Cendra..beh sudah lama saya tidak bertemu degan dia” ,sambil tersenyum sendiri.

Rizal mulai membayangkan kulit putih, senyum manis, dan rambut hitam panjang yang selalu diurai Andi Cendra. Bagi Rizal dia seperti bidadari yang selalu melelehkan dirinya. Sejak kecil memang Rizal sudah kagum sama sahabatnya itu ,hingga menginjak masa Remaja, ia mulai jatuh cinta pada Andi Cendra, perempuan pertama yang memikat hatinya. Rizal adalah laki-laki pemalu, dia tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Ditambah lagi Andi Cendra sudah berpacaran dengan seseorang laki-laki kaya di desa seberang. Sejak hari itu Rizal sangat kecewa, dan harus mengubur dalam-dalam perasaannya pada Andi Cendra. Dia selalu berpikir menjadi sahabat saja sepertinya sudah cukup. Namun, perasaan cintanya  masih melekat dan tetap menggebu pada Andi Cendra.

Arlojinya sudah menunjukkan pukul 7.30 sambil  berteduh dibawah pohon, Rizal menoleh ke kanan. Dari Kejauhan Andi Cendra tampak berjalan mendekat kearahnya. Andi Cendra sudah memancarkan aura yang begitu luar biasa baginya. Jantung Rizal berdebar-debar dengan sangat kencang. Sudah empat tahun dia tidak bertemu dengan Andi Cendra ,setelah Andi Cendra meninggalkan desa untuk menempuh pendidikan tinggi di Makassar. Dari kejauhan gaya berpakaian Andi Cendra juga sudah berubah, hal itu sah-sah saja dia kan anak kuliahan.

“Astaga…. Cal lamatami tidak ketemu ,kamu apa kabar sekarang? Baik-baik jako?, dengan nada kegirangan dan bahagia.

Cal adalah nama panggilan yang diberikan oleh Andi Cendra bagi sahabatnya itu, meski terdengar biasa saja bagi Andi Cendra. Tetapi, bagi Rizal panggilan itu begitu istimewa ditelinganya dan dihatinya. Panggilan yang sangat dia rindukan.

“Alhamdulillah baik-baikja Cendra, eh tambah cantikko dih saya lihat.”

emdd menggombal lagi…btw makasih hehehe, sekarang apamu kerja?”

“saya masih bantu mamaku kumpulkan bantok kelapa  di kebun kelapanya tettamu, mamaku larangka jadi pemanjat kelapa, takut kejadian seperti tettaku terulang.”

Mereka berbincang-bincang cukup lama, sambil melepaskan rindu.

“kamu ingatji? Waktuta kecil kita sering saling kejar-kejaran disini, kalau sudah lelah kita langsung nyebur ke sungai”, tutur rizal dengan terharu sambil menghayal masa kecilnya.

“hehehe iya, kamu itu paling nakal waktu kecil, biar berdarah lututmu masih kuatji lari.”

Mereka berdua larut dalam kebahagiaan. Sambil tertawa Rizal memadangi bola mata sahabatnya itu. Dalam hatinya “andai kau tahu betapa sayangnya aku sama dirimu.”

Matahari bersinar semakin terik. Mereka berdua juga turut merasakan panasny yang sudah sampai di ubun-ubun. Andi Cendra perlahan menyalakan gawainya untuk sekadar mengecek jam. Dengan tingkah sedikit tergesa-gesa. Sebenarnya Cendra keluar rumah dengan alasan jalan-jalan saja. Dia tidak mengatakan pada Ibunya akan menemui sahabatnya.

“sudah jam 12 Cal, pulang duluanma saya nah, na lihatki nanti tettaku disini”, dengan nada halus karena takut sahabatnya itu tersinggung.”

bah iya nanti orang desa lihatki disini berduan lama-lama, takutnya ada fitnah”

Persaan takut dan was-was masih membayangi mereka berdua. Dari kecil mereka bersahabat secara diam-diam. Andi Cendra adalah keturunan karaeng bergelar “Andi” (bangsawan). Sedangkan, Rizal adalah keturunan Rakyat biasa, dan tidak memiliki gelar apapun. Dalam kebudayaan Makassar dikenal tiga tingkatan seseorang. Tingkat pertama untuk orang yang bergelar Andi, tingkat kedua untuk orang yang bergelar Daeng, dan tingkat ketiga untuk orang biasa yang tidak memiliki gelar apa-apa (orang biasa).  Waktu kecil Cendra sudah dilarang untuk bergaul dengan Rizal putra seorang buruh pemanjat kelapa. Tettanya sangat malu dan marah  bila mendapati anaknya bergaul dengan anak buruh seperti Rizal. Pertemuan mereka juga tidak disengaja, waktu kecil Rizal sering ikut tettanya ke kebun kelapa milik Karaeng Sitaba, di sana Rizal bertemu dengan Andi Cendra putri Karaeng Sitaba pemilik kebun kelapa.

Mereka berdua akhrinya meninggalkan tempat itu. Rizal juga bergegas pulang ke rumahnya.

“Assalamualikum ma…. Pulangma.”

“wa’alaikumusalam nak” dengan nada sendu.

“eh kenapaki mama? Baik-baik jaki.”

“ mama hanya pusing sedikit.”

Ibu Rizal memang sudah sakit-sakitan. Diusia senjanya, dia sudah harus banyak-banyak istirahat, Tidak seharusnya lagi berkerja dan banting tulang. Ibunya selalu mengimpikan sebelum kematiannya dia harus melihat putra satu-satunya menikah.

“Rizal…siniki nak.”

“iye ma? Kenapaki?”

“kapanko itu baru menikah nak? Supaya ada bisa urusko, saya sudah tua nak” tutur ibunya dengan perasaan sedih.

“iye mama secepatnya mi ini, saya masih cari-cari pekerjaan ini, doakanka juga nah mama semoga adaji perempuan mau sama saya, sambil mengusap-usap kepala ibunya.

“Aamiin nak”, ibunya menimpali dengan nada suara halus.

Dua hari berlalu, Rizal bergegas berangkat ke kota untuk mencari-cari peruntungan untuk dirinya itu. Karena telat bangun dan tergesa-gesa Rizal lupa membawa gawainya. Setelah sampai di rumah dia bergegas membersihkan diri. Dengan santai Rizal menyalakan dan mengecek gawainya Rizal Kaget dilayar gawainya tertulis sepuluh panggilan tidak terjawab dari Cendra. Tidak seperti biasanya, Rizal mulai kaget dan panik, dia takut terjadi apa-apa menimpa sahabatnya. Secara kalang kabut, dia mulai membaca pesan singkat yang tertulis di apalikasi whatsapp miliknya.

“temuika ini malam Cal….jam delapan malam “, dengan emoji menangis.

Rizal segera bergegas kembali meninggalkan rumah. Jam sudah menunjukkan pukul 20.30 , sebelum keluar dari rumahnya ia bermaksud pamit dengan ibunya. Dalam kamar ibunya, dia telah mendapati ibunya sudah terlelap tidur dengan nyenyak. Ibunya pasti kelelahan setelah dari kebun mengumpulkan batok kelapa. Dengan terburu-buru dia lari meninggalkan rumah, ia sengaja tidak membangunkan ibunya, ia takut menganggu tidur ibunya yang nyenyak.

Malam mulai semakin pekat, bersamaan dengan itu bulan purnama begitu cerah memancar dari langit. semilir angin mulai bertiup masuk menusuk kulit Rizal. Ia sudah melihat Cendra berdiri menunggu di jembatan Kayu diatas sungai, dekat dengan tempat mereka pernah bertemu beberapa hari yang lalu. Dengan nafas yang tidak teratur dia mulai berlari mendekati Cendra. Dia hanya tertegun melihat sahabat manisnya terhisak menangis, air matanya tidak dapat dibendung.

“ada apa Cendra? Kenapa menangis?

“cal….”, sambil terus menangis.”

“coba cerita pelan-pelan.”

“aku hamil Cal”, sambil terbata-bata mengeja kalimatnya.

Rizal hanya termangu, dia begitu terkejut, orang yang selama ini dia sangat percayai, melakukan kelakukan keji seperti itu. Dalam hatinya ia masih belum percaya sahabatnya melakukan hubungan terlarang.

“siapa yang melakukan semua itu padamu?” dengan nada yang sedikit tinggi.

“pacarku Rifki” cetus Cendra dengan pelan.

Rifki Adrian adalah pacar Andi Cendra, dia merupakan teman kampusnya dari semester satu. Sudah tiga tahun lebih dia bepacaran dengan Rifki. Dia sudah sangat percaya pada Rifki. Ia tidak menyangka Rifki harus merusak kepercayaannya dan merenggut harga dirinya. Rizal mundur secara perlahan-lahan dan meninggalkan sahabatnya sendirian di malam itu. Dia begitu kecewa dengan kelakukan sahabatnya, hatinya begitu hancur.

Satu bulan berlalu, Rizal dan Cendra sudah tidak pernah saling kontekan lagi. Rizal juga sudah sibuk kerja di kota, ia sudah diterima bekerja di salah satu perusahaan air kemasan di kota. Perangi Cendra mulai memperlihatkan kecurigaan bagi ibunya. Setiap hari dia keluar masuk kamar kecil, dia lebih suka berkurung diri dalam kamar, moodnya juga berubah. Perasaan Ibu Cendra sudah tidak enak, dia sudah menebak pasti ada hal yang tidak beres menimpa anak gadisnya.

“ada apa nak? Kalau kamu punya masalah coba cerita.”

Dengan berat hati dia menceritakan semua kejadiannya kepada ibunya. Dia terus menangis dan tersandar di bahu ibunya. Kehamilan Cendra tidak dapat disembunyikan dari tettanya. Ketika mengetahui anaknya sudah berzina. Dia marah besar.

“Cendra sini kamu”, sambil menarik dengan paksa dari kamar Cendra.

“siapa yang melakukan semua ini ? Lihat tettamu”, dengan nada tinggi dan membentak.

“pacarku tetta….”,sambil terus menangis.

“kurang ajar mana itu laki-laki.”

“tidak kutahu tetta dia menghilang.”

siri’ jeka (harga diri ini), cari itu laki-laki kau harus segera dinikahkan.”

Sudah seminggu nomor telepon Rifki tidak aktif, keberadaanya tidak diketahui, janjinya untuk bertanggung jawab, kini hilang entah kemana. Tetta Cendra mulai pergi mencari keberadaan laki-laki tersebut bersama dua orang bayarannya yang berbadan kekar. Hingga disuatu desa terpencil keberadaan Rifki ditemukan. Dia tidak mau mengakui kesalahnnya di depan tetta Cendra.

“bukan saya yang lakukan itu om, bisa jadi laki-laki lain, banyak pacarnya itu Cendra waktu kuliah” , sambil mengelak dari masalah.

“kurang ajar, kau harus tanggung jawab. Nikahi anakku!!!!!”

“saya tidak mau bukan saya yang lakukan itu.”

Karena terbawa emosi dua orang bayarannya mulai mengeluarkan sebilah parang panjang. Hanya dengan sekali tebasan, leher Rifki tergorok. Akhirnya Rifki tewas dengan cara menengaskan. Kemudian jasatnya dibungkus kemudian dibuang ke sungai yang arusnya deras. Berita pembunuhan itu kemudian dirahasikan. Hanya Karaeng Sitaba dan dua orang suruhannya yang mengetahuinya.

Empat bulan berlalu perut Cendra semakin membesar. Masalah itu masih ditutup rapat-rapat. Tettanya masih khwatir, ia belum menemukan calon lelaki untuk dinikahkan dengan anaknya sebagai pa’tongko siri’ (penutup aib). “

“Mana mungkin ada laki-laki yang bersedia menikahi anak kita yang sudah terlanjur rusak” dengan perasaan cemas dan khawatir.

Suatu hari di kebun kelapa miliknya, Karaeng Sitaba sedang sibuk menghitung hasil kelapa yang sudah di panen. Rizal perlahan datang menghampiri Karaeng Sitaba.

“tabe Karaeng? Apakah saya menganggu?”

“oh kamu, ada apa.”

“saya langsung saja Karaeng, saya siap menikahi Andi Cendra putrita.

“apakah kamu yakin?”, kamu siap menerima keadaan Cendra sekarang”, dengan terkejut.

“InsyaAllah saya siap Karaeng.”

Dengan cepat, dia mengajak pergi Rizal dan membawanya ke rumahnya. Ibu Cendra turut bahagia, Cendra juga ikut terharu dan sedikit lega.

“Cendra sudah lama saya mencintaimu, bahkan waktu kita masih remaja. Ini semua takdir Allah cinta kita dipertemukan dengan cara seperti ini,” tutur Rizal sambil meneteskan air mata.

Cendra perlahan menangis memeluk ibunya. Rizal bergegas pulang dari kediaman karaeng Sitaba. Dia segera menemui Ibunya. Tanpa mengucapkan salam dia berlari menaiki tangga rumahnya.

“ma..ma..dimanaki?

“kenapaki nak.”

“ada yang ingin saya katakan.”

“apa nak?”

“mauma menikah ma….”

“dengan siapa?, tanya ibunya dengan senyum sumringah bahagia.

“dengan Cendra…meskipun hanya pa’tongko siri’ ja (penutup aib)”, sambil meneteskan air mata di hadapan ibunya.

Ibunya hanya membisu tanpa kata dan kalimat, dia mulai terjatuh dan mendadak lemas mendengar perkataan anaknya. Akhrinya pernikahan mereka dilaksanakan secara sederhana. Pernikahan itu menimbulkan banyak tanya bagi warga desa. Mustahil anak Karaeng menikah dengan seseorang lelaki yang bukan keturunan karaeng.

Mitos lahir karena seseorang menanam sebuah harapan di dalamnya. Begitulah teori yang di ungkapkan oleh Levis Trauss mengenai mitos dan harapan. Begitu penting mendengarkan pesan-pesan orang terdahulu kita, bukan dengan mengabikannya dan menganggap enteng hal tersebut.

Catatan

Andi                 : tingkatan stratifikasi sosial, gelar tertinggi bagi masyrakat Bugis-Makassar

Daeng              : sebuah gelar untuk orang yang dituakan.

Karaeng           : gelar bangsawan bagi masyrakat Makassar

Pa’tongko Siri’: Penutup aib/rasa malu dari keluarga

Siri’                  : Harga diri (rasa malu)

Tetta                : Panggilan pengganti Ayah

 


Sumber gambar: Google

ditulis oleh

Deny Ferdiansyah

Mahasiswa aktif di Universitas Hasanuddin, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Indonesia.