The White Tiger: Kemiskinan itu Menjengkelkan dan Karena itu Harus Dilawan

”Jalan raya adalah hutan rimba. Pengemudi yang baik harus mengaum untuk maju!”

(Kutipan dialog The White Tiger)

Kemiskinan adalah keadaan yang menjengkelkan, dan karena itu membuat setiap orang ingin sesegera mungkin meninggalkannya.

Siapa yang ingin jadi kuli seumur hidup dan hanya sanggup tidur beralaskan tikar selamanya, sementara sebagian lainnya tanpa harus banyak membuang keringat dapat tidur menggunakan kasur permadani. Siapa yang mau putus sekolah, sementara banyak juga orang dengan mudah melanjutkan pendidikannya sampai ke luar negeri. Siapa juga mau, dipandang remeh selamanya jika ada orang yang tidak berbuat apa-apa tapi mendapatkan kehormatan selama tujuh generasi.

Dalam studi ilmu-ilmu sosial, kemiskinan sering dilihat dan disebabkan faktor struktural dan kultural. Faktor struktural memandang kemiskinan adalah realitas ciptaan struktur ekonomi dan kekuasaan. Masyarakat miskin tidak dengan sendirinya miskin karena sengaja dimiskinkan.

Sedangkan faktor kultural menyatakan sebaliknya, kehidupan ini baik-baik saja, sehingga kemiskinan ini soal mental. Banyak orang terjerat kemiskinan karena mereka memang malas dan enggan bekerja.

Balram Halwai, dalam The White Tiger adalah tipikal orang yang tidak mudah putus asa. Ia bukan orang bemental malas, kurang bersih, tidak disiplin, dan bodoh, suatu karakter masyarakat miskin tipikal pandangan yang mengatakan kemiskinan adalah melulu masalah kultural.

Ya, The White Tiger bisa dibilang film berlatar kehidupan masyarakat miskin India dengan nuansa satir, yang membantah dengan cara mempermainkan persepsi mengenai kemiskinan seperti yang jadi keyakinan kelas elite selama ini.

Kemiskinan selama ini bukan keadaan yang terbentuk secara alami, sama seperti terbaginya kelas masyarakat menjadi dua kelas utama: si kaya dan si miskin, yang dalam The White Tiger, gamblang dinarasikan melalui si narator, yakni Balram Halwai sendiri.

Di India, kemiskinan bisa lebih parah lagi dikarenakan keadaan ini dikukuhkan melalui sistem kasta yang telah berlaku berabad-abad lamanya. Jika konsep ketuhanan menjadi tolok ukur hirarki masyarakat, di India terdapat 36 juta dewa-dewi yang berarti sebanyak itu pula derajat kasta dalam masyarakat India.

Kisah The White Tiger merupakan perjalan kehidupan Balram Halwai, yang semula adalah bagian dari masyarakat miskin di desa Laxmangarh, dan selanjutnya melakukan tindakan kriminil yang membuatnya menjadi juragan taksi hanya dalam jangka waktu tiga tahun.

Tindakan kriminil apa yang dilakukan Balram, yang membuatnya seketika kaya raya, yang otomatis membuatnya menjadi buronan, meski akhirnya itu tidak betul-betul terjadi?

Di sinilah saya sarankan Anda segera menonton dan merasakan sendiri, bagaimana kemiskinan, seperti yang dirasakan Balram, bisa berubah menjadi balas dendam kelas, yang membuatnya bertindak di luar dugaan dengan melegitimasi kelakuan itu sebagai haknya untuk merebut kesejahteraan yang selama ini dirampas kaum kaya.

Kemiskinan kandang ayam

Bocoran saja, white tiger adalah sematan seorang pejabat distrik di desa Balram kepada dirinya saat menyaksikan kecerdasan Balram membaca tulisan berbahasa Inggris di atas papan tulis. Ia satu-satunya murid yang bisa membaca di kelas tanpa bangku dan meja itu, dan hanya beralaskan tanah.

Disebut harimau putih karena dari sekian generasi harimau, hanya ada satu harimau putih yang akan dilahirkan alam. Dan di desa Balram, dialah White Tiger-nya, satu anomali di antara realitas kemiskinan yang mengepungnya.

Sayang, meski dijanjikan beasiswa melanjutkan pendidikan di luar dari desanya, Balram gagal menggunakan kesempatan emas itu lantaran masalah finansial. Jadilah ia kuli di warung kopi sebagai pemukul bahan bakar berupa arang hitam.

Kemiskinan masyarakat India dalam narasi Balram sama seperti kandang ayam yang memenjarakan masyarakat miskin di dalamnya. Masyarakat miskin India adalah ayam potong, dan seekor ayam potong sampai kapan pun tidak akan bisa keluar dari takdirnya. Dikurung bersama ayam-ayam lainnya dan akan mati diujung pisau tukang sembelih. Ini hanya masalah waktu saja.

Balram tidak ingin menjadi satu di antara jutaan ayam-ayam yang hidup di dalam kandang kemiskinan, dan akan siap dilumat oleh kaum kaya yang menikmati darah dan keringat mereka.

Dan kesempatan itu datang setelah ia melamar menjadi sopir pribadi anak tuan tanah di desanya. Menjadi pelayan setia, sehingga di tengah cerita menjadi pribadi yang cerdas tapi lumayan licik mengubah nasibnya. Di saat inilah kelak, ia akan menjadi harimau putih, dengan melumat majikannya, tuan yang menganggapnya jinak dan setia.

Perpaduan Taxi Driver, Joker, dan Parasite

The White Tiger selain dibintangi Adarsh Gourav yang berperan sebagai Balram Halwai, juga diperankan Rajkummar Rao sebagai Ashok, dan Priyanka Chopra sebagai Pinky. The White Tiger disutradarai dan ditulis oleh sineas Iran-Amerika Ramin Bahrani dan diadaptasi dari novel berjudul serupa karya Arvind Adiga, dan menjadi film pembuka tahun 2021 bagi Netflix.

Sejak awal, narator yakni Balram sendiri, sudah mengetengahkan nuansa mengejek kepada kaum kaya yang selama ini menganggap diri sebagai kelas mapan, yang dalam kacamata Balram kerap mengambil keuntungan melalui tindakan korup. Intonasi dan gaya berceritanya menyiratkan penekanan bahwa kaum miskin tidak selamanya dapat diperlakukan semena-mena meskipun mereka tidak memiliki apa-apa. Kaum miskin tidak sebodoh anggapan kelas elite, begitu singkatnya.

Plot demi plot melalui jalan hidup Balram menyiratkan gaya bercerita yang sama seperti Travis Bickle, seorang sopir taxi dalam Taxi Driver (1976) yang diperankan Robert De Niro. Tapi, dengan aura marah dan kecewa terhadap kehidupan yang umumnya dibangun di atas korupsi, ketidakadilan, dan kesenjangan sosial, yang berhasil ia balaskan dendamnya, juga lebih mirip dengan nuansa satiris yang ditemukan dalam sosok Arthur Fleck di film Joker yang sukses dibintangi Joaquin Phoenix 2019 lalu.

Kemiskinan, kekalahan, depresi, dan seluruh masalah yang ditimbulkan peradaban yang membagi masyarakat menjadi berkelas-kelas mendorong Balram melakukan pembunuhan dengan menggelapkan uang majikannya.

Bagaimana mungkin, selama menjadi supir, ia malah sering mengantar majikannya melakukan transaksi politik demi melancarkan urusan bisnis, dan di saat itu hampir tiap hari ia melihat uang dalam jumlah besar bertas-tas yang dipakai sebagai uang pelicin. Di titik ini kemiskinan dan politik menjadi demikian berjarak, dan itu dilihat Balram sebagai kenyataan pahit.

Dari sisi ini, penonton diam-diam diajak memahami tindakan Balram yang tidak sepenuhnya dapat disalahkan. Balram, seperti juga Joker, adalah bisa bertindak di luar dugaan dikarenakan disituasikan melalui kehidupan yang tidak berpihak kepada mereka.

Kecerdasan dan kelicikan yang diramu Balram, dan membuatnya dapat memanfaatkan situasi untuk keluar dari jerat kemiskinannya, mengingatkan juga kepada keluarga Kim Ki-taek dalam Parasite (2019). Dengan memanipulasi kehidupan majikannya, keluarga Kim Ki-taek menggunakan segala macam cara demi mengubah keadaan ekonomi keluarganya. Tidak jauh berbeda dengan itu, Balram melakukan cara yang lebih radikal lagi dengan membunuh majikannya.

Anti kolonialisme

Dari beberapa ulasan  mengenai film ini, ada yang menurut saya luput dinyatakan, yakni isu anti kolonialisme di negara-negara dunia ketiga. Padahal, sejak awal narasi yang diceritakan Balram sudah menyindir ini dan menjadikan hal ini sebagai background narasinya. Masa depan dunia bukan lagi milik kaum kulit putih, melainkan kaum kulit kuning dan cokelat. Yang dimaksud Balram dalam hal ini adalah negeri-negeri di kawasan Asia, dan itu adalah India dan Cina.

Jadi dapat dirasakan bagaimana narasi kemiskinan yang melekat dalam kehidupan Balram dan berjuta-juta masyarakat India (begitu juga di negeri belahan dunia ke-3) merupakan dampak tak terhindarkan dari sistem ekonomi global yang sering disebut kapitalisme.

Memang tidak ada kata kapitalisme dalam film berdurasi 127 menit ini, melainkan sosialisme yang menjadi latar seorang tokoh politisi. Tapi hubungannya bukan dengan itu, karena itu hanya dijadikan scene latar di desa Balram dan ketika ditampilkan adegan yang menyangkut itu, malah si tokoh sosialis ini main serong juga dalam politik elektoral.

Isu kapitalisme versus sosialisme tidak begitu tampak untuk mengatakannya tidak ada dalam film ini. Dan memang film ini tidak gamblang dan tidak berbicara dalam konteks tentang itu, meskipun itu akan keluar juga jika para penonton lebih duluan akrab dan melihatnya dari sudut pandang studi-studi kritik ideologi ala marxian.

Tapi, ketika Balram gamblang di awal-awal menyebut isu warna kulit, dan pada bagian ini lumayan kental unsur pertentangannya, maka dapat juga film ini membawa penontonnya untuk memasuki suatu perbincangan mengenai isu-isu anti kolonialisme.

Dari perspektif ini, dapat diartikan pula siapa sesungguhnya harimau putihnya, yakni India itu sendiri dengan segala pencapaiannya saat ini, yang bakal menerkam balik dunia global dan memimpin perekonomian dunia.

Informasi film:

Genre: Drama

Produses: Ramin Bahrani, Mukul Deora

Penulis naskah: Ramin Bahrani

Pemain: Adarsh Gourav, Rajkummar Rao, Priyanka Chopra Jonas, Vedant Sinha

Tanggal rilis (Streaming): 22 Januari 2021

Durasi film : 2 jam 6 menit

Perusahaan produksi: Lava Media, Netflix


Sumber gambar: www.republicworld.com/entertainment-news/web-series/priyanka-chopra-jonas-and-rajkummars-the-white-tiger-becomes-rotten-tomatoes-best-movie.html

Bahrul Amsal

Blogger paruh waktu dan ayah dari Banu T. El Baqir. Penulis buku "Jejak Dunia yang Retak" (2012).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *