Suatu ketika saya berdiskusi dengan sesama praktisi seni. Dalam diskusi tersebut menyoal perkara melarik embrio ide, gagasan dan tantangan praktisi seni dalam lingkup sosial masyarakat. Beberapa di antaranya yang menjadi substansial adalah independensi pemikiran terkait ide dan gagasan  yang kemudian diekspresikan secara visual di bidang dua dan tiga dimensi. Independensi dalam arti kebebasan berimajinasi, berkreasi, berinovasi, berkreatifitas bahkan kebebasan berpenampilan sebagai hal lumrah.

Penampilan  unik dan rambut gondrong yang kadang dianggap tabu di kalangan masyakat umum menjadi ciri khas. Cara berpakaian yang menjadi keunikan itu, tidak lain merupakan bentuk eksistensi gagasan estetis meski kadang dianggap lusuh bahkan latah. Mengapa saya katakan sebagai ciri khas sebab, penampilan yang ruwet dan rambut gondrong di kalangan praktisi seni ibarat jas dan atribut dalam meramu aktivitas keseharian dalam berkarya..

Tidak hanya itu, kebebasan juga ditunjukkan melalui penciptaan dari hasil ide dan gagasan nalar maupun di luar nalar. Hal-hal abstrak salah satunya bahkan menyentuh hal-hal yang bersifat mistik. Karya-karya absrak yang ditorehkan seorang seniman dari pengalaman hidup, ceritra dan bahkan keniscayaan alam semesta (adikodrati) merupakan bentuk mawas diri dengan sang pencipta Yang Esa.

Berbicara merdeka tidak lepas dari persoalan kebebasan baik individu maupun kelompok masyarakat. Kebebasan yang dimaksud adalah bebasan dari belenggu segala perbudakan ideologi kepentingan. Sebab seniman memiliki ideologinya sendiri sehingga mampu berdikari. Menurut Heru Maryono Msn, selaku praktisi seni asal Medan mengatakan bahwa seniman atau praktisi seni merupakan antitesa melawan kemapanan serta kaum penguasaan yang menindas dan anti kritik. Seni lahir bukan sebagai produk kapitalis melainkan sebagai wujud kekaguman terhadap nilai-nilai estetis ciptaan Tuhan.

Membahas tentang seni dan kemerdekaan, sontak dalam pikiran saya timbul simulasi  tentang intensitas kemerdekaan di negeri ini. Kita merdeka layaknya kerajaan seni dengan segala kebebasan berekspresi berdasarkan nalar, rasio, dan tunduk kepada Yang Esa. Di sisi lain  seni sebagai representasi media dalam mengkritisasi fenomena sosial dan pemerintah. Sebab keberadaan seni juga tidak lepas dari representasi kondisi alam sekitar baik secara fisik maupun emosional. Melalui seni seorang praktisi seni menyampaikan suara batin, aspirasi rakyat, dan kritik publik secara visualisasi

Salah satu jargon sakral yang terpatri di bibir kaum-kaum pribumi nusantara yang tertindas sejak masa reformasi adalah kalimat “MERDEKA”. Sejak era reformasi seni dan sastra sebagai presensi medium perlawanan terhadap penindasan HAM, terkhusus pada kebebasan berekspresi, kebebasan berfikir, dan kebebasan berpendapat sebagai esensi dari sebuah kemerdekaan.

Memasuki akhir orde baru tahun 90-an, seni banyak mengulas fenomena moralitas sebagai reaksi kegelisahan masyarakat terhadap para wakil rakyat. Di era Orde Baru kehadiran pemerintah dianggap tidak lagi bermoral. Akibat dari kegelisahan tersebut memicu timbulnya gerakan-gerakan karya seni dan sastra yang berpihak terhadap kemanusian. Menyoal perkara moralitas pemerintah dan kebijakan rezim otoriter.

Seorang guru besar filsafat dan dosen Seni Rupa ITB, Bambang Sugiharto dari lensa kacamata seni mengungkapkan bahwa,”seni umumnya akan terus menerus menjadi penjaga yang akan mengamati keadaan masyarakat. Setiap ada kebebasan yang terancam, dunia seni selalu bisa menjadi seperti lampu kuning untuk memperingatkan masyarakat. Inilah yang saya katakan bahwa seni adalah nurani dari kultur”.

Nirwan Dewanto seorang sastrawan, kurator, dan aktor nasional yang juga turut menanggapi fenomena kebebasan berfikir dan berpendapat adalah salah satu hak asasi manusia. Hak sebagai wujud masyarakat yang sehat, peran seni dan sastra sebagai produk kebudayaan dalam sejarah umat manusia. sejarah kemajuan peradaban yang dipertajam oleh seni dan karya tulis sebagai wujud privilese.

Seni sebagai cerminan nilai-nilai estetis dalam masyarakat yang diregenerasi berdasarkan zaman. Melalui kebebasan berkesenian, maka  nilai-nilai estetis ini ditransformasi dalam berbagai sektor ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dan seni adalah dua hal yang memiliki korelasi yang besar. Sebagaimana yang di ungkap oleh Dr. G. R. Lono Lastoro Simatupang, M.A bahwa “seni tidak akan pernah mampu mengubah dunia secara sendirian karena seni pada hakikatnya merupakan proses mediasi yang terikat ruang dan waktu“. Hal in mengindikasikan bahwa seni dan ilmu pengetahuan saling melengkapi satu dengan yang lain, ibarat kemerdekanya sebuah negeri dari hasil korelasi antar suku dan bangsa untuk melawan kaum penjajah.

Eksistensi seni di berbagai sektor ilmu pengetahuan ibarat gula dalam secangkir kopi. Seni menjadi sesuatu yang berpengaruh namun tak banyak diungkap. Tak hanya itu, seni juga merupakan salah satu unsur kebudayaan yang senantiasa terus berevolusi, sebab dengan kebebasan berkesenian berarti seorang seniman senantiasa membatu kemajuan peradaban dan kebudayaan yang sedang berlangsung. Meski demikian, istilah seni sering kali dijadikan pengantar untuk mendefinisikan berbagai peristiwa atau tindakan, meski itu hanya sebatas artifisial . Istilah politik salah satunya yang didefinisikan sebagai seni dan ilmu untuk memperoleh kekuasaan secara konstitusional maupun non-konstitusional.

ditulis oleh

Hariping Hariping

Mahasiswa UNM. Siswa di Kelas Literasi Paradigma Institute Makassar