Tulisan ini terinspirasi dari seorang perempuan, saban hari, tekun menyiram bunga, memotong tangkainya yang panjang, dan menyapu daunnya yang gugur. Bunga, kiwari ini, laiknya anak bungsu bagi setiap perempuan. Ada semacam kesenangan, kepuasaan, dan kebanggaan tersendiri, tatkala melihat bebungaan itu tumbuh dan mekar. Kebahagian yang mungkin sulit dipahami oleh sebagian lelaki. Mungkin sama sulitnya bagi perempuan, memahami alasan lelaki merokok.

Di kampung saya, kegemaran terhadap bunga tak bersifat insidental semata. Bunga sudah tertata rapi di lorong tempat tinggal saya, di halaman rumah yang luas, dan di teras-teras rumah tetangga, jauh sebelum orang-orang mendadak menjadi pemburu bunga, cuman karena ikut tren. Karenanya, tatkala si Janda Bolong mulai viral karena harganya yang fantastis—dan oleh sebagian orang disebut bagian dari monkey business. Ibu-ibu di sekitar rumah masih bersetia dengan bunga kertasnya yang colourfull. Mereka memang melihat bunga dari segi estetika, bukan karena ke-boomingan-nya semata. Kalau dalam hierarki shinobi di film Naruto, ibu-ibu ini sudah masuk dalam level Jonin—ninja kelas elit. Mereka sudah berada pada level yang berbeda dalam mencintai bunga.

Waima sudah mencapai maqam elit, tapi mereka tak elitis. Saban waktu, tatkala ada orang lewat, ataupun tetangga yang tertarik. Mereka tak pernah segan memotong tangkainya yang paling baik, untuk dijadikan bibit, kemudian diberikan secara cuma-cuma. Hal itu berlaku, bahkan untuk bunga kesayangannya. Bunga bisa menjadi medium yang baik untuk berbagi. Berbagi banyak bunga, berarti berbagi banyak keceriaan, sedang keceriaan adalah salah satu unsur utama kebahagiaan.

Bunga memang tak melulu soal cinta, meski cinta seringkali disimbolisasikan dengan bunga. Ketika seorang lelaki, memberikan bunga kepada perempuan, sesungguhnya ia mendamba ia menjadi bunga dalam hidupnya. Menyejukkan pandangnya, memeriahkan harinya, dan mewarnai hidupnya. Barangkali, di saat seperti itulah, kita bisa melihat seorang lelaki memegang bunga. Ia menyatakan perasaannya dengan setangkai bunga, dan sebait kata-kata. Paling tidak, itu yang saya saksikan di film-film Indosiar.

Lalu, mengapa bunga bisa mendadak “dicintai” akhir-akhir ini? Sebagian orang berasumsi, karena pandemi Covid-19. Keharusan untuk lebih banyak tinggal di rumah, membuat orang-orang mencari kesibukan lain, guna mengurai kebosanan rebahan dan intensitas bermain gawai. Setidaknya, ada dua kesibukan berkenaan tumbuhan yang ramai selama pandemi: memelihara bunga dan urban farming.

Urban farming—sesuai namanya—dilakukan  oleh orang-orang di perkotaan, yang memanfaatkan lahan di sekitaran rumah, menanam tumbuhan yang bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, juga sebentuk upaya masyarakat kota dalam menjalani gaya hidup sehat, karena dikelola secara organik dan tidak menggunakan pupuk kimia, dan pestisida sintetis. Sedang berburu bunga—dalam hemat saya—dilakukan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat kota, juga desa. Sekotah kegiatan ini nampak berbeda, tapi memiliki esensi yang sama, salah satunya peningkatan kualitas hidup lewat aktivitas berkebun yang dapat menyegarkan pikiran.

Saya pribadi sebenarnya tidak mau ambil pusing, sejak kapan Anda menyukai aktivitas berkebun seperti ini. Insidental atau tidak, terpaksa atau tidak, ikut tren atau tidak, kesemuanya membawa manfaat baik bagi lingkungan. Namun, akan lebih baik tentunya, jika hal tersebut dilandasi oleh faktor internal, kesadaran akan berlaksa manfaat yang diraih, tentu hasilnya akan berkelanjutan dan permanen, tinimbang melakukan sesuatu hanya berdasar pada ke-boomingan-nya semata. Saya percaya, sesuatu yang bersifat insidental, tak pernah kekal. Sebab ia berangkat dari ketergesaan, hingga merapuhkan pondasi “ideologis”. Muaranya, mungkin setelah bunga kembali biasa-biasa saja, pot-pot yang sudah dibeli, akan menganggur kembali, dan berubah menjadi tumpukan sampah tak berharga. Pun dengan bebungaan, ia tak pernah lagi diurus dengan baik, tak pernah disiram lagi, hingga akhirnya layu, kemudian mati. Tindakan yang mungkin dianggap sepele oleh sebagian orang, namun merefleksikan kadar keimanan seseorang. Bukankah manusia hadir sebagai khalifah di muka bumi? Sedang tugas khalifah adalah mengantarkan semua ciptaan Tuhan, ke tujuan penciptaannya yang sejati.

Padahal, sebagai orang yang beragama, kita dituntut untuk berlaku baik kepada siapa saja. Di dalam agama, kita diajarkan bahwa segala sesuatu adalah ciptaan Tuhan. Olehnya, berbaik-baik kepada segala ciptaan-Nya—termasuk tumbuhan—adalah juga sebentuk ibadah baik, lagi mulia. Ini pun dibenarkan oleh hadis Nabi Muhammad saw., “Tidak seorang Muslim yang menanam suatu pohon lalu buahnya dimakan oleh burung atau manusia, kecuali Allah menilai bahwa itu adalah sedekah dari yang menanam” (HR. Bukhari dan Muslim)

Quraish Shihab dalam bukunya Yang Hilang Dari Kita Akhlak, pada bagian sopan santun terhadap tumbuhan, menguraikan, “Karena tumbuhan hidup, kasih sayang manusia dapat ‘dirasakannya’. Semakin kasih dan bersahabat seseorang dengan tumbuhan, maka semakin banyak yang dapat dipersembahkan tumbuhan itu. Begitu pengalaman banyak petani, bahkan begitu hasil penelitian beberapa ilmuwan.” Dalam buku yang sama, dikatakan bahwa sebagian peneliti, mendeteksi adanya pohon yang “menangis” saat dipotong daunnya, atau dicabut akarnya.

Walakhir, Bunga, dan tanaman lainnya telah menemani peradaban manusia sejak beradab-abad yang lalu. Mewarnai tanah-tanah tandus, menambah kemolekan buana, bunga adalah senyuman termanis dari bumi. Kini, bunga sudah digunakan untuk mengungkapkan perasaan terdalam manusia. Seperti yang diungkapkan oleh Okakura Kakuzo, “Dalam suka maupun duka, bunga adalah teman setia kita.” Olehnya, marilah memperlakukan bunga dengan hati yang berbunga-bunga.

Sebagai penutup, saya ingin mendedahkan puisi Akmal Galla Cendang  tentang bunga;

Yudisium

Bunga

Promosi doktor

Bunga

Menikah

Bunga

Aqiqah

Bunga

Bunga simbolo suka cita kataku

Dan saat aku berjalan di sebuah lorong

Aku berjumpa bunga lagi

“Turut berduka cita atas meninggalnya fulan bin Fulani”

Barangkali orang ini bersuka cita atas wafatnya fulan pikirku

Lalu aku melihat orang-orang menabur bunga di atas pusara si fulan

Disertai isak tangis..

Fulan..fulan..

Pulanglah dengan bunga..!!

 

Gambar: Liputan6.com

 

 

Muhammad Ikbal

Profil Penulis

Lahir di Bantaeng, 13 Agustus 1995. Ketua Karang Taruna “Sipakainga” Desa Tombolo. Kec. Gantarangkeke. Kab. Bantaeng. Guru PJOK di SDN 48 Kaloling. Aktif sebagai pustkawan di Rumah Baca Panrita Nurung dan bergabung dalam KGB (Komunitas Guru Belajar) Bantaeng. Penyuka hujan dan buku-buku sastra.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *