“Titik-titik hujan terus

Mengetuk-ngetuk malam dinginku

Mengabarkan kesedihan langit

Sekali-kali kulihat kilat

Matanya yang geram tajam

Menyeruak pekat

Seperti mencariku hendak menikam

Hatiku yang kecil kecut

Kupeluk diriku kencang-kencang

Dalam gigil yang semakin dahsyat

Tuhan, selimutilah aku dengan rahmat-Mu.”

(KH. A. Mustofa Bisri)

 

Cukup memprihatinkan! Di sela-sela khusyuknya kaum muslim memeringati kelahiran Nabi kasih sayang, di benua biru, kabar tak mengenakkan menghidu. Satu kepala harus melayang atas nama cinta. Urita itu menyebar seperti tabung gas tiga kilo yang bocor. Terpantik api sedikit saja, kemanusiaan yang seyogyanya masih dalam perawatan intensif, terbakar kembali. Hangus tak bersisa.

Saya berduka, pun terluka mendengar urita itu. Saya sedih, karena karikatur lima tahun silam membawa percikan api pertikaian, diekspos kembali dengan wacana baru. Lalu dibenturkan dengan demokrasi. Ini sama sekali tak lucu. Ibarat menyiram bensin di atas bara. Kebebasan berekspresi dan berpendapat sah-sah saja, tapi kita mesti belajar memosisikan diri dan menghargai keyakinan orang lain.

Waima demikian, tindakan Anzorov membunuh Samuel Patty tak bisa dibenarkan. Bagi saya, ini laksana memercikkan cuka di atas luka, menorehkan luka di atas duka. Puisi Gus Mus yang saya kutip di awal tulisan, menggambarkan kesedihan dan ketakutan itu. Pada kebencian dan amarah yang mengintai, “hatiku yang kecil kecut. Kupeluk diriku kencang-kencang, dalam gigil yang semakin dahsyat.” Lalu lirih berdoa, “Tuhan, selimutilah aku dengan rahmat-Mu.” Akhirnya, kita semua harus takut pada diri sendiri, yang di dalamnya bersemayam kebencian dan rasa marah. Dua sifat itu tak ubahnya gerigi-gerigi yang membuat lingkaran setan terus berputar.

Rabiulawal baru saja berlalu, bulan cinta dan kelahiran Nabi. Sudahkah kita bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah Rasulullah saw., yang diutus sebagai rahmatan lil’aalamiin, setuju dengan tindakan tersebut? Sehingga membolehkan – beberapa orang merasa itu ibadah, berpahala – kita membalasnya dengan menumpahkan darah sesama? Pun dengan cacian, hinaan, dan ujar-ujar kebencian lainnya.

Tidakkah kita merasa, sikap-sikap di atas adalah jalan mulus merusak cinta kita kepada Nabi Muhammad saw? Sebab dalam ajarannya, kita diminta berlaku lemah lembut,  menahan amarah, tidak mencaci, menghina, membenci, dan menyakiti sesama manusia.

Ada beberapa risalah Rasullah yang pernah saya baca. Buku yang ditulis Tosaro GK menjadi bacaan yang paling membekas. Empat buah novel yang melukiskan kehidupan, perjuangan, dan keindahan akhlak Rasulullah bersama para sahabat. Dengan gaya penulisan yang lantip dan apik, Tosaro seolah menghamparkan era bertabur cahaya itu di hadapan kita. Ia membawa kita berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Berjalan dari satu peristiwa ke peristiwa lain.

Di novel itu saya melihat, bagaimana Rasulullah SAW, menyuapi orang tua yang buta di pasar setiap hari. Padahal nenek itu selalu berkata pada orang-orang lewat, untuk tidak mengikuti ajaran Rasulullah saw. Pun, saya merasakan betapa kaget dan sedihnya nenek itu, kala ia tahu lelaki yang saban hari menyuapinya telah mangkat. Dan, beliau adalah Rasulullah saw.

Dalam buku itu pula, saya mendapati peristiwa Nabi dilecehkan, dicaci, dimaki, diludahi, dilempari kotoran dan batu hingga terluka. Kala itu dikisahkan, malaikat Jibril datang dan berkata, “Ya.. Muhammad! apakah engkau mau aku timpakan dua gunung kepada mereka? Kalau itu yang engkau inginkan, niscaya akan aku lakukan.” Namun, Nabi tidak menginginkannya. Rasulullah justru berharap, Allah Swt., menciptakan generasi bertakwa yang lahir dari mereka. Betapa indahnya akhlak Rasulullah saw.

Semua kejadian dalam buku itu, seolah terjadi di depan saya. Entah saya hadir di sana sebagai batu, orang-orang Makkah yang kebetulan lewat, unta Si Fulan, semut, atau hamparan pasir yang bisu. Itulah kekuatan buku yang ditunjang kepiawaian penulis, yang mampu menghidupkan tulisannya.

Ketika saya sampai pada peristiwa Rasulullah saw., yang kita cintai, diejek dan dihina masyarakat Makkah kala itu, amarah kerap memaksa keluar. Sebagai manusia normal, saya geram dan sedih melihat orang dicintai diperlakukan kasar. Amarah itu seperti menggiring imajinasi saya mengambil potret orang-orang yang jahat pada Nabi, menyimpannya pada batu ulekan yang berisi satu liter cabai rawit, dua siung bawah merah, satu siung bawang putih, dan setengah sendok garam. Saya ulek jadi sambal balado ala Arab.

Namun, melihat bagaimana Baginda Nabi menyikapi orang yang menyakiti, menghina, dan mengejek, pun kepada pembunuh pamannya, rasa marah dan kebencian yang meluap-luap itu menyusut pelan-pelan. Gas amarah yang baunya busuk menjadi dingin, hingga mewujudlah embun yang menetes di selaput mata. Air itu menjernihkan ain, mengukuhkan ainul yaqin.

Ya.. rasa cinta semestinya menjernihkan mata kita, secara batin dan lahir, dalam memandang segala wacana dan persoalan. Sebab, Rasulullah saw., figur yang kita cintai, telah mengemban amanat liutammima makarimal akhlak. Sebagai penyempurna akhlak manusia. Cinta Nabi berarti menjadikan Sang Nabi Agung pusat acuan kita dalam laku dan lakon sehari-hari.

Dalam buku Mencari Bening Mata Air, Gus Mus meminta, hadirkan Nabi kasih sayang, Muhammad saw., dalam hati dengan bersalawat dan dalam kehidupan dengan menebar kasih sayang, rahmatan lil’aalamiin. Sebab Rasulullah saw., selalu mengkhwatirkan umatnya. Nabi begitu ingin umatnya selamat dan bahagia. Aneh bila umatnya tak mencontoh sikap dan sifat Rasulullah saw. Cukup janggal jika umatnya tak menganjurkan kebenaran, kebaikan, keadilan, serta menjauhi dan melarang perbuatan-perbuatan yang merendahkan martabat kemanusiaan.

Olehnya, marilah kita menepi dari hiruk pikuk zaman yang mulai edan. Mengambil napas dan jarak. Membebaskan diri dari kemabukan dan keterpesonaan dunia yang gemerlap, dan mulai memasuki pintu kedalaman nurani dan spirit. Pun, cobalah menutup mata dan telinga kita, dari lalu lintas informasi yang nihil makna dan mengkerdilkan jiwa. Supaya cermin hati kita yang mulai buram, dijernihkan. Arkian, membawa diri kita kembali merenung dalam sepi sepertiga malam, bersalawat sebanyak-banyaknya, dan bertanya pada diri sendiri, apakah kita benar-benar benar telah mencintai Muhammad saw?

ditulis oleh

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.