Orang-Orang di Bahu Jalan

 

Jumat berkah, adakah? Jelas ada. Paling tidak saya sudah membuktikannya. Tatkala saya bertanya pada penunggu salah satu warkop sederhana, tapi punya jaringan internet. Ia menjawab, “jumatberkah, tanpa spasi dan huruf kecil semua,” sebagai sandi, jika ingin berinternet ria. Cuman, uniknya warkop ini, pemiliknya nyaris setiap hari mengganti sandi. Mungkin karena terlalu sering anak-anak berkerumun di sekitar warkop.

Bagi orang tertentu, menganggap hari Jumat sebagai hari berkah, semacam hari yang penuh hamburan pahala. Setidaknya, bagi kaum muslimin dan muslimat. Apatah lagi para penganjur kebaikan di bidang keagamaan, telah menabalkan kemuliaan hari Jumat. Selain ada ibadah khusus, pun aura keberkahannya bakal berlipat pahala, jikalau terjadi transaksi kebaikan.

Begitulah yang saya saksikan. Ketika menyata di kota mukim saya, Makassar, saban hari Jumat. Tampak ritus yang konsisten dan persisten, bagaimana orang-orang di bahu jalan bertransaksi kebaikan. Berbagi pada sesama, memancing keberkahan.

Sekadar menerangkan perkara, saya melihat peristiwa kebaikan itu, jika saya berangkat dari mukim saya di bilangan selatan kota, menuju bagian utara kota, dalam rangka membajak nafkah. Poros jalan yang saya lalui, selalu memanggungkan peristiwa menggairahkan kebaikan sekaligus menyuguhkan kemirisan kehidupan Kota Makassar.

Bila saya berangkat setelah pukul 09.00 pagi, arena pertunjukan mulai digelar. Orang-orang berjejer di bahu jalan. Ada yang duduk dengan berbagai perangkat pemancing belas kasih. Adapula berdiri atau jongkok di samping gerobak-becak tanpa tenda, dengan karung menggelantung, menandakan sebagai pemulung. Lelaki-perempuan dewasa dan separu baya, serta anak-anak, campur baur.

Bagi para pelaku kebaikan, pemburu pahala, orang-orang di bahu jalan itu merupakan lahan subur, buat menaburkan kebaikan dan menuai pahala. Uang yang telanjang maupun yang beramplop, leluasa mengisi wadah para penerima kebaikan. Sesekali paket sembako. Nasi kotak-dos-bungkus, tak ketinggalan untuk keperluan sarapan pagi atau makan siang.

Nyata betul transaksi kebaikan itu berlangsung riang gembira. Si pemberi dan penerima bertemu dalam pertukaran kebaikan, berbuah pahala. Di bahu jalan ini, tiada guna keberpunyaan, jika tiada keberkekurangan.

Sekali waktu, pikiran kotor saya menyembul. Seolah mengkritisi transaksi kebaikan, antara si pemberi dan penerima. Saya mulai munduga-duga, mereka yang berderet di bahu jalan itu, sepenuhnya bukanlah orang tak mampu, melainkan menjadikan arena itu sebagai jalan pintas mencari nafkah. Mulai pula saya menohok pada para pemberi, bahwa mereka ikut melestarikan ketidakberpunyaan itu. Pun, sebentuk pencitraan akan perbuatan berbagi.

Pikiran liar saya, mulai menyasar para penganjur kebaikan berlatar belakang keagamaan. Saya mulai menuding para ustaz dan rerumpunnya, sebagai biang kerok atas antusiasnya para pemberi bertransaksi, karena ada janji pahala di hari penuh berkah.

Simbiosis  mutualisma pun benderang adanya. Saling memanfaatkan untuk tidak mengatakan saling mengeksploitasi. Penerima melayani hasrat pemberi. Sebaliknya, pemberi tersalurkan iktikad pahalanya. Sementara sang ustaz terbenarkan pandangan keagamaannya.

Pikiran nyeleneh semacam itu seringkali muncul, ketika saya berangkat kerja. Begitupun juga kala pulang, sebab orang-orang di bahu jalan itu, nanti meninggalkan tempatnya, seiring saat senja memberi estafet waktu pada malam, buat meneruskan cicilan masa.

Saya berusaha sekuat tekad menghalau pikiran aneh itu. Dan, selalu berhasil bersamaan dengan bergantinya hari. Namun, hadir kembali kala hari Jumat berikut tiba. Saya lalu mencoba mengingat, kapan sebenarnya orang-orang di bahu jalan ini, mulai muncul secara masif dan kelihatan terorganisasi? Tahulah saya titik mulanya. Seiring dengan serbuan pagebluk sontoloyo, pandemi Covid-19.

Ketika Kota Makassar dideklarasikan sebagai kota terpapar Covid-19, maka pengurus negeri, memutuskan kebijakan Penjarakan Sosial Berskala Besar (PSBB). Akibatnya, Makassar nyaris menjadi kota mati. Warga diminta tinggal di rumah, fasilitas umum ditutup, sarana bisnis dibatasi. Kota Makassar, nyaris lumpuh aktivitas warganya. Saya yang rutin ke bagian utara kota, guna mencari nafkah, ikut dirumahkan.

Salah satu profesi yang terdampak pandemi adalah para pemulung. Apa yang mau dipulung jika warga lebih banyak tinggal di rumah dan tempat-tempat keramaian ditutup? Bukankah selama ini, para pemulung amat bergantung pada sampah yang dihamburkan warga? Karenanya, waktu itu, seperti yang saya saksikan, para pemulung mulai menata diri dengan berdiri di bahu-bahu jalan. Jumlah mereka berlipat-lipat adanya. Berbaur dengan peminta-minta.

Menyatanya orang-orang di bahu jalan itu, gayung bersambut dengan gerakan solidaritas sesama warga. Orang yang berpunya mulai beraksi untuk berbagi kepada yang tidak berpunya. Aksi warga berpunya pun mulai diorganisasikan. Mereka menata diri serapi mungkin agar bantuan kena sasaran. Aksi kaum berpunya terhadap yang tidak berpunya ini, berjalan seiring dengan makin dilonggarkannya penjarakan sosial. Hingga saatnya, benar-benar Kota Makassar mulai pulih keramaiannnya.

Nah, saya berasumsi bahwa orang-orang di bahu jalan itu, dengan lakunya di hari Jumat, sungguh merupakan sisa-sisa dari dampak pandemi. Lalu kenapa masih bertahan? Sebab masih ada pelakunya yang gagal move on, baik dari pemberi maupun penerima, serta para penganjur kebaikan, yang belum menemukan bentuk-bentuk transaksi kebaikan baru, yang tetap berbuah pahala.

Akan halnya hari Jumat ini, tetap penuh keberkahan. Saya tetap berangkat dari mukim di selatan kota menuju utara kota. Saya pun masih menyaksikan pemandangan orang-orang di bahu jalan seperti biasanya. Pikiran ambyar saya, sesekali ikut menukas. Namun, kali ini agak menggado-gado tukasannya.

Gado-gado tukasan pikiran saya, sebab di sepanjang poros, tempat orang-orang di bahu jalan menyata, di belakang mereka, berdiri beberapa baliho ukuran besar. Baliho-baliho itu, selain menyesakkan keindahan kota, juga amat pongah membayangi orang-orang yang sementara berjuang mendapatkan nafkah dengan cara memiriskan diri.

Maklum, tak lama lagi Kota Makassar akan memilih pasangan Wali dan  Wawali Kota Makassar. Ada empat pasang calon. Janji, mereka sudah tebarkan. Termasuk janji pada mereka yang berderet di pinggir jalan, orang-orang yang mengais nafkah di bahu jalan. Ada pasangan yang akan memberikan bukti. Ada pasangan yang mengajak bangkit. Ada pasangan yang menaburkan senyum milenial. Dan, ada pula menjanjikan kekebalan hidup, agar tetap imun.

Orang-orang di bahu jalan dan orang berpasang-pasangan di baliho, sungguh menyuguhkan pemandangan yang amat jujur. Ketelanjangan jarak sosial antara the have dan the haven’t. Ketimpangan antara orang berpunya dan yang tak berpunya.

Ah, Jumat berkah masih ada. Transaksi kebaikan berbuah pahala masih berlangsung. Janji-janji pengurus negeri pun masih dipertarungkan, moga kelak dipertaruhkan. Definitnya, sandi “jumatberkah”, itu yang tidak ada lagi.

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Artikel yang Direkomendasikan

1 Komentar

  1. Kesenjangan yang mungkin tak akan pernah ada habisnya. Tapi Semoga saja watak Khalifah Umar Bin Abdul Azis muncul diantara 4 pasang yang sedang mencari perhatian dari penghuni bahu jalan itu sampai yang tinggal enak dihutan abu abu. Jika tidak maka semakin tegaslah kesenjangan itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *