Sepulang Jumatan yang lalu, urita gulita itu menyapa. Satu lagi orang baik: seorang guru yang dicintai murid-muridnya, ayah yang disayangi oleh anaknya, juga seorang kakak yang dikasihi oleh adiknya itu telah berpulang. Sedih menusuk hingga ke tulang, air mata bercucuran di sisi kuburan. Menyisakan kenang dalam kening, menyisihkan doa bening dalam hening.

Mengapa kematian begitu kejam, Paduka? Memisahkan kekasih dari yang terkasih, memutuskan temali persaudaraan, menceraikan sebuah hubungan. Mengapa mati membawa duka, Paduka?

Tidak, tidak, kematian tidaklah kejam, Nak. Ia menjadi kejam ketika kau melihatnya dari sudut pandang orang yang hidup: kematian yang menyedihkan, memisahkan, dan meninggalkan untuk selamanya. Namun, bagi orang yang meninggal, kematian ini adalah titian menuju kedamaian. Kedamaian tanpa basa basi. Kedamaian hakiki. Tak ada lagi rasa sakit, tak ada kecewa, hanya kebahagian ‘berjumpa’ dengan Tuhan. Kasadnya, kematian bukanlah musibah, melainkan nikmat.

Memang, Al-Qur’an dalam QS. al-Ma’idah ayat 106 menamai kematian dengan sebutan musibah, tetapi itu tidak berlaku secara universal. Menurut Prof. Quraish Shihab, Ia menjadi musibah bagi orang yang terlalu mengandalkan jenazah tersebut ketika masih hidup. Juga bagi yang mati, bila tak mempersiapkan diri menghadapinya. Dalam kasus ini, amat jelas bahwa kematian menjadi musibah adalah akibat dari amalan manusia itu sendiri.

Musibah bukan substansi dari kematian. Karenanya, sehebat-hebatnya seorang manusia, kita tak bisa menggantungkan diri padanya, sebab di balik kehebatan itu, tersimpan pula kerapuhan. Rapuh dari dalam, juga dari luar dirinya.

Belum lagi, jika kehidupan tidak lagi produktif, berkualitas dan membawa kebermanfaatan—baik karena disebabkan sakit dan lemahnya umur—sehingga yang bersangkutan tidak lagi merasakan nikmatnya hidup. Bahkan bisa jadi menjadi jemu, dan orang di sekitarnya pun merasakan kematian bagi yang bersangkutan lebih baik. Ini menandakan bahwa kematian adalah nikmat bagi yang bersangkutan dan bagi siapa yang disekitarnya.Saya kira, ini semacam fenomena yang jamak kita jumpai.

Orang-orang yang sakit berkepanjangan, tua renta dan hidup sebatangkara adalah orang-orang yang mendambakan kematian, melihat kematian sebagai sesuatu yang lebih baik. Hal ini semakin ditegaskan pula oleh doa Nabi Muhammad Saw., agar kiranya dihindarkan dari mencapai ardzal al-‘umur (umur yang paling lemah).

Aku telah menghadapi tuntutan hidup, dan siapa yang hidup delapan puluh tahun, pastilah ia bosan. Begitu kata-kata yang pernah didendangkan oleh seorang penyair. Kehilangan produktivitas adalah awal mula dari kehilangan nikmat hidup. Dan ketika hidup tak lagi bisa dinikmati, bukankah mati lebih baik?

Di sisi lain, kematian jangan dilihat sebagai akhir. Tidak, tidak, kematian itu adalah kelahiran baru. Tak ada bedanya dengan kelahiran saat keluar dari rahim ibu yang hangat. Quraish Shihab dalam bukunya Perjalanan Menuju Keabadian Kematian, Surga dan Ayat-Ayat Tahlil menggambarkan bahwa kematian di pentas bumi, adalah kelahiran baru manusia. Sebelum menginjakkan kaki di dunia, maka perut ibu adalah ‘bumi’ kita. Di sana janin berhubungan dengan ibu melalui tali pusar. Ketika lahir, tali pusar itu kemudian diputus agar ia dapat bebas bergerak di bumi yang baru. Saat itulah ia lahir dalam keadaan selamat menghuni tempat barunya.

Lebih lanjut, dalam kehidupannya di bumi, ada juga tali yang menghubungkannya dengan bumi yang lain di alam sana. Tali itulah yang diputus ketika mati, sehingga manusia lepas dengan hunian lamanya, yang kali ini adalah bumi untuk berada di hunian baru. Itu seperti halnya janin yang lepas dari hunian lamanya, yakni perut ibu, untuk tinggal sementara di pentas bumi ini. Kalau kelahirannya di pentas bumi dinamai kelahiran, maka terputusnya tali yang menghubungkannya dengan bumi juga dinamai kelahiran baru.

Dalam buku tersebut, juga dijelaskan, bahwa sebagian ulama memahami, saat tiba di hunian baru itu, ada malaikat-malaikat yang menyambut sebagaimana penyambutan yang dilakukan perawat atau dukun beranak terhadap bayi yang baru lahir. Kalau para penyambut bayi membersihkan dan mengenakan pakaian untuknya, maka di alam sana pun demikian.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, dalam bukunya Ar-Ruh, demikian juga Badul Karim al-Kathib dalam Qadhiyyat al-Uluhiyyah, mengutip panjang lebar sebuah hadis yang menyatakan adanya malaikat-malaikat yang turun dari langit membawa kain kafan dari surga buat yang mukmin dan dari neraka untuk yang kafir. Kafan itu serupa dengan pakaian bayi yang dikenalan untuknya setelah lahir ke dunia.

Karenanya, kematian tak harus diratapi secara berlebih. Kematian jelaslah membawa duka, tangis, dan luka. Kesemuanya adalah fitrah manusia, apatah lagi jika yang meninggal adalah orang baik dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Rasa-rasanya amat berat hati ini melepaskan dan melupakan. Namun, mati tetaplah mati. Kematian adalah keharusan. Mati itu pasti.

Orang-orang terdahulu, seperti di Yunani kuno sudah memandang dengan arif kematian itu. Hal ini semakin ditegaskan oleh Socrates—sebagaimana yang dikutip ulama dan pakar perbandingan agama, asy-Syahrastani, dalam bukunya al-Milal wa an-Nihal—pernah berkata: “Ketika aku menemukan kehidupan duniawi, kutemukan bahwa akhirnya adalah kematian. Namun, ketika aku menemukan kematian, aku pun menemukan kehidupan abadi. Karena itu, kita harus prihatin dengan kehidupan (duniawi) dan bergembira dengan kematian. Kita hidup untuk mati, dan mati untuk hidup.”

Ya, pada akhirnya, kematian tak boleh dipandang sebagai bagian dari kekejaman Tuhan dalam memisahkan kita dengan orang terkasih. Kematian adalah bagian dari perjalanan hidup, perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu alam ke alam lain. Tak lebih dan tak kurang. Manusia hanya perlu menyiapkan bekal sebaik mungkin dan sedini mungkin. Dan bukanlah Allah sudah memperingatkan pada kita watazawwadu, fainna khairaz zadit taqwa. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-sebaik bekal adalah takwa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ditulis oleh

Muhammad Ikbal

Profil Penulis

Lahir di Bantaeng, 13 Agustus 1995. Ketua Karang Taruna “Sipakainga” Desa Tombolo. Kec. Gantarangkeke. Kab. Bantaeng. Guru PJOK di SDN 48 Kaloling. Aktif sebagai pustkawan di Rumah Baca Panrita Nurung dan bergabung dalam KGB (Komunitas Guru Belajar) Bantaeng. Penyuka hujan dan buku-buku sastra.