Sejak 15 Oktober 2015, Presiden Joko Widodo, melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Tanggal 22 Oktober dipilih merujuk pada satu peristiwa bersejarah, yakni seruan yang dibacakan Pahlawan Nasional KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945.

Seruan tersebut berisikan perintah kepada umat Islam untuk berperang (berjihad) melawan tentara Sekutu yang ingin menjajah kembali wilayah Republik Indonesia pasca-Proklamasi Kemerdekaan.

Penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional menandai secara tidak langsung santri memiliki peran untuk turut mengubah bangsa dan negara. Pesantren, dengan sekotah model pendidikannya, diyakini dapat menjadi solusi bagi pusparagam problematika umat. Sebut saja contohnya, moral dan karakter yang kian terkikis. Singkatnya, kiwari, anak bangsa sedang mengalami degradasi moral yang semakin hari semakin merayap.

Ketika menulis tulisan ini, pikiran saya melayang jauh ke belakang. Menerabas lintasan waktu. Menyaring potongan-potongan ingatan semasa menjadi santri dahulu kala. Setamat SD saya dianjurkan Abi—panggilan ayah pada keluarga kami; berasal dari bahasa Arab—untuk melanjutkan sekolah di Pondok Pesantren. Hal itu sangat berlawanan dengan keinginan saya untuk melanjutkan pendidikan di salah satu SMP favorit Kota Makassar. Akan tetapi, dengan penjelasan panjang kali lebar, saya akhirnya menyetujui.

Mau tidak mau, saya harus siap melakoninya. Termasuk berada jauh dari dekapan orang tua. Segala sesuatunya harus saya lakukan sendiri. Mulai dari mengurus badan hingga barang pribadi. Selama ini, saya tak dapat melakukan itu semua tanpa bantuan Abi dan Ummi. Apakah saya akan sanggup menjalani kehidupan pesantren?

Sebulan sebelum berangkat ke pesantren, Abi dan Ummi membantu menyiapkan beberapa hal yang harus disediakan jika ingin bersekolah di pesantren. Tak hanya yang teknis, seperti cara mencuci baju, piring, sepatu dan lain-lain. Saya juga dibekali dengan nasihat-nasihat.

Hari keberangkatan pun tiba. Pondok Pesantren Darud Dakwah Wal Irsyad Mangkoso adalah tujuan saya. Salah satu pesantren tertua di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Setelah menurunkan barang dan menyelesaikan administrasi, Ummi, adik dan rombongan lainnya pamit pulang ke Makassar. Kini, kehidupan pesantren saya hadapi. Kehidupan sarat pendidikan karakter berbasis ketauhidan.

Sudah menjadi aturan, santri yang tidak berjamaah salat subuh akan dihukum cambuk. Hingga suatu saat, saya pun merasakannya. Akibat tertidur pulas di kasur sementara yang lainnya berangkat ke masjid dan mengikuti pengajian. Walhasil, kayu balok mendarat mulus di betis saya. Saya meringis dan menangis kesakitan.

Mendengar itu, Pembina saya tak gusar. Dengan entengnya beliau mengatakan: “Tenniya iko uleppa, setammu yero!”. Selain itu, beliau juga mengatakan bahwa ini merupakan salah satu medium pembentukan karakter. Begitulah potongan ingatan yang berhasil saya pilin kembali.

Belakangan ini, saya paham dan sadar atas urgensi dari pendidikan karakter tersebut. Abdul Munir Mulkhan (2007) dalam sebuah tulisan bertajuk “Pembelajaran Agama dalam Kearifan Mitologi Lokal” menyebut: “terdapat sekurangnya tiga hal yang harus ada dalam pendidikan…agama…khususnya Islam. Pertama, dimensi pengetahuan atau ilmu, kedua dimensi kesadaran, ketiga dimensi perilaku…”

Melalui tiga hal itulah, proses pendidikan karakter dapat terealisasi secara efektif dan berdampak positif bagi seorang anak manusia. Ketiga unsur di atas merupakan satu bagian yang tidak dapat dipecah belah menganggap yang satu memiliki manfaat lebih besar tinimbang yang lain.

Hafal kaidah nahwu-saraf, paham kaidah fikih serta pandai kaidah hadist hanya membuat orang pandai berkilah dan menghindar dari tanggung jawab jika tak disertai dengan kesadaran dan perilaku yang baik. Tak hanya itu, kesadaran tanpa ilmu pengetahuan dan perilaku yang baik sama pincangnya dengan yang pertama. Sadar akan pentingnya salat tanpa disertai dengan kepustakaan yang mumpuni dan perilaku baik hanya menjadikan seseorang sadar belaka dan cenderung “ikut-ikutan”. Begitu juga dengan perilaku. Minimnya pengetahuan dan—parahnya—tidak didasari oleh kesadaran membuat seseorang dapat berperilaku buruk dan menyimpang.

Selain itu, ketiga dimensi di atas seharusnya diorientasikan kepada satu eksistensi yang Maha Tunggal: Allah SWT. Hal tersebut sesuai dengan ungkapan laa haula wa laa quwwata illa billah: “tidak ada daya dan upaya kecuali hanya dengan Allah”. Kalimat itu mengindikasikan kebersatuan antara ciptaan dan pencipta. Lebih, lanjut relasi di antara keduanya, oleh Thomas Aquinas, teolog Abad Skolastik, disebut sebagai partisipasi.

Partisipasi yang dimaksud mengandung dua unsur sekaligus: keterikatan dan keterpisahan. Keterikatan menyatukan ciptaan dan penciptanya sehingga penciptaan itu masuk akal. Di sisi lain, keterpisahan mencegah saling campur aduk keduanya karena kesempurnaan mutlak hanya pada Allah SWT.

Pondok pesantren, sebagai lembaga pendidikan agama Islam tertua di Indonesia, tidak berhenti hanya pada pendidikan karakter an sich­—terdiri atas tiga dimensi di atas—tetapi melandaskan pendidikan karakter tersebut kepada ketauhidan seutuhnya.

Dimensi pengetahuan yang berbasiskan tauhid akan menimbulkan kesadaran dan perilaku yang berbasiskan tauhid pula. Artinya, jika segala sesuatunya disandarkan kepada tauhid, seseorang secara tidak langsung menegaskan ke-uluhiyah-an dan ke-rububiyah-an Tuhan Yang Maha Tunggal: menegasikan seluruh hal yang dianggap sebagai tuhan dan meneguhkan sifat kepengaturan dari Allah SWT.

Akhirnya, saya paham apa yang disampaikan oleh pembina ketika dihukum cambuk saat kedapatan tidak salat subuh berjamaah di masjid. Beliau menegaskan bahwa, meskipun saya hafal bacaan salat (dimensi pengetahuan), sadar akan pentingnya salat (dimensi kesadaran), tetapi tidak berhasil menunaikannya (dimensi perilaku), saya hanya sedang melakoni sesuatu yang absurd.

Setan yang dimaksud olehnya, berupa bentuk yang menghalangi saya untuk menjadi pribadi yang berkarakter tauhid seutuhnya. Terima kasih ustaz! telah menyadarkan saya melalui pembentukan karakter seperti itu.

Agaknya, krisis moral dan degradasi kepribadian yang saya maksud di awal tulisan dapat diminimalisir dengan pembentukan karakter tersebut. Tentunya, kasus penipuan, pelecehan seksual, menebar hoax hingga korupsi tidak akan terjadi bila setiap individu memiliki karakter yang berbasiskan ketauhidan.

Santri, sebagai entitas yang merasakan pendidikan karakter di pesantren diharapkan dapat menjadi role model bagi anak bangsa. Khususnya perihal moral dan kepribadian. Selamat Hari Santri Nasional!

 


Sumber gambar: https://iqra.id/

ditulis oleh

Ahmad Nurfajri

Ahmad Nurfajri Syahidallah. Aktif sebagai mahasiswa di Universitas Hasanuddin, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Asia Barat. Selain aktif di bidang akademik, juga aktif di beberapa Lembaga kemasiswaan. Siswa di Kelas Literasi Paradigma Institute