Semangat perayaan kemerdekaan rakyat Indonesia semenjak proklamasi 17 Agustus tahun 1945 tidak pernah pudar hingga kini, meski tengah dijajah oleh bala tentara Covid-19, atau dikenal dengan istilah corona virus diseases. Pasukan penjajah tanpa pandang bulu. Kaya, miskin, penguasa, bahkan kaum melarat pun tak luput dari bidasannya. Tidak hanya itu, mereka juga melumpuhkan berbagai sektor kehidupan terutama perekonomian dunia. Lantas bidang manakah yang tak goyah dari serangan tersebut? Salah satu bidang ilmu yang tetap eksis di tengah dunia yang sedang terpuruk adalah seni dan teknologi. Kedua bidang ilmu ini memiliki korelasi yang besar dan mampu mengubah tatanan kehidupan bangsa bahkan dunia.

Korelasi seni dan teknologi menjadi penyambung lidah masyarakat meneriakkan gemuruh sukaria kemerdekaan. Twibbon, pamflet, dan stiker sebagai medium presentasi perayaan secara visual. Konsep visual menjadi salah satu opsi yang lasuh untuk mengekspresikan diri dalam semarak perayaan 17-an. Sebab yang menjadi substansi dalam perayaan kemerdekaan adalah peran masyarakat/patisipasi publik menstimulasi jiwa nasionalisme.

Selain itu, eksistensi seni juga tidak sebatas di media sosial, melainkan juga teraktualisasi di lingkungan masyarakat secara luas. Beberapa di antaranya berupa pernak-pernik guntingan kain merah putih di lorong-lorong kota, mural, serta  cat tembok memantas pagar yang antar ragam sebagai emblem semarak DIRGAHAYU NKRI ke-75. Hal tersebut tidak lain sebagai konkretisasi simbol-simbol kebangsaan yang estetis dan historiologi.

Perayaan HUT-RI ke-75 tahun in nampaknya terasa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Perayaan yang didominasi oleh lomba-lomba kini hampir tak lagi dijumpai. Antusiasme masyarakat dalam mengambil peran beraneka ragam. Di antara yang paling mencolok adalah mekarnya budaya pengibaran bendara merah putih sebagai identitas bangsa. Selain itu, karya-karya seni pun tidak luput mengambil peran.

Apabila berkaca pada sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, tentunya seni memiliki andil besar dalam memperjuangkan  hak kemerdekaan bangsa Indonesia . Perjuangan para seniman diejawantahkan dalam bentuk karya ekspresi diri dan pernyataan sikap melalui kritik kebijakan pemerintah.

Menyoal perkara momentum 17-an, tidak lain berbicara tentang  kemerdekaan parsial yang dinamis. Kemerdekaan parsial dalam arti merdeka dalam segala hal tanpa terkecuali individu maupun kelompok, sedang dinamis menunjukkan bahwa kemerdekaan yang terus berevolusi berteraskan dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Selayaknya salah satu yang diagihkan aleh Sutan sjahrir bahwa “Kemerdekaan nasional bukan pencapaian akhir, tapi rakyat bebas berkarya adalah pencapaian puncaknya.” Sebab, dengan kebebasan berkarnya maka melahirkan sejuta produk bangsa yang kreatif, inofatif dan bernilai terapan bahkan bernilai ekonomi.

Setiap individu memiliki hak dan ruangnya tersendiri untuk berekspresi, berjuang dan berkarya. Dari pernyataan tersebut sangatlah jelas bahwa setiap orang punya hak untuk berkontribusi bagi bangsa dan negaranya, baik dari segi pemikiran/gagasan dan tindakan berdasarkan bidangnya. Sebagai seorang seniman sejak era era kolonialisme berdalih dengan isyarat bahwa berjuang untuk kemerdekaan tidaklah selamanya harus mengankat senjata layaknya seorang prajurit.Tetapi, entitas perjuangan seorang seniman dielaborasikan dalam bentuk semangat riuh dan suara batin yang lantang juga tulus.

Lukisan Memanah karya Henk Ngantung merupakan salah satu dari sekian banyak karya lukis yang menginspirasi semangat perjuangan kemerdekaan. Lukisan dengan judul Memanah, lukisan yang besar pengaruhnya bagi tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia, Bung karno dalam merevitalisai pergerakannya. Karya tersebut memberi kesan awal kepada Bung Karno sebagai simbol pergerakan bangsa Indonesia yang terus maju. Bung Karno kemudian melantaskan keinginannya untuk membeli karya tersebut yang belum rampung lantaran perihal model. Tanpa ayal Bung Karno pun menawarkan dirinya sebagai model, hal itu tak ditampikan Henk Ngantung. Seusai digarap, karya ini kemudian dijadikan koleksi oleh Bung Karno di Istana Kepresidenan.

Menelisik sejarah sosok seniman Henk Ngantung kelahiran 1 Maret 1921 Manado, Sulawesi Utara. Seorang yang dikenal sebagai seniman otodidak, seniman yang banyak melahirkan sketsa-sketsa perjuangan di antaranya sketsa tentang Perundingan Linggarjati, Perundingan Renville, dan Perundingan Kaliurang serta sketsa monumental lainnya. Tidak hanya sebatas berkarya, ia juga mendirikan “Gelanggang Seniman Merdeka” yang menghimpun seniman-seniman 45 termasuk Khairil Anwar, Haruddin M.S., Mochtar Apin, Basuki Resobowo, Asrul Sani, dan lainnya. Kemudian pada agustus 1948, Henk Ngantung dan kawan-kawan aktif menggelar pameran keliling di indonesia ditengah situasi perang.

Usut punya usut, kedekatan Henk Ngantung dengan Bung Karno tidak sebatas motif karya seni melainkan adanya implikasi struktural pemerintahan. Henk Ngantung Seorang seniman sekaligus  wakil gubernur DKI Jakarta periode 1960-1964. Selepas menjabat sebagai wakil gubernur 1964, ia kembali diangkat oleh Bung Karno menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 1964-1965. Pengangkatan tersebut dilakukan Soekarno dengan dalih ingin menjadikan Jakarta kota budaya, karena dinilainya memiliki bakat artistik. Meski dalam pengangkatannya menuai banyak protes dari berbagai pihak. Selepas menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, kebiasan berkarya Henk Ngantung tidak pernah dinafikannya hingga akhir hayat.

 


Sumber gambar: https://lukisanku.id/lukisan-memanah-henk-ngantung/

ditulis oleh

Hariping Hariping

Mahasiswa UNM. Siswa di Kelas Literasi Paradigma Institute Makassar