Di usia saya yang sekarang, gurauan seputar pernikahan tak lagi selucu dulu. Bahkan sebaliknya, ia bisa saja memicu lahirnya perang dunia ketiga. Saya tak tahu kenapa, tapi orang-orang selalu saja menanyakan hal-hal demikian. Tanpa mengenal waktu dan tempat. Hal-hal yang terus diulang, pada akhirnya akan membuat risih dan baper juga. Hingga melahirkan pembenaran yang tidak benar-benar, benar; tidak laku, tidak normal, tidak bisa dan tidak-tidak yang lain. Ketika di-judge begitu, saya menyesal tak mempelajari ilmu menghilangkan tubuh. Atau berangkat ke Konoha, belajar jurus kagebunshin no jutsu.

Memang, rasanya semua indra di usia saya yang sekarang, menjadi lebih sensitif jika mendengar kata pernikahan. Apalagi, jika mendapat undangan pernikahan dari teman kelas, teman main, dan rekan sejawat. Saya seperti terkena double kill. Ketika bersalaman dengan mempelai dan ditanya, “kapan nyusul?” Rasanya saya ingin balik kanan saja, mengambil amplop saya kembali, dan pergi tanpa permisi.

Mendapat undangan pernikahan dari teman itu rasanya campur aduk. Antara bahagia, lucu dan sedikit cemas, takut ditanya macam-macam. Lucunya, saya merasa waktu memang tak pernah kompromi. Dulu, kami masih bermain dengan ingus yang naik turun, juga telanjang di pinggiran sungai saat mandi-mandi, dengan pantat lucu di kanan kiri. Sekarang, mereka sudah benar-benar besar, jatuh cinta dan menikah. Itulah indikator kedewasaan yang sesungguhnya bagi sebagian orang. Dan standar kelelakian yang hakiki, ketika sudah memiliki anak. Aduh, simplifikasi kedewasaan yang prematur.

Lalu bagaimana mengukur kedewasaan itu? KBBI mendefenisikan dewasa sebagai: Pertama, akil balig (bukan kanak-kanak atau remaja lagi). Kedua, telah mencapai kematangan kelamin. Jadi, sebenarnya, tidak ada poin pernikahan sebagai indikator kedewasaan. Itu hanyalah konspirasi elit global sebagian orang, untuk menzalimi orang macam saya, dan teman-teman lain yang belum menikah. Para fakir miskin cinta.

Jadi, kalau rujukannya seperti KBBI di atas, yang memang dianggap sebagai sesuatu yang sahih. Maka saya juga sudah bisa dikategorikan dewasa. Saya sepakat, dewasa itu soal kondisi kejiwaan yang terepresentasi dalam keseharian, kala menghadapi sesuatu. Meski, harus pula diakui, bahwa kedewasaan itu adalah sesuatu yang niskala, tak berwujud, susah diukur, dan dinamis. Dalam artian, kita bisa bersikap dewasa pada sebuah kasus, tapi justru kekanak-kanakan pada hal lain.

Pada akhirnya, defenisi KBBI hanyalah salah satu, dan di luar sana, ada banyak defenisi yang tak tertuliskan, tapi ada dan nyata. Ahh, mencoba menjadi dewasa dan membahas kedewasaan benar-benar rumit. Barangkali Kim Do Jin, tokoh dalam drama Korea Gentleman Dignity ada benarnya, kita memang tak pernah menjadi dewasa, kita hanya bertambah tua.

Oke, kita kembali ke isu pernikahan. Saya kemudian penasaran dengan alasan orang-orang menikah? Saya coba bertanya kepada seorang teman yang telah menikah. Jawabannya tak jauh beda dengan asumsi saya: cinta. Walau jawabannya dibuat berputar-putar dulu. Sederhananya, Anda cinta pada orang itu, senang ketika bersama, dan ingin merasakan hal itu seumur hidup. Itu adalah sesuatu ilmiah. Meski, saya juga sadar, tak sedikit yang menikah karena alasan lain, perjodohan misalnya. Cinta menjadi urusan yang kesekian. Inilah yang kemudian dikritik oleh Leo Tolstoy dalam bukunya The Kreutzer Sonata, bagi Tolstoy pernikahan tanpa cinta bukanlah pernikahan sama sekali. Cinta adalah satu-satunya hal yang bisa menguduskan pernikahan dan hanya pernikahan sejati yang dikuduskan oleh cinta.

Lalu, mengapa kita menjadi begitu bahagia kala jatuh cinta? Dalam buku Mengapa Pria Tidak Bisa Mendengar dan Wanita Tidak Bisa Membaca Peta? Ditulis oleh Allan Pease dan Barbara Pease, menjelaskan bahwa perasaan melayang saat jatuh cinta, berasal dari zat kimia bernama PEA (feniletilamin) yang terkait dengan amfetamin, yang juga ditemukan dalam coklat. Mungkin ini salah satu alasan, mengapa perempuan menyukai coklat. Itu adalah zat kimia yang membuat jantung Anda berdegup kencang, berkeringat, dan memberikan perasaan bahagia luar biasa.  Bersamaan dengan itu, ada pula endorphin, yang berguna untuk meningkatkan kekebalan tubuh Anda.

“Semua reaksi kimiawi positif ini menjelaskan mengapa orang-orang yang sedang jatuh cinta memiliki kesehatan lebih baik dan lebih kecil kemungkinannnya terkena penyakit daripada mereka yang tidak. Jatuh cinta biasanya bagus buat kesehatan Anda.” Tegas Alan dan Barbara.

Jadi, jika akhir-akhir ini Anda merasa sering sakit-sakitan dan kurang bahagia, mungkin jawabannya sudah Anda temukan: menikah. Kalau belum siap, makan saja coklat banyak-banyak. Barangkali, satu-satunya jatuh yang membuat sehat dan membawa dampak positif hanyalah jatuh cinta. Sisanya sakit. Sakit banget.

Saya tertarik mengabarkan, sebuah fakta menarik perihal pernikahan, sebagaimana dilansir situs Liputan 6.com. Dikatakan bahwa dalam sebuah penelitian, sekitar 75% dari orang-orang yang menikah hari ini ternyata berjodoh dengan teman kerja dan sekolah, teman dekat, keluarga, gereja (tempat ibadah). Hanya 20% yang menikah melalui cara lain atau situs kencan online.

Pikiran liar saya kemudian bekerja, bisa jadi selama ini Anda mungkin sudah bertemu jodoh Anda. Namun, karena kurang peka menangkap sinyal-sinyal itu, ia lebih memilih berpaling. Coba diingat-ingat lagi, adakah teman Anda selama ini yang memberikan sinyal-sinyal itu? Kalau ada, saya sisa menunggu undangan (lagi) saja.

Menikahlah! Meski sebenarnya, saya pun tak layak meminta Anda untuk menikah, karena saya juga belum melakukannya. Tapi, tak apalah. Berbahagialah saya kalau Anda memutuskan menikah setelah membaca tulisan ini. Saya punya 12 alasan dari hasil penelitian pakar hubungan Dr. Charles dan Dr. Elizabet Schmitz, mengapa Anda harus menikah. Juga dikutip dari situs Liputan 6.com.

Pertama, Anda akan hidup lebih lama. Hal ini dimungkinkan, karena Anda lebih kuat dalam menjalani hidup, mengingat Anda berada di dekat orang tercinta. Anda punya alasan untuk tetap hidup.

Kedua, Anda akan lebih sehat. Alasan kesehatan, sudah saya paparkan di salah satu bagian tulisan di atas.

Ketiga, anda akan lebih bahagia. Sudah terjawab juga di salah satu bagian tulisan di atas.

Keempat, rendahnya resiko kelainan jiwa. Penelitian menunjukkan, orang yang menikah memiliki risiko rendah terkena masalah psikologis. Seperti depresi. Hal ini dikarenakan, Anda punya teman bercerita, berkeluh kesah, dan mengeluarkan semua perasaan negatif itu. Itu kalau Anda memiliki pasangan yang mengerti. Jika tidak, justru pasangan yang akan membuat anda mengalami kelainan jiwa. Mudah-mudahan tidak.

Kelima, memiliki pendukung. Poin penting dari adanya pendukung adalah, setiap mengambil keputusan, Anda tak pernah berdiri sendiran. Akan ada orang yang mendukung Anda. Kapan pun dan di mana pun. Penelitian mengatakan, kalau Anda bisa berbagi perasaan dan pikiran tentang apapun.

Keenam, kurangnya penyalahgunaan obat-obatan atau alkohol

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang menikah memiliki risiko yang rendah. Hal ini sering saya saksikan, orang-orang yang sewaktu masih bujang sering minum teh gelas ballo, justru berubah drastis setelah menikah, apalagi jika sudah memiliki anak. Ia juga menjadi lebih giat dalam bekerja. Hal ini mungkin disebabkan oleh rasa tanggung jawab.

Ketujuh, penghasilan akan lebih besar. Kalau Anda percaya rezeki setelah menikah. Maka penelitian membenarkan kepercayaan Anda. Di sisi lain, dengan menikah, Anda sudah memiliki dua kepala yang akan memikirkan persoalan utang keuangan keluarga.

Kedelapan, Anda akan lebih banyak menghemat uang. Di Amerika Serikat, individu yang menikah di usia 50-an dan 60-an memiliki kekayaan dua kali lipat, tinimbang mereka yang belum menikah. Mungkin ini alasan, mengapa sampai sekarang saya belum bisa menghemat uang. Belum menikah, dan terlalu sering makan bakso.

Kesembilan, Anda akan berhubungan seks lebih sering dan lebih menikmatinya. Wah, no coment.

Kesepuluh, generasi penerus. Studi menemukan, orang yang menikah memiliki anak-anak yang lebih sehat, cerdas, dan kurang masalah emosional. Studi ini tentu dilakukan di Amerika. Di mana di sana, memiliki anak tanpa ikatan pernikahan adalah sesuatu yang lumrah. Jadi, anak yang lahir dari ikatan pernikahan cenderung lebih baik.

Di sisi lain, saya banyak mendengar cerita dari teman yang sudah menjadi Bapak. Perasaan lelah setelah bekerja itu lenyap seketika, tatkala pulang dan bertemu anak di rumah. Memiliki generasi penerus memang luar biasa.

Kesebelas, usia 18-34 tahun dinilai paling ideal untuk menikah. Coba  hitung umur Anda. Sudah masuk kategori ideal atau belum? Pasti sudah. Tunggu apalagi?

Kedua belas, pernikahan dianggap simbol sukses. Menurut Hollingsworth v. Perry, indikator ini terkait dengan banyak alasan kuat bagi seseoarang untuk membangun cinta dan kehidupan selama puluhan tahun mendatang. Kalau selama ini Anda dianggap belum sukses oleh orangtua dan tetangga. Menikah saja.

12 alasan di atas, rasanya cukup untuk membuat Anda memikirkan ulang tentang pernikahan. Saya bisa menambah satu alasan lagi. Anda akan terbebas dari stigma tidak laku, tidak normal, tidak bisa dan tidak-tidak yang lain. Dengan begitu, Anda tak perlu repot-repot belajar ilmu menghilangkan tubuh. Mudah bukan?

 

 

 

 

 

ditulis oleh

Muhammad Ikbal

Profil Penulis

Lahir di Bantaeng, 13 Agustus 1995. Ketua Karang Taruna “Sipakainga” Desa Tombolo. Kec. Gantarangkeke. Kab. Bantaeng. Guru PJOK di SDN 48 Kaloling. Aktif sebagai pustkawan di Rumah Baca Panrita Nurung dan bergabung dalam KGB (Komunitas Guru Belajar) Bantaeng. Penyuka hujan dan buku-buku sastra.