“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, dan beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”.

Seperti itulah kurang lebih pepatah yang pernah diucapkan Bung Karno dalam pidatonya. Dalam kalimat ini pemuda merupakan elemen penting bagi sebuah negara, dan tentunya kualitas sebuah negara itu biasanya diukur melalui kualitas pemudanya. Negara yang memiliki pemuda yang berkualitas dan produktif tentunya akan menjadi sebuah negara yang unggul dan maju.

Salah satu bagian pemuda adalah mahasiswa. Mahasiswa bukan hanya mereka yang sekadar belajar di kampus setelah itu kembali pulang kerumah. Justru esensi mahasiswa yang sebenarnya  lebih dari itu, mahasiswa bukan lagi seorang siswa yang tugasnya belajar, bukan hanya sebagai rakyat, dan bukan pula sebagai pemerintah. Di sini mahasiswa memiliki tempat proporsional sendiri di lingkungan masyarakat, namun bukan berarti mahasiswa memisahkan diri dari masyarakat. Justru mahasiswa haruslah lebih dekat dengan masyarakat itu sendiri.

Berbicara tentang masyarakat, kali ini Indonesia sedang berada di fase sulit-sulitnya. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan saat ini masyarakat tengah dilema. Di tengah pandemi ini, keadaan perekonomian Masyarakat sedang melemah. Banyak keluarga mengalami defisit pemasukan, belum lagi jika dalam sebuah keluarga memiliki anak yang sedang bersekolah ataupun berkuliah yang harus menambah pengeluaran keuangan. Hal ini akan semakin membuat masyarakat kebingungan, di mana lagi ia akan mendapatkan pemasukan untuk menambal perut lapar keluarganya, menyuapkan ilmu di bangku sekolah, dan kuliah untuk anaknya. Bagaimana cara mereka menyelimuti keluarganya dari kedinginan, dan melindungi nyenyak tidur keluarganya dari hujan, sementara di saat bersamaan mereka sulit mendapatkan pekerjaan sementara pengeluaran semakin hari semakin meningkat.

“Bagai tamu tak di undang”

Sebuah perumpamaan yang sangat pas untuk mewakili keadaan saat ini yang seolah-olah pandemi ini mengajak kita untuk menghitung sudah  berapa banyak jumlah orang yang terpapar, terlempar, atau menggelepar. Yang membuat hidup seolah-olah hanya sekadar deretan angka tak disangka. Bukan hanya itu, kehadiran pandemi ini justru semakin memperkeruh keadaan sebuah negara.

Ditambah lagi kebijakan sekolah dan kampus yang tidak pro mahasiswa, adanya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) secara besar-besaran dikarenakan bangkrutnya perusahaan tertentu, dan juga beberapa rentetan kebijakan pemerintah yang baru-baru saja marak diperbincangkan yang sama sekali tidak pro rakyat, mulai dari Omnibus Law, dan beberapa kebijakan lainnya. Yang semakin membuat geram para mahasiswa,

Wiji Tukul pernah berkata dalam puisinya

“Apabila usul ditolak tanpa ditimbang; suara dibungkam; kritik dilarang tanpa alasan; dituduh subversif dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata: Lawan!” 

Kalimat ini sangat pas untuk menggambarkan kondisi peran mahasiswa sekarang yang memilih cara kritik melalui demonstrasi, meskipun dalam pelaksanaannya menuai banyak pandangan miring. Akan tetapi jalan inilah yang paling efektif digunakan oleh para mahasiswa, selain karena bosan dengan pembungkaman dan penindasan yang dialami oleh masyarakat, hal ini juga dapat dijadikan sebagai alat guna melatih mahasiswa untuk berpikir kritis dan berani menyuarakan aspirasi di depan umum untuk membela sebuah kebenaran.

Bagi mahasiswa itu sendiri pandemi yang terjadi bukanlah sebuah penghalang untuk menghentikan aksi demonstrasi. Baginya ketidakadilan dan keserakahan oligarki dan birokrasi jauh lebih ganas dan mematikan dibandingkan dengan merebaknya virus ini. Meskipun demikian dalam melakukan kegiatan aksi demonstrasi ini para mahasiswa juga diharapkan untuk tetap mematuhi protokol kesehatan. Maka dari itu mereka menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) seperti masker, handsanitizer, dll., dalam melakukan demontrasi tersebut.

Dari permasalahan ini ada beberapa catatan penting yang harus diperhatikan. Baik dari pemerintah maupun masyarakat dan mahasiswa itu sendiri. Di antaranya, pelaksanaan demonstrasi ini pada dasarnya berawal dari rasa ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah, maka dari itu pemerintah seharusnya membuat sebuah kebijakan yang mampu menarik simpati masyarakatnya. Selain itu juga masyarakat harusnya lebih kreatif dalam menghadapi sebuah masalah, terkhusus di musim pandemi ini, digitalisasi sangat penting dalam membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,  seperti membuka bisnis online, kursus online, bengkel online, dan pekerjaan yang berbasis online lainnya. Tidak sampai di situ saja adapun inti dari penyelesaian dari permasalahan ini ialah mampu menerapkan sikap saling kasih antar masyarakat, maupun masyarakat dengan pemerintah. Sebuah perbedaan karena masalah adalah rahmat, yang jika mampu dikelola dengan baik akan menciptakan integritas dengan sendirinya.

Kalau bukan kita dari kalangan mahasiswa, siapa lagi yang akan membantu kita dalam memberantas ketidakadilan?

ditulis oleh

Rini Ajeng DP

Mahasiswa Sosiologi UNM. Siswa di Kelas Menulis Paradigma Institute Makassar