Inspektur Cupbray dan Kisah Tentang Dhea

Saya masih mengingat bagaimana Pak Ziahmad menjerit dan meraung-raung kala mendekap tubuh Dhea yang terbujur kaku, beberapa bagian tubuhnya nampak rusak, namun anehnya bagian wajah masih nampak utuh. Pasca kejadian tersebut saya bersama Inspektur Ade Rifki mencari siapakah gerangan yang membunuh gadis tersebut, dari hasil penyelidikan mencuat satu nama, Arya, lelaki berusia 25 tahun yang mengarsiteki villa Pak Rezky Mahmud, yang tak bukan adalah ayahanda Inspektur Ade Rifki.

Ketika kami menangkap Arya, lelaki itu hendak kabur melalui bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros. Saya masih ingat, ia memegang koran yang memberitakan kematian gadis naas tersebut. Di ruang introgasi Inspektur Ade Rifki menggali motif pembunuhan terhadap gadis itu, rupanya Arya membunuh Dhea karena burungnya yang laknat itu telah mengaduk kesucian gadis itu hingga berbadan dua. Fakta tersebut tentu membuat hati Pak Ziahmad semakin terluka.

Beberapa pekan setelah kasus tersebut telah diputus oleh majelis hakim, Pak Ziahmad memanggilku untuk bertandang ke kediamannya. Tentu saya mengatur waktu dan memenuhi undangan tersebut.

Kini di beranda rumahnya, Pak Ziahmad menyuguhkan secangkir kopi dan pisang goreng, rupanya ia hendak menceritakan kepadaku tentang anak gadisnya. Kulihat wajahnya teduh, nampak jelas ada kehangataan yang terpancar darinya, walaupun kadang sorotan matanya menyiratkan lara

***

Beberapa pekan setelah hakim memutus perkara anakku, ada satu kelegaan. Saya mencoba menerima apa yang telah ditimpakan kepadaku, beberapa hari lalu saya menelpon Inspektur Cupbray untuk bertamu di kediamanku. Ia pun mengiayakan, kami telah mengatur janji untuk bertemu di sore hari sebelum matahari terbenam.

Saya menceritakan kepada Inspektur Cupbray tentang istri dan anakku, ia hanya menunduk dan menyatakan “silakan Pak untuk bercerita, mungkin Bapak butuh teman untuk berbagi kisah”

Saya kemudian memulai kisah, bahwa saya bertemu dengan Ibunda Dhea sewaktu kuliah di Ujung Pandang, saat itu ia berjalan di koridor kampus, wajahnya begitu cantik mengingatkan ku pada artis ternama di masanya, Eva Arnaz. Kecantikannya membuat saya tertarik, sebagai lelaki saya mencoba memberanikan diri berkenalan dengannya. Gayung bersambut, ia menyambut uluran tanganku dan ia pun memperkenalkan dirinya, “Laila, lengkapnya Latifa Lalila.”

Yah seperti kisah romansa anak tahun 1980-an, kami sering berkencan di taman, lalu menyempatkan diri menonton di Bioskop Istana, di Ujung Pandang dahulu banyak ditemukan bioskop berjamur di sudut kota. Ada Bioskop Dewi, Bioskop Benteng, Makassar Theater, dan termasuk Bioskop Istana. Film yang menjadi primadona ialah film yang menampilkan lakon Rhoma Irama atau Warkop DKI. Saya masih ingat saat itu kami menyaksikan film Warkop yang menampilkan lakon Dono, Kasino, Indro berjudul Maju Kena Mundur Kena.

Singkat kisah selepas lulus dari kuliah, kami terangkat jadi CPNS, yah dulu lulusan sarjana begitu cepat terserap menjadi pegawai pemerintah. Biasanya para sarjana muda akan mendapatkan pengumuman penempatan, biasanya daerah yang begitu nun jauh nan terpencil. Untungnya saat itu Laila ditempatkan di Kecmatan Tingimoncong, tepatnya di Malino sedangkan saya ditempatkan di Kecamatan Parigi, masih satu kabupaten. Karena kami sudah dewasa dan matang, akhirnya kami menikah di tahun 1989. Dua tahun kemudian kami dikaruniai seorang putri, Dhea namanya.

***

Pak Ziahmad sejenak menghentikan kisahnya, ia kemudian memperlihatkan kepadaku album foto yang merekam perjalanan bahtera rumah tangganya, serta perkembangan Dhea sejak balita, remaja, dan menjelma menjadi gadis cantik. Namun malang bagi Pak Ziahmad, setelah ditinggal sang istri karena penyakit asma beberapa tahun lalu, kini ia ditinggal pergi oleh anaknya semata wayang.

***

Saya merasa berterimakasih kepada Pak Inspektur Cupbray karena malam ini bersedia mendengarkan kisahku, ia begitu hidmat mendengarkan penuturanku tentang almarhuma anakku, Dhea. Serta bagaimana ia—Dhea—bisa menjalin kasih kepada lelaki laknat itu, Arya.

Kuberitahukan kepada Inspektur Cupbray, bahwa Dhea mengenal Arya kala anak gadisku menimba ilmu di  Kota Makassar, kalau saya tidak salah ingat sekolah itu cukup terkenal dan beralamatkan di Jalan Baji Areng. Saya masih ingat Dhea ketika pulang ke Malino menceritakan bahwa ia bertemu dengan seorang lelaki yang bekerja sebagai arsitektur, lelaki itulah yang merancang renovasi ruang kelas sekolah. Ketika ia menjadi pengawas pembangunan ruang kelas, Dhea selalu mencuri pandang, bukan hanya Dhea, menurut pengakuannya banyak juga gadis SMA yang tertarik kepadanya, katanya mirip salah seorang aktor drama korea, Lee Jong Suk namanya.

Pemandangan segar itu hanya berlangsung sesaat, Arya kemudian telah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Dhea pun sempat bercerita bahwa ia sedikit sedih karena tidak bisa lagi melihat lelaki yang dikaguminya.

Pada satu hari, Dhea datang kepadaku dan mengatakan bahwa Arya sekarang berada di Kota Malino, ia sedang memimpin proyek pembangunan ruangan baru di villa milik Pak Rezky Mahmud. Ia juga mengatakan bahwa sembari menunggu jadwal ujian masuk perguruan tinggi, ia ingin bermain-main di villa milik Pak Rezky Mahmud, apatahlagi villa beliau begitu indah karena berada di ketinggian dan pemandangannya sangat bagus.

Sebagai seorang ayah, saya pun mengiakan. Awalnya Dhea sering berangkat pagi, pulang sore. Namun ada satu masa ia sering pulang malam, bahkan kadang kudengar dari perkataan Pak Ghaza dan tokoh masyarakat lainnya, bahwa Dhea sering berduaan di villa tersebut hingga larut malam.

Pernah satu ketika kudapati Dhea muntah-muntah, kata Dhea ia masuk angin karena selalu pulang larut malam. Saya pun memintanya untuk jangan sering keluyuran. Dhea yang kukenal sebagai anak yang sopan dan penurut, kini mulai berubah, kadang ia suka membantah. Hingga satu masa ia tidak menampakkan batang hidungnya.

Saya khawatir, dan menyambangi villa milik Pak Rezky Mahmud dan mencari Arya, saya bertemu dengan lelaki laknat itu. Ia pun bercerita bahwa selama ini ia tidak melihat Dhea. Saya pun menanyai salah seorang buruh bangunan di sekitar wilayah proyek. Menurut penuturannya, terakhir kali ia melihat Dhea pada sore hari, setelah itu ia kemudian menghilang. Keesokan harinya saya melaporkan kehilangan anak saya di kantor polisi, penyidikan pun kemudian dilaksanakan, orang yang pertama kali diintrogasi adalah Arya, dan lelaki itu menjelaskan semuanya, dan tidak ada keanehan sama sekali. Hingga satu masa, datanglah dua inspektur yang baik hati—Inspektur Cupbray dan Inspektur Ade Rifki—melakukan penyelidikan dan berhasil menemukan anakku, yah mereka mengabari bahwa ditemukan sosok mayat di bawah pondasi villa, yang tak lain adalah Dhea. Sungguh sedih hati ini, ditinggal sang isri dan kini ditinggal anak semata wayang. Lebih sedih lagi bahwa fakta Dhea telah berbadan dua, telah dinodai oleh burung laknat milik Arya.

***

Ada dua pertanyaan terakhir yang diutarakan oleh Pak Ziahmad. Pertama, tentang bagaimana kami bisa menangkap pembunuh Dhea. Saya menyatakan kepada beliau bahwa Tuhan memberikan jalan yang tak disangka dalam mengungkap kasus ini. Pertanyaan kedua mengenai namaku yang unik. Saya menyatakan bahwa itu hanyalah julukan saja, karena saya suka memakai celana cut-bray baik bernias maupun non formal, makanya saya dipanggil Inspektur Cupbray. Padahal nama asli saya Muhammad Yusuf. Pak Ziahmad hanya tersenyum mendengarkan penuturanku.

Tak terasa sudah malam, Pak Ziahmad menyarankan untuk menginap saja, tapi saya menjelaskan bahwa harus pamit karena telah menyewa penginapan di Masagalena, Tinggimoncong. Sebelum ke lokasi penginapan, saya menyempatkan menuju villa Pak Rezky Mahmud, melihat dari kejauhan villa yang masih terpasang garis polisi. Saya menarik nafas panjang, menghembuskannya, dan berlalu meninggalkan villa tersebut dan menuju penginapan. Sejenak kumelirik dari balik spion tengah mobil, di sana kulihat sosok gadis cantik yang mengingatkanku dengan anak Pak Ziahmad. Ia tersenyum kepadaku, saya hanya mengangguk sejenak dan melanjutkan perjalanan….

The following two tabs change content below.

Ilyas Ibrahim Husain

Ilyas Ibrahim Husain adalah nama pena dari Adil Akbar. Lulusan S1 Pendidikan Sejarah UNM (2011-2016) dan S2 Pendidikan IPS-Konsentrasi Pendidikan Sejarah (2017-2019). Selain menulis, juga pengajar sejarah di SMAN 2 MAKASSAR, pun pernah mengajar di SMAN 1 GOWA dan SMAN 3 MAKASSAR

Ilyas Ibrahim Husain

Ilyas Ibrahim Husain adalah nama pena dari Adil Akbar. Lulusan S1 Pendidikan Sejarah UNM (2011-2016) dan S2 Pendidikan IPS-Konsentrasi Pendidikan Sejarah (2017-2019). Selain menulis, juga pengajar sejarah di SMAN 2 MAKASSAR, pun pernah mengajar di SMAN 1 GOWA dan SMAN 3 MAKASSAR

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *