Kringggg…

“Baik anak-anak sekarang mata pelajaran kali ini akan dilanjutkan minggu depan, ingat mengerjakan PRnya,” ujar seorang guru.

“Baik Bu…,” jawab siswa serentak.

***

Ting…ting….tuk…tuk…

Tetes air hujan membasahi pipiku, membuat aku terbangun dari tidur panjangku. Rumah kami memang selalu bocor ketika hujan menerpa. Rumah beralaskan tanah, berdinding kardus, dan beratap beberapa seng karatan yang penuh tambalan. Di sini tempat Aku dan Ayah bernaung. Kami tidak pernah memiliki cukup biaya untuk memperbaiki hal seperti itu karena untuk makan saja susah.

“Fitri…Fit! Bangun, sudah pagi. Mau sampai kapan kamu tidur begitu?”

“Iya ayah aku dah bangun. Hemm… ternyata cuma mimpi,” gumamku sambil mengucek-kucek mata bersiap untuk berangkat mengais rezeki.

Aku memang masih sering berhayal dan berangan-angan merindukan suasana sekolah. Sobekan kertas, jeritan teman-teman menandai jam istirahat, dan kantin sekolah.

***

Di bawah langit November yang dingin, syukurlah bumi seakan merestui aku untuk makan hari ini. Jika  kami tidak dapat uang hari ini, kami tidak bisa makan. Namaku Safitri anak berusia empat belas tahun, sejak umur tiga tahun aku hanya tinggal bersama ayah karena ibuku sudah duluan pergi beristirahat di keabadiaan. Setelah itu, ayah juga harus dipecat dari pekerjaanya, karena difitnah telah mencuri uang bosnya, pada salah satu warung makan. Sedih jika membayangkan hal itu, aku harus tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Karena kondisi finansial yang tidak memungkinkan, aku harus putus sekolah. Aku lebih memilih membantu ayah mengumpulkan barang bekas untuk dijual ke pengepul.

Di depan rumah kami ada pohon linden yang memberi kesejukan. Tempat Ayah selalu mengikat dan mengucir rambutku dengan indah. Di pinggiran kota Makassar kami hidup, tinggal di pemukiman kumuh bersama keluarga pemulung yang lain. Anak-anak pemulung seperti saya, tumbuh dan dibesarkan bersama bau-bau sampah. Kami bernafas dengan uap aroma parit berwarna hitam kental  yang sudah lama bersemayam di hidung kami.

Lingkungan kami rata-rata adalah orang yang kurang akan materi dan pendidikan. Jadi, demi menyambung hidup, kami harus menjadi pemulung, yah….pekerjaan yang sebagian orang dianggap rendah. Karena ayah hanya pernah mengenyam pendidikan hingga kelas 4 Sekolah Dasar bahkan membaca saja tidak lancar, jadi ayahku tentu saja sulit mendapat pekerjaan. Terlebih semenjak ibuku meninggal, ayah menjadi pemurung dan sulit bersosialisasi.

Hidup kami memang sangat sulit, aku tidak tahu harus berbuat apa untuk membantu ayah, aku ingin sekali bisa bekerja dengan gaji yang cukup besar, agar ayah tak harus bekerja lagi dan tidak tinggal di sini lagi. Tetapi, aku harus bagaimana, zaman sekarang untuk bekerja membutuhkan pendidikan. Lantas bagaimana buat makan saja aku dan ayahku harus bekerja mencari barang bekas dari pagi hingga petang dan hanya mendapat beberapa rupiah saja.

***

“Fit…?” panggil Ayu dengan senyum lebar.

Ayu adalah temanku, yang nasibnya tidak lebih beruntung daripada aku. Bahkan, bisa dibilang lebih menyedihkan. Dia anak yatim piatu dari kecil karena orang tuanya meninggal akibat kecelakaan puluhan tahun silam, ia hanya dibesarkan oleh neneknya yang juga sudah sakit-sakitan

“Ada apa Yu? ” jawabku sambil memilah sampah.

“Kamu tahu gak, bakalan ada guru sukarela di kampung kita ini. Orang itu bakalan ngajar anak-anak sini tanpa biaya loh,” kata Ayu dengan mata yang berbinar-binar.

Bagaimana tidak, anak di sini rata-rata sudah putus sekolah dan bekerja sebagai pemulung, pengamen, tukang sol sepatu, dan pekerjaan-pekerjaan yang tidak seharusnya kami alami di umur kami yang masih belia.  Padahal, sudah sangat lama kami mengharapkan uluran tangan pemerintah. Apakah masih ada makna sekolah bagi mereka pada saat seperti ini? Setidaknya kami butuh tempat di mana kami bisa belajar, menghitung, dan menulis ala kadarnya. Pendidikan kadang tidak membumi di negeri ini.

“Kamu serius kan?” tanya aku sedikit memastikan, karena aku pikir ini awal yang baik untuk mengubah kehidupan kami.

“Iya Fit, ini kata pak RT langsung, ” kata Ayu sedikit meningkat nadanya untuk meyakinkan aku.

“Aku pulang dulu yah Yu, aku mau kasih tau ayah dulu,” ujarku sambil membereskan gerobak sampah milikku.

“Oh iya udah deh, kamu hati-hati yah, sampaikan salamku sama puang,” kata Ayu yang masih tetap memilah sampah plastik.

Akupun bergegas pulang tidak sabar memberitahukan kabar baik ini kepada ayah.

“Ayah…ayah.. ayah di mana ?” teriak aku memanggil ayah.

“Sini…di belakang, ” timpal Ayah dari arah belakang rumah yang sedang mengemas kardus-kardus berkas.

“Ayah, ayah tahu? bakalan ada guru sukarela di kampung kita ini dan itu gratis” ujarku dengan menjelaskannya ke ayah dengan penuh harapan.

“Wah, kapan itu? Kamu juga ikut yah, ini kesempatan baik biar anak ayah ini makin pinter nantinya. Nanti soal kerja kamu bisa kerjanya abis belajar yah biar ayah yang bekerja sendiri selama kamu belajar,” kata ayah sambil mengelus-elus kepalaku.

“Makasih banyak ya, Yah. Aku janji bakalan rajin belajar biar pinter dan bisa bahagiain ayah, biar ayah tuh gak mulung lagi.” Kata aku meyakinkan ayahku.

Ayah hanya mengangguk sebagai isyarat bahwa ayah percaya sepenuhnya dengan anaknya ini. Meski kedepannya aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi aku harap akan ada jalan untuk aku mengubah nasib aku dan ayah. Aku mau rumah kardusku ini berubah jadi rumah beton dengan ubin yang mengkilap.

Hari itupun datang, seorang guru muda, berkacamata, berperawakan ramah dengan senyum manisnya datang ke kampung kami dibantu oleh pak RT dan warga untuk memasang sebuah tenda lengkap dengan papan tulis, alas lantai, spidol, dan beberapa buku untuk kami belajar. Anak-anak di situ termasuk aku tidak sabar untuk berkenalan dengan guru muda itu. Tidak sabar untuk belajar juga. Setelah semua telah rapi, kami dipersilahkan duduk dan berkenalan dengan guru itu.

“Selamat siang adik-adik, bagaimana kabarnya? Perkenalkan nama kakak Dwi Sinta. Bisa adik-adik panggil Kak Dwi, ” Kata ibu guru itu dengan senyum manisnya.

Serentak kami jawab

“Selamat siang Kak Dwi.”

Hari-hari aku lalui tidak seperti biasanya. Aku lebih senang berada di sekolah tenda dibandingkan berada di tumpukan sampah. Semenjak aku ikut belajar di sekolah tanpa gedung ini, aku merasa lebih mengerti banyak hal dan pandanganku semakin luas. Setelah pandai membaca, aku lebih senang menghabiskan waktuku membaca buku-buku bekas yang sudah terbuang di tumpukan sampah. Tetapi, berbeda dengan anak-anak pemulung yang lain. Semakin hari semakin sedikit yang mengunjungi sekolah tenda. Anak-anak yang lain lebih bersemangat mengumpulkan sampah karena bisa mendapatkan uang. Begitulah persepsi beberapa anak-anak pemulung.

****

“Fit…bisa kakak bicara sebentar ?” kata kak Dwi memanggiku saat kelas sudah berakhir.

“Iya kak ? Boleh banget, silakan, ”ujar aku sedikit penasaran.

“Begini Fit, kakak melihat ada sesuatu dalam dirimu, kamu itu memiliki potensi. Sikap pantang menyerah, tekun, dan kamu juga cerdas. Untuk itu kakak punya usul bagaimana jika mengikuti lomba ini, lomba ini bisa membuat kamu dapat beasiswa jika kamu menang loh ” ungkap Kak Dwi sambil menyodorkan selembar brosur perlombaan.

“Ha? Benarkah ini kak? Tapi…apa kakak yakin aku biasa?”

“Fit…Kamu harus yakin, kakak akan mendukung dan orang-orang di sini pasti mendukung kamu. Ini adalah jalanmu Fit. Kakak yakin kamu pasti bisa,” Kak Dwi menimpali dengan penuh keyakinan.

Di tengah terjangan hujan deras, dan bunyi bising mobil truk kontainer yang keluar masuk di depan rumah. Tidak menjadi penghalang bagiku untuk giat berlatih. Akhrinya aku mengikuti lomba itu, dan alhasil aku berhasil menjadi juara. Kemenangan ini adalah hal yang paling tidak aku sangka. Setelah kemangan perdanaku, aku lebih bersemangat belajar, dan ikut beberapa perlombaan seperti matematika, dan debat bahasa Indonesia.

Berkat prestasiku, akhirnya aku bisa melanjutkan pendidikanku hingga tamat SMA. Setelah itu, aku diterima jalur undangan untuk masuk perguruan tinggi negeri di salah satu universitas negeri ternama di Makassar. Aku lulus di Fakultas Ilmu Pendidikan, Prodi PGSD dan mendapat kembali beasiswa bidik misi. Sebuah beasiswa yang diperuntukkan untuk orang-orang miskin. Aku berharap dengan lulusnya aku di sini, aku bisa menjadi guru dan membantu anak-anak yang kurang beruntung seperti diriku.

Semua berkas-berkas telah aku persiapkan. Di sana juga, aku akan tinggal asrama. Meninggalkan rumah kecil yang penuh kenangan itu sungguh menyayat hati kecilku, apalagi ayah, harus ku tinggal sendiri.

“Fit…..sini nak, ayah ingin mengatakan sesuatu, ” ayah memanggil aku dengan suara pelan.”

“iye ada apa yah?”

“Kamu baik-baik di sana nak, kejar cita-citamu, semoga Allah melindungimu, aku akan menunggu anak manisku ini sarjana,” sambil meneteskan air matanya, ayah tersungkur sedih di atas kursi plastiknya.

“Pasti ayah, doakan Fitri,” sambil memeluk haru ayahnya.

***

Awan mendung bergeleyut di langit Makassar, kemudian hujan kembali turun. Bersamaan dengan itu tangisku pecah. Menyusuri jalan-jalan setapak yang basah dengan genangan air hujan. Empat tahun berlalu, setelah baru saja kelar dari ujian skripsi. Gawaiku mendadak berdering. Ayu? tumben sekali sahabatku ini menelfon, pasti dia rindu, gumamku dalam hati.

“Halo Yu? Ada apa, kamu apa kabar?” aku dengan nada kegirangan.

“Halo Fit, kamu harus pulang sekarang!!!!, ayah kamu dilarikan ke RS,” dengan nada kaget dan panik.

“Apa?….halo…..halo…,” teleponku dengan Ayu terputus.

Ajal memang sudah menjadi rahasia Tuhan, Ayah harus meninggalkanku hari itu. Ayah menyembunyikan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya. penyakit itu semakin parah, karena setiap hari ayah selalu berhadapan dengan bau-bau sampah yang meyengat.

***

Satu bulan berlalu, hari wisuda aku sudah tiba. Hari yang sangat ditunggu para mahasiswa. Mereka semua mengajak keluarga mereka untuk bersua berfoto bersama. Ada yang diberikan buket bunga oleh orang spesialnya. Mereka semua tersenyum bahagia, mareka semua terharu dipeluk oleh orang taunya. Berbeda dengan diriku, perasaanku campur aduk antara senang dan sedih. Luka itu berbalut perih bagi diriku, padahal ayah sangat ingin melihat aku sarjana. Setelah acara selesai aku bergegas lari keluar dari gedung. Pipiku sudah kuyup dengan air mata.

Tanpa melepaskan pakianku, dan togaku masih tertenteng di atas kepalaku, aku mengunjungi pemakaman ayahku. Kemudian, aku menanggalkan togaku, di atas makam ayah.

“Ayah hari ini aku sudah sarajana, ayah baik-baik selalu di sana,” air mataku terus tertumpah ruah.

***

Setahun berlalu, aku berhasil diterima menjadi salah satu pegawai negeri sipil, pada salah satu sekolah dasar di Makassar. Kini rumah kardus kecilku telah berubah jadi rumah beton yang sangat indah, lebih indah daripada yang pernah aku bayangkan.

Kemiskinan tidak seharusnya diratapi sebagai penderitaan, tetapi sebagai cara Tuhan membentuk diri. Terima kasih Tuhan, terima kasih Ayah, terima kasih Kak Dwi, terima kasih Ayu, dan terimah kasih untuk orang-orang yang selalu mendukung dan menyayangiku selama ini.


Sumber gambar: https://hot.detik.com/art/d-2407566/lukisan-gerobak-pemulung-dan-komik-curhatan-penghuni-lapas

ditulis oleh

Deny Ferdiansyah

Mahasiswa aktif di Universitas Hasanuddin, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Indonesia.