Rasa-rasanya, di usia saya yang sekarang. Kebahagiaan menjadi barang mahal yang hampir tak terbeli. Saya mungkin sedang memasuki sebuah fase dalam hidup yang dalam bahasa psikologi dinamai quarter life crisis. Sebuah fase di mana saya mengalami kecemasan akan masa depan, keraguan terhadap kemampuan diri, juga kebingungan menentukan arah hidup. Semuanya mengarah pada ketidakpastian masa depan. Fenomena ini terjadi pada rentang usia 25-30 tahun. Saya tak tahu pasti, apakah fenomena ini dialami oleh setiap orang atau tidak dalam hidupnya. Yang jelas, jika fase tidak di-manage dengan baik, maka akan merenggut masa-masa muda yang bergelora.

Saya dan mungkin anda seringkali menerka-nerka, akan seperti apa kehidupan di masa datang itu? Adakah kebahagiaan di sana? Adakah?

Harus diakui, memang ada semacam kekeliruan filosofis dalam cara saya—mungkin juga sebagian orang— dalam melihat kehidupan selama ini. Saya seringkali mengimajinasikan bahwa kebahagiaan hanya ada di masa depan, ketika sudah memiliki ini dan itu, bukan di sini dan bukan sekarang. Kita seringkali dibuat lupa, bahwa kebahagiaan sebenarnya adalah kondisi batin yang ‘manipulatif’. Kebahagiaan itu bisa kita ciptakan sendiri dengan sugesti-sugesti positif dalam diri, dengan kerja-kerja yang dapat merangsang otak memproduksi hormon endorphin—hormon kebahagiaan.

Saya teringat kembali dengan tokoh Julian dalam buku The Monk Who Sold His Ferrari yang ditulis dengan apik oleh Robin Sharma. Dalam buku tersebut, dikisahkan Julian Mantle, seorang pengacara hebat dengan jadwal yang super padat, dan kekayaan yang melimpah, tapi, memiliki kadar spiritual yang menyedihkan. Hingga suatu hari, ia terkena serangan jantung di ruang sidang. Kejadian itu lantas memberikannya waktu jeda sejenak, menginterupsi kesibukannya selama ini.

Setelah kejadian itu, Julian diultimatum oleh dokter untuk memilih berhenti dari dunia hukum atau kehilangan nyawa. Julian lalu pergi ke India melakukan ekspedisi. Dia ingin menyederhanakan hidupnya dan “mencari jawaban” atas pertanyaannya selama ini. Dunia hukum yang kompetitif telah mengorbankannya, tidak hanya secara fisik dan emosi, tapi juga spiritual. Ia menjadi lebih tua dari usianya yang sebenarnya, hal tersebut mencerminkan bagaimana tekanan yang dialaminya selama ini. Karenanya, ia kemudian berinisiatif untuk mencari kesejatian diri, juga tujuan hidup yang sesungguhnya. Ia sadar betul, bahwa selama ini ia tak pernah benar-benar menikmati hidupnya. Julian adalah saya saat ini (meski tak kaya, juga tak sibuk-sibuk amat), mungkin juga anda.

Dalam perjalanan itu, Julian kemudian bertemu dengan kaum Bijak Sivana yang tinggal di puncak Himalaya. Dalam mitologi mereka, Sivana berarti ‘mata air pencerahan’. Konon, para biarawan ini seolah-olah memiliki penampilan dan pengaruh ilahiah.

Di sinilah Julian memulai pencariannya, di antara Kaum Bijak Sivana, kehidupan sederhana, tenteram dan harmonis.

Selama hidup di tengah-tengah Kaum Bijak Sivana itu, Julian mempelajari tujuh nilai kebajikan hidup tercerahkan. Khusus tulisan ini, saya akan membagikan nilai yang pertama saja terlebih dahulu. Kedepan, semoga saya bisa menyelesaikan sisanya. Semoga.

Kuasai Pikiran

Pikiran seringkali dianalogikan sebagai sebuah taman, jika mengolahnya dengan baik, maka taman itu akan tumbuh subur dan menumbuhkan bebungaan yang indah. Namun, jika sebaliknya, taman yang tidak dirawat, akan diambil alih oleh rumput liar (baca: pikiran negatif), jika demikian, maka kedamaian hati tidak akan pernah menghampiri.

Manusia memikirkan sekitar enam puluh ribu pikiran dalam kepalanya saban hari. Dan yang mengejutkan adalah, 95 persen pikiran tersebut berasal dari pikiran kita sehari sebelumnya. Pikiran pada mantan masa lalu, kecemasan terhadap masa depan adalah makanan otak kita sehari-hari. Kesemuanya menjadikan hidup berada dalam labirin kecemasan yang dibuatnya sendiri. Inilah yang disebut oleh Julian sebagai tirani berpikir yang memiskinkan. Jika sudah terjebak dalam situasi seperti ini dan tak berusaha mencari jawaban, sungguh merugilah kita.

Tak salah, jika suatu ketika Dalai Lama ditanya tentang siapakah makhluk paling membingungkan di dunia ini? Beliau menjawab: “Manusia, karena mengorbankan kesehatannya demi uang. Lalu dia mengorbankan uangnya demi kesehatan.”

Dalai Lama kemudian melanjutkan bahwa manusia sangat kuatir dengan masa depannya, hingga dia tidak bisa menikmati masa kini. Akhirnya, dia tidak hidup di masa depan ataupun di masa kini. Manusia hidup seolah-olah tidak akan mati, lalu dia mati tanpa pernah benar-benar menikmati hidup.

Untuk menghentikan itu semua, maka memang diperlukan manajemen berpikir yang baik, menjaga pikiran untuk senantiasa positif. Mungkin akan terasa sulit dan pasti akan begitu, sebab selama ini pikiran kita tak pernah dididik dengan baik, hati tak pernah bersih dari prasangka. Ini hanya soal kebiasaan saja, soal kegigihan mendidik pikiran, juga berefleksi. Layaknya otot lainnya dalam tubuh, pikiran juga harus sering dilatih dan digunakan agar tidak lemah. Sedang hati, mesti terus dibersihkan agar tak mudah kotor.

Ketika perasaan iri, dengki, dan pikiran negatif dominan dalam diri kita, itu bukan karena kejadian di luar atau orang lain yang menyebabkannya. Semua adalah peran kita dalam memupuk kesuburannya. Begitulah pendakuan Gobind Vashdev, seorang Heartwroker.

Harus diakui, banjir informasi kiwari ini justru tak menjadikan manusia hidup berenang dalam kolam emas kebahagian. Sebaliknya, justru menyeret mereka pada kebingungan memilah dan memilih, hingga menjadikan mereka tenggelam dalam prasangka yang seringkali destruktif.

Untuk hidup secara maksimal—menurut Julian—kau harus berjaga di gerbang tamanmu dan hanya mengizinkan informasi terbaik yang masuk dan tidak boleh mengizinkan informasi negatif masuk. Tidak satu pun.

Bagaimana malakukannya? Julian mempelajari teknik menguasai pikiran Kaum Bijak Sivana yang disebut dengan “Jantung Mawar”. Hal pertama yang diperlukan dalam latihan ini adalah mawar dan tempat yang hening.

Mulailah dengan memandang pusat mawar itu, yaitu jantungnya. Yogi Raman—yang menjadi guru Julian—mengatakan bahwa mawar adalah simbol kehidupan: kau akan bertemu duri di sepanjang jalan, tetapi jika memiliki keyakinan dan kepercayaan pada mimpimu, pada akhirnya kau akan melewati duri dan mencapai bunganya.

Kemudian, tataplah mawar itu. Perhatikan warna, tekstur, dan desainnya. Nikmati wanginya dan berpikirlah hanya tentang benda indah di depanmu. Awalnya, pikiran-pikiran lain akan mulai memasuki pikiranmu, mengalihkan perhatian dari jantung mawar itu. Ini adalah pertanda pikiran yang tidak terlatih, pikiran yang liar, pikiran yang mencoba jadi tuan. Namun, tak perlu cemas, kondisi itu akan segera diperbaiki. Cukup kembalikan perhatianmu pada objek dan fokus. Dalam sekejap pikiran akan semakin kuat dan berdisipin.

“Agar ritual ini menjadi efektif, maka harus dilakukan setiap hari. Di hari pertama mungkin akan terasa sulit, meski hanya lima menit sekalipun. Hidup sekarang memang dipenuhi dengan ingar-bingar, sehingga keheningan sejati tampak asing dan menggelisahkan. Namun, jika bisa meluangkan waktu lebih lama dan semakin lama untuk menikmati jantung mawar, maka setelah seminggu atau dua minggu, kau mestinya dapat melakukan teknik ini selama dua puluh menit tanpa pikiran yang mengembara ke mana mana.” Tutur Julian.

Inilah yang menjadi indikasi pertama, bahwa pikiran telah berhasil dikuasai. Setelahnya, pikiran hanya akan berfokus pada apa yang diperintahkan. Dengan begitu, maka pikiran akan menjadi hamba yang luar bisa. Pilihannya memang hanya itu; kita mengendalikan pikiran, atau pikiran yang akan mengendalikan kita. Saya sepakat dengan Julain, bahwa pikiran adalah hamba yang hebat, tapi tuan yang buruk. Sungguh buruk.

Dengan penguasaan pikiran yang baik, maka akan lebih mudah mengarahkannya pada hal-hal yang kita inginkan. Salah satunya untuk berkontemplasi yang memang membutuhkan konstentasi dan fokus yang tinggi.

Kaum Bijak Sivana memanfaatkan waktu sehari-hari dengan berkontemplasi dalam sunyi untuk merenungkan dirinya, tak hanya tentang keadaannya sekarang, tapi juga ke mana arah mereka bergerak. Mereka meluangkan waktu untuk merefleksikan tujuan dan bagaimana menjalani kehidupan, setiap hari. mereka secara konsisten terus memikirkan bagaimana memperbaiki diri di hari berikutnya. Perbaikan bertahap setiap hari, pada gilirannya akan memunculkan perubahan positif.

Refleksi memang sebuah pekerjaan sederhana yang sudah jarang sekali manusia modern lakukan. Ketika terjadi sesuatu, kita lebih suka menyalahkan sesuatu yang berada di luar, tinimbang melihat ke dalam diri sendiri dan belajar. Sesederhana itu.

Pada akhirnya, perihal hidup adalah tentang keberanian menghadapi masalah. Dan seperti yang sering diulang-ulang oleh orang bijak. Masalah tak bisa diselesaikan dengan situasi yang sama saat masalah itu muncul. Kita mesti menjadi lebih baik agar bisa menyelesaikan masalah. Masalah kelas 1 SD, akan lebih mudah kita kerjakan tatkala berada di kelas 2. Begitu pula dalam hidup. Karenanya, teruslah belajar, dan manfaatkan anugerah pikiran yang diamanahkan Tuhan.

Saya kira, dalam melihat kebahagiaan, penting kiranya juga kita mengeja kembali nasehat Khalifah Umar bin Khattab empat belas abad yang lalu, “Apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.” Semoga dengan demikian, kita bisa menjalani hidup dengan bijak dan bajik. Bersedih secukupnya, berbahagia selebihnya.

 

 

 

 

 

 

ditulis oleh

Muhammad Ikbal

Profil Penulis

Lahir di Bantaeng, 13 Agustus 1995. Ketua Karang Taruna “Sipakainga” Desa Tombolo. Kec. Gantarangkeke. Kab. Bantaeng. Guru PJOK di SDN 48 Kaloling. Aktif sebagai pustkawan di Rumah Baca Panrita Nurung dan bergabung dalam KGB (Komunitas Guru Belajar) Bantaeng. Penyuka hujan dan buku-buku sastra.