Sebuah Obituari Kang Jalal: Adiós Maestro

Semalam setelah mentalak gawai seharian, saya duduk tak bergeming men-scroll informasi di jendela dinding Fb: Jalaluddin Rakhmat meninggal dunia. Informasi ini lekas membuat saya bagai patung duduk sendirian di atas sofa, merasa bahwa informasi ini tidak sedang mengabarkan kenyataan yang sebenarnya.

Hati saya menolak menangis masih sanksi bahwa informasi ini hanya rekaan belaka. Saya buka beberapa grup WA mencari cara agar menepis informasi yang tidak ingin saya terima. Tapi, kenyataan itu benar-benar terjadi. Setelah melawan sakit beberapa hari, beliau dinyatakan meninggal setelah empat hari sebelumnya mendiang istrinya lebih dahulu jua wafat.

Pagi ini saya memutar kembali ceramah-ceramahnya, berusaha menautkan diri seperti seorang murid yang sedang berguru langsung kepada gurunya. Saya sadari ini cara tidak masuk akal untuk mengyakini bahwa beliau masih ada duduk seperti biasa dalam majelis ilmu yang dipimpinnya.

Ada banyak rekaman ceramahnya yang saya simpan baik-baik dalam laptop, dan semua itu sering saya putar sama seperti ketika saya mendengarkan radio.

Ada masa ketika saat cuci piring, mencuci pakaian, rebahan, bahkan menjelang tidur, suara keilmuan Kang Jalal menjadi backsound rumah saya.

Belakangan, suaranya nyaris lebih banyak saya dengarkan ketimbang tulisan-tulisannya, yang sudah lama saya baca melalui buku-bukunya.

Sekarang, era ketika banyak kanal maya menjadi sesak diisi apa saja, Kang Jalal tidak ingin ketinggalan. Setelah lama mengangkat pena, dan belum juga mengering tintanya, ia turut nimbrung memanfaatkan dunia yang paling banyak disorot umat manusia saat ini. Sebagai ahli komunikasi, ia tentu memahami bagaimana dakwah mesti beradaptasi dengan kemajuan teknologi informasi terbaru.

Kang Jalal tidak sekadar ilmuwan par excellent, ulama, penulis, dan ahli komunikasi, melampaui itu semua ia bahkan menjadi jalan kecil bagi kehidupan ruhaniyah saya.

Tulisan dalam buku-bukunya, dan juga rekaman ceramah-ceramahnya menjadi oase bagi saya, ketimbang harus memilih beragam sajian dakwah Islam oleh mubaligh kekinian yang belakangan lebih banyak berisi konten remeh temeh. Sehimpun tulisan dan ceramahnya sudah lebih dari cukup bagi saya yang membuat seolah-olah menemukan mutiara di antara jelaga dan buih ombak.

Ia guru tanpa mesti mengenal dengan baik murid-muridnya yang menyebar seantero negeri. Justru orang semacam sayalah, yang mesti mengenal dengan baik biografinya luar dalam. Kang Jalal lebih dari sekadar nama, ia bagai cahaya untuk sekumpulan laron. Lampion di kegelapan malam.

Tentu melalui buku lah saya kali pertama mengenalnya. Dan, buku itu adalah buku legendaris yang jadi buah bibir bagi aktivis mahasiswa di saat itu: Rekayasa Sosial Reformasi, Revolusi, atau Manusia besar. Buku tidak berukuran besar dan gampang dibawa kemana-mana.

Buku itulah jalan pembuka bagi dunia aktivisme saya sewaktu di kampus beberapa silam tahun. Pikiran-pikirannya menjadi buah bibir sebelum merekah menjadi syaraf kesadaran bagi aktivis kampus kala itu. Saya bahkan beranikan diri membedah bukunya itu setelah dengan beberapa orang kawan membentuk kelompok kajian bedah buku rutin di salah satu kos mahasiswa.

Tidak banyak kesulitan memahami buku itu untuk ukuran saya ketika masih menjadi mahasiswa baru. Saya sekali membatin apakah saya demikian cerdas sehingga tidak merasakan hambatan demi memahami bukunya.

Tapi, itu kesombongan yang dibuat-buat dan tak ada artinya dibandingkan tulisan Kang Jalal yang fasih, mengalir dan paradigmatik. Suatu tipikal gaya menulis yang kelak akan saya tahu sebagai ciri-ciri orang yang memiliki keistimewaan.

Rekayasa Sosial, dengan keistimewaannya, sama kedudukannya dengan buku Analisis Gender-nya Mansour Faqih, menjadi kitab pegangan di semester-semester awal. Entah mengapa apa pun tema kuliah saat itu, kedua buku ini bisa menjadi kunci Inggrisnya. Dengan fungsi  a la pisau Swiss, kedua buku ini bisa menjelaskan banyak hal, terutama berkaitan dengan mata kuliah di jurusan saya, sosiologi.

Semalam seorang kawan memosting melalui dinding Fb-nya , kepergian beliau membuat yatim siapa saja yang menjadikannya sebagai teladan. Mungkin itu juga sebab saya masih belum bisa menerima kepergiannya.

Perasaan yang hampir sama, saya alami di waktu yang tidak lama, saya tidak bisa menerima kepada seseorang yang berucap syukur atas kepergiannya. ”Alhamdulillah” katanya, dalam statusnya, saat mengetahui Kang Jalal telah tiada. Orang ini takabur dan lupa ia sebenarnya tidak dalam keadaan setelah berbuka puasa sehingga mendorongnya berucap syukur.

Orang ini, saya pastikan adalah orang yang lupa jika mendengar seorang anak manusia wafat, mesti mengucapkan ”Innalillahi wa innailaihirojiun,” dan bukan melakukan sebaliknya seolah-olah kepergian seseorang untuk selamanya adalah kesempatannya untuk meraih kebahagiaan.

Orang semacam ini adalah orang-orang yang sama, yang bisa ditemukan dalam pengajian-pengajian yang sebenarnya tidak sedang mengamalkan Islam, melainkan saling membagi kebencian dari satu jamaah ke jamaah lainnya.

Orang inilah, yang sering disebut Kang Jalal melalui kajian-kajiannya yang suka mengkampanyekan islamisme, suatu gerakan politik identitas yang dipanas-panasi informasi yang salah (dan kebencian), dan merasa sedang membela Islam padahal itu hanya wujud egotismenya.

Orang inilah yang saya tahu, seakan-akan sedang berjihad di medan perang, pernah dengan bangga berpose memanggul senjata laras panjang dan menjadikannya sebagai foto pajangan dalam beranda facebooknya.

Orang inilah juga yang saya tahu masih kesulitan membedakan antara yang mana mesti didahulukan antara ketidaksukaannya kepada seseorang dengan rasa belasungkawa, ketika seorang anak manusia lebih duluan wafat dibanding dirinya. Jangan bakar taman surgamu, kata judul buku Kang Jalal.

Kenyataan yang lain, saya menyesal setiap beliau datang ke Makassar tidak semua kesempatan itu saya manfaatkan sebaik mungkin. Sama seperti seorang anak yang malu-malu setiap beliau datang, saya hanya menjadi  seorang yang hanya bisa memandangnya beberapa meter dari sudut ruangan melihatnya dengan rendah hati ketika ia dikerumuni murid-muridnya.

Dua atau tiga tahun lalu, adalah perjumpaan terakhir ketika beliau mengisi ceramah setelah kegiatan yang dicanang diboikot dan ditolak oleh segerombolan ormas intoleran.

Kang Jalal bukan tipe ulama yang pilih medan, di mana pun ia terbuka memberikan ceramahnya, meski di tempat-tempat yang tidak layak. Saya bahkan pernah melihatnya, dalam suatu rekaman video, berceramah hanya duduk-duduk di pinggir panggung, padahal itu adalah kegiatan dalam rangka maulid Nabi.

Ia persis meneladani sikap Rasulullah, yang tawadhu ketika menyampaikan setitik demi setitik ilmu. Di hadapan jamaah yang kebanyakan ibu-ibu itu, ia duduk setara tidak ada bahasa mendakik-dakik, tapi malah seperti sedang mengobrol saja. Saya sendiri menyaksikan itu tanpa menyadari berurai air mata.

Kang Jalal  jenis intelektual yang tiada kembarnya. Kedudukannya sebagai intelektual publik menjadi jembatan diskursus bagi banyak orang untuk menyelami pikiran-pikiran besar dunia. Perannya sebagai pemuka agama, menjadi soko guru yang mempopulerkan kecintaan kepada Nabi dan keluarga sucinya tidak sebatas simbol.

Kiprah hidupnya sulit ditandingi. Kedermawanannya, kesuhudannya, ketawadhuannya, penghormatannya, dan tentu juga kecintaannya terhadap dunia ilmu–dan ini belum lengkap menggambarkan kualifikasi kepribadiannya.

Sekarang, berkat kepergiannya, mata air keteladanan itu membuat banyak orang menitikkan airmata. Ia pergi meninggalkan lubang demikian dalam di hati banyak orang, sesuatu yang tak akan mungkin digantikan siapa pun.

Adiós maestro, Kang Jalal.

Bahrul Amsal

Blogger paruh waktu dan ayah dari Banu T. El Baqir. Penulis buku "Jejak Dunia yang Retak" (2012).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *