“Sesungguhnya tidak ada penulis hebat. Yang ada hanyalah penulis yang terlatih dan penulis yang beruntung. Yang pertama bisa kita usahakan. Yang kedua, bukan hanya tidak bisa kita usahakan, tapi tidak perlu kita pikirkan.” (Puthut EA)

Kali ini, saya ingin berbagi isi dompet buku Puthut EA, berjudul Menjadi Penulis. Buku ini sebenarnya sederhana, berisi pandangan-pandangan Puthut EA, mengenai dunia tulis-menulis yang telah dilakoninya puluhan tahun. Bahkan beberapa di antaranya sangat praktis dan bisa langsung dicoba. Buku ini sebagaimana judulnya, dibuat khusus untuk mereka yang berkeinginan menjadi penulis, setidaknya menulis untuk diri sendiri, meski tak dipublikasikan.

Kiwari ini, menulis memang menjadi aktivitas baru generasi muda. Pegiat-pegiat literasi membuka kelas menulis, daring dan luring. Berbayar dan gratis. Kesemuanya menunjukkan, bahwa menulis, menjadi salah satu kegiatan, yang dianggap menarik oleh anak muda. Dalam bahasa sebagian orang, menjadi penulis dianggap sebagai sesuatu yang keren. Disebut sastrawan atau intelektual karena menerbitkan buku. Meski menurut Puthut EA, harus pula diakui bahwa profesi ini amat rentan secara ekonomi. Memang ada penulis yang kaya, tapi berapa persentasenya? Tidak banyak.

Saya pribadi, tak hendak menakut-nakuti Anda untuk menjadi penulis. Saya belajar dari diri saya sendiri. Tinimbang belajar menulis dengan orientasi material, saya menaikkan level target saya ke titik yang lebih tinggi. Menulis sebagai bagian dari aktualisasi diri dan kesenangan. Saya merasakan betul manfaat menulis, saya merasa pikiran saya lebih terstruktur, serta dapat mendiseminasikan gagasan dengan cara berbeda. Jadi bisa dibilang, menantu yang baik adalah seorang mentor penulis. Atau minimal orang yang suka menulis. Ehh.

Nah, tulisan kali ini saya hendak berbagi empat prinsip utama yang saya pilih dari puluhan judul curhatan Puthut EA dalam bukunya itu. Tentu ini adalah hasil dari penafsiran saya, yang kemudian digado-gadokan dengan pengalaman saya sejauh ini. Saya tentu, sangat merekomendasikan Anda membaca bukunya langsung. Kalau tidak punya, ya beli.

Bahan

Bahan seringkali menjadi salah satu hal problematis. Tak tahu harus menulis apa, dan memulai dari mana. Saya pribadi, sangat sering mengalam hal seperti ini. Jika tak sedang memikirkanmu, hampir setiap waktu saya memikirkan bahan atau ide tulisan.  Bagaimana mengatasinya?

Nah, Puthut EA menjadikan setiap pengalaman adalah bahan, setiap bacaan adalah bahan, setiap menyaksikan sesuatu adalah bahan, juga berlatih saban hari. Dengan begitu, tatkala harus berhadapan dengan tantangan dan problem menulis, maka ia tak perlu lagi memakai teori. Semua sudah menyatu dalam diri. Terasa begitu alamiah dan spontan.

Laiknya orang yang sedang belajar bela diri, berminggu-minggu mungkin hanya akan dilatih push up, sit up dan berlari, dan memasang kuda-kuda. Setelahnya, berbulan-bulan berlatih memukul dan menendang, lalu mempelajari beberapa jurus. Sewaktu bertanding, mungkin teori tentang bagaimana melakukan pukulan sudah terlupakan. Namun, tendangan dan pukulan tersebut, sudah menyatu dalam diri dan akan menjadi refleksi serta intuisi Anda.

Karena itulah, bagi saya pribadi, setiap kali menulis, kontennya tak pernah jauh-jauh dari kehidupan dan keseharian saya. Rasanya, itulah yang bisa saya lakukan. Ketika mencoba menulis sesuatu yang berjarak dengan kehidupan, saya lebih sering mengalami kesulitan, kebuntuan ide hingga tak pernah benar-benar menyelesaikannya. Bukankah sebuah tulisan baru dikatakan tulisan ketika sudah selesai?

Kebuntuan Menulis

Setelah mendapat bahan tulisan, hal selanjutnya yang seringkali menjadi tantangan, adalah kebuntuan menulis. Ini adalah problem yang sering saya hadapi. Ketika mengalami kebuntuan, saya lebih sering meraih gawai, membuka Youtube dan medsos. Yakinlah, orang yang baru belajar menulis seperti saya, tindakan itu tak memberikan jalan keluar. Saya lebih sering tenggelam, dan tak menyelesaikan tulisan. Terlalu sibuk like postingan ukhty-ukhty.

Bagi Puthut EA, untuk yang sedang belajar menulis, mengalami kebuntuan seperti ini adalah salah satu latihan yang harus dilewati. Caranya dengan tetap menatap layar tulis Anda. Jangan tinggalkan, tatap, baca lagi, biarkan sepuluh menit berlalu, dua puluh menit, tiga puluh menit dan seterusnya. Jika benar-benar konsisten, tak cukup sejam maka kebuntuan akan terlewati. Dan kabar baiknya, makin sering menghadapi kebuntuan, maka durasi Anda mengalami kebuntuan semakin pendek.

“Tidak mudah menyerah dalam menghadapi kebuntuan menulis, adalah sikap mental yang sangat penting dimiliki oleh orang yang ingin serius belajar menulis”. Kata Puthut EA (lagi). Tak salah memang, menjadikan orang yang suka menulis sebagai menantu, orangnya serius, loh.

Meniru

Nah, mungkin Anda akan heran mengetahui bahwa salah satu metode yang disarankan oleh Puthut EA, untuk menjadi penulis adalah meniru. Bukankah meniru adalah sebuah perbuatan tercela? Namun, bagi Puthut EA, mencontek, menduplikasi adalah bagian penting dalam dunia kreativitas, termasuk menulis. Dari situlah menurutnya, muncul revisi, rekreasi, riset (research;re-search) dan re re re yang lain. Nah, di tahap berikutnyalah, kemudian diberikan sentuhan baru, baik berupa modifikasi dan inovasi, dan hal baru lainnya yang sebenarnya juga tidaklah baru-baru amat.

Tapi, bukankah meniru itu dilarang? Dalam dunia kreatif, yang dilarang adalah plagiasi. Dan plagiasi tentu berbeda dengan meniru. Plagiasi adalah memalsu. Anda mengaku karya orang lain, sebagai karya pribadi, untuk mendapat keuntungan dari tindakan tersebut. Itulah sebenarnya yang dilarang. Dilarang banget. Kalau Bahasa youtube-nya, Anda terkena copyright.

Meniru yang dimaksud oleh Puthut EA dalam bukunya, adalah meniru gaya penulis lain. Setiap penulis tentu memiliki ciri khasnya tersendiri. Sebagai orang yang baru belajar menulis, tentu saya dan Anda tidak langsung memiliki ciri khas. Dibutuhkan waktu lama, hingga kemudian muncul gaya sendiri, yang kemudian melekat menjadi sesuatu yang khas. Tentunya, Anda harus banyak-banyak membaca tulisan-tulisan orang lain. Di sinilah relevansi ungkapan penulis hebat adalah pembaca yang hebat menyata. Kasadnya, menjadi penulis memang butuh ATM (Amati Tiru Modifikasi).

“Karakter seorang penulis ibarat menggosok batu akik. Tidak bisa hanya dengan puluhan gosokan apalagi belasan. Dibutuhkan ratusan kali. Jadi kalau Anda berpikir belum keluar gaya khas kepenulisan Anda, mungkin Anda belum banyak menulis. Atau jangan-jangan lupa, waktu belajar, tidak mau meniru gaya penulis lain”, tegas Puthut EA.

Rumus Tiga

Bagi Puthut EA, jika ingin menguasai sebuah keterampilan baru, maka bisa memakai rumus tiga ini. contohnya, jika seseorang ingin menguasai fotografi. Maka ia bisa belajar mengetahui dengan cara menghabiskan waktu selama tiga jam dalam sehari untuk belajar, mengetahui dan menguasai dasar-dasar fotografi. Hal ini dilakukan secara konsisten selama tiga bulan berturut-turut. Praktis, jika hal tersebut dilakukan secara konsisten, maka orang tersebut bisa menguasai dasar-dasar fotografi. Nah, jika ingin memasuki fase ‘pintar’ maka hal tersebut dalam dilakukan selama tiga tahun.

Hal tersebut bagi Puthut tentu berlaku pula bagi keterampilan lainnya, seperti otomotif, computer, memasak, dan tentu saja termasuk menulis.

Apakah rumus tiga ini bersifat baku? Tentu tidak, pesan yang ingin disampaikan dari rumus tiga ini, tentu saja pada  terletak pada konsistensi melakukan latihan dan pembelajaran terus menerus. Anda bisa menggantinya dengan rumus empat, rumus lima dan seterusnya. Asal bukan rumus aljabar. Rumus ini adalah jenis disiplin yang sangat penting dalam menguasai suatu keterampilan. Termasuk keterampilan menulis.

Mudah, bukan?

Sendiri

Tips yang terakhir ini tak hendak meminta Anda memutuskan pacar agar sendiri. Bukan, bukan itu yang dimaksudkan. Tapi jika selama ini memang pacar Anda menghalangi ide-ide tulisan karena wajahnya terus terbayang di kepala Anda, mungkin baiknya memang diputuskan saja. Putuskan!

Meski, kesendirian yang dimaksud Puthut EA berbeda. Aktivitas menyendiri. Tidak bersama teman, kerabat, ataupun keluarga. Di sebuah tempat yang tak seorang pun Anda kenal. Di sana tak ada percakapan, basa basi. Tak memperhatikan apa-apa. Berusaha tidak memikirkan apa-apa. Dalam kesendirian itu hanya ada Anda dan diri Anda sendiri. Tak ada yang lain. Kesendirian macam Itulah yang dimaksudkan Puthut EA.

Hal tersebut sebentuk pertemuan terhadap diri sendiri. Hemat saya, ini sebentuk upaya yang baik menjemput ide tulisan. Semacam “meditasi” agar benak lebih bersih dan subur untuk menerima benih-benih ide yang melintas.

Kalau saya pribadi, melihat kesendirian sebagai sesuatu yang fundamental kala ingin menulis. Alasannya sederhana, agar ide-ide itu tak diinterupsi oleh orang lain. Sebab, seringakali ide hanya sepersekian detik bekelebat di kepala. Jika tak sigap menangkap, maka ia akan pergi bersama kenangan. Ehh.

Walakhir, saya bisa saja menuliskan semua isi bukunya langsung. Namun, urung saya lakukan. Bisa-bisa bukunya tidak laku lagi gegara saya. Di sisi lain, menyampaikan terlalu banyak, tapi tidak dipraktikkan juga akan menjadi pekerjaan yang sia-sia. Saya yakin betul, kelima tips di atas jika dilakukan secara konsisten dan persisten, akan menuntun kita semua untuk bisa menjadi penulis dan menantu yang baik.

 

Gambar: Mojokstore.com

 

 

ditulis oleh

Muhammad Ikbal

Profil Penulis

Lahir di Bantaeng, 13 Agustus 1995. Ketua Karang Taruna “Sipakainga” Desa Tombolo. Kec. Gantarangkeke. Kab. Bantaeng. Guru PJOK di SDN 48 Kaloling. Aktif sebagai pustkawan di Rumah Baca Panrita Nurung dan bergabung dalam KGB (Komunitas Guru Belajar) Bantaeng. Penyuka hujan dan buku-buku sastra.