Sejak awal kemunculan virus Covid-19 mengguncang sistem kehidupan umat manusia. Kemunculannya begitu mendadak mengundang banyak persepsi dan praduga dari pelbagai lapisan masyarakat. Tukang becak sampai professor tak luput mendiskusikannya. Bahkan kemunculannya kembali mengundang diskusi di bidang teologi, khususnya korelasi antara agama dan sains beserta bejibun implikasinya bagi kehidupan umat manusia.

Akan tetapi, yang akan diulik secara sederhana pada tulisan ini adalah sikap dan metode penanggulangan yang dilakoni pemerintah selama menghadapi pagebluk Covid-19. Salah satu buku, khusus membicarakan pandemi Covid-19 adalah karya anggitan Slavoj Zizek terjemahan Khoirul Maqin, dengan judul Pandemik! Covid-19 Mengguncang Dunia. Sebelum menikmati isi buku tersebut, kita disuguhkan pengantar yang cukup menggugah nalar pikir. Nalar pikir yang sudah terlalu lama terpasung kemapanan konsep semu belaka.

Kata pengantar didedahkan Arif Novianto, mengantarkan kita pada kondisi realitas terselubung, bahwa sebenarnya, selama ini kitalah penyebab utama kehadiran virus. Kitalah dengan takzim menjamu “mereka” di ruang tamu kehidupan, bahkan merangsek sampai pada persoalan dapur kita.

Perlu diketahui, patogen adalah inti sebuah virus. Patogen selama ini hanya hidup di dua tempat yang sulit dijangkau manusia. Hutan belantara dan dasar lautan terdalam. Jamak diketahui, patogen atau inti virus hanya dapat hidup ketika berada dalam inang. Inangnya bisa dari jenis makhluk hidup apapun, termasuk manusia punya peluang yang sama menjadi inang bagi sang virus.

Pertanyaan selanjutnya, melalui proses apakah si patogen atau si virus bisa sampai dan hidup akrab dengan manusia? Mempertimbangkan jarak tempat kehidupan virus dan manusia sangat jauh—hutan belantara dan dasar lautan terdalam—membuat kita berpikir keras untuk menemukan jawabannya. Tak dapat dipungkiri, kasus deforestasi menjadi tuduhan yang nyata atas cerita indah hidup antara virus dan manusia. Serta banyak kasus bencana alam yang sejak zaman purba melanda hidup manusia dan membuat manusia bernasib malang.

Alaf 1997 ketika hutan Kalimantan dibalak, virus Nipah melanda Asia Tenggara. 256 petani mengalami peradangan otak parah dan—si virus menjadi “malaikat pencabut nyawa” bagi 105 petani lainnya. Alur ceritanya gampang ditebak. Kasus deforestasi terjadi, patogen yang hidup dan menjadikan kelelawar sebagai inangnya kehilangan tempat bermamah-biak. Walhasil, lahan perkebunan warga menjadi satu-satunya tempat hidup kelelawar. Lebih lanjut, sisa makanan si kelelawar yang terjatuh dari pohon, menjadi makanan kawanan hewan peliharaan si petani. Cerita selanjutnya dapat diterka dengan mudah. Benar! Hewan peliharaan yang terjangkiti virus, dikonsumsi oleh si petani kebun. Simsalabim, virus telah meringsek sampai wilayah dapur kita.

Setelah menceritakan cerita singkat pergumulan virus dengan manusia, kini, yang akan diulik adalah sikap dan metode penanggulangan virus yang diterapkan oleh pemerintah. Selaku pembuat kebijakan dan regulasi, yang didapuk sebagai institusi pengemban suara masyarakat.

Lembaga kepemerintahan di dunia, tidak terkecuali Indonesia, kerepotan dengan munculnya wabah virus Covid-19. Kata panik merupakan salah satu kata yang paling tepat menggambarkan kondisi terkiwari. Dalam kacamata berbeda, Zizek membedah peristiwa wabah pandemik Covid-19 menggunakan berbagai paradoks untuk mengungkap realita yang kadang kala tidak terpikirkan oleh orang lain. Menurut Zizek, kepanikan yang ditampakkan oleh pemerintah bukanlah sebuah penyelesaian efektif menanggulangi wabah pandemik Covid-19:  “Panik! adalah ancaman bagi pasar, karena kepanikan akan membunyikan lonceng kematian bagi imperium bisnis”. Setidaknya, ada tiga dampak besar yang dihasilkan oleh pandemi Covid-19: a). epidemi Covid-19, b). dampak ekonomi yang buruk, dan d). guncangan geopolitik internasional.

Di Indonesia sendiri, era kenormalan baru yang ditawarkan, merupakan swabukti terhadap argumen Zizek di atas. Dilansir oleh Tempo.co, setidaknya ada lima fakta yang bisa dibeberkan terkait ancaman resesi ekonomi di Indonesia: a). resesi di Indonesia diprediksi tidak separah negara lain, b). dampak resesi global ke perekonomian RI dinilai kecil, c). antisipasi resesi dengan genjot konsumsi via belanja negara dan bansos, d). pembayaran gaji ke-13 diharapkan turut dorong konsumsi, e). harap dan cemas Jokowi di kuartal tiga. Kucuran dana 72 M oleh Presiden RI menjadi bukti lain atas argumen Zizek. Dana gigantik yang digelontorkan oleh pemerintah, menunjukkan betapa paniknya pemerintah menangani Covid-19.

Era kenormalan baru yang diterapkan menuai pro dan kontra dari berbagai pihak. Di satu sisi, era kenormalan baru merupakan salah satu cara untuk mendongkrak perekonomian yang sedang diambang gulung tikar. Di sisi lain, kenormalan baru menjadi masalah besar bagi potensi meningkatnya kasus wabah Covid-19. Hal ini menjadi salah satu paradoks yang ditampilkan oleh Zizek dalam bukunya. Bahwa, betapa pemerintah masih acuh tak acuh dengan kesehatan rakyatnya. Pemerintah masih lebih mementingkan perekonomian yang sedang ambruk tinimbang kesehatan dan kesejahteraan rakyatnya.

Selain membedah sikap dan metode penanggulangan pemerintah terhadap pagebluk Covid-19, Zizek juga memberi gambaran terkait respon masyarakat umum dalam menghadapi wabah pandemi. Pertama, penolakan. Di awal kemunculannya, masyarakat umum menolak keberadaan Covid-19 sebagai sebuah fakta. Kedua, kemarahan. Setelah menyadari bahwa Covid-19 bukan kabar burung belaka, masyarakat merasa resah dan marah akibat dampak yang dihasilkan oleh Covid-19. Ketiga, tawar-menawar. Pada tahap ini, masyarakat tengah melakukan tawar-menawar dengan diri sendiri. Menakar, manakah yang lebih banyak dampak negatifnya, Covid-19 ataukah penyakit yang lain. Keempat, depresi. Setelah menghitung-hitung dampak negatif yang ditimbulkan, mereka tetap tidak dapat berbuat apa-apa untuk mencegah hadirnya wabah. Kelima, penerimaan. Pada tahap ini, masyarakat berserah diri akan kondisi yang sedang dilakoninya.

Pilihannya hanya dua. Mati akibat kelaparan ataukah hidup dengan ancaman wabah yang tak kunjung reda. Disadari atau tidak, kelima respon masyarakat diatas telah dialami secara saksama. Hadirnya wabah ditengah kehidupan manusia, menjadi pengingat bagi manusia agar melakoni kehidupannya sesuai kadar prioritasnya.

 


Sumber gambar:https://penerbitindependen.com/2020/05/13/politik-pandemi-dan-panik-zizek-angkat-bicara/

 

ditulis oleh

Ahmad Nurfajri

Ahmad Nurfajri Syahidallah. Aktif sebagai mahasiswa di Universitas Hasanuddin, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Asia Barat. Selain aktif di bidang akademik, juga aktif di beberapa Lembaga kemasiswaan. Siswa di Kelas Literasi Paradigma Institute