Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Puisi-Puisi Moch Aldy MA

 

Sebuah Apriori

 

Aku sering lupa wajah sendiri.

Lalu, aku berkaca dalam kontemplasi.

Apakah telah begitu layu,

Atau masih seberingas dulu.

 

Aku melihat seorang lelaki di hatiku,

Yang ternyata adalah diriku sendiri.

Terasing dari masyarakatnya.

Terasing dari zamannya.

 

Mengembarai eksistensi.

Mendulang makna dalam sunyi.

Menerka-nerka dalam esensi,

Di antara gelapnya Aforisme Bumi.

 

Dalam sepi,

Ia yakin akan pasrah.

Tumpahlah sembah

Hamba yang tertatih-tatih letih

 

Dalam puisi,

Ia seketika meraih jati diri.

Terciptalah susunan diksi

Bahwa, tiada cinta tanpa di uji

 

 

Kawula, Manunggal Gusti

 

Aku bermunajat pada-Mu.

Demi Tuhan sang raja semesta ini.

Perihal cinta yang mulai membiru.

Di atas mimbar-mimbar penuh ambisi.

 

Samudera kalam yang suci.

Telah sempit dan mati dalam tafsir duniawi.

Karena lelaku dusta pemuka agama palsu.

Yang mengobral surga bertaklid nafsu.

 

Aku pun memang jalang dan penuh birahi.

Bolehkah? Kusentuh dada puan-Ku?

Bolehkah? Sejenak saja ku nikmati.

Sepasang payudara aduhai itu.

 

Namun, manakah yang lebih durjana?

Aku yang mengultuskan dan menauhidkan puan-Ku.

Ataukah mereka yang memprofankan dan menduakan engkau?

 

O Tuhanku,

Aku masih belum mafhum nan lugu.

O Tuhanku,

Aku hanyalah insan yang naif dan daif.

 

Tuhan, sungguh aku membutuhkan metafora.

Dalam sosok fana seorang manusia.

Tuhan, jika diizinkan lidah dan hati ini ingin bersaksi.

Bahwa tiada Tuhan selain engkau, dan tiada perempuan selain dia.

 

 

Menyenggamai Cinta

 

Komitmen,

tak pernah turun tiba-tiba

dari kamar-kamar privat

maupun kasur-kasur kuat

 

Ada rambut pirangmu,

yang tergerai angin lembut

seusai janji menemukan jumpa

 

Ada bibir merahmu,

yang terlumat air liur cair

sehabis cumbu menghapus gincu

 

Ada leher mulusmu,

yang melongok tengkuk nista

selepas ikan membuat tanda

 

Ada mata beningmu,

yang memandang keringat hangat

setelah desah membakar gairah

 

Dan,

aku memanjat ke surga

lewat tubuh sintalmu

Seketika,

hibat klimaks dengan hebat

 

mengeluarkan benih-benih cinta

Namun, masih saja kau pertanyakan

dimanakah cinta saat gelap buta

ketika tanpa aba-aba

lampu-lampu itu padam

 

 

Intisari Kehidupan yang Mati

 

Aku masih bersamamu sayang,

di bumi ini, bumi dengan segala beton penyangga infrastruktur katastrofi yang kian tandus, tiada henti diperkosa ereksi hegemoni dengan paksa tanpa klimaks, lalu melahirkan tanya kapan dan dimana

Aku masih bersamamu sayang,

di negara ini, negara yang akan selalu siap menjegal sekaligus menjagal Idealisme dengan senyap, lalu secara sembunyi mengudeta bumi dan melarang kita untuk mengeja nostalgia

 

Aku masih bersamamu sayang,

di tanah air ini, tanah air yang menjadi komoditi panas, bahkan terdikotomi jadi sawit dan karet, beberapa terkomodifikasi menjadi sabun mandi, lalu sisanya termaktub dalam kanon negara

 

Aku masih bersamamu sayang,

berbagi muram tragedi anomi, dengan analisa Fenomenalisme yang kebingungan untuk membaca gejala, hingga berdesakan, lalu menggeliat mencari jelaga muara jawaban dari setiap tanya

 

Aku masih bersamamu sayang,

berusaha untuk tetap menjaga kesehatan Rasionalisme dan ingatan akan obituari dari orang-orang yang sudah mati, orang-orang yang dilupakan, orang-orang yang hidup namun merasa mati, ataupun orang-orang yang tak pernah dianggap ada

Bukan untuk terjaring dalam distopia Empirisme, namun kita ada untuk membuktikan, bahwa menerjang arus tidak selesai hanya dengan menerima sirkus paranoia yang dicipta penguasa

Kita tak lagi terjebak Fatalisme, seperti mempercayai narasi seorang eskapis bigot tentang karnaval revolusi yang jatuh dari langit ketujuh menjelma kerangkeng dogma maupun absolut doktrin agama

Kita tak percaya lagi intrik Despotisme, ludahi muka mereka sayang, mereka yang berkata bahwa teater kotak suara secara berkala dapat menyelesaikan peliknya problematika tanpa rasa dialektika

Kita bersama, aku dan kamu, tanpa sederatan birokrasi ideologi konstitusi bernuasa hormon posesi maupun obsesi, yang niscaya menghunjam jantung hakikat Absurdisme secara nyata

Kita bersama, akan tumbuh menua, atau menyerah pada titik nadir, atau mungkin akan tersaruk mati diujung Nihilisme, sebagai konsekuensi akhir dari omong kosong harapan realitas yang fana

Kita bersama, aku dan kamu, tanpa siapapun, tanpa entitas lain, tanpa sesembahan lain yang berskala lebih tagut dari berhala maupun ampas neraka

Kita masih bersama, aku dan kamu, tanpa dia juga mereka, akan meleburkan dualitas suka maupun duka, sembari menunggalkan aku dan kamu menjadi kita

Meski dalam prosesnya, kita acap kali terhimpit piramida kebutuhan ataupun keinginan, sehingga paradigma kita terjun bebas kedalam palung Sinisme yang gelap buta

Namun, kita bersama, untuk membuktikan sayap-sayap Eksistensialisme, bahwa nafas kehidupan harus kembali direbut, bukan hanya dengan menikmati batang nikotin, ataupun ilusi oksigen dari paru-paru dimensi ketiga

Rasa takut akan Anarkisme mungkin masih berdiam dikepala, namun kita bersama, setidaknya kita masih mampu menembus sayup-sayup malam dengan ekstase, walau dibantu oleh beberapa ciuman dan pelukan hangat dari ranjang-ranjang yang tua

 

Tapi sayangku,

Materialisme sudah menjadi sampar,

tak ayal kita pun mencari kembara, dan sayangnya kemanapun kita pergi, dunia punya luka yang sama, itu dibuktikan oleh seorang anak berdurja tangis pilu, dikejamnya angkara aspal hitam jalan raya

 

Tapi sayangku,

Kapitalisme selalu menampar muka, sesekali dengan halus agar kita dirantai tak berdaya, bertopengkan pasar bebas sampai sengkarut argumen

basi tentang bagaimana menyamankan posisi ruang kerja, bahkan mengamankan onggokan laba

 

Tapi sayangku,

bergelut di tengah Konsumerisme tak pernah semudah mengutuk rutinitas urban, yang dipencundangi lampu-lampu distotik maupun jajanan jalang berujung sanggama

Wahai sayangku,

yang terpampang dari dunia ini hanyalah kulitnya, dan tugas kita tak lain ialah mengolah bangkai-bangkai berjalan itu, menjadi daging hikmah yang bisa kita cerna

Duhai sayangku,

tak jenuh pula aku menacapkan memori, bahwa yang terpenting ialah kita masih membara dan masih sempat mengais makna dalam persinggahan yang sama

Namun sayangku,

mereka ada di sana, bersiap menguburkan benih-penih pembangkangan dan mematahkan utopia dengan kecewa, sementara disisi lain, kita adalah manifestasi dari Sisifus yang dihukum hingga ditelan masa

Namun sayangku,

mereka ada di sana, berjaga-jaga menjaga renjana nafsu dan merawat hasrat kuasa, sementara dilain sisi, mereka adalah representasi dari Icarus yang berambisi sebelum dihempas surya

Mereka di sana, membentuk kontingen barikade rapat menjaga Otoritarianisme, dengan tembakan gas air mata, dan sialnya mereka masih saja dapat menemukan senyum lebar melalui layar kaca

Mereka ingin kita eutanasia, namun kita masih bersama sayangku, membuka topeng hipokrit dan membongkar tabir mereka yang membenci Kritisisme, mereka yang seraya menstigma skeptis itu ilegal, sia-sia bahkan dosa

Sayangku, biarkan ragaku mendekap peluhmu, biarkan pikiranku menjaga komitmen kita, dan biarkan jiwaku memayungi jiwamu dari teriknya dunia

 

Meski, aku diancam, diteror,

diracun arsenik di udara, ataupun diseduh kafein sianida

Semua hipotesa realita ini memang hiperbolis, tanpa ada jejalin dengan fisiologis nyata, tapi sayangku, persetan dengan dematerialisasi diksi maupun demarkasi aksara pun juga metafora, selama dehumanisasi ataupun demoralisasi tak merangsek masuk kedalam nyawa

Sayangku, satu yang harus dirimu lakukan adalah membiarkan diriku untuk melukiskan gairah kebebasan pada kanvas Tabula Rasa, dan membiarkan diriku untuk tetap mencatat konstelasi semiotika dari semantik nisbi peradaban manusia

Sayangku, Vita ini Brevis namun Ars itu Longa, daksa kita ini rapuh namun sukma kita itu kekal, sehingga pada akhirnya akan mengukir jalan alternatif dari apriori eksistensi itu hanyalah temporer belaka, sebab itu adalah impuls postulat tanpa dalil yang berpangkal pada esensi fakta

Sayangku, sekali lagi, ini terakhir aku janji, adimanusia adalah Ubermensch, bukan mereka yang memiliki seperangkat masa depan, bukan juga mereka yang mewujud sebagai pialang-pialang kaveling surga

Oleh karena itu,

biarkan diriku untuk terus menjalani hidup prolifik, mentransfigurasi malapetaka setangguh Amorfati Fatum Brutum dan menghidupi frasa Carpe Diem untuk menerjang gelapnya epilog, yang entah kapan, dimana, dan bagaimana

 

 

Bertaklid Cinta

 

Aku bukan pujangga,

yang bergelimang karya

puisi maupun prosa

 

Aku tak memiliki tinta emas,

dalam seni kesusastraan

maupun ilmu bahasa

 

Aku juga bukan seorang filsuf,

yang lihai berdialektika

ataupun beretorika

 

Karena aku tak memiliki otak brilian,

yang mahir merapal esensi

dan menakwilkan makna

 

Bukan pula rohaniwan,

yang masyhur seantero mimbar

apalagi pondok nirmala

 

Sebab aku tak memiliki apapun,

laiknya serambi surga

bahkan selasar neraka

 

Aku bukan pula tukang pahat,

yang datang dari abad-abad

jahiliah suram nan gelap buta

 

Karenanya aku tak memiliki sejarah,

bersama ortodoksi fetis arca

dan pengultusan berhala

 

Tetapi sayangku,

ingin rasanya kukenang dirimu

seperti yang dilakukan kedua tanganku

 

 

Dalam menjamah,

jahanamnya gunung serta palungmu

dan lekak-lekuk tubuhmu yang indah itu

 

 

Lalu menghiasinya,

dengan taman bunga

dan beberapa kecupan

tepat di keningmu

 

Tak luput jua,

antologi tentang renjana

alegori matinya logika

kitab-kitab suci cinta

dan miniatur buah dada

 

 

Duhai kasihku,

pena dan kertasku

itu lebih penting

ketimbang kita berdua

 

 

Sebab di sanalah,

satu-satunya notasi intisari cinta

di dalamnya orang-orang kan temukan

kecantikanmu sekaligus kegilaanku

 

Sayangku,

aku ingin menghabiskan seluruh bakatku

untuk menulis ulang tentang kasihmu

atau, membumbui kembali setiap huruf

hijaiah dari alif hingga ya’ dengan titik

 

Ini memanglah pendirian,

yang tak sejalan dengan

riwayat pengembaraanku

juga hikayat cintaku

 

Tapi sayangku, maafkan aku

akan betapa daif dan kuyunya diriku

bilamana aku tak terlalu jantan

 

untuk memberimu risalah tambahan

Teruntuk,

menghitung noda-noda sundal

yang terlukis pada emas pundakmu

 

Teruntuk,

menghitung cucuran air mata

yang mengalir deras dari matamu

 

Teruntuk,

menghitung ikan-ikan berwarna merah

yang aku pelihara di telukmu

 

Teruntuk,

menghitung konstelasi gemintang yang kutemukan di balik celana dalammu

 

Teruntuk,

menghitung dusta buaya yang kusembunyikan diantara buah dadamu

 

Sekali lagi,

Ini adalah kredo yang tak selaras

dengan arogansi ego lelaki

dan jemawa dari kedua payudaramu

 

 

Selepas Kurusetra

 

Aku masih mencari-cari diri-mu

Di antara belukar wana giriwarsa

Aku masih mencari-cari diri-mu

Di antara arakan awan dirgantara

 

Aku masih mencari-cari diri-mu

Di antara gemerlap riuh prasada

Aku masih mencari-cari diri-mu

Di antara heningnya tirta amarta

 

Aku masih mencari-cari diri-mu

Di antara serat-serat manuskrip renta

Aku masih mencari-cari dirimu

 

Di antara kidung-kidung asmaradhana

Namun, masih saja tak kutemukan

Tapak tilas daksa-mu yang jatarupa

Entah karena hilang dimakan ingatan

 

Entah karena mengirap ditelan pawana

Tapi kasihku, aku akan tetap mencari-mu

Berbekal pangestu bak adipati dan cinta

Aku akan melacak jejak keberadaan-mu

Ditemani bak senopati dan senaya-nya

 

Dimulai dari mayapada

Tempat kita bersarak

Juga merasakan samsara

Bahkan sampai lokatraya

 

 

Dan, setelah melanglang buana

Sedekat-dekat kelana

Sejauh-jauh kembara

Pada akhirnya kutemukan jua

Nama-mu, yang terpampang paripurna

Dengan tuan yang entah siapa

Lengkung janur pun menguning

Seraya terang menyingsing

 

 

Lantas aku mendapatkan warta merta

Bahwa kau akan menggelar wiwaha

Seketika batinku keruh oleh prahara

Laiknya kalabendu tanpa kaladuta

 

 

Hitam-ku kian membuncah

Putihku semakin memucat

Merah padam sudah durja

Mengharu biru pula atma

 

 

Ternyata kau berusaha melarikan diri

Dari asmara yang kulumuri kalpasastra

Ternyata kau berusaha angkat kaki

Ketika kujadikan nirwana sebagai mahar cinta

Apakah selama ini aku melamar seringai jelaga, sehingga kau malah memilih untuk menikahi marabahaya?

 

 

Lelah kumencari sahaja

Di antara petuah para pujangga

Hingga, tualang-ku semakin lenggana

Berpangku di tangan nasib yang hina

 

Dengan berat kutanggalkan masa silam

Agar membias moksha bersama malam

Kutinggalkan seluruh hikayat kelam

Agar dapat meraba hikmah kalam

 

 

Kau, sungguh berhasil mengantarkan-ku

Ke persinggahan-persinggahan

Di mana aku harus menggagas jalan

Untuk bergegas menuju-mu

Meski sayangnya,

Kau menua bersama

Dengan dia yang

Tentu bukan aku

 

 

Tapi kasihku,

Sebelum setra dikutuk sabda

Akan aku maklumatkan satu ikrar

Perihal swarga loka yang akan kubakar

 

Dan aku bernazar,

Akan kubangun kembali swarga loka

Di atas puing-puing reruntuhan angkara

Apabila lentera cinta itu kembali berpijar

The following two tabs change content below.
Mochammad Aldy Maulana Adha lahir di Bogor, Jawa Barat—pada 27 Maret 2000. Bukunya: Timbul Tenggelam Philo-Sophia Kehidupan (2020); Timbul Tenggelam Spirit-Us Kehidupan (2020); Trias Puitika (2021). Pembaca yang suka menulis ini adalah penerjemah, kreator sekaligus kurator puisi, prosa dan cerpen. Dirinya, antara lain: email-genrifinaldy@gmail.com; instagram-@genrifinaldy; twitter-@mochaldyma

Latest posts by Moch Aldy MA (see all)