Sabtu tanggal 15 Agustus 2020 kemarin, merupakan kali kedua saya diundang oleh Perpusupiati yang digawangi oleh Andi Karman untuk menjadi pembicara/bintang tamu pada Live Instagram yang rutin ia selenggarakan setiap pekannya. Jika pada diskusi pertama, saya khusus berbicara soal pengasuhan selama dua jam, maka pada pertemuan kali ini saya diminta mengulik perihal isi buku Metamorfosis Ibu yang merupakan buku kedua saya dengan durasi waktu yang sama.

Sejujurnya saya menerima tawaran tersebut nyaris tanpa persiapan. Dengan pertimbangan pemikiran bahwa saya akan dipandu oleh host sebagai jembatan antara saya dan para peserta yang saat itu berkesempatan mengikuti acara ini. Dalam artian saya hanya menjawab atau menanggapi pertanyaan dan komentar dari pemandu acara maupun para pemirsa instagram. Bagi saya, model diskusi seperti ini cukup menguntungkan, karena tidak perlu membuat persiapan khusus.

Bahkan terkadang saya berkelakar dengan suami, saking menyatunya saya dengan dunia parenting, saya bisa menjawab dan menjelaskan pertanyaan seseorang sekalipun dalam kondisi baru saja terbangun dari tidur. Hal yang saya justru khawatirkan seringkali adalah ketidaksiapan orang yang bertanya atas jawaban yang diberikan.

Berdasarkan pengamatan dan evaluasi yang saya lakukan, bahwa sejauh ini persoalan terbesar dalam kehidupan seseorang justru bukan pada apa yang menjadi jawabannya, melainkan pada kesiapan mereka menerima dan menjalani instruksinya. Jawaban hanyalah pintu, lorong solusi sesungguhnya masih sangat panjang. Kebanyakan orang masih senang bermain-main di ranah jawaban. Enggan bergeser ke wilayah yang lebih luas dan kompleks. Itulah sebab mengapa suatu masalah tak kunjung beranjak pergi. Karena ia tidak diselesaikan hingga ke akar-akarnya.

Buku Metamorfosis Ibu bukan berisi tips dan trik bagaimana menjalani hari-hari bersama anak, melainkan mengandung sebuah pesan dan misi mengajak sebanyak mungkin orang dan menggugah siapa pun yang membacanya untuk tergerak melakukan persiapan dan perbaikan sedini mungkin pada wilayah terdekat kita masing-masing. Oleh karenanya, buku ini akan semakin sempurna jika disertai diskusi seputar tulisan-tulisan yang termuat di dalamnya.

Walaupun tema diskusi kemarin sebetulnya diarahkan pada proses kreatif penulisan buku tersebut, akan tetapi pertanyaan-pertanyaan yang muncul masih dominan mengarah pada muatan isi buku, yakni soal pengasuhan anak. Padahal tema diskusi khusus persoalan ini sudah dibahas pada perbincangan beberapa waktu sebelumnya. Mungkin label praktisi pengasuhan anak lebih kuat bercokol di ingatan orang-orang. Namun rupanya situasi tersebut sudah masuk dalam prediksi host acara. Menurutnya, karena membaca kemungkinan-kemungkinan tersebut, maka dibuatlah judul diskusi menjadi “Meracik Bumbu Metamorfosis Ibu”. Maksudnya, dalam perbincangan tersebut nantinya, setiap orang bebas ingin bertanya atau berkomentar soal buku ataukah pengasuhan.

Sebagai penulis buku yang terbit tahun 2018 lalu ini, terkadang terselip perasaan bangga, haru, sekaligus agak kurang yakin dengan penerimaan pasar pembacanya. Makanya ia (baca: Buku Metamorfosis Ibu) hanya dicetak sebanyak 500 eksemplar saja. Sebuah angka yang lumayan besar bila dipasarkan sendiri. Alhasil pemasarannya hanya mengandalkan kedua toko kami, Toko Buku Paradigma Ilmu dan Toko Buku Papirus. Selebihnya kami pasarkan dari mulut ke mulut. Ataukah dikemas dalam bentuk diskusi buku atau parenting. Alhamdulillah saat ini–sisa 20-an eksemplar yang masih tersedia di toko kami.

Dalam kacamata saya, buku ini biasa saja. Ia hanya bercerita pengalaman sehari-hari saya berinteraksi dengan anak, keluarga, dan lingkungan masyarakat sekitar. Juga cerita sekilas pengalaman masa kecil sebagai penggambaran, yang kiranya turut memberi sumbangsih pada model kehidupan yang saya lakoni hingga hari ini. Namun sesederhana apa pun pengalaman masa kecil seseorang, semua itu bisa kita belokkan ke arah yang lebih positif dengan menyematkan berbagai unsur pendukung di dalamnya.

Buku ini akan menjadi sangat luar biasa apabila yang membacanya menyiapkan hati dan pikiran yang terbuka, serta kesiapan untuk menjalankan misi pengasuhan yang menjadi salah satu spirit dalam hidupnya. Pemikiran saya ini didasarkan pada hukum ketertarikan atau hukum semesta. Yakni, manakala dua hal yang memiliki muatan vibrasi yang sama saling terkoneksi, maka akan muncul sebuah kekuatan baru yang bernama antusiasme atau spirit. Untuk melanggengkan spirit tersebut ia perlu dikuatkan dengan praktik. Dan manakala praktik yang dilakukan tidak membuahkan hasil, maka diharapkan muncul rasa penasaran dan semangat untuk terus belajar, mencari tahu, dan menggali pengetahuan seputar persoalan yang ia hadapi.

Selanjutnya, dalam ruang-ruang interaksi antarmanusia, kita dapat melihat siapa sajakah orang-orang yang masih setia bertahan berada dalam satu gerbong, mana di antaranya yang sudah menyerah. Tidak ada tim penilai atau juri yang akan mengumumkan nama-nama tersebut. Alat pendeteksi sesungguhnya adalah perasaan nyaman dan bahagia yang dirasakan oleh mereka yang bertahan dalam proses perjalanannya dan berhasil menyelesaikan persoalan demi persoalan dalam etape hidupnya.

ditulis oleh

Mauliah Mulkin

Pegiat literasi dan parenting di Paradigma Institute. Telah menulis buku "Dari Rumah untuk Dunia" (2013) dan "Metamorfosis Ibu" (2018).