Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Juru Tanam Peradaban

Menjadi manusia seutuhnya tidak terbentuk begitu saja. Laiknya kehidupan, kita tidak bisa memilih tumbuh dan berkembang dalam lingkungan seperti apa. Tetapi untuk belajar menjadi baik, dari waktu ke waktu adalah sebuah keharusan. Sebagai agen sosialisasi pertama serta utama, peran orangtua amatlah penting. Mereka menjadi nahkoda, akan kemana dan bagaimana seorang anak nantinya.

Bagi saya, ayah ataupun ibu sama berharganya. Seperti apa saya dulu, hari ini, hingga kelak adalah hasil dari usaha dan upaya mereka. Masing-masing orangtua memiliki peran yang berbeda. Kendatipun, tujuannya sama. Berhubung bulan Desember bertepatan dengan perayaan Hari Ibu. Saya yang sedari sore menghabiskan waktu bersama dia buku catatan, bersampul hitam polos semakin yakin,  bahwa kisah dan kasih ibu tiada jeda.

Pembahasan tentang perempuan dan ibu, memang tidak ada habisnya. Sejarah pun tidak  pernah melewatkan, bagaimana perempuan memiliki peran dalam peradaban. Semua tercatat dengan amat apik. Seperti Khadijah bin Khualid, istri Rasulullah saw. Seorang perempuan bergelar Ummahatul Mu’minin. Selain beliau menjadi perempuan yang tidak pernah meninggalkan Rasulullah, dalam perjalanan dakwah beliau pun berperan dalam mendidik anak-anaknya. Hingga si bungsu Fatimah, menjadi perempuan sholehah yang dijanjikan surga. Menjalani dua tugas sekaligus, bukan pekerjaan yang mudah. Apatah lagi, mereka harus diuji dengan fitnah orang-orang kafir, kekeringan yang panjang dan pemboikotan jalur perdangangan oleh kaum Quraisy.

Kemarau panjang, kekeringan, dan kelaparan semakin bersahabat dengan kehidupan mereka saat itu. Namun Khadijah, si penyejuk hati Rasulullah, tidak pernah sekalipun mengeluh. Sedang usianya yang tidak lagi muda, ia masih harus  menyusui si bungsu Fatimah. Lantaran nutrisi  ibu saat itu tidak terpenuhi, hingga ASI yang keluar, berupa darah. Baginya, nyawa sekalipun tidak berarti apa-apa, jika untuk kepentingan umat Nabi dan anak-anaknya

Apa yang dialami oleh Khadijah, bagaimana beliau berjuang dengan segala upaya melindungi anak-anaknya, adalah representasi dari kehidupan masa kini. Bukan hanya Khadijah, siapapun itu ketika menyangkut keluarga, terlebih ibu dan anak, pastilah akan melakukan hal serupa. Tak heran jika dalam kalender tahunan, terdapat hari yang diistimewakan. Hari Ibu, setiap tanggal 22 Desember.

Peringatan Hari Ibu, adalah sebuah penghargaan terhadap sosoknya dalam keluarga, baik ayah ataupun anak. Meski hanya bersifat momentum, memuliakannya mestilah setiap saat dan tak berkesudahan. Setiap anak memiliki caranya sendiri untuk mengekspresikan cinta kepadanya. Barangkali dengan memeluknya setiap pagi, atau mendekapnya penuh harap, dalam doa di sepertiga  malam.

Selain dianugerahi cinta yang maha luas. Ibu juga memegang andil besar dalam proses tumbuh dan berkembang anak, mengenal dunia. Seperti kata dr. Aisyah Dahlan, “Ketika anak dibesarkan oleh seorang ibu yang bijak, maka bijaklah anaknya. Tetapi seorang ayah yang bijak belum tentu mampu melakukan hal serupa.”  Barangkali ini terjadi,  sebab naluri seorang ibu jauh lebih besar. Bagaimana tidak, ia telah mendidik anaknya setiap saat, sedari dalam kandungan. Pembagian kerja rumah tangga yang telah membudaya sejak dahulu, di mana ayah mencari nafkah hidup dan ibu lebih banyak di rumah, menjadi alasan kuat mengapa ia selalu disebut sekolah dan tempat untuk “pulang”.

Perempuan dikenal dengan kemampuan multitasking, memiliki keterampilan dalam melakukan beberapa aktivitas berbeda dalam waktu yang sama. Sekarang ini semakin banyak perempuan yang terus membangun karir, tengah ia pun menjadi seorang ibu. Barangkali sering kita temui, ketika waktu pulang sekolah tiba, ada banyak ibu-ibu mengantri di depan gerbang sekolah, dengan kening mengerut di bawah paparan sinar matahari. Ada yang berseragam, ada yang datang sembari membawa dagangan, bahkan ada yang betisnya sedikit dilumuri lumpur. Meninggalkan pekerjaan, pun mengabaikan istirahat demi sang buah hati, kembali ke rumah dengan aman.

Sebagai seorang anak, saya banyak belajar dari seorang perempuan yang akrab saya panggil dengan sebutan, “mama”. Beliau sedari kecil melewati lika-liku hidup yang tidak mudah, di usia yang seharusnya dihabiskan untuk bermain dan belajar, harus ia habiskan dengan membantu saudara dalam bisnis. Katanya kalau mau sekolah, syaratnya kudu kerja. Namun positifnya adalah, ilmu yang ia dapatkan sedari kecil membuatnya mampu struggling hingga hari ini.

Selain itu, beliau juga menikah di usia yang masih terbilang muda. Laiknya Siti Nurbaya, yang menikah atas dasar perjodohan. Menikah muda tidak membuatnya minim cara mendidik anak. Beliau bukan tipe perempuan romantis, walakin selalu bijak dalam memberi nasihat. “Jangan pernah menyakiti hati sesama manusia, tetap sederhana, dan selalu bersyukur,” pesannya setiap kali kami berbincang di penghujung waktu, menunggu senja.

Saya paham betul, mengapa beliau tidak pernah bosan dengan mantra jitunya itu. Sebagai anak pertama, masa-masa tersulit dalam hidup masih terekam jelas dalam benak saya, hingga hari ini. Pernah sekali waktu, karena kehabisan beras, makanan pokok kami ganti dengan jagung muda rebus. Jangan tanyakan lauknya, jelas tidak ada. Namun, beliau tidak pernah menuntut banyak, selain berserah dan terus berusaha. Ah, perempuan yang memiliki prinsip hidup sederhana ini, selalu mampu membuat saya jatuh cinta setiap hari, pada orang yang sama, namun dengan cara yang berbeda.

Seorang ibu memang selalu istimewa, sebuah pekerjaan yang mesti dipelajari setiap hari. Menjadi seorang ibu, laksana juru tanam peradaban. Dari rahimnyalah, lahir generasi penerus bangsa. Bahunya harus kuat memikul beban, hatinya mesti tangguh menahan amarah, serta selalu memiliki jiwa  yang lapang, kalau-kalau ekspektasi terhadap anak tidak sesuai harapan. Tak heran jika dalam agama pun, kedudukan seorang ibu berkali-kali lipat lebih mulia dibandingkan ayah. Sebab mengandung dan merawat anak manusia, bukan perkara mudah, bahkan ketika seorang anak lahir ke dunia, hidup tidak pernah memberinya jeda untuk beristirahat.

Menulis perihal ibu, tidak akan pernah berujung. Laiknya kisah Khadijah dengan segala pengorbananya, ibu kita pun akan berlaku sama. Selayaknya, atas segala ikhlas dan sabar yang luas, jangan lupa untuk selalu berterimakasih. Selamat Hari Ibu, untuk seluruh perempuan hebat. Ada ataupun telah tiada, ia abadi di dalam jiwa.

The following two tabs change content below.

Astiwi Ahmad

Astiwi Ahmad, lahir di Bantaeng, 17 Oktober 1996. Aktif di lembaga Masyarakat, Karangtaruna Pangngadakkang Desa Biangloe, Kecamatan Pajukukang, Kabupaten Bantaeng. Guru Pendidikan Sosiologi/Pendidikan Sejarah di SMAN 4 Bantaeng. Peserta kelas menulis Rumah Baca Panrita Nurung.