Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Perempuan, Terorisme, dan Problem Literasi

Sejarah perempuan selalu diwarnai eksploitasi yang mengharukan. Hari ini, permasalahan yang sama belum berakhir. Hanya “wajah” eksploitasinya yang berbeda baik waktu maupun konteksnya. Faktanya bisa disaksikan, bagaimana dunia industri memosisikan perempuan, bagaimana interaksi perempuan dalam dunia digital yang destruktif, rendahnya keterlibatan perempuan dalam dunia literasi yang memunculkan konsekuensi-konsekuensi baru seperti minimnya pengetahuan perempuan atas dirinya, dunia sosialnya, dan skill yang cenderung tidak ditumbuhkembangkan. Situasi perempuan demikian mengungkung geraknya. Kepada siapa dan di manapun perempuan membangun relasi, eksploitasi akan selalu hadir menjadi “kawan” seperjalanannya.

Dari literasi yang rendah itulah akhirnya menjadi sumber kerentanan bagi perempuan dalam segala aspek hidupnya, termasuk fenomena teror saat ini, yang juga melibatkan perempuan. Seorang psikolog, Arijani Lasmawati menerangkan, akar penyebab keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme setidaknya ada dua faktor, yaitu internal dan eksternal. Faktor internalnya adalah terkait kecenderungan psikologi perempuan yang rentan mengalami masalah emosional, seperti mudah cemas, stres, dan kekhawatiran. Sedangkan faktor eksternalnya adalah relasi sosial personal di dalam keluarga, misalnya antara ibu dan anak atau suami dan istri.

Faktor lain yang sifatnya lebih umum sebagaimana dibuktikan beberapa penelitian adalah, pertama, perempuan dianggap lebih loyal dan patuh, sehingga memudahkan dalam perekrutan anggota. Kedua, perempuan mudah yakin dan tunduk dengan nuansa yang berbalut keagamaan. Ketiga, perempuan sangat mudah mengakses media sosial karena lebih banyak waktu luang. Keempat, posisi perempuan lebih strategis sebagai perangkap yang dapat mengelabui aparat penegak hukum. Kelima, pelibatan perempuan dalam terorisme sangat signifikan karena eksistensi doktrin patuh dan ketundukan pada suami, serta kepiawaian perempuan dalam melakukan mobilisasi atas sesamanya perempuan.

Fenomena lain menyangkut eksploitasi perempuan, terhimpun dalam pusaran sistem kapitalisme. Perempuan yang tadinya terdomestifikasi tetiba digiring ke ranah publik memenuhi peran-peran strategis pabrik dalam rangka keuntungan pabrik sebesar-besarnya, sembari menggaungkan semangat kesetaraan.

Tanpa disadari, perempuan menyumbang keuntungan banyak atas pabrik dan industri, tidak hanya dari aspek tenaga, tetapi memanfaatkan tubuh perempuan sebagai komoditi. Contohnya, pabrik mematenkan standarisasi kecantikan tertentu dan secara tidak langsung menarik perempuan pada konsep hidup tersebut. Demikian seterusnya, diciptakan berbagai kebutuhan bagi konsep hidup cantik tetap awet dan keuntungan mengalir tanpa henti bagi industri.

Sekali lagi, eksploitasi perempuan terjadi dalam banyak ruang, bahkan tidak jarang tanpa sadar perempuan menjadi salah satu penyumbangnya. Semua itu berawal dari kemiskinan literasi bagi perempuan. Perempuan menjadi rentan terbelenggu dalam bias pemahaman, termasuk pemahaman bias gender.

Cenderung pasif atau justru percaya begitu saja atas narasi purba patriarki yang memosisikan perempuan sebagai makhluk second class. Mitos yang lain seperti tidak mumpuni secara pemikiran, sumber dosa, dan emosionalis, menjadi pijakan bagi perempuan dianggap dangkal mencerna ajaran agama sehingga mudah menerima doktrin yang keliru terkait konsep ketaatan, jihad, kafir, thagut, khilafah, negara Islam, dan lain sebagainya.

Termasuk bagian literasi yang sangat urgen adalah keterlibatan perempuan dalam pengetahuan atau disiplin ilmu-ilmu rasional seperti logika dan filsafat. Bila melihat situasi secara umum hari ini, panggung intelektual kita masih minim diisi perempuan. Ketika di antara mereka terlibat, tradisi kita masih memosisikan laki-laki lebih mumpuni derajat pengetahuannya dibanding perempuan. Tradisi kita masih mengistimewakan laki-laki dalam banyak hal dan lebih layak menjadi acuan.

Situasi ini bukan tanpa dasar. Di sisi lain, perempuan harus berbesar hati menerima keadaan mereka yang memang cenderung abai dalam kesadaran dan partisipasi berliterasi. Banyak hal menjadi pemicu, salah satu di antaranya adalah pengaruh doktrin yang menitiberatkan fitrah perempuan kurang mumpuni dalam mencerna pengetahuan-pengetahuan terutama ilmu-ilmu rasional.

Atas dasar ini, lahir sikap pragmatis bagi perempuan bahwa menghabiskan waktu melakoni dunia pengetahuan atau panggung intelektual adalah sesuatu yang sia-sia. Demikian seterusnya berkembang mitos tentang irasionalitas perempuan sehingga lahir pola maupun perilaku-perilaku perempuan yang dinilai tidak logis. Contohnya, ketika menginterpretasika  masalah keagamaan, perempuan cenderung eksklusif sehingga menimbulkan sikap intoleransi dan rasa permusuhan serta kebencian terhadap orang dan kelompok yang berbeda.

Ini menjadi tugas kita bersama, bagaimana membangun identitas baru bagi perempuan yang berlandaskan pengetahuan. Di sisi lain pemerintah punya peran strategis mendorong dan menggalakkan program literasi bagi perempuan untuk mengubah cara pandang dari kungkungan ideologi patriarki dan pemahaman Islam radikal. Salah satu contohnya adalah pemerintah melalui kementerian terkait melakukan program revitalisasi keluarga Indonesia. Pun kementerian terkait bisa melakukan kerjasama dengan instansi-instansi terkait untuk mengedukasi perempuan dengan pemahaman Islam yang nir kekerasan dan ramah gender.

Banyak hal yang bisa dilakukan pemerintah dalam mewujudkan cita-cita bagi perempuan bermartabat. Tentu saja upaya yang dimaksud adalah yang dilakukan secara sungguh-sungguh dan bukan simbolitas belaka. Lebih jauh, sebagaimana dikatakan Musdah Mulia, “pemerintah perlu melakukan counter penafsiran sehingga interpretasi keagamaan yang sejuk, humanis dan toleran menjadi dominan dalam keluarga dan masyarakat”.

Perempuan (ibu) misalnya yang harus mengambil peran strategis dalam keluarga karena lebih banyak menghabiskan waktu mendidik atau berinteraksi dengan anak. Selain itu, menurut Musdah Mulia, “pemerintah perlu mengembangkan budaya-budaya damai dan menghargai sesama, khususnya melalui pendidikan dalam arti seluas-luasnya, terutama pendidikan dalam keluarga. Terakhir dan sangat penting, negara perlu mendorong agar interpretasi agama dan pandangan ideologi yang inklusif, demokratis, dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan menjadi dominan di masyarakat”.

Mengapa Literasi

Pada dasarnya, literasi bukan hanya sebatas keterampilan membaca dan menulis. Lebih jauh literasi adalah sebuah keterampilan berpikir dalam membaca kata dan dunia serta mencari relasi di antara keduanya untuk memecahkan masalah kehidupan. Pakar pendidikan, Alwasilah mengungkapkan tujuh prinsip dasar literasi yang seharusnya menjadi acuan dewasa ini, di antaranya:

1). Literasi adalah kecakapan hidup (life skills) yang memungkinkan manusia berfungsi maksimal sebagai anggota masyarakat. 2). Literasi mencakup kemampuan reseptif dan produktif dalam upaya berwacana secara tertulis maupun secara lisan 3). Literasi adalah kemampuan memecahkan masalah. 4). Literasi adalah refleksi penguasaan dan apresiasi budaya. 5). Literasi adalah kegiatan refleksi (diri). 6). Literasi adalah hasil kolaborasi. 7). Literasi adalah kegiatan melakukan interprestasi.

Mengacu pada prinsip literasi tersebut, maka menjadi keharusan bagi semua baik laki-laki maupun perempuan bisa menerapkan prinsip tersebut sebagai tanggung jawab bagi diri dan kelangsungan peradaban. Di sisi lain, peran literasi diharapkan menjadi pintu pembebasan untuk menghilangkan stereotype yang dilekatkan pada tubuh perempuan, karena ruh dari literasi itu sendiri adalah pembebasan manusia dari belenggu yang mengungkungnya. Melalui literasi juga, diharapkan ketidakadilan yang melanggeng puluhan abad pada tubuh perempuan bisa diatasi. Pun semua ruang yang menjadi subjek ketidakadilan bagi tubuh perempuan seperti partai-partai, media, institusi, hukum, LSM, birokrasi yang feodal, dan tradisi patriarki segera diakhiri.

Tentu saja harapan pembebasan melalui literasi tidak dengan hanya menabur doa, tetapi kesadaran dan upaya yang gigih secara bersama-sama untuk mewujudkan kebudayaan baru yang egaliter. Terlebih, bagi kalangan aktivis maupun intelektualis mengambil peran inti, karena tujuan etis dari literasi adalah memanusiakan manusia. Sekali lagi, perlu upaya kolektif membangun kesadaran kritik ketidakadilan, karena hanya dengan terus-menerus menggugat ketidakadilan yang menimpa perempuan, maka kita menulis ulang hukum dan peradaban yang lebih egalitarian.

Dengan literasi, perempuan menemukan arti penting dirinya seraya berupaya keluar dari lingkaran problematika yang mengungkungnya. Dengan literasi juga, perempuan menulis ulang identitasnya sebagai subjek yang eksis dibawah pondasi pengetahuan; jauh dari bayang-bayang teror, dan sebagainya. Tradisi lama yang subordinatif sudah seharusnya ditinggalkan dan posisi kesederajatan antara laki-laki dan perempuan sudah seharusnya dihidupkan. Sindirian Gadis Arivia terkait Libidonomics: “Andai kata tubuh perempuan dapat dijadikan saham, saya anjurkan bermain saham agar cepat menjadi kaya sebab tubuh perempuan di seluruh dunia selalu laku untuk dijual”.

Harapannya tidak lagi terdengar sindiran itu, sebab perempuan telah tercerahkan. Perempuan tidak hanya bermartabat sebagaimana laki-laki, tetapi punya peran strategis dalam keluarga dan masyarakat. Atas segala kekuatan yang dimiliki, tidak ada lagi alasan bagi perempuan untuk pasif, tetapi berani memberikan sumbangsih pemikiran dan tindakan untuk kehidupan yang lebih adil.

Ilustrasi: https://airpowerasia.com/

The following two tabs change content below.

Siti Indah Khanazahrah

Lahir di Kabupaten Enrekang 5 Juli 1991. Sekarang menetap di Pondok Nugraha, Tidung, Makassar. Pendidikan terakhir, S2 Pascasarjana UIN Alauddin Makassar. Pengurus Masika ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) Makassar dan Pengasuh Rumah Kajian Filsafat Makassar.

Latest posts by Siti Indah Khanazahrah (see all)