Entah kapan dan mengapa saya mulai doyan mendengarkan lagu Koes Plus, terutama lagu berjudul “Kolam Susu“. Apakah nilai kritiknya atau pasal kata susu yang sejatinya enak dan memang digemari kebanyakan lelaki dan perempuan. Entahlah! Saya memang tidak berminat mempertanyakannya. Sebab bertanya berarti harus memutar rekam jejak masa lalu. Dan di sana, banyak berserak kenangan pahit, manis, dan lucu macam kamu.

Lagi pula saya merasa tidak perlu mempertanyakannya dan tidak perlu khawatir tentang waktu yang lalu, lantaran Aan Mansyur menodongkan kata, “Masa lalu itu tidak pernah hilang. Ia ada tetapi tidak tahu jalan pulang. Untuk itu ia menitipkan surat, kadang kepada sesuatu yang tidak kita duga. Kita menyebutnya kenangan.”

Jelasnya, saya suka saja lagu itu tanpa tahu mengapa. Titik! Saya mendengarkannya ketika sedang membaca buku dan di mana pun saya bernafsu mendengarkan musik. Termasuk ketika memanjat pohon cengkih tempo hari, saya memutar lagu tersebut. Ingat Robin Sharma? Penulis buku Who Will Cry When You Die  tersebut dalam bukunya menyarankan kita untuk mendengar musik setiap hari. Katanya mendengarkan musik selama beberapa menit setiap hari merupakan cara sederhana Рdan pastinya murah Рnamun kuat untuk menata suasana hati.

Selain mendengar musik, saya juga selalu ingin bernyanyi. Sungguh. Meski saya tahu tidak berbakat menyanyi dan tidak terlahir dengan suara merdu macam Fildan atau Judika. Tak heran, seorang junior dengan lancang berkata,Suaranya kakak fals, jadi tidak usah kirim pesan audio. Tapi sekali lagi saya juga tidak merasa perlu mempermasalahkan dan mempertanyakan, mengapa tidak berbakat menyanyi tapi konyolnya saya ingin bernyanyi.

Apa yang dikatakan Robin Sharma dalam buku di atas cukup mewakili, bahwa musik dapat membuat kita tersenyum kembali dan menambah kualitas hidup kita dalam jumlah yang tak terbatas. Rasa-rasanya memang begitu. Musik bisa membuat kita tenang atawa tertawa, termasuk menertawai suara sendiri yang aduhai. Musik juga membikin perasaan tiba-tiba plong. Walaupun terkadang mendadak nelangsa, jika sampai pada lirik lagu yang datang membawa kenangan mantan atau orang-orang yang kita cintai.

Musik bak mantra yang memiliki daya magis luar biasa. Di sana kekuatan kata-kata bersemayam mencari bentuknya. Bahkan filsuf cemerlang seperti Plato mendaulat musik sebagai hukum moral. Katanya musik memberi jiwa ke alam semesta, sayap bagi pikiran terbang ke imajinasi, pesona dan keceriaan untuk hidup kita.

Sebagai hukum moral, musik – saya tambahkan puisi, pas sekali dijadikan alat perlawanan kepada segala yang dianggap ingkar dari kebenaran. Kritik pedas nan elegan. Macam melempari seseorang bunga lengkap dengan potnya.

Negeri ini, dengan segala kekusutannya telah melahirkan penyair dan musisi martir semacam W.S. Rendra, Chairil Anwar, Widji Thukul dan masih banyak lagi. Puisi mereka menjelma godam yang mengentakkan ketidakbenaran. Suara-suara mereka menggema melintasi masa. Berbisik pada singa-singa tidur disetiap generasi, “Bangunlah! Bangkitlah melawan atau tidak sama sekali!”

Dan tetaplah terus bergumam. Sebab gumam adalah mantra dari dewa-dewa. Gumam mengandung ribuan makna. Apabila gumam sudah menyatu dengan jiwa raga. Maka gumam akan berubah menjadi teriakan-teriakan. Yang nantinya akan berubah menjadi gelombang salju yang besar. Yang nantinya akan mampu merobohkan istana yang penuh kepalsuan. Gedung-gedung yang dihuni kaum munafik. (Pesan Sang Ibu, puisi Widji Tukul).

Kata-kata mereka yang indah itu, membuat rakyat seperti anak dalam pelukan ibunya. Merasa diperhatikan dan dicintai. Tapi menjelma belati yang siap mengebiri para “jagal, pembegal, pelakor, dan pelacur” berdasi yang bergentayangan di gedung-gedung pemerintahan.

Tersebutlah nama Iwan Fals, Slank, dan Koes Plus tentunya sebagai kelompok musisi yang memiliki lagu-lagu menohok dan menggugah. Mereka terus bernyanyi menghibur rakyat yang gundah dan selalu bertanya-tanya, “Kenapa negeriku dijajah orang sendiri? Kapan derita sirna di atas perut bumi pertiwi yang sedang mengandung anak bernama makmur dan damai?”

Maka saya kedepankan lagu Koes Plus sebagai tanya, bukankah orang bilang tanah kita tanah surga? Kayu dan batu bisa jadi tanaman? Tapi yang banyak bertumbuh justru jiwa-jiwa kerdil para penguasa yang korup. Mentalitas inlander masih subur, menjulur seperti akar menjalari hati anak-anak negeri. Menggerogoti hingga ke bagian terdalam dan termiskin negeri ini. Mereka menjelma tulang dalam daging. Gunting dalam lipatan. Dan menjelmalah orang-orang itu kutu-kutu busuk garuda Pancasila yang perkasa.

Yudi Latif pun turut bersenandung pilu dalam bukunya Revolusi Pancasila. Katanya orang bilang tanah kita tanah surga. Negeri kita kaya sumber daya, indah permai bagai untaian zamrud yang melilit khatulistiwa. Namun di taman nirwana dunia timur ini, kelimpahan mata air kehidupan mudah berubah menjadi air mata.

Tetapi kata-kata mereka.. kata-kata mereka pada setiap generasi semua masa, akhirnya hanya sekadar lagu dan puisi sendu yang dinyanyikan rakyat menjelang tidur. Nyanyian pilu saat mengamen anak-anak jalanan putus sekolah di trotoar dan lampu merah. Sekadar suara suara sumbang di panggung-panggung pementasan. Toh mereka yang dialamatkan kata-kata itu, orang-orang tuli dan mati rasa.

Usia negeri kita 75 tahun kini. Dan masih begini-begini saja. Pendidikan merdeka dan berkarakter katanya, tapi masih banyak kaum terdidik tak ada akhlak. Anak-anak mengeluh tak sanggup beli data dan merasa disesaki oleh tugas yang menumpuk. Semua karena masih suburnya praktik-praktik yang lebih mengedepankan aspek formal dan administratif. Masih mengorbitnya paradigma pendidikan yang pragmatis dan materialistik. Semua ini terjadi, secara samar atau terang-terangan, bahkan disamar-samarkan.

Revolusi mental katanya, tetapi ayo korupsi, kolusi, dan nepotisme masih lebih populer tinimbang ajakan ayo ke masjid atawa ayo membaca. Kecil atau besar, suara-suara para kuruptor senantiasa terhubung satu sama lain, “mabar yuk!” Dan jika perilaku menyimpang demikian masih dianggap biasa-biasa saja, lambat atau cepat ambyarlah negeri yang kita cintai ini.

Selain korupsi yang statistiknya masih menanjak, di tengah pandemi harga pupuk tak terjangkau, sedang harga hasil tani justru kian melorot. Rayat kita masih ada saja yang kelaparan. Menderita berkepanjangan. Tak heran mereka rela menyabung nyawa, vis-a-vis dengan virus mematikan. Dan dalam getir itu mereka masih terus percaya, di negeri ini pemerintah hadir untuk melayani rakyatnya. Angka 75 semestinya mendewasakan kita, dan mulai hijrah dari segala perilaku egois dan binal yang mencederai negeri ini.

Olehnya, kepada siapa pun yang mencintai Indonesia, mari kita bernyanyi lagu Indonesia raya atawa berpuisi untuk negeri ini. Meski suara-suara kita sumbang dan fals, teruslah berharap semoga tersentuh perasaan mereka. Bergetarlah jiwa raganya. Tumpah air matanya di atas perut ibu pertiwi. Lalu mereka akan bangun dan melihat di usianya yang 75 tahun, negeri kita masih berdiri tegap. Mantap arahnya. Meski bajunya koyak dan lusuh diterjang badai. Diamuk anak sendiri. Indonesia masih berjalan, terpincang-pincang melewati tujuh samudera, tujuh gunung, tujuh gurun, dan tujuh hutan belantara demi meraih buah yang dijanjikan, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

ditulis oleh

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.