Guru Inspiratif

 

Murid leluasa pilah-pilah guru. Namun, guru tak elok pilih-pilih murid. (Daeng Litere)

Jujur, sejujurnya. Aku bukan tipe orang yang mumpuni menandai tanggal kejadian di kalender, berkaitan peristiwa penting buat dirayakan. Kecuali kalau tertera pada tanggal itu berwarna merah angkanya, sebab ada konsekuensi liburnya. Aku seorang penyuka tanggal merah. Persisnya, penikmat hari libur.

Berbeda dengan Daeng Litere, saudara sesusuanku itu. Ia amat telaten memperhatikan berbagai kejadian penting, bila ditambatkan pada tanggal tertentu. Mau hitam, hijau, atau merah, pasti dihapalnya setiap momen perayaan. Termasuk tanggal dobel merah. Maksudnya, hari Ahad bertepatan dengan tanggal merah karena ada hari raya.

Daeng Litere punya kelebihan khusus, bagaimana cara mengingat sekotah tanggal penting berkonotasi perayaan itu. Kemampuannya belum terkalahkan oleh program kecerdasan buatan, artificial intelligence, semisal pengingat di medsos, yang saban waktu mengingatkan kejadian penting. Tak ketinggalan ingatannya pada Hari Guru Nasional, jatuh tempo pada setiap tanggal 25 November. Meskipun tak beriringan dengan fasilitas libur.

Apa buktinya? Pada tanggal 21 November 2020, empat hari sebelum peringatan hari guru, ia sudah menjapriku dengan sederet kata-kata, berupa maksim, seperti yang aku dedahkan di pangkal tulisan ini. Aku sama sekali tidak membayangkan, bahwa maksim itu, ia layangkan sebagai tatacara ia menyambut hari spesial bagi para guru.

Sekadar bocoran saja, Daeng Litere tak punya akun medsos, waima ia tetap menggunakan gawai. Dan, sesekali berselencar di jagat maya, lewat telepon cerdasnya.Jadi, manakala ada semacam buah pikirannya, sebisa mungkin ia kirimkan padaku, lalu akulah yang membagikan ke jagat maya, melalui akun medsosku. Tentulah tak lupa aku mencantumkan namanya, sebagai bentuk tanggung jawabku.

Apatah lagi, aku dan dia sudah teken kontrak selama setahun, mulai dari akhir Februari lalu, hingga Februari tahun depan, setiap hari ia mengirimkan maksimnya. Perjanjian kontrak ini dimaksudkan sebagai upaya merawat akal sehat, yang bakal berbuah satu buku kumpulan maksim.

Kembali ke perkara hari guru.  Begitu jagat medsos ramai menebarkan ucapan selamat kepada para guru, barulah aku sadar akan maksim Daeng Litere empat hari lalu. Karenanya, meskipun baskara masih malas beranjak dari  terungku subuh, aku pun melayangkan sejumput pesan, menjaprinya, siapa tahu bisa ngopi bareng, sekaligus bercakap-cakap tentang semesta guru.

Dibalasnya pesanku, ia menulis, “Oke, kita ketemu di warkop, yang baru itu, di depan rumahmu. Cukup adem untuk bercakap di situ.  Pukul   06.30, insyallah.”

Dia lebih duluan tiba. Sekira beberapa menit kemudian, aku pun sudah menyata di depannya. Ia langsung memesan dua gelas kopi hitam nirgula. Sambil bercanda, ia menukas, “Moga-moga kopi pahit yang kita tenggak ini, sudah tidak mencerminkan lagi pahitnya  nasib guru-guru kita.”

“Oke bos”, jawabku. Lalu aku menawarkan satu tontonan. Bagaimana kalau kita nonton satu film, tentang guru. Nanti setelah itu, baru kita bercakap-cakap.

It’s okey brother,”tuturnya.

Aku pun meminta kepada pemilik warkop, agar disambungkan ke chanel youtube, atau penyedia pemutar film lainnya, lalu dicarikan film berjudul, Freedom Writers.  Daeng Litere melongo saja melihat tingkahku. Dan, aku bilang padanya, “Khusyuklah menonton, sebab nantinya aku minta catatanmu mengenai film ini.”

Benar saja adanya. Daeng Litere amat khusyuk menonton film yang dibintangi oleh Hilary Swank, berperan sebagai guru Erin Gruwell. Nyaris matanya tak berkedip. Napasnya tenang, sesekali raut wajahnya mengerut, kadang tersenyum. Saking seriusnya menonton, ia minta tambahan kopi lagi segelas. Maklum film itu memangsa waktu putar sekira 122 menit.

Selepas menonton, aku baru sadar bahwa sesungguhnya aku tak benar-benar nonton bareng dengannya. Maklum, aku sudah lebih dari tiga kali menyaksikan film itu. Takutnya juga, jika aku menemaninya malah kacau, karena pasti godaan bercerita mendahului alur film bisa saja terjadi.

Di luar sangkaanku, Daeng Litere tidak segera mengajakku bercakap setelah menyaksikan film itu. Ia menerawang, melayang pikirannya, sembari menyeruput kopinya berkali-kali. Arkian, dia ambil telepon cerdasnya. Ia menindis huruf-huruf begitu cepat, laiknya ayam yang mematuk makanan bertubi-tubi saking laparnya. Setelah itu, aku menyaksikan ia seperti orang yang baru saja terpuaskan birahinya, ia orgasme. Maksudku orgasme intelektual.

Hanya sepersekian detik setelah itu, ponselku bunyi. Tanda ada pesan masuk. Aku buka, ternyata dari orang yang bernama Daeng Litere. Alamak apa pula ini. Aku dan dia berdepan-depan, tapi ia menjapriku. Kukira sebelumnya ada yang bajak nomor ponselnya, ternyata tidak. Yah, betul dari dia, sebab melirik padaku, sambil mengerlikkan matanya, penanda bahwa pesan itu dari dia.

Aku buka, tertulis deretan kata-kata, “Pada film ini, sang guru, Erin Gruwel, awalnya mencoba menghadapi siswanya, yang berlatar belakang beragam ras, permasalahan yang meliliti mereka karena bentukan lingkungan, dengan berusaha menegakkan kurikulum yang ditetapkan oleh sekolah. Namun, tak berdaya. Akhirnya, ia berusaha melakukan kreasi, keluar dari kungkungan kurikulum dan mencoba pendekatan baru. Ia berubah menjadi guru inspiratif. Dan, sudah pasti bisa ditebak, bermasalahlah ia dengan pihak sekolah.” Ternyata pesan ini merupakan simpulan dari hasil tontonannya.

Seolah tak ingin kalah, aku pun menantangnya, dengan bertanya, apa sudah pernah baca bukunya Rhenald Kasali, berjudul, Strowbery Generation? Dia menggeleng. Nah, ini kesempatan bagiku untuk berbalas pesan. Aku lalu mencari catatanku di facebook yang pernah aku unggah beberapa waktu lalu, sehabis mengeja buku itu.

Kulayangkan kalimat-kalimatku, “Rhenald Kasali membagi dua jenis guru: guru kurikulum dan guru inspiratif. Menurutnya, guru kurikulum sejenis guru yang berkutat patuh pada petunjuk kurikulum semata, sedangkan guru inspiratif adalah guru yang tidak terikat dengan kekangan kurikulum, tapi lebih kreatif dalam menunaikan tugas keguruannya.”

Belum sempat dia jeda, kulayangkan lagi sambungannya, “Guru yang mengajar sekadar menjalankan tugas-tugas kurikulum, hanyalah akan melahirkan manusia yang berkapasitas manajer, sementara guru yang mendidik dengan penuh inspirasi, bakal melahirkan pemimpin.”

Lalu kupungkasi japriku, “Pada situasi bangsa yang terpuruk yang dibutuhkan adalah pemimpin. Sangat mendesak untuk guru lebih mendefinisikan dirinya sebagai guru inspiratif. Guru kurikulum hanyalah mengemban tugas kepengajaran, sementara guru inpiratif adalah menunaikan tugas kependidikan. Pengajaran sekadar memindahkan pengetahuan, pendidikan membentuk karakter.”

Jelang siang, kami mengusaikan persuaan di warkop. Aku mengajak ke salah satu instansi.

“Apa tujuan kita ke sana?”, tanyanya.

Aku hanya bilang, “Menyaksikan upacara peringatan Hari Guru Nasional.”

Sesampai di sana, rupanya upacara baru saja dimulai. Tak begitu lama upacara itu usai. Aku lalu duduk-duduk santai pada sebuah gazebo, melanjutkan percakapan. Dua botol minuman air mineral menemani.

Di sela-sela percakapan, terlintas pertanyaan darinya. “Kamu ingat Pak Abdullah Damsar, guru sekaligus kepala sekolah sewaktu kita masih SD?”

Ingatanku langsung melayang pada tahun 70-an. Seolah aku masuk ke terowongan waktu. Terlempar ke masa silam, mirip kejadiannya dalam film Time Tunnel. Aku mengais kenangan indah pada sosok yang dimaksud oleh Daeng Litere. Bagiku Pak Abdullah Damsar adalah seorang guru inspiratif. Beliau tidak saja mengajar, melainkan mendidik dengan sepenuh jiwa. Sekotah murid diperlakukan laiknya anak sendiri.

Lalu aku balik bertanya, bagaimana dengan guru kita semasa SMP, “Adakah nama guru yang membekas?”

Ia langsung menyambar tanyaku. “Pak Baso Parampang,” ucapnya.

“Betul, beliau bukan saja menjadi guru di kelas, tapi juga di luar sekolah. Bukankah beliau juga sekaligus paman kita?” Aku menegaskan dalam tanya yang tak perlu dijawab.

“Ayo, kalau sewaktu kita di SMA? Siapa kandidat guru yang patut kita sematkan sebagai guru Inspirasi?” Aku memancing ingatannya.

Dia terdiam. Aku pun demikian.  Entah suasana apa yang menghidu kami, langsung menyahut bersama, “Pak Yusuf Hamjal.”

Sedetik kemudian aku membatin, “Yah, seorang guru gokil, dalam istilah anak milenial di kekinian.”

Aku menabalkan ketiga guruku itu, sebagai guru inspiratif. Aku tak bermaksud menyepelekan sekotah guruku sejak SD hingga SMA lainnya. Cuman karena topik percakapan mengenai guru yang memberi inspirasi. Guru yang mendidik untuk hidup di kehidupan. Bukan guru yang mengajarkan ilmu pengetahuan.

Entahlah kalau Daeng Litere, sebab saya tetap mencurigai maksimnya itu, yang murid leluasa pilah-pilah guru. Namun, guru tak elok pilih-pilih murid.

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Artikel yang Direkomendasikan

2 Komentar

  1. Selamat Hari Guru Nasional tahun 2020.

  2. Mohammad Asad Daeng Pawata

    Inspiratif. Singkat tapi berkualitas. Sy suka.
    Tapi mgkin bbrapa kata yg kurang familiar utk umum apalagi anak sekolah yg sebaiknya dialiaskan dalam kurung disamping katanya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *