Agama dan sains merupakan tema diskursus yang cukup menarik perhatian jamak orang. Sebabnya ada dua. Pertama, keduanya menjadi sumber rujukan paling otoritatif bagi manusia. Disadari atau tidak, untuk membangun peradabannya, manusia menjadikan agama dan sains sebagai rujukannya. Agama menilai apa yang etis dan tidak etis, sementara sains memilah yang logis dan tidak logis. Kedua, agama dan sains merupakan dua entitas yang sering diperhadapkan secara vis a vis. Tak urung, dari peristiwa tersebut membuat khalayak terjebak dalam kekeruhan sosial. Ini diakibatkan karena, keduanya sama-sama memiliki pengikut setia. Agama dan sains bukannya tidak memiliki persamaan. Titik temu antara keduanya tepat ketika manusia menilai yang etis, disaat bersamaan memilah yang logis.

Argumen yang ditawarkan dari keduanya justru tidak dalam rangka membangun bingkai harmonisasi. Saling mematahkan pendapat sudah menjadi perkara yang biasa-biasa saja. Walhasil, silang sengkarut antara agama dan sains menjadi tidak terelakkan. Pada titik kulminasinya, menjadi rahim bagi lahirnya ekstremis agama dan sains.

Pagebluk Covid-19 menjadi salah satu pemantik keseruan diskusi mengenai agama dan sains di era kiwari. Bagaimana agama memandang sains (baca: persoalan kesehatan)? dan Bagaimana sains mengartikulasikan agama bagi kehidupan masyarakat agamis seperti di Indonesia? Mendengar pertanyaan tersebut menjadi tak asing lagi dan mendesak untuk dijawab. Bagi kalangan agamis, pagebluk bukanlah halangan untuk tetap melaksanakan ritus keagamaan. Mereka memandang justru, pagebluk adalah “setan” buatan yang harus diperangi melalui ragam ritual keibadatan. Tindak tanduk seperti itulah yang dinamakan “kedangkalan beragama” oleh segelintir yang lain. Meremehkan persoalan pagebluk dengan mengatasnamakan “keimanan” merupakan kesalahan fatal menurut mereka. Walhasil, alih-alih menghadirkan sistem berpikir canggih untuk menemukan titik temu. Kedua kelompok fanatik ini justru saling menghardik satu sama lain.

Adalah Haidar Bagir dan Ulil Abhsar Abdalla bekerja sama, menulis buku yang memotret pertautan antara agama dan sains dalam konteks kekinian dan kedisinian. Keduanya menjadi rahim bagi kelahiran buku Sains “Religius” Agama “Saintifik”. Meskipun sifatnya hanya sebagai bacaan “penganan ringan” tetapi ditulis secara apik dan tidak mengurangi kecanggihan pola pikir para penulisnya.

Dalam buku tersebut, Haidar Bagir berkelakar bahwa, sejatinya agama dan sains tidak dapat diperhadapkan secara vis a vis. Agama dan sains, bak dua sisi pada mata uang. Keduanya justru menjadi perigi kebenaran dan kehidupan bagi manusia. Agama memotret perihal metafisik sedangkan sains identik dengan persoalan fisik-empiris-materil. Dua bilah tersebut sama-sama penting bagi kehidupan manusia.

Tak luput, HB membeberkan beragam fakta yang menunjukkan ikatan romantis antara agama dan sains. Tentu saja, kita sepakat dengan argumen HB di atas. Hanya saja, kita seringkali berusaha menolaknya karena kepongahan yang sudah terlanjur berakar-berurat dan menjadi kepribadian. Mendengar nama ilmuwan Islam di bidang sains (baca: ilmu pengetahuan alam) menjadi salah satu landasan sejarah yang mengusung argumen tersebut. Sebut saja Ibnu Sina, di Barat dikenal dengan Avicenna, menjadi salah satu rujukan paling otoritatif bagi dunia kedokteran. Kitab Al-Qanun fi al-Thibb, merupakan karya gigantik Ibnu Sina, dijadikan rujukan dan diterjemahkan dalam banyak bahasa serta menjadi bahan ajar di sekolah kedokteran Barat.

Tak hanya membeberkan kedekatan sarjana muslim dengan dunia sains, HB juga memberi bocoran kepada khalayak. Bahwa, Roger Bacon—seorang frater Katolik Roma dari Ordo Fransiskan—belajar Bahasa Arab di Prancis dan mempelajari ilmu sains Islam: “Opus Majus-nya adalah hasil plagiat dari Al-Syifa’ karya Ibnu Sina”.

Lebih lanjut, HB memaparkan setidaknya ada tiga faktor yang mempengaruhi rendahnya kualitas diskursus mengenai agama dan sains di kalangan umat Islam: a). Kemalasan. Umat Islam—meskipun tidak semuanya—cenderung malas mempelajari jejak sejarah gemilang dunia Islam di bidang sains. Seyogyanya, dengan data sejarah yang ada, membuat kita semakin semangat mempelajari ilmu-ilmu sains sebagaimana para pendahulu-pemikir Islam yang tersohor. Bukankah Al-Quran memerintahkan kita untuk memperhatikan dan mempelajari alam semesta? b). Kemiskinan. Kecilnya anggaran riset di negara-negara Muslim terkait ilmu pengetahuan alam menjadi swabukti atas kemiskinan negara-negara Muslim tersebut. Hal ini diakibatkan oleh anggaran gemuk diniatkan untuk membereskan kebutuhan-kebutuhan mendadak. Meskipun kita tak bisa menutup mata terhadap negara yang tergolong kaya, negara tersebut lebih condong menjadi konsumen barang jadi tinimbang membangun kemandirian di bidang sains dan teknologi c). Otoritarianisme. Kurangnya kebebasan di negara-negara muslim akibat sistem politik otoritarian turut memberedel kreativitas dan inovasi para ahli di negara-negara muslim tersebut. Alih-alih membangun keberagaman, politik otoritarian cenderung menyeragamkan segala hal.

Suatu waktu, saya pernah berdiskusi dengan kerabat perihal tema yang viral akhir-akhir ini. Hasil dari diskusi panjang tersebut menunjukkan satu fakta yang tak dapat dihindari. Dengan berbekal masifitas teknologi dan sains di zaman kiwari, para saintis santer diidentikkan dengan kepribadian ateis. Kepribadian yang memiliki keyakinan untuk tidak bertuhan. Serta menjadi pihak yang tekun mempropagandakan kehidupan tanpa Tuhan.

Kehidupan ateis yang dilatai oleh para saintis inilah yang dijadikan objek oleh Gus Ulil. Baginya, para saintis dan agamais rentan terjebak dalam peristiwa “Qutbisme” : “Istilah “Qutbisme” di sini saya pakai untuk menamai sebuah cara pandang terhadap segala sesuatu…dua di antaranya paling menonjol, Pertama, kepongahan yang terbit karena seseorang ‘merasa’ telah memegang kebenaran mutlak. Kedua, self-righteousness, … perasaan paling ‘saleh’ sendiri…”.

Oleh karenanya, peristiwa “Qutbisme” inilah yang juga mengantarkan para saintis menolak dengan keras segala dalil “keimanan” yang digagas oleh para agamais. Bagi para saintis, sesuatu dikatakan sebagai kebenaran apabila dapat diverifikasi oleh akal dan indra. Di luar daripada keduanya, ditolak secara mentah-mentah. Peristiwa tersebutlah yang dinamai oleh Gus Ulil sebagai “Qutbisme” saintifik: menganggap diri paling empirik dan rasional tinimbang kaum agamawan yang lebih “kuno-tradisionalis-nonrasional”.

Padahal, sains juga merupakan suatu fokus keilmuan yang penuh dengan dialektika dan dinamika. Adalah Paul Feyerabend dan David Berlinski, mengalami kejengahan yang sama terkait fenomena scientific boasting atawa kepongahan saintifik. Keduanya melatai kejenuhan yang sama: “asumsi-asumsi ideologis” yang terselubung di balik otoritas sains.

Walakhir, agama dan sains merupakan dua bilah perigi kebenaran dan kehidupan bagi manusia. Keduanya bak pangeran dan paramesywari di semesta kehidupan manusia. Sains menjadi penggerak sejarah kehidupan manusia: pola hidup, berkomunikasi, berbelanja, bersekolah dan lain-lain. Sementara agama, bergerak pada dimensi kehidupan yang lain: moral, psikologi, dan spiritualitas. Tak dapat dimungkiri, agama dan sains saling bahu-membahu dan mengantarkan kehidupan manusia sampai dewasa kini.

Sumber gambar: Kompas.com

ditulis oleh

Ahmad Nurfajri

Ahmad Nurfajri Syahidallah. Aktif sebagai mahasiswa di Universitas Hasanuddin, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Asia Barat. Selain aktif di bidang akademik, juga aktif di beberapa Lembaga kemasiswaan. Siswa di Kelas Literasi Paradigma Institute