Di salah satu sudut kota aku beristirahat setelah menjalani rutinitas sebagai seorang mahasiswa. Yang aku singgahi bukanlah café ala milenial ataupun warkop rumah makan yang wah, begitu pun sebuah pusat perbelanjaan modern mal. Tempat persinggahanku adalah sebuah warung biasa sederhana dan berada di sebuah jalan yang sepi. Maklum aku selalu melewati jalan itu. Warungnya sederhana dan tidak begitu banyak barang dagangan biasa-biasa saja tapi kita bisa memesan kopi panas atau mie rebus instan.

Dalam pikiranku sehabis mengikuti perkuliahan di kelas aku merasa ada yang janggal. Teman-teman di kampus begitu disibukkan dengan hal-hal diluar di rinya. Mereka layaknya robot yang sudah diformat dan distel sedemikian rupa sehingga mereka acuh terhadap proses belajar di kelas. Mereka sibuk dengan gadgetnya masing-masing ketika perkuliahan berlangsung. Dan aneh mereka rata-rata anak organisasi intra dan ekstra kampus. Kejadian itu membuat saya lebih kasihan lagi.

Jika Soekarno menyatakan berikan aku sepuluh pemuda maka akan aku goncangkan dunia. Melihat mahasiswa sebagai pemuda di tempat kuliahku aku merasa tak ada lagi jalan itu. Jalan yang oleh Soekarno, Tan Malaka, Syahrir, Hatta, dan pemuda yang terlibat di peristiwa Regasdengklok sebagai secercah cahaya dan kemewahan yang anak muda miliki. Jalan yang penuh pengkhimadtan dan pengorbanan jalan yang mengubah sejarah. Jalan yang membentuk Indonesia samapai sekarang. Jalan yang saat ini berumur tujuh lima tahun, jalan yang penuh darah dan air mata hingga kita sampai pada kemerdekaan yang ke tujuh puluh lima tahun.

Jalan tidaklah melulu diartikan sebagai tempat lalu lalangnya orang-orang atau kendaraan bermotor untuk dilewati. Tapi jalan sering juga berarti sebuah keyakinan, perasaan, kasih sayang, yang ideal tentang sebuah penghidupan. Kehidupan yang penuh dengan kemanusiaan dan aku tidak menemukan itu di ruang kelas perkuliahan tadi. Di kelas aku ada tiga macam pemuda. Yang pertama pemuda kedaerahan, tipe ini adalah sisa-sisa  pemberontak Permesta-PRRI yang memandang penderitaan di negara ini disebabkan oleh orang jawa. Kedua pemuda merah Palu Arit. Tipe ini merupakan cloning yang dipengaruhi oleh ajaran komunis yang berakar hijau atau aliran mahzab tarekat sebuah kepercayaan dalam agama tertentu yang memimpikan revolusi yang hybrid. Ketiga pemuda yang relegius radikal anti perbedaan dan hanya agamalah otoritas tertinggi yang lain itu harus di musnahkan tipe ketiga ini juga sangat borjuis sangat materistik mendapatkan harta dengan kedok agama. Dijadikannya agama sebagai alat melegitimasi perbuatanya.

Itulah ketiga tipe teman kelas kampus saya. Setelah kopi kapas saya habis saya bergegas meninggalkan warung sederhana tersebut dan memulai langkah baru akan perubahan-perubahan yang lebih layak untuk bangsa dan negara ini. Bagi saya jalan untuk sampai ke sana bukan jalan untuk segelintir orang atau kelompok saja, namun jalan bagi banyak orang yang mencintai kemanusiaan.

Di masa lalu jalan kemerdekaan itu juga jalan kemanusiaan. Jalan yang ditempuh oleh para pendiri bangsa, para tokoh negarawan yang meritis kemerdekaan kita.  Jalan walau bagaimana jauhnya dan susahnya untuk dicapai, namun ada hati dan nurani yang teguh yang terus mendorong langkah kaki demi menggapai cita-cita.

Sekarang, siapa yang bakal menempuh jalan itu? Jalan yang sudah dirintis para pendiri bangsa ini. Sekarang saya sering melihat  mahasiswa yang tiap saat turun di jalan untuk demo, atau untuk ibu sang pemilik warung tempat saya singgahi ini. Entah bagaimana mahasiswa itu memaknai jalan kemerdekaan sekarang. Apakah sama dengan para petinggi itu, yang menjadi sebab jalan-jalan di kota ini makin menumpuk kepentingan dan menjulang tinggi bagai ego besar di hati mereka, melebihi kecintaan terhadap bangsa ini.

ditulis oleh

Firman Akhmad Nur

Mahasiswa UMI. Bergiat di Pojok Bunker