“Alangkah menariknya jika besok-besok berdiri Komunitas Jalalian yang mengabadikan gagasan-gagasan Kang Jalal sama seperti Komunitas Gusdurian.” (Bahrulamsal)

“Tidak mesti menjadi Syiah untuk mencintai keluarga Nabi, Ahlulbait.” (Kang Jalal)

Urita wafatnya Kang Jalal, panggilan populer dari K.H. Jalaluddin Rakhmat, seorang cendekiawan muslim, membuat kepingan ingatan saya, seperti film seri yang menuntut diputar kembali. Apatah lagi, jagat maya, lewat media sosial, mendedahkan begitu banyak informasi tentang beliau. Mulai ucapan duka bela sungkawa, hingga potongan-potongan kenangan didedahkan, oleh banyak sosok yang mendaku sebagai muridnya.

Kang Jalal telah wafat, sudah mengalmarhum. Kang Jalal punya daya tarik, sekaligus daya tolak. Kang Jalal begitu dicintai oleh banyak orang, tapi tidak sedikit yang membencinya. Para pecinta berduka lara, bani pembenci bersuka ria. Definitnya, dari umbaran di media sosial, setidaknya, ada tiga respon atas wafatnya Kang Jalal. Kaum pecinta, para akademisi, dan bani penolak.

Kaum pecinta, mencintainya sepenuh jiwa. Baik pernah bertemu langsung maupun tidak pernah sua. Lewat tulisan-tulisan di berbagai media dan buku, pun ceramah-ceramah di jagat maya. Sekotahnya mendaku sebagai murid. Barisan murid ini, mencintainya secara lahir dan batin. Tulus ikhlas menerima apa yang menimpa Sang Guru.

Para akademisi, jatuh pikir pada Kang Jalal, lalu menyukainya. Pasalnya, Kang Jalal punya kemampuan sebagai seorang ilmuan, khususnya di bidang ilmu komunikasi. Beberapa bukunya yang terkait disiplin ilmu komunikasi, menjadi rujukan di seantero perguruan tinggi. Pun, buku-buku Kang Jalal yang membahas neuro sains, psikologi, filsafat, dan kajian-kajian akademis lainnya, tetap dilirik sebagai rujukan keilmuan popular.

Bani penolak, sekelompok pembenci, mengutuk Kang Jalal sedalam-dalamnya. Menganggap Kang Jalal sebagai orang sesat dan menyesatkan. Keyakinan dan pikirannya berbahaya. Tuduhan-tuduhan kesesatan amat mudah dijumpai, baik di jagat daring maupun di dunia luring. Mereka membenci setengah mati. Bila perlu mati setengah, karena saking bencinya. Betapa tidak, wafatnya Kang Jalal, diungkapkan secara telanjang dengan ucapan syukur disertai laknat.

Ketiga respon terhadap Kang Jalal, pastilah akan terus berlanjut, entah kapan berakhirnya. Ketiganya, akan selalu mencari panggung dan mendaur ulang perkaranya. Sekaum pecinta, para akademisi, dan bani penolak, akan selalu berselisih tentang Kang Jalal. Bahkan, dinamikanya bisa lebih akbar, tinimbang kala Kang Jalal masih hidup.  Inilah kekuatan seorang Kang Jalal, punya daya tarik sekaligus daya tolak. Potret orang besar dan berpengaruh, memang demikian adanya.

Sebagai orang yang telaten mengeja pikiran-pikiran Kang Jalal, saya pun mendaku sebagai murid. Otomatis, pastilah seorang pecinta Kang Jalal, sebagaimana perlakuan saya terhadap beberapa cendekiawan muslim tanah air, yang telah mempersembahkan baktinya buat umat manusia, khususnya umat Islam.  Hanya mautlah yang menghentikan pengkhidmatan mereka.

Masih ingat esai saya sebelum ini? Tayang di Kalaliterasi.com, 18 Februari 2021, tiga hari setelah wafatnya Kang Jalal, tentang empat cendekiawan muslim, para penarik gerbong pemikiran. Tiga di antaranya sudah mengalmarhum, Cak Nur, Gus Dur, dan Kang Jalal. Pada pucuk esai itu, saya menulis, “Adapun saya, sebagai generasi yang ditarik oleh para penarik gerbong itu, hanya ingin menabalkan diri, sebagai anak muda muslim yang tak lagi muda, masih menikmati warisan intelektual itu. Saya adalah ian-ian dari penarik gerbong itu. Menjadi Caknurian dan Gusdurian, sekaligus Kangjalalian.”

Nah, tetiba saja, saya membaca satu unggahan di akun facebook Haidar Bagir, tentang banyak cara mengenang Kang Jalal. Menghadirkan percakapan pemikiran Kang Jalal oleh para ahli dan momen spesial, penerbitan kembali buku legendaris Kang Jalal. Unggahan itu disambar komentar oleh seorang pendaras Kang Jalal, Bahrulamsal, “Alangkah menariknya jika besok-besok berdiri Komunitas Jalalian, yang mengabadikan gagasan-gagasan Kang Jalal, sama seperti Komunitas Gusdurian.”

Komunitas Jalalian, seperti maksud Bahrulamsal, saya lebih suka menyebutnya Kangjalalian. Yah, sekadar menyeterakan penyebutan terhadap Caknurian dan Gusdurian. Kata “Cak” amat melekat pada Cak Nur, sebab ada latar kulturalnya. Demikian pula dengan kata “Gus” pada Gus Dur. Kata “Kang” pada Kang Jalal, sungguh, aroma kulturalnya amat kuat. Sehingga, lebih elok rasanya, jika penabalannya Kangjalalian. Bukankah berkomunitas itu ranahnya kultural yang membumi pada ruang sosial?

Harus diakui, Kang Jalal selain pemikir dia juga aktivis sosial. Mendirikan  Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI), sebagai organisasi kemasyarakatan, sudah cukup bukti akan kelantipannya menandai zaman yang bergerak, selaku cara mengorganisir para pecinta keluarga Nabi, ahlulbait. Mengapa? Sebab setiap waktu, para pecinta ahlulbait makin bertambah jumlahnya.

IJABI adalah salah satu warisan lantip dari Kang Jalal. Meskipun harus diakui pula, tidak semua murid maupun pecinta Kang Jalal bergabung di ormas bentukan Kang Jalal tersebut. Saya menyimpaikan bahwa warisan dalam wujud IJABI, merupakan warisan yang bersifat struktural. Formalisme, built in mengikutinya. Sementara, Komunitas Kangjalalian, bentuknya nonformal, sebagaimana model Gusdurian. Waima Gusdurian juga terkesan ada unsur formalnya, tetapi dinamikanya nonformal, bahkan informal.

Teringatlah saya pada satu waktu, tatkala Kang Jalal melakukan road show ke berbagai daerah, jelang pembentukan IJABI, ia menabalkan ucap, “Tidak mesti menjadi Syiah untuk mencintai keluarga Nabi, ahlulbait.” Jujur, saya terkesima, sebab dugaan umum terhadap ormas yang mau dideklarasikan, IJABI adalah organisasi Syiah yang berbeda dengan Ahlu Sunnah Waljamaah. Lebih jauh, Kang Jalal mengunci, siapa saja yang mencintai ahlulbait, apa pun latar mazhabnya, boleh bergabung di IJABI.

Selaku anak yang tumbuh dari latar belakang keagamaan bercorak Nahdiyin, Nahdatul Ulama, mengikuti Imam Syafii, berarti saya adalah seorang pengikut Ahlu Sunnah Waljamaah, bermazhab Syafii, pecinta  ahlulbait, tak punya penghalang untuk ikut pada organisasi besutan Kang Jalal. Maka saya pun ikut serta pada acara pembentukan dan deklarasi IJABI. Why not?  

Meskipun saya seorang pengikut  Ahlu Sunnah Waljamaah, penganut Mahzab Syafii, yang mencintai ahlulbait, tetap dapat tempat di IJABI, bersama kawan-kawan lainnya yang berbeda mazhab, sekalipun bermazhab Jakfari, muslim Syiah. Apatah lagi, jika nanti terwujud Komunitas Kangjalalian, lintas mazhab, beragam latar profesi keilmuan, bahkan beda keyakinan dalam agama, makin lengkaplah sudah. Tetap menjadi pecinta Ahlul Bait, sekaligus Kangjalalian, dan tak perlu meninggalkan Caknurian dan Gusdurian.

 Kiwari, sungguh nyata, saya sudah menjadi Kangjalalian, waima belum berkomunitas, sebab hingga esai ini saya bikin, sependek pengetahuan saya, belum ada Komunitas Kangjalalian. Bisa dimaklumi, Kang Jalal baru saja wafat. Namun, melihat antusias para murid dan pecinta Kang Jalal, saya yakin komunitas ini akan lahir. Dari orang seorang Kangjalalian, nantinya mewujud pelestari pemikiran dan tindakan Kang Jalal, Komunitas Kangjalalian.  

Ilustrasi: Nabila Az-Zahra

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *