Al-Qur’an senantiasa mendorong manusia untuk menggunakan akal. Berseru secara terang-terangan agar menghargai akal. Merenungkan semesta ciptaan Tuhan untuk mengetahui lebih dalam hal ihwal kehidupan dunia manusia, baik dunia fisik maupun dunia sosial. Sebab akal dalam Islam memegang peran yang sangat penting. Bahkan menyebutkan manusia yang tidak menggunakan akal sebagai makhluk yang menyerupai binatang. Hingga dikatakan pula sebagai manusia bisu, buta, dan tuli.   Dalam hal ini Islam mendudukkan akal sebagai sesuatu yang mulia. Sebab akal juga adalah bagian dari fitrah kemanusiaan.

Pada umumnya akal senantiasa diidentikkan dengan rasionalitas. Sebuah alat yang terdapat pada diri manusia untuk menggunakan logika nalar dalam mensistematisasikan objek material dalam aneka bentuk silogisme. Memainkan nalar melalui konsep verbal-literal sebagaimana telah berakar kuat dalam ilmu pengetahuan modern dengan bentuk pola-pola matematis.

Pemahaman akan peran akal sebagai sesuatu yang melulu “me-rasionalitas-kan segala sesuatu” cenderung meletakkan intelek pada hirarki teratas sistem berpikir manusia. Penggunaan atas akal senantiasa diidentikkan dengan penggunaan atas intelek semaksimal mungkin. Seakan ruh dari akal adalah intelek. Dengan kata lain, akal cenderung disebut sebagai intelek itu sendiri.

Hal ini juga berimplikasi  terhadap pemahaman kaum Muslimin terhadap ayat-ayat tentang dorongan menggunakan akal. Ayat-ayat mengenai “afalā ta’qilūn, “afalā tadabbarūn”, “afalā tatafakkarūn” juga dipahami sebagai penggunaan intelek sebagai  esensi terdalam dari akal. Sehingga ayat-ayat tersebut dijustifikasi sebagai hak milik intelek. Gairah terhadap intelek inilah yang telah membawa kaum Muslimin terdorong untuk mengkaji, meneliti, dan menyelami samudra ciptaan Tuhan. Sehingga teks-teks al-Qur’an yang pada dasarnya tidak bertentangan dengan penemuan-penemuan ilmiah disebut sebagai upaya kaum Muslimin dalam mengamalkan ayat-ayat perihal dorongan untuk menggunakan akal pikiran. Atas dasar ini, bermunculan pulalah penafsiran al-Qur’an yang berusaha mensintesiskan teks kitab suci dan ilmu pengetahuan modern. Tidak hanya itu, dalam ranah teologi pun terdapat pula golongan yang meletakkan akal secara lebih dominan. Terbukti dengan munculnya mazhab Mu’tazilah di masa klasik dan Islam sekuler di abad modern ini. Secara singkat, pemahaman kaum Muslimin atas akal juga dikaitkan dengan penggunaan atas intelek.

Hanya saja, apakah betul akal adalah hak milik intelek semata? Apakah intelek adalah ruh dari akal itu sendiri? Lantas bagaimana dengan peran imajinasi? Bukankah imajinasi adalah juga bagian dari akal itu sendiri?  Bertolak dari pandangan Croce bahwa:

Pengetahuan mempunyai dua bentuk: pengetahuan intuitif dan pengetahuan logis. Pengetahuan yang didapatkan melalui imajinasi dan pengetahuan yang didapatkan melalui intelek.

Berdasarkan pandangan di atas, Croce mendikotomikan antara intelek dan imajinasi. Intelek diasumsikan sebagai hal yang bersifat logis dan imajinasi sebagai hal intuitif. Namun, lepas dari dikotomi intelek dan imajinasi sebagaimana yang dipaparkan Croce, imajinasi dapat dikategorikan juga sebagai salah satu sistem berpikir manusia yang bertolak dari akal. Dari sini, akal tidak dipahami sebagai intelek semata yang memandang objek material secara rasional. Imajinasi juga memiliki perannya sendiri. Dengan kata lain, imajinasi juga memiliki rasionalitasnya sendiri.

Dalam kehidupan, imajinasi sering dimaknai sebagai kemampuan orang-orang yang bergelut dalam dunia estetika belaka. Dunia yang digeluti oleh para seniman, sebuah dunia yang dikungkung dan dipenjara dibalik jeruji khayalan, fantasi, dan ilusi subjektif sang seniman. Sampai di sini, imajinasi hanya dipandang sebagai permainan pikiran semata dan seakan ditempatkan di sudut yang terlupakan. Nyatanya tidak. Imajinasi justru sangat berperan penting dalam kehidupan.

Sebagai misal, ketika Einstein menemukan teori relativitas waktu, pada dasarnya dia sedang mengimajinasikan variable-veriabel tertentu dalam pikirannya untuk kemudian menciptakan rumus. Juga ketika Newton menyadari teori gravitasi saat melihat apel jatuh ke tanah, dia juga sedang mencitrakan sesuatu dalam pikirannya dalam bentuk imajinasi. Sampai di sini, imajinasi memiliki pengaruh kuat hingga mencakup pula dalam ranah ilmu pengetahuan.

Bertolak dari latar belakang permasalahan imajinasi tersebut, pertanyaan yang kemudian muncul adalah seberapa besar fungsi imajinasi dalam karya seni? Dapatkah imajinasi dalam karya seni menemukan kebenaran-kebenaran tertentu sebagaimana yang terjadi dalam ilmu pengetahuan? Bambang Sugiharto menyebutkan bahwa fungsi imajinasi dalam karya seni terletak pada “efek”. Efek dalam karya seni bukanlah terletak pada “maknanya apa?” melainkan “dia melakukan apa pada kita?”, barulah kemudian makna dalam karya seni dapat ditemukan. Itulah fungsi imajinasi dalam karya seni.

Seni yang  merupakan olah kreatif batin manusia yang dituangkan dalam bentuk karya adalah pengalaman eksternal maupun internal dalam memandang sebuah objek. Bahkan Arthur Schopenhaeur pada tahun 1891 dalam magnum opusnya, Dunia Sebagai Kehendak dan Bayangan, mendefinisikan seni sebagai cara mengamati benda terlepas dari prinsip penyebabnya. Seni bukan dunia abstrak ala sains ataupun dogmatisme ala agama. Tapi seni semacam cara unik dalam menafsir dan memaknai pengalaman.

Sebagai salah satu cara manusia dalam memaknai hidup, selain agama, filsafat, dan sains, seni tidak sekadar menyuguhkan keindahan fisik belaka. Akan tetapi, berusaha menampilkan sesuatu yang tersembunyi dalam realitas. Menampilkan objek sedemikian rupa melalui olah bahasa, warna, bentuk, bunyi, suara, gerak, mimik wajah hingga montase yang dihasilkan dari permainan visual-audio dalam dunia film. Bambang Sugiharto menyebutkan:

Kekuatan seni adalah melukiskan kedalaman pengalaman yang sebenarnya tak tampak dan tak terlukiskan, memperkatakan hal yang tak terumuskan, membunyikan hal yang tak tersuarakan, ataupun menarikan inti pengalaman batin yang tak terungkapkan.

Dari sini apa yang dinginkan dan diungkapkan oleh seni adalah kebenaran itu sendiri. Tak sekadar mengenai olah keterampilan dan keahlian dalam mempromosikan bakat. Tapi terkait erat dengan proses penciptaan yang berakar pada persepsi. Maka seni adalah soal menciptakan persepsi baru. Persepsi tentang kebenaran yang lebih dalam dari realitas yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Seni memang terkait dengan kebenaran kehidupan dibanding hanya sekadar keindahan belaka.

Dalam filsafat Islam, Muhammad Iqbal menyebut seni sebagai estetika vitalisme, yaitu seni harus mampu memberikan dorongan untuk memberikan kehidupaan dan semangat baru, bahkan harus mampu menyumbangkan hal-hal baru dalam kehidupan. Inilah yang disebut Muhammad Iqbal seni sebagai ekspresi ego. Sedangkan Sayyed Hossein Nasr menyebutnya sebagai manifestasi spiritual. Seni bagi Nasr tidak hanya terkait mengenai benda-benda material belaka, tetapi unsur kesadaran religius juga berperan penting dalam menjiwai sebuah seni.

Kembali kepada persoalan imajinasi sebagai bagian dari akal manusia bahwa imajinasi dalam karya seni dapat dinikmati setelah melalui tahap proses kreatif manusia. Proses kreatif inilah yang menghasilkan ragam kesenian, mulai dari sastra, rupa, musik, tari, teater hingga film. Mel Rhodes mengemukakan bahwa kreativitas merupakan fenomena dimana seseorang mengomunikasikan sebuah konsep baru  yang diperoleh dari hasil proses mental dalam menghasilkan ide, yang merupakan upaya untuk memenuhi adanya kebutuhan yang dipengaruhi tekanan ekologis. Sedang Weisberg mendefinisikan kreatif sebagai cara berpikir yang membawa sesuatu yang baru.

Lebih lanjut, persoalan kreativitas manusia dalam karya seni tersebut senantiasa juga didorong oleh al-Qur’an. Tidak sedikit teks al-Qur’an yang secara tidak langsung memberi tantangan kepada manusia untuk terus melakukan kreativitas seni. Sebagai misal, saat nabi Nuh diperintahkan Allah swt. untuk membuat bahtera, Allah swt. tidak memerintahkan Nuh untuk membuat bahtera tertentu. Bahtera tersebut dibuat Nuh berdasarkan kreativitasnya sendiri, sehingga tidak heran bahtera Nuh yang ditemukan para arkeolog sangat jauh berbeda dengan kretivitas pembuatan bahtera di abad modern.

Begitupun ketika Allah memberi mukjizat kepada nabi Isa untuk menghidupkan burung yang terbuat dari tanah liat. Allah juga tidak memerintahkan Isa untuk membuat jenis burung tertentu. Burung tersebut dibuat berdasarkan kreativitas nabi Isa sendiri. Juga perintah Allah kepada kaum Muslimin untuk membaca al-Qur’an secara tartīl, pembacaan secara tartīl tersebut dilakukan kaum Muslimin berdasarkan kreativitas mereka sendiri. Ini dibuktikan dengan banyaknya bermuculan ragam murottal al-Qur’an yang tersebar sekarang ini. Di sisi lain, bukankah nabi Daud juga mampu membuat baju besi dan memiliki suara merdu?


Sumber gambar: Merdeka.com

 

ditulis oleh

Asyraf Syakur

Mahasiswa UIN Alauddin Makassar. Anggota Kelas Menulis Resensi KLPI Makassar.