Kondisi Indonesia sebagai bangsa dan negara, masih jauh dari harapan dan cita-cita ideal para founding fathers. Selain itu, masih jauh dari nilai-nilai Pancasila sebagai leitstar dinamis (bintang penuntun), untuk memantik optimisme dalam menggapai “pulau” harapan. Secara reflektif, terbersit dari benak saya bahwa kegagalan-kegagalan yang ada dalam tata kelola bangsa dan negara ini, berawal dari kegagalan yang terjadi dalam dunia pendidikan.

Hal di atas bisa disingkat bahwa “korupsi” salah satunya sebagai “sebab” dan sekaligus “akibat” kehancuran bangsa dan negara Indonesia, berawal dari—mungkin sebagian menilainya “sepele”—kebiasaan “nyontek”. Jauh sebelum memahami lebih dalam tentang terma “nyontek”, “korupsi”, “habits”, “kejujuran”, dan beberapa terma lainnya—yang dalam konteks tulisan ini bisa menjadi determinan penting untuk mengonstruksi hipotesis tersebut—sejak di bangku Sekolah Dasar (SD), saya sudah menanamkan terhadap diri sendiri, “doktrin” anti nyontek, “lebih baik memperoleh angka nol daripada nyontek”.

“Nyontek” yang kata dasarnya adalah “sontek” secara etimologi berarti mengutip tulisan, dan sebagainya sebagaimana aslinya, atau bisa juga disebut menjiplak. Sedangkan secara terminologi,—dalam konteks tulisan ini—saya mendefenisikannya sebagai sebuah aktivitas yang dilakukan oleh pelajar (siswa/murid bahkan bisa saja mahasiswa) pada saat ulangan/ujian harian, semester (dan bahkan ujian nasional) dengan menyiapkan catatan-catatan (yang diperkirakan sesuai) untuk ditiru ketika menjawab soal-soal yang dihadapi. Sedangkan defenisi “korupsi” saya yakin para pembaca pun sudah memahami semua, minimal dalam defenisi yang sangat sederhana.

“Dari Nyontek ke Korupsi” jika ini bisa disebut hipotesis—meskipun saya belum pernah melakukan riset—saya yakin bisa menjadi sebuah tesis. Ada korelasi positif antara kebiasaan nyontek ketika masih berstatus pelajar dengan sikap dan/atau tindakan “korupsi” ketika berada pada masa kehidupan berikutnya, terutama ketika telah memiliki posisi/jabatan tertentu.

Manusia sebagai makhluk yang unik dengan dinamika kehidupan yang sangat dinamis, maka tetap terdapat variabel internal—berupa: peluang menyadari, memperbaiki diri dan termasuk hidayah Allah—yang memungkinkan tidak sesuai dengan tesis yang ada.  Meskipun saya membuat hipotesis dan bahkan saya yakini bisa menjadi tesis, tetapi saya tidak membuat generalisasi bahwa “pelajar  yang terbiasa nyontek bisa dipastikan kelak akan korupsi atau menjadi koruptor”.

Memahami korelasi positif antara nyontek dan korupsi untuk menguatkan hipotesis tersebut, saya tidak menyandarkan pada data-data statistik tentang jumlah koruptor dan jumlah pelajar yang memiliki kebiasaan nyontek. Apalagi untuk data yang terakhir ini, sepertinya belum pernah ada yang melakukan penelitian. Saya pribadi meyakini (berdasarkan kalkulasi imajiner), bahwa di atas 80%—bahkan bisa mencapai 97%—pelajar nyontek setiap kali menghadapi ulangan/ujian.

Korelasi positif tersebut saya konstruksi dari elaborasi bangunan teoritik multidisiplin. Dan termasuk terma-terma yang ada saya derivasi sehingga bermuara pada satu konstruksi psikologis yang sama atau relevan. Dan dari derivasi (turunan kata dan perluasan makna) yang ada memunculkan makna yang lebih luas dan semakin memperkuat hipotesis bahwa ternyata nyontek bukan hanya menjadi embrio korupsi semata, tetapi termasuk sikap dan perilaku lainnya yang merupakan antitesa dari sikap dan perilaku urgen dalam membangun sebuah bangsa dan negara. Yang pasti nyontek adalah “racun” bagi pelajar serta kehidupan bangsa dan negara.

Secara derivatif, nyotek bisa berarti sikap dan/atau perilaku tidak jujur, individualistik, materialistik, egois dan pragmatis. Nyotek bisa berarti berorientasi angka-angka daripada ilmu pengetahuan (meskipun tidak bisa disimpulkan, anti ilmu pengetahuan). Nyontek menunjukkan usaha instan, malas berusaha, malas belajar dan anti proses ideal. Nyotek menunjukkan pengutamaan sikap duniawi daripada ukhrawi.

Memperhatikan secara derivatif daripada terma nyontek tersebut, maka pembaca akan mampu mengetahui sejumlah hal negatif yang berpotensi menjadi karakter negatif ketika nyontek telah menjadi kebiasaan pada diri seorang pelajar. Termasuk menjadi koruptor sebagai salah satu karakter negatif yang relevan dengan “ketidakjujuran”, “materialistik”, dan ”individualistik”.

Nyontek dan korupsi bisa bermuara dalam satu diksi yang sama yaitu “tidak jujur”. Rentang ruang, jarak, dan waktu antara nyontek dan korupsi bisa dihubungkan dengan garis habitus ketidak-jujuran, yang berada dalam diri personalitasnya.

Merujuk pada alur karakter dan nasib yang dirumuskan oleh Erbe Sentanu (penemu teori dan teknologi aktivasi Quantum Ikhlas), perilaku bahkan kebiasaan “tidak jujur” (seperti nyontek) akan menuju menjadi karakter “tidak jujur”. Setelah menjadi karakter —dalam alur tersebut bahkan Erbe Sentanu mengelaborasi dan menderivasi dari hukum fisika quantum (2007)—bisa menjadi nasib sebagai sosok/orang yang tidak jujur. Korupsi maupun menjadi koruptor adalah salah satunya sebagai penanda “ketidakjujuran”.

Mengelaborasi lebih dalam teori DNA/Gen lewat teori genetika, salah satunya kita bisa merujuk pada kajian akademik Kazuo Murakami, Ph.D dalam bukunya The Miracle of The DNA: Menemukan Tuhan dalam Gen Kita (2012), bisa sampai pada pemahaman dan kesadaran bahwa kebiasaan nyontek akan menyalakan DNA negatif dalam diri pelakunya. DNA negatif yang dimaksud adalah embrio daripada karakter-karakter negatif yang menjadi determinan daripada nyontek tersebut, di antaranya tidak jujur dan materialistik.

Memperhatikan teori “Memetika” karya Eko Wijayanto, kebiasaan nyontek sebagai perilaku tidak jujur akan terus menular dan mereproduksi dirinya. Begitupun “individualistik”,”materialistik”,”egoistik”,”usaha instan” dan hal lainnya yang menjadi makna derivatif daripada kebiasaan nyontek akan terus menular dan mereproduksi diri.

Nyontek sebagai sesuatu yang telah menjadi kebiasaan bahkan terkesan sebagai budaya dalam dunia pendidikan, jika memperhatikan mekanisme operasional alam bawah sadar, ini sangat berbahaya. Kebiasaan nyontek itu akan tersimpan secara baik dalam ruang alam bawah sadar, yang secara psikologis bisa memengaruhi pikiran dan tindakan/perilaku. Dedy Susanto (Pakar Psikologi) menegaskan bahwa secara hierarki dimensi psikis menguasai fisik dan yang tertinggi posisinya adalah alam bawah sadar dengan pengaruh yang diberikan dalam kehidupan sebesar 90%.

Jika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, nampak sikap dan perilaku yang mementingkan diri sendiri, tidak jujur, kurang peduli, materialistik (termasuk menimbun harta dengan cara tidak halal), malas belajar/menuntut ilmu, lemah ilmu pengetahuan, serba instan dan dangkal, berorientasi dunia semata, termasuk korupsi, saya memandang bahwa itu adalah dampak daripada kebiasaan tidak jujur (nyontek) ketika masih berstatus sebagai pelajar. Nyontek sebenarnya memberikan dampak buruk yang bisa disebut fenomena gunung es.

Dari problematika tersebut dan sebagai bentuk kecintaan terhadap kehidupan bangsa dan negara Indonesia, saya bermaksud “merekomendasikan” agar kebiasaan nyontek perlu penanganan serius. Apalagi dunia pendidikan sejatinya, membangun tiga ranah kecerdasan yaitu: intelektual, emosional, dan spiritual

Kita tidak ingin bangsa ini dihuni oleh generasi strawberry—meminjam istilah Rhenald Kasali—dengan karakter yang manja, rapuh dan fixed mindset. Tetapi kita ingin lahir generasi yang jujur, peduli, berpikir maju, memiliki wawasan yang luas, kaya akan ilmu pengetahuan dan menyadari pentingnya growth mindset.

Adalah Syahril Syam (Pakar pengembangan diri) merumuskan sebuah paradigma yang disebutnya perspektif busur dua derajat. Secara sederhana bisa dipahami bahwa sekecil apa pun sikap dan perilaku kita (baik positif maupun negatif)—yang mungkin hari ini belum terasa dampaknya—pada masa yang akan datang akan melahirkan dampak yang sangat dahsyat, positif berdampak positif dan negatif berdampak negatif.

Sesungguhnya nyontek adalah perbuatan yang tidak diridai Allah. Selain daripada itu sesungguhnya nyontek telah menggerogoti dan menjadi jalan buntu menggapai modal keunggulan dalam kehidupan sebagaimana yang dijanjikan Allah: “Iman” dan “Ilmu”.

Pelajar yang baik dan memimpikan masa depan yang gemilang adalah pelajar yang sejak dini, menanamkan dalam dirinya sebuah “doktrin” anti nyontek. Dan sebaliknya memiliki kecintaan yang mendalam terhadap ilmu pengetahuan termasuk proses ideal untuk memperolehnya.

 

Sumber ilustrasi: Kompassiana.com

 

 

 

 

ditulis oleh

Agusliadi Massere

Mantan Ketua Pemuda Muhammadiyah Bantaeng. Kini, menjabat sebagai salah seorang Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bantaeng