Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Buka Puasa bukan Mokbang

“… berpuasalah untuk-Nya. Berjuanglah melawan dirimu sendiri untuk-Nya …” (Gus Mus)

Beberapa tahun lalu, saat Ramadan tiba, saya sering-sering “menghujat” tukang azan masjid. Alasannya sepele: terlalu cepat azan Isya, rasanya baru sekejap lalu saya berbuka, sudah azan lagi. Waktu terasa cepat berlalu. Sedang perut belum kempes jua. Perasaan dongkol itu nyata adanya. Tidak adakah extra time laiknya dalam sepakbola? Ini kan Ramadan? Paling tidak, berilah kami kesempatan menikmati kenyang dengan tenang. Begitu pikiran nakal saya saat itu.

Kini, saya menyadari bahwa perut yang belum kempes bukanlah salah muazin. Masalahnya ada pada diri saya sendiri yang seringkali kalap saat waktu berbuka tiba. Semua jenis makanan sebisa mungkin saya santap. Mulai dari es buah hingga mie kuah. Dari jalangkote hingga yang berkotek-kotek. Dari gorengan hingga kenangan. Selama perut muat, kenapa tidak? Tena battang kekke’ (tidak ada perut yang robek)adalah istilah yang mendeskripsikan sifat rakus itu. Ya, memang betul, tak ada perut yang robek karena makanan, tapi sifat rakus yang ditunjukkan saat berbuka, sama sekali tak merepresentasikan hakikat dari puasa itu sendiri.

Kita menjadikan buka puasa sebagai ajang mokbang. Jika Anda pecinta kuliner dan sering melihat video orang-orang makan dengan cara amat lahap—untuk tidak mengatakannya rakus—berarti Anda paham istilah ini. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring mendefenisikan mokbang sebagai siaran langsung atau video yang mempertontonkan orang memakan banyak makanan untuk hiburan, biasanya disiarkan secara daring. Ya, seperti itulah sebagian kita tatkala berbuka puasa. Dengan dalih berbuka, kita membiarkan nafsu mengambil alih kesadaran. Padahal kita tak sedang membikin video, tidak juga sedang makan untuk hiburan. Kita makan untuk berbuka puasa, mengaktualkan perintah Tuhan. Atau mungkin,  laiknya anak-anak, puasa kita hanya sekadar menahan lapar dan haus? Hanya itu? Entahlah.

Yudi Latif, dalam tulisannya “Belajar Puasa” di Kompas, terbit Kamis, 15 April 2021, menjabarkan, “Puasa melatih cara beragama secara dewasa. Beribadah bukan karena apa kata orang, melainkan apa kata nurani sendiri. Bermoral bukan karena paksaan dari luar, melainkan  karena pancaran ketulusan dari dalam. Puasa melatih daya transendensi dari gravitasi syahwat bumi. Puasa yang masih terintimidasi makanan di warung atau melancarkan ‘balas dendam’ dengan menyantap makanan secara berlebih saat berbuka pertanda jiwa kekanak-kanakan yang masih melekat pada materi sebagai budak nafsu.”

Di acara buka bersama atau reuni, kita sering menjumpai makanan yang terbuang akibat tak dihabiskan. Puasa yang sejatinya mengajarkan kesederhanaan dan membawa manusia pada tindakan etis. Justru menunjukkan keanehan-keanehan. Kita mengambil makanan lebih dari bisa kita habiskan. Lalu, sisanya kita simpan di bawah meja secara sembunyi-sembunyi, karena sadar bahwa itu adalah tindakan memalukan. Kita tahu, tapi justru melakukan sebaliknya? Mengapa? Ya, sebab puasa kita masih sekadar menahan, belum “menuhan” sama sekali. Karenanya, tatkala waktu menahan telah usai, kita melepaskan semuanya. Melakukan selebrasi dengan makan banyak-banyak. Puasa seharian penuh seolah tak membekas sama sekali. Menyatalah kebenaran puisi Gus Mus, “Puasa kita rasanya sekadar mengubah jadwal makan minum dan saat istirahat, tanpa menggeser acara buat syahwat.“ Tak heran jika Ramadan usai, berakhir pula semangat puasa itu. Kita kembali ke kehidupan normal: menjadi budak nafsu kita sendiri.

Mengapa puasa—yang notabene menjadi salah satu ajaran fundamental agama—justru gagal mendidik pribadi kita menjadi lebih baik? Mengutip pendapat Gordon W. Allport, seorang psikolog sosial dalam buku Jalaluddin Rakhmat Islam Alternatif, karena model beragama kita masih bersifat ektrinsik. Yakni masih memandang agama sebagai sesuatu something to use but not to live. Dimaanfaatkan dan bukan untuk kehidupan. Orang kemudian berpaling kepada Tuhan, tetapi tidak berpaling dari dirinya sendiri. Agama hanya dijadikan alat untuk menunjang motifnya: status sosial, rasa aman, atau harga diri. Di kekinian misalnya, jika Anda tidak berpuasa, maka respect yang Anda peroleh juga menurun bahkan hilang. Atau jika ingin menaikan status sosial, maka sebagian kita memilih berhaji. Model beragama seperti ini hanya akan melaksanakan bentuk-bentuk luar dari agama—puasa, haji, salat, dan sebagainya—tetapi tidak “bagian” dalamnya. Melupakan esensi. Menafikan isi.

Lalu, di manakah tujuan puasa yang hakiki? Quraish Shihab dalam bukunya Islam yang Saya Anut mendakukan bahwa inti dari puasa adalah pengendalian diri, salah satunya terhadap makanan. Lebih jauh, beliau menabalkan, “Dengan niat menahan diri untuk tidak makan, minum bahkan semua hal yang tidak disenangi agama—dengan niat itu—yang berpuasa membuktikan kepada diri dan nafsunya bahwa ia berada di atas nafsu dan mampu mengendalikannya dan bahwa kegiatan-kegiatan yang selama ini menjadi kebiasaannya, akibat dorongan nafsu, bisa dia kuasai dan dia arahkan ke arah positif atau yang lebih positif. Dengan demikian dia tidak tunduk pada rutinitas yang membelenggu.”

Jadi, kita yang masih menjadikan buka puasa sebagai ajang mokbang, sebenarnya gagal dalam menyelami hakikat puasa. Gagal meraih tujuan sebab masih menjadi budak. Belum merdeka sama sekali. Nafsu masih menjajah diri, dan mengontrol semuanya. Toh, apa gunanya berpuasa, jika nafsu masih berkuasa? “Betapa sedikitnya yang berpuasa, dan betapa banyaknya yang kelaparan.” Nabi mengingatkan.

Di sisi lain. Berbuka secara berlebihan tak sekadar keliru dari perspektif teologis. Melainkan juga secara biologis. Mengutip situs kesehatan Halodoc.com, makan berlebihan saat berbuka sangat tidak dianjurkan. Salah satunya karena dapat mengakibatkan lemas dan kantuk. Ini pengalaman kita semua sebenarnya, perasaan ini menjadi musuh besar salat Isya dan Tarawih. Alih-alih bersemangat sehabis makan, justru sebaliknya yang terjadi. Hal ini disebabkan karbohidrat memberi hentakan energi, tetap mengasup karbohidrat olahan dalam jumlah banyak dapat menaikkan gula darah, dan menurunkan kadar insulin. Inilah yang menyebabkan tubuh terasa lelah. Kita kemudian jadi malas ngapa-ngapain selain rebahan, lanjut mabar, atau berburu chip.

Pada tahap yang lebih ekstrem, kita bahkan tak bisa rebah sama sekali, karena lambung terasa penuh hingga perut terasa begah dan ingin mual. Inikah yang kita rindukan saat Ramadan? Inikah yang Ramadan rindukan dari kita?

Rasanya amat paradoks, jika puasa yang seyogianya menjadi sarana menempa diri, mengendalikan, dan mengarahkan nafsu secara bijak dan bajik, justru mengantar manusia pada “kemunduran” teologis dan kemudaratan biologis. Jika benar demikian, maka Ramadan sejatinya bagi kita bukanlah bulan kemenangan. Dan di penghujung Ramadan, di Idul Fitri menjadi puncak dari perayaan kekalahan.

Gambar:L serumpi.com

The following two tabs change content below.

Ikbal Haming

Lahir di Bantaeng, 13 Agustus 1995. Ketua Karang Taruna “Sipakainga” Desa Tombolo. Kec. Gantarangkeke. Kab. Bantaeng. Guru PJOK di SDN 48 Kaloling. Aktif sebagai pustkawan di Rumah Baca Panrita Nurung dan bergabung dalam KGB (Komunitas Guru Belajar) Bantaeng. Penyuka hujan dan buku-buku sastra. Menulis buku, "Jika Kucing Bisa Bicara" (2021)