Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Pembelajaran Daring diperpanjang, Kita bisa apa?

Pemerintah kembali memperpanjang sistem belajar dari rumah (BDR) secara daring dikarenakan pandemik COVID-19 belum berarkhir. Kebijakan ini dikhawatirkan akan memberi risiko penularan jika sekolah tatap muka dibuka. Pada umumnya saat ini baik guru dan siswa dapat beradaptasi dengan situasi ini. Walaupun demikian, tidak dapat dimungkiri bahwa hal ini masih menjadi perdebatan di kalangan orangtua siswa. Ada yang bisa menerima dan ada juga sebaliknya yang menginginkan sekolah tatap muka dengan pertimbangan pembelajaran dari rumah tidak berjalan efektif dan efisien. Terlebih lagi perubahan proses belajar yang begitu tiba-tiba, membuat guru, siswa, dan orangtua membutuhkan waktu untuk memahami kurikulum belajar yang telah disesuaikan. Dalam hal ini, guru dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam memberikan pembelajaran daring/jarak jauh, sehingga tujuan pembelajaran tetap dapat tercapai. Siswa diminta lebih disiplin selama pembelajaran dari rumah, serta orangtua/wali diharapkan dapat lebih sabar dalam mendampingi anak selama proses belajar dari rumah.

Asosiasi Psikolog Sekolah Indonesia wilayah Sulawesi Selatan (APSI Sul-Sel), April 2020 telah mengeluarkan hasil survey yang diisi 150 siswa SMP, SMA, dan mahasiswa terkait kesulitan belajar siswa selama belajar dari rumah. Kesulitan belajar yang dimaksud dalam konteks ini adalah suatu kondisi yang menyebabkan siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, yang dimanifestasikan dalam bentuk perilaku baik pada aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif. Hasil survey menunjukkan bahwa siswa/mahasiswa kurang mampu berkonsentrasi saat belajar (52%), siswa menganggap sebagian besar materi pelajaran sulit dipahami walau sudah berusaha mempelajarinya (55,3%), siswa membutuhkan tambahan waktu menyelesaikan tugas-tugas (48%), perhatian mudah teralihkan oleh hal-hal di sekitar sehingga kurang fokus dalam belajar  (55,3%), dan mudah mengantuk saat belajar di rumah (46,7%).

Selain itu, beberapa faktor mempengaruhi kesulitan belajar selama BDR di antaranya: siswa/mahasiswa mudah bosan jika belajar mandiri (70,7%), siswa/mahasiswa merasa kelelahan/capek karena aktivitas berlebihan di rumah (51,3%), kurang menunjukkan minat pada mata pelajaran/kuliah (52%), suasana rumah ribut/ramai (56,7%), jaringan internet kurang baik (65,3%), guru/dosen tidak mampu menjelaskan materi pelajaran dengan baik (54,7%), guru/dosen hanya memberi tugas tanpa umpan balik (64%), serta metode mengajar guru/dosen membosankan (60%). Di sisi lain, dilansir dari laman Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan siswa dan guru dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama masa belajar di rumah akibat pandemi Covid-19 sangat minim. Survei yang dilakukan dengan melibatkan 1.700 siswa ditemukan bahwa tingkat interaksi antara guru dan siswa hanya 20,1 persen.

Data tersebut menunjukkan pada umumnya guru masih memiliki hambatan menerapkan sistem pembelajaran daring. Guru terkesan dituntut melakukan pembelajaran daring yang pada dasarnya belum pernah dibayangkan sebelumnya. Siswa juga seolah “dipaksa” menerima proses belajar yang ada. Selain itu, ketidaksiapan orangtua juga dapat terlihat dari banyaknya keluhan orangtua terkait sistem belajar daring yang dianggap merepotkan seperti “tugas tambahan” bagi orangtua.

Fenomena seperti ini dapat menjadi salah satu pemicu munculnya perasaan tidak menyenangkan baik itu dari guru, siswa, maupun orangtua. Menurut hasil survey Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tentang pembelajaran jarak jauh, rasa tidak menyenangkan dapat menimbulkan kekerasan pada anak selama masa pandemik dipicu kondisi emosi orangtua yang kurang stabil. Kesulitan anak dalam memahami materi pelajaran dapat menjadi salah satu penyebab munculnya reaksi emosi negatif pada orangtua berupa bentakan, memarahi, atau bahkan sampai memukul anak, yang semua itu dapat mempengaruhi perkembangan emosi dan perilaku anak menjadi agresif dan kasar.

Sebagai langkah menangani kesulitan belajar, dan mencegah terjadinya kekerasan anak selama belajar dari rumah dapat dilakukan beberapa pertimbangan penting seperti, pertama, buat tujuan pembelajaran yang lebih spesifik dan diarahkan pada perubahan tingkah laku yang dapat diukur/diamati. Kedua, sebelum belajar pastikan anak dalam kondisi siap menerima pelajaran. Untuk menyiapkan kesiapan belajar guru/orangtua dapat melakukan serangkaian kegiatan kecil berupa senam ringan, peregangan, ataupun dengan permainan edukatif ringan. Ketiga, berikan umpan balik langsung pada siswa untuk tiap topik materi belajar, hindari untuk berfokus hanya pada pemberian tugas rumah. Keempat, saat di rumah, situasikan tempat belajar yang nyaman bagi anak. Kelima, jika orangtua dalam situasi emosi kurang menyenangkan, lakukan gerakan stabilisasi emosi secara sederhana (misal dengan relaksasi, perbanyak dzikir bagi yang muslim) serta hindari melakukan kontak dengan anak sampai orangtua merasa sudah stabil kembali.

Selain mempertimbangkan lima hal di atas, perlu diketahui fasilitator belajar di rumah bukan hanya tugas ibu, namun juga perlu melibatkan peran ayah dan juga  significant other dalam membantu mendampingi anak belajar. Perlu diingat, peran orangtua mendampingi anak belajar bukan menjadi pengganti guru, sehingga normal jika orangtua tidak paham/tidak tahu kemudian meminta bantuan guru untuk menjelaskan materi pada anak. Jika semua hal di atas sudah dilakukan, maka penting mengevaluasi pembelajaran sesering mungkin dengan anak. Tanyakan kondisi/perasaan anak selama belajar daring. Dan terakhir, dampingi dan berikan batasan waktu bagi anak menggunakan gadget untuk mengantisipasi munculnya masalah baru seperti kecanduan bermedia sosial dan bermain game.

Pembelajaran daring atau belajar dari rumah hingga saat ini masih menjadi solusi terbaik agar anak dan semua elemen yang terlibat dalam lingkup pendidikan terhindar dari wabah Covid-19. Walau demikian apapun alasannya tidak ada pembenaran dalam melakukan kekerasan pada anak saat belajar, sehingga yang dibutuhkan adalah metode dan inovasi kurikulum belajar yang berkelanjutan agar anak tetap dapat menikmati proses belajar selama di rumah.  

The following two tabs change content below.

Rukiana Novianti Putri

Ketua Asosiasi Psikolog Sekolah Indonesia (APSI) Wil. Sul-Sel. Dosen BKPI Unismuh Makassar

Latest posts by Rukiana Novianti Putri (see all)