In Balancing

“Segala sesuatu (di alam semesta ini) Kami ciptakan serba-berukuran.” (QS Al-Qamar [54]: 49)

Menjajal awal tahun 2021 dengan tidak ke mana-mana, hanya mengepompong di mukim. Ini semacam balas dendam atas tertawannya saya selama tiga pekan diluar kota, hingga di pucuk tahun. Bahkan, malam pergantian tahun, saya masih di Bantaeng. Paginya, balik ke Makassar. Saya diterungku sangkala, sebab menjadi kurir, mengantar sekotah kebutuhan seorang kerabat,  pasien Covid-19 dan penjaganya, yang diisolasi di rumah sakit selama 16 hari. Masa isolasi dinyatakan berakhir, setelah hasilnya negatif dengan tiga kali swab.

Telah dua akhir pekan saya tunaikan. Dan, selama memangsa waktu itu, seringkali saya berjalan kaki di depan mukim. Mencicil sekian ribu langkah, demi memancing keluarnya miracle endorphin, yang bersemayam dalam tubuh. Sekadar mengulangi fatwa Shigeo Haruyama, tentang keajaiban morfin, hormon kebahagiaan dalam tubuh, yang bisa diraih dengan mudah dan murah, hanya berjalan kaki sejumlah 5.000 langkah setiap harinya.

Berlapik aktivitas inilah, beberapa kali bersua pasutri bersama seorang anaknya, yang sementara ia latih, belajar naik sepeda. Berkendara sepeda mini, dibantu dua roda kecil sebagai penyeimbang, si anak mulai bersepeda. Dari hari ke hari, dua roda bantu itu semakin dinaikkan. Hingga pada akhirnya, di perjumpaan mutakhir saya, anak itu benar-benar sudah mahir bersepeda. Tiada lagi roda bantu sebagai penyeimbang, karena ia sudah mahir dalam keseimbangan. Modal utama bersepeda adalah keseimbangan, in balancing

***

Masih dalam suasana menjajal awal tahun. Seorang sahabat dari luar kota, menuntaskan janjinya pada saya, ingin bersua sekaligus mengambil buku pesanannya. Maklum, selain suka pigi-pigi, saya pun masih menjalani profesi sebagai penjual buku. Setidaknya, menjadi penjaga toko buku milik sendiri, yang sudah saya setubuhi lebih dari seperempat abad.

Sahabat sekaligus pelanggan saya ini, sudah teruji kesetiaannya. Sejak mahasiswa S1, hingga baru saja meraih gelar doktornya, masih rutin beli buku. Istimewanya lagi, setiap datang bertandang selalu saja terjadi perbalahan atas topik apa saja. Kali ini, topiknya di seputar pandemi Covid-19 jilid dua. Kelihatannya, pagebluk jahanam ini, latah pada demo berjilid-jilid itu. Uritanya, serbuan pagebluk jilid dua, lebih transparan, terstruktur, dan sistematis. Bak kecurangan pemilu (?)

Perbalahan mengerucut pada sikap jemaah atas pagebluk di masjid dekat rumahnya. Katanya, jemaah terbelah dua, ada yang tetap ngotot merapatkan saf berhadapan dengan pengusung protokol kesehatan. Sehingga, jemaah terbelah, sayap kiri rapat safnya, sementara sayap kanan berjarak, sesuai tanda silang yang menempel di tegel. Jadi, di mesjidnya terjadi keseimbangan dalam laku beribadah. Keseimbangan lakon sebagai titik temu, sekaligus jalan keluar, in balancing.

***

Sejak selesai berbalah dengan sahabat, setiap saya ke masjid dekat mukim, mulai mengamati laku jemaah. Rupanya, ada kemiripan lakon. Di bagian kiri, rata-rata dipilih oleh jemaah yang berkukuh dengan semboyan lurus dan rapatkan saf, sementara di sisi kanan, diisi oleh Jemaah penganut jaga jarak, longgarkan saf. Adapun saya, nyaris selalu memilih saf kedua, selurus di belakang imam. Posisinya berada di antara rapatkan saf dan jarakkan saf.

Jumat kedua di awal tahun menyata. Saya pun ikut berjumat. Saya memilih saf pertama, nyaris di belakang imam salat. Sesuai jadwal khatib, kali ini khatibnya lulusan Universitas Islam Alauddin Makassar, bergelar doktor. Sesudah mata acara rutin pengumuman dari pengurus masjid, plus azan, khatib mulai mendedahkan khutbahnya.

Pastilah situasi awal tahun yang berpandemi menjadi pengantar. Saya berusaha khusyuk mendengar ujar-ujar khatib. Benar saja adanya, godaan retorik khatib menghalau segala bujuk rayu kantuk. Diungkapkannya perjumpaan dua ilmuwan muslim di masa silam. Tatkala Ibnu Sina mengunjungi Al-Biruni, yang kala itu sedang ada wabah. Ibnu Sina menolak pelukan Al-Biruni, sebelum diberikan cairan cuka buat mencuci tangannya dan berganti pakaian.

Alur khutbah makin menukik. Dikatakannya, menurut Ibnu Sina, ada tiga cara menyikapi penyakit. Jangan panik, bersikap tenang, dan bersabar. Panik adalah separuh dari penyakit, sementara sikap tenang merupakan sebagian dari obat, dan kesabaran awal dari kesembuhan. Resep dari Ibnu Sina ini, saya batinkan, sebagai cara menyeimbangkan diri dalam menghadapi penyakit, termasuk pagebluk sontoloyo, Covid-19. Dibutuhkan keseimbangan dalam menyikapinya, in balancing.

***

Di pucuk tahun kemarin, saat menjalani sebagai kurir makanan dan kebutuhan lainnya, atas kerabat yang disinggahi Covid-19, di sela-sela aktivitas, saya mengeja satu buah buku berjudul, Menyusuri Jalan Cahaya, anggitan K.H. Husein Muhammad.  Ada satu esai yang mencuri perhatian saya, bertitel,”Menjaga Alam, Menghidupi Manusia”.

Ditorehkankan oleh Kiyai, dalam sejumlah ayat Al-Quran, Allah menyatakan bahwa seluruh alam semesta adalah milik-Nya. Jika manusia diberi hak atau izin memanfaatkan alam bagi kebaikan dirinya, maka manusia diperintahkan untuk bertindak sesuai aturan-aturan moral kemanusiaan.  Artinya, manakala manusia melenceng dari mandat moral kemanusiaan, ketidakseimbangan semesta pun mewujud. Kelihatannya, itulah yang terjadi saat ini.

Pagebluk jahanam bin sontoloyo, Covid-19, sungguh kehadirannya mengubah banyak tata hidup dan kehidupan. Gebukannya memaksa para pelata sejagat agar kembali menata kehayatan. Seperti anak kecil tertatih berlatih naik sepeda, guna mendapatkan keseimbangan, atau jemaah masjid yang bertengkar di awal pandemi, kini menemukan keseimbangan dalam laku ibadah. Pun, kiat sehat ala Ibnu Sina, atau undangan Pemilik semesta, mengajak pada serba keberukuran, agar ada keseimbangan, in balancing.

 

Ilustrasi: mozaik.inilah.com

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *