Self Love: Upaya Mencintai Diri Sendiri

Peluk hangat untuk diri sendiri, yang masih kuat hingga hari ini.

Pernah tidak, kamu merasa tidak memiliki hal istimewa dalam diri? Ketika dipuji orang lain, kita tidak pernah menjadi cukup untuk menciptakan rasa nyaman, dengan segala penerimaan diri. “Kamu cantik deh!” Lalu dijawab dengan, “Ah tidak. Akutuh gendutan sekarang.” Perasaan kurang kerap kali lebih dominan, kita tidak pernah merasa dicintai dan mencintai diri sendiri.  

Self love, sepertinya kita memang harus sering-sering bertanya kepada diri, tentang makna dan kenapa kita harus menyayangi diri sendiri. Pada dasarnya setiap orang memiliki cerita dan kisahnya masing-masing, banyak pula yang pada akhirnya terpuruk, sebab tidak mampu menjadi jawaban atas masalah, keluh, dan kesahnya. Terkadang, solusi terbaik dari setiap persoalan bukan tentang kita dengan orang lain, namun bagaimana kita mampu berdamai dengan diri sendiri. Nah, salah satu yang mampu membuat kita bangkit adalah dengan belajar menerima dan mencintai diri sendiri. Pun mencintai Tuhan.

Mengapa self love itu penting?  Adakalanya, bahu lebih berat dari biasanya, isi kepala bertengkar, dada terasa sesak, atau air mata larut di antara deruan ombak di laut. Entah karena amarah ataukah kesedihan yang tak pernah lelah mendekap jiwa. Untuk mampu sembuh, yang utama mengambil peran adalah diri kita sendiri, sebagai bentuk penerimaan terhadapnya secara utuh. Bukan hal yang tidak wajar, jika kita kerap kecewa kepada diri sendiri, barangkali harapan terhadap tunas sayap, yang telah dirawat saban waktu tak kunjung tumbuh. Bisa jadi ekspektasi kita dalam hidup terlampau tinggi, menggantungkan bahagia pada bahu orang lain, sehingga mudah sekali rapuh jika dikecewakan.

Seorang bijak pernah berkata, jika kita memiliki sejuta cara untuk mencintai orang lain, lalu mengapa kita teramat kikir kepada diri sendiri, bahkan untuk memeluk luka dengan asa, kita masih enggan. Memang betul, buku-buku itu tidak mampu membaca raganya, tapi paling tidak ia tetap paham isi kepalanya.

Betapa banyak orang yang berakhir luka, sebab tidak mampu menjadi nahkoda duka di dalam dirinya. Diri semestinya menjadi rumah, tempat pulang dari hiruk pikuk kerasnya semesta. Menjadi jendela luas, tempat ternyaman berbicara pada langit. Menjadi tiang, bak sepasang kaki yang kokoh berdiri pada pijakannya.

Mewujudkan self love, bukan berarti kita menjadi egois kepada orang lain, dengan mementingkan diri sendiri. Justru, semakin kita tidak egois adalah bentuk self love yang paling nyata. Sebab, semakin cinta itu tumbuh di dalam diri, kita tidak lagi butuh pengakuan dari orang lain. Namun, kita akan merasa leluasa memuji orang lain, tanpa berharap hal tersebut kembali kepada diri kita. Semakin mampu berkata baik, dan tulus kepada orang lain sebagai upaya untuk terus belajar dan bersyukur bahkan pada hal-hal sederhana sekalipun.

Bentuk lain dari self love adalah dengan tidak memberikan jeda yang panjang kepada diri sendiri, jika sewaktu-waktu rasa lelah kembali menyapa. Jika ingin beristirahat, rehatlah sejenak untuk memulihkan diri. Biasanya seseorang akan melakukan kegiatan berupa berdiam di kamar, menjelajah sendiri, menulis, membaca ataupun hal lain, yang mampu mencipta rasa nyaman untuk tubuh dan pikiran. Upaya seperti ini disebut self healing, Menurut ilmu psikologi, self healing adalah proses penyembuhan yang hanya melibatkan diri sendiri, untuk bangkit dari penderitaan yang pernah dialami, guna memulihkan diri dari luka yang membatin.

Dalam buku Happiness Inside, garapan Gobind Vashdey mengabadikan petuah seorang pujangga besar India, Rabindranath Tagore. Ia mengatakan, “Pergi dan carilah hidup, di tempat hidup itu terasa indah.” Jika direnungi lebih dalam, tempat yang dimaksud bukanlah lokasi di luar, tempat kita ingin tinggal. Namun, pemaknaannya amat luas, bahwa pencipta sangatlah adil, Dia telah menyediakan ruang terindah itu di dalam diri kita, di dalam hati kita.  

Seperti halnya ketika kita menaruh kebahagiaan, pada barang atau sesuatu yang berada di luar diri, cinta itu belum nyata adanya. Ia hanya menjadi jembatan menuju kesana, namun tidak menjelma mutlak kebahagiaan. Semuanya hadir, dari sebuah penerimaan yang utuh atas lebih dan kurangnya diri, serta kesyukuran atas segala campur tangan Sang Pencipta.

Situasi yang biasanya membuat kita membenci diri bukan hanya tentang kita dengan diri sendiri, bisa juga karena lingkungan sekitar. Barangkali, ada beberapa orang yang kita temui cenderung toxic, sering melukai lawan bicaranya, kasar dan arogan. Menurut Analisa Widyanigrum, seorang psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada, juga seorang penulis buku The Power of Personality beranggapan bahwa, “Orang-orang seperti ini, adalah orang yang dalam hidupnya belum penuh dan belum menghargai diri sendiri, sehingga ia berpikir bahwa, cara untuk berinteraksi adalah dengan bersikap leluasa tanpa memikirkan perasaan orang lain. Namun, mereka biasanya tidak mampu menerima perlakuan yang sama, dari orang lain terhadap dirinya.” Artinya penerimaan itu belum ada, maka penting rasanya memperlakukan orang lain, seperti bagaimana kita ingin diperlakukan.  

Beberapa upaya yang dapat dilakukan guna meningkatkan self love, yang pertama, dengan berusaha mengenali diri sendiri. Mencari jawaban atas pertanyaan mengenai mimpi dan harapan yang ingin dicapai, serta mampu mengenali ketakutan dan kekuatan yang dimiliki. Kedua, tidak membandingkan diri dengan orang lain, bahwa setiap manusia berbeda isi kepalanya, berbeda jalan dan upayanya, jangan menjadi kejam terhadap diri, dengan berusaha menjadi orang lain. Ketiga, menentukan pilihan dengan percaya diri. Kadang kita harus diperhadapkan dengan orang-orang yang kurang suportif, merasa memiliki kendali terhadap diri orang lain. Tak apa untuk menyampaikan keinginan, bukan berarti kita kita egois. Membela diri tidak berarti argumentatif, untuk berkata “tidak” bukan berarti kita tidak menghargai perasaan orang lain. Kita tetap punya kendali atas keputusan sendiri. Terakhir, bergaul dengan orang-orang yang berpengaruh baik. Kita akan sulit mencintai diri sendiri bila berada dalam lingkungan toxic, kita selalu butuh orang yang memahami segala rasa sakit, takut, senang, dan bahagia kita. Jangan pernah menjadikan kesepian sebagai alasan untuk kembali dalam lingkungan atau hubungan toxic.

Meski self love penting untuk diterapkan, bukan berarti kita bebas melakukan apa saja, guna mementingkan diri sendiri tapi lupa memedulikan keadaan sekitar. Jangan sampai self love berlebihan menjelma narsis semata.

Mencintai diri sendiri adalah representasi dari cinta kita terhadap orang lain, jika kita mampu mencintai dan menghargai orang lain, mestilah diri kita memiliki hak yang sama. Terlebih dahululah menjadi rumah untuk diri sendiri, nyamanlah di dalamnya, sebelum dijadikan tempat pulang oleh seseorang.

Ilustrasi: mythetachange.com

Astiwi Ahmad

Astiwi Ahmad, lahir di Bantaeng, 17 Oktober 1996. Aktif di lembaga Masyarakat, Karangtaruna Pangngadakkang Desa Biangloe, Kecamatan Pajukukang, Kabupaten Bantaeng. Guru Pendidikan Sosiologi/Pendidikan Sejarah di SMAN 4 Bantaeng. Peserta kelas menulis Rumah Baca Panrita Nurung.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *