Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Pustakawan Pasif, Pustakawan Aktif: Mencintai Buku Sampai Mati dalam 17 Tweet

Menyambut lewatnya upacara bersama dalam Hari Buku (Internasional), izinkan saya menurunkan 17 paragraf yang saya sebut dengan “17 tweet”. Kali ini, topiknya tentang para pustakawan se-Indonesia, figur yang mencintai buku melebihi siapa pun di dunia ini. Untuk melihat genting dan baik-baik sajanya tradisi membaca buku masyarakat kita, lihat saja tradisi harian para pustakawan itu. Sesederhana itu.

  1. Pernah dengar istilah “disrupsi”. Orang buku kerap memakainya. Terlebih, pustakawan. Yang dimaksud “Era Disrupsi” adalah masa saat yang akar tercerabut. Akar dari kata “pustakawan” adalah “pustaka”. Di era disrupsi, jika “pustaka” (di)hilang(kan), tinggalah “wan”. Saat si “(i)wan” itu, saat si sosok lebih penting dari pustaka, itulah era disrupsi. Orang lebih sibuk bicara si Maimunah dan si Paijo, tapi lupa ambil bagian dalam “musyawarah buku”.
  2. Pustakawan itu orang buku. Titik. Jika begitu pengertian dasarnya (definisi nomor urut 1 di Kamus Besar), konsekuensinya pustakawan adalah orang pertama yang paling tahu tentang buku. Ia selalu berada dalam pusaran besar peristiwa buku.
  3. Lawan disrupsi adalah radikal. Wah, istilah apa ini. Pustakawan itu radikal hanya jika ia kembali ke dunia buku yang sebenar-benarnya.
  4. Pustakawan di era radikal tahu betul “wan” itu hanya tiga kata, sementara “pustaka” tujuh kata. Tsah. Iya, tahulah, Malih Tong Tong. Kalau huruf “pustaka” lebih banyak dari “wan”
  5. Meletakkan pustakawan dalam konteks “radikal”, barulah kita merasakan dalam dunia kepustakawanan drama soal buku itu bergemuruh. Ia tumbuh bersama sejarah buku yang tak biasa-biasa saja. Sejarah buku tumbuh dengan segala ketegangan, sebagaimana bangsa dan negara ini lahir.
  6. Meletakkan pustakawan dalam konteks “radikal”, barulah kita bisa menikmati cerita-cerita horor yang dipancarkan para peneguk kebenaran yang melibatkan pustakawan, sebagaimana cerita abad tengah di The Name of the Rose (Umberto Eco).
  7. Meletakkan pustakawan dalam konteks “radikal”, cerita dari dunia para pustakawan kita berhubungan dengan buku menjadi dramaturgi yang hidup sekaligus ironis. Ada kisah bagaimana H.B. Jassin membangun batu bata perpustakaan yang dijaganya dengan memburu satu demi satu penambah koleksi di antero Jakarta dengan jalan berkeliling jalan kaki. Dan, itu dilakukan sampai akhir hayat. Pramoedya Ananta Toer selama puluhan tahun hingga mati mengorganisasi serpihan informasi dalam penjara-rumah tanpa ada kepastian bagaimana hasil akhirnya.
  8. Pustakawan itu pengelola buku, pengorganisasi buku dalam jumlah banyak dalam sebuah rumah bernama perpustakaan. Dalam pengertian yang radikal, ia adalah fasilitator/moderator dari suara poliponik yang muncul dari banyak buku. Tugas pustakawan melindungi suara yang berbeda, menempatkan suara secara pas dalam sebuah harmoni. Supaya lebih mudah pengorganisasian, dia butuh alat bernama teknologi pengelolaan informasi. IT itu adalah alat. Tak ada alat itu, ya, enggak apa-apa juga. Umur buku lebih tua dari IT dengan segala kecakapannya. Sebab, penggerak mesin turbo kecintaan pada buku itu adalah kecintaan 24 karat.
  9. Saya membagi dua macam pustakawan: pasif dan aktif. Pustakawan pasif adalah sosok yang tinggal di sebuah ruang dan terus-menerus melakukan pembicaraan bersama suara-suara ide yang riuh dalam perpustakaan. Pustakawan jenis ini selalu memundaki moral dengan klaim yang keterlaluan dan keras kepala bahwa perpustakaannya berisi koleksi-koleksi yang terpilih dengan kurasi yang ketat. Siapa kuratornya, ya, si pustakawan.
  10. Sebagai kurator, si pustakawan pasif ini mestilah menyaratkan pengetahuan yang turah-turah atas buku. Sebab, untuk membandingkan kualitas gagasan, mestilah ia melakukan timbangan-timbangan yang kuat. Nah, budaya menimbang buku adalah budayanya seorang pustakawan. Pustakawan jenis ini jika berkumpul, melahirkan panduan kepada masyarakat berupa sejumlah daftar buku-buku yang “penting” dan “berpengaruh” untuk menemani sisa hidup yang pendek. Antara lain, 100 Buku Penting yang Harus Dibaca untuk Memahami Dunia Pertanian di Indonesia; 500 Buku Babon Humaniora yang Penting untuk Dibaca Mahasiswa Fakultas Teknik; 360 Buku Anak Terbaik Sepanjang Masa; 1001 Buku Fiksi yang Harus Dibaca Sebelum Anda Mati; dan Ensiklopedia Lengkap Fiksi Indonesia: Pokok dan Tokoh. Adakah buku-buku itu disusun pustakawan kita yang berorganisasi sana berasosiasi sini? Itu hanya fantasi saya saja, Saudara.
  11. Jika Anda tak suka bicara dan dunia yang berisik dalam pengertian denotatif, jadilah pustakawan jenis pasif ini. Hidupnya ia habiskan untuk mengabdi pada ide dan suara dari buku yang dipancarkan oleh penulisnya. Hasil dialognya yang intens kadang ia bagikan dengan publik lewat esai-esai timbangan buku. Atau, ia melahirkan artikel-artikel yang menantang otak untuk berdialektika. Sampai di sini, pustakawan adalah seorang pemikir. Paling tidak, perenung. (me.re.nung /v/ (1) memandang; menatap (2) diam memikirkan sesuatu; termangu).
  12. Mari bicara jenis pustakawan jenis dua, yakni pustakawan aktif. Pustakawan jenis ini menggerakkan buku untuk sampai ke pembaca yang sulit dijangkau oleh cara-cara yang “konservatif”. Spesies pustakawan seperti ini, dari ciri yang fisikal saja sudah terlihat: gembel. Mengapa? Mereka lebih banyak menghabiskan praktik mencintai buku secara sungguh-sungguh di lapangan. Mereka berkeringat memanggul buku dari kota ke desa; dari ruang berpendingin ke kampung-kampung kumuh; dari pulau ke pulau; dari trotoar ke trotoar.
  13. Pustakawan aktif adalah mereka yang tak mau menunggu toko-toko buku hadir sampai di kecamatan di seluruh Indonesia dan dengan segala cara memastikan demokratisasi persebaran ide dengan segala mimpi yang dikandungnya lewat jalan memanggul buku-buku untuk sampai ke pihak yang selama ini mustahil memegang sebuah benda organik dan ajaib bernama buku.
  14. Kerja pustakawan aktif inilah yang membuat Anda melihat dan menonton foto dan video anak-anak pulau yang namanya saja Anda baru dengar berkerumun sedemikian rupa untuk memegang, membuka, dan mereguk benda organik ajaib bernama buku. Dan, setelah itu mereka tersenyum. Pustakawan aktif itu adalah pustakawan bergerak. Dengan pundak-lutut-kaki, mereka melintasi hadangan air raya dan lumpur selutut demi sebuah garansi: sebuah buku mesti bertemu warga.
  15. Nah, sudah tahu bedanya, bukan, mana pustakawan pasif dan mana yang aktif? Dan, keduanya sama-sama penting dengan posisi serta porsi tugasnya masing-masing. Keduanya dipertemukan satu hal: radikal dalam melihat dan menempatkan buku.
  16. Pada pustakawan pasif, “monster” yang siap menerkamnya adalah kesunyian. Tapi, ini soal “standar” masing-masing pustakawan. Ada pustakawan yang dianggap sukses jika rumah yang dijaganya selalu ramai dikunjungi orang. Tapi, sebagaimana sekaten, suasana seperti itu setahun sekali. Sebab, jika keramaian adalah target Anda, mengapa ngotot menjadi seorang pustakawan. Jadi panitia pasar malam saja itu lebih baik. Pahalanya kemungkinan banyak sekali karena membuat orang terhibur.
  17. Sunyi mestinya senapas dengan kerja pustakawan. Pada sunyi, seorang pustakawan bekerja. Suasana sunyi berbeda dengan suasana yang serba bosan. Dalam sunyi-yang-bekerja, pustakawan merancang riset, menimbang buku, memimpin musyawarah agung buku-buku. Hanya pustakawan yang tak punya proyek-ide yang terbetik di tempurung kepalanya untuk bunuh diri dalam kesunyian di rumah buku. Bunuh diri macam-macam pengertiannya, salah satunya adalah menyesal dan mengutuk diri mengapa ada di dunia perpustakaan ini. Bersekolah di jurusan perpustakaan pula.

Muhidin M. Dahlan, bergiat di perpustakaan Gelaranibuku Yayasan Indonesia Buku.

The following two tabs change content below.

Muhidin M. Dahlan

Penulis buku "Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur" dan Guru Utama di program Kelas Menulis Kreatif yang diselenggarakan Radio Buku Yogyakarta.